MY TEACHER IS A WEREWOLF

MY TEACHER IS A WEREWOLF
11



"Eh???"


"Haaaaaa maaf maaf pak saya ga sengaja maaf banget" Teriak vanya heboh, saat ia tersadar bahwa ia sedang memeluk gurunya, ia langsung melompat mundur, lalu menunduk nundukan kepalanya


"Ck, ingat kamu tidak boleh seperti itu kepada orang lain, apalagi seorang pria. Cukup saya yang boleh kamu perlakukan seperti itu, tetapi saya juga punya nafsu jadi berhati hati lah"


Hening


Vanya melongo mencoba mencerna apa yang diucapakkan oleh sean tapi otaknya belum menangkap satu pun


"Ekhem, saya harus balik kesekolah, jika ada apa apa kamu boleh telfon saya" Ucap Sean gugup, namun tetap bisa ia tutupi dengan wajah datarnya itu


Sedangkan vanya hanya masih melongo, setengah nyawanya sudah pergi terbang karna tak sanggup untuk berpikir, semua hal yang dikatakan sean selalu membuatnya bingung. Baru saja Sean hendak pergi, nyawa Vanya yang terbang setengah langsung kembali lagi


"Eh pak, nomor telfon bapak belum ada di saya.. ah maksudnya nomor mu sean ah iya iya sean" Ujar vanya Gelagapan, ia lupa bahwa sean terus mengingatkannya untuk memanggilanya dengan sebutan "sean" jika berada di luar sekolah


Sean tersenyum tipis mendengarkan vanya memanggil namanya, entah mengapa hatinya terasa menghangat


"Itu kartu namaku sudah ku taruh diatas meja" Lalu tanpa babibu lagi ia langsung keluar dari ruangan, tak tahan dengan jantungnya yang berdetak sangat kencang, takutnya nanti vanya mendengarnya karna di ruangan itu sangat sepi


"Dia pacarmu kak?" Tanya Varel yang ternyata sudah bangun


"E-eh kau kapan bangun" Tanya vanya gelagapan, entah mengapa jantungnya berdetak kencang saat membayangkan wajah sean, apalagi kini varel menyebut sean pacarnya, sudah dipastikan wajah vanya merah padam


"Ooh jadi benar dia pacarmu, sangat cocok" Ruyu varel, ia sedari tadi hanya berpura pura tidur, jadi ia mendengarkan semua pembicaraan yang ad


"Hahaha ti-tidak mungkin, dia guruku, mana mungkin aku pacaran sama bapak bapak hahaha" Elak vanya, walaupun mulutnya berkata demikian, tapi entah kenapa hatinya menolak


Varel manggut manggut, ia tahu bahwa kakaknya sedang berbohong


"Ohya, padahal dia terlihat sangat muda dan tampan? aku yakin dia memiliki pacar yang sangat cantik" Rayu varel lagi


Dan benar saja, wajah vanya sudah semerah tomat, varel benar benar sedang mengujinya


"Yak, sekarang katakan padaku kenapa kau harus bekerja menjadi kuli hah!" Vanya mengalih pembicaraan dan mulai mengomeli adiknya


"Kau tidak harus bekerja seperti itu, aku kan sudah bilang akan segera melunasinya, kenapa wali kelasmu sangat cerewet. Dan kau sudah kubilang belajar yang rajin, tapi kau malah membolos, untuk apa selama ini aku membayarkan sekolahmu jika kau malah membolos? bagaimana kalau kau di skors?" Oceh vanya terus, jujur saja saat ini vanya ingin menangis karna ia merasa gagal menjadi kakak yang baik untuk adiknya Varel, tapi jika ia menangis di depan Varel, ia akan gagal untuk kedua kalinya karna menjadi kakak yang cengeng


"Aku tahu, hanya saja aku tak ingin terus terusan merepotkanmu, aku tidak akan mengulanginya lagi" Lirih varel menunduk


Vanya juga merasa kasihan melihat varel seperti itu, saat ini adiknya sedang sakit, tak seharusnya ia mengomel seperti tadi


"Sudahlah sekarang kau istirahat, saat kau sekolah nanti akan kupastikan semua tunggakan mu lunas" Ujar vanya lembut, ia memeluk varel dengan tangannya yang mengusap ngusap rambut varel lembut


"Aku akan ke cafe tempatku bekerja sebentar, jika ada apa apa, kau bisa menelfonku" Ujar vanya, lalu segera bergegas untuk pergi


Sedangkan varel hanya menatap kepergian kakaknya dengan iba, kakanya telah menggantikan posisi ibu dan ayahnya, ia bersyukur mendapati sosok kakak hebat seperti vanya


__________________________________


"CAFE DISITA"


Itulah hal yang pertama kali vanya lihat saat sampai di cafe mantan tempat kerjanya


"Disita? kemarin kan masih buka? apa yang terjadi" Batin vanya bingung, lalu ia memutuskan untuk tak memikirkannya, toh ia sudah tidak bekerja disana lagi


Vanya segera beranjak keparkiran untuk mengambil sepedanya, untung saja vanya menguncinya hingga sepeda itu masih tetap berada di tempat, zaman sekarang spion pun masih bisa dicuri, apalagi sepeda


"Oh iya, nanti aku akan menghubungi pak sean untuk menanyakan pekerjaan yang akan di berikan untukku besok" Batin vanya semangat, lalu mengayuh sepedanya pergi dari parkiran tersebut


_______________________


_______________________


Jangan lupa kli jempolnya yaπŸ‘


πŸ‘‡πŸ‘‡β˜ΊοΈ