MY TEACHER IS A WEREWOLF

MY TEACHER IS A WEREWOLF
16



"P-pak, sa-saya gabisa nafas" Ujar Vanya yang badanya masih menegang di pelukan Sean, jantungnya berdebar dengan sangat kencang saat ini, apalagi setelah ia mendengarkan ucapan Sean barusan.


"Maaf, saya kelepasan" Jawab Sean setelah sadar kalau ia terlalu erat memeluk Vanya


Vanya manggut-manggut, lalu kembali menatap Sean dengan tampang yang menggemaskan.


"emmmmm jadi mate itu saya pak? tapi nama saya Vanya bukan Mate" Tanya Vanya brani, karna sejak saat pertama kali Sean menyebutkan kata "Mate" Vanya sudah sangat penasaran, dan inilah kesempatan dia untuk bertanya.


"Pfttttt"


"Apa yang kau tahu tentang Mate?" Jawab Sean menahan tawanya, lalu berjalan untuk duduk di kursi kebesarannya.


Vanya mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuknya.


"Emmm Mate bukankah nama orang?" Jawabnya dengan tampang polos


"Hahahahahaha hahahaha, Marc, kau dengar itu? hahahaha lucu sekali hahaha" Tawa Sean pecah, demi apapun ini baru pertama kalinya Sean tertawa lepas seperti itu, dan dia terlihat sangat-sangat tampan.


"Ekhem, Nanti kau datang kerumah saya, akan saya tunjukan tempat kerjamu" Sadar Sean karna sedari tadi vanya hanya melongo menatapnya.


Vanya masih tidak menjawab, pandanganya masih menatap Sean kosong dengan bibir yang terbuka.


"Ekheem kau mendengarkan saya?" Tanya Sean memastikan


Vanya mengerjap-ngerjapkan matanya


"Marc siapa?" Tanya nya


Sean mematung, tanpa sadar ia keblabasan menyebutkan nama serigalanya, Marc


"Kau akan segera tahu nanti, dan ingat! datanglah kerumah saya jika kau ingin bekerja, akan saya pastikan gajihmu jauh lebih besar dari yang kau dapatkan sebelumnya" Ujar Sean menjelaskan


Seketika itu juga Vanya nelupakan tentang nama "Marc" yang disebutkan oleh Sean tadi, matanya kini mulai berbinar senang.


"Benarkah? Bapak tidak bercanda kan?-- eh? tunggu, saya datang kerumah bapak? dan mendapatkan gajih yang besar? apa bapak kira saya akan menjual diri?" Vanya yang tadinya senang kini memasang raut wajah marah.


"Kau terlalu percaya diri dengan tubuh mu yang kecil itu, lagian saya tidak tertarik dengan dada yang menyerupai triplek" Jawab Sean santai, tidak perduli dengan wajah Vanya yang memerah saat ini.


Teeeeeeeeeeeet!!!


Bel telah berbunyi pertanda waktu istirahat telah usai.


"Masuklah ke kelas, nanti akan saya kirimkan alamat rumahnya, lagian kau sudah pernah kesana sebelumnya" sambung Sean lagi. Bohong soal Sean yang berkata bahwa ia tidak tertarik dengan Vanya, padahal jauh di dalam hatinya, ia sangat menginginkan dan memiliki Vanya seutuhnya. Dengan kondisinya yang bukan seorang manusia biasa.


"Ba-baik pak, saya permisi" gugup Vanya yang menahan malu, benar yang dikatakan oleh Sean, dia terlalu percaya diri.


_______________________________


_______________________________


"Vanya, ada hubungan apa kau dengan pak Sean?" Tanya seorang siswi dengan beberapa temannya.


Vanya menatap gadis itu bingung


"Dia siapa? pernahkah kita berkenalan? kenapa dia bisa tahu namaku?" Batin Vanya bingung.


"Hanya sebatas seorang guru dan murid" Jawab Vanya singkat, lalu mengambil tasnya untuk segera beranjak dari sana


Gadis dengan rambut ber-cat merah itu merasa tak terima dengan jawaban Vanya, Ia merasa seolah-olah Vanya meremehkannya. Padahal sebenarnya Vanya tidak ingin membuang-buang waktu dengan pertanyaan yang tidak penting.


"Hei, Jika hanya sebatas seorang guru dan murid, lalu kenapa kau slalu berdekatan dengan dia. Masih SMA saja kau sudah bisa menggoda, apalagi yang digoda seorang gu--


"Hei Vanya, Bagaimana hukuman yang diberikan oleh pak Sean tadi? pasti sulit kan hahaha, makanya kau jangan bolos lagi seperti kemarin. Kau tahu kan pak Sean seperti apa hahaha" Heboh Kevan yang secara tiba-tiba datang menghampiri Vanya.


"Ah iya, bahkan dia menyuruhku membersihkan ruangannya tadi" Jawab Vanya kikuk. Ia tahu maksud Kevan seperti ini hanyalah ingin menyelamatkannya dari kecurigaan siswi-siswi didepannya.


Kevan lalu menatap Gadis dengan rambut ber-cat merah tersebut.


"Ada perlu apa? aku dan Vanya harus segera pergi untuk pekerjaan" Ujarnya


Gadis itu kemudian tersenyum canggung


"Ah aku tadi hanya salah paham, kami semua pamit dulu" Jawabnya, lalu pergi bersama genk genknya keluar dari kelas.


"Aish terimakasih" Ujar Vanya merasa sangat tertolong.


Kevan tersenyim manis


"Kau jadi menemui bibiku kan?" Tanya kevan


"Astagaaaaa!!!! Aku lupa bilang ke pak Sean bahwa aku akan bekerja di tempat bibimu" Histeris Vanya memegang keningnya


Bersambung.....


__________________________


__________________________


Jangan lupa klik jempol ya🤗👍👍