MY TEACHER IS A WEREWOLF

MY TEACHER IS A WEREWOLF
15



"Ah benarkah? jika begitu aku akan menemui bibimu nanti" Girang vanya senang, saat ini ia tengah makan bersama Kevan di kantin sekolah dan menceritakan semua keluh kesahnya, termasuk saat ia tak lagi bekerja di cafe. Mengetahui hal itu, Kevan menawarkan pekerjaan sampingan kepada vanya di sebuah kedai yang kebetulan milik bibinya, tentu saja Vanya menerimanya.


"Emm bagaimana keadaan adikmu? apakah sudah membaik?" Tanya Kevan berbasa-basi


Vanya mengangguk sembari mengunyah pentol baksonya.


"Ya, kondisinya sudah membaik dan besok sudah diizinkan pulang" Jawab Vanya


"Baguslah, ngomong-ngomong kau dan pak Sean memiliki hubungan apa?" Tanya Kevan yang sudah penasaraan sejak kejadian di perpustakaan waktu itu.


Vanya menatap bingung kevan sekilas, lalu kembali fokus dengan makananya.


"Hanya seorang guru dan murid?" jawab vanya seadanya


"Benarkah? tapi mengapa terlihat sangat aneh" Bantah Kevan lagi yang kurang percaya


Vanya hanya mengangkat bahunya acuh, mulutnya masih sibuk mengunyah pentolan demi pentolan.


"Ya dia memang aneh, bahkan sangat aneh" Jawab Vanya dengan ekspresi yang lucu, dan itu membuat mereka tertawa berdua. Tanpa mereka sadari, siswi siswi yang berada dikantin sudah sangat riuh karna melihat Sean yang berjalan dengan angkuh ke meja yang di duduki oleh Vanya dan Kevan.


"Vanya, pak Sean menyuruhmu datang keruangannya sekarang juga" Ujar seorang siswa yang tiba tiba menghampiri Vanya di mejanya


"Keruanganya? ngapain?" Tanya Vanya kepada siswa tersebut


"Entahlah, dia hanya menyuruhku untuk memanggilmu. Kalau begitu aku pergi dulu" Pamit siswa tersebut, lalu pergi meninggalkan Vanya dan Kevan


"Huft, baru saja kita menceritakanya dan sekarang dia sudah memanggilku" Oceh Vanya sebal.


"Kalau begitu aku pergi duluan yah" Sambung Vanya dan berpamitan dengan Kevan yang saat ini menatap kepergianya dengan sedih. Padahal tadi Kevan sudah sangat senang bisa berdekatan dengan Vanya, dan sekarang malah diganggu oleh gurunya.


Tok Tok Tok


"Masuk!" Ujar Sean dari dalam


Lalu dengan segera Vanya memasuki ruangan Sean dengan sopan.


GREB!


Sean tiba-tiba saja memeluk vanya dan berbisik di telinga Vanya dengan suaranya yang serak "Kau adalah MATEKU! Dan tak ada pria lain yang boleh mendekatimu"


Deg!


"Ehhhh pak i-ini apa apaan" Kaget Vanya yang secara spontan mendorong tubuh Sean hingga menjauh dari tubuhnya


"Aku bilang kau Mateku" Jawab Sean santai


"Mate? bukankah itu pacarmu?" Bantah Vanya yang saat ini tingkat kebingunganya sangat tinggi


"Kau akan tau nanti, yang pasti kau harus menjaga jarak dengan pria lain atau akan kubuat pria itu tak bisa mendekatimu lagi" Ujar Sean santai, namun terdengar mengancam.


"Maksud bapak apa? lagian bapak gapunya hak buat ngelarang saya" Bantah Vanya yang tak terima dengan ucapan Sean


"Hak?Apakah Aku butuh itu?" Ujar Sean dingin, lalu perlahan mendekati Vanya dengan tatapan yang menusuk. Vanya yang bulu kuduknya sudah naik kini memundurkan langkahnya, mundur, mundur dan damn! punggungnya sudah menempel di dinding. Sedangkan Sean masih berjalan mendekatinya dengan sorot mata yang tajam.


"Aku bisa langsung tahu jika kau berdekatan dengan pria lain" Ujar Sean dingin, jarak mereka kini sudah sangat dekat, bahkan deru nafas sean yang kasar bisa dirasakan oleh Vanya.


"Dan aku tidak suka mereka mendekatimu, karna kau hanya milikku" Sambungnya lagi, lalu kembali menarik tubuh mungil Vanya ke dalam pelukannya.


*


Bersambung.......


*


_________________________________


_________________________________


Jangan lupa buat teken tombol jempolnya ya👍👍👍