MY TEACHER IS A WEREWOLF

MY TEACHER IS A WEREWOLF
3



Disaat semua siswa siswi sibuk bersalaman dengan Sean, Vanya lebih memilih untuk segera pulang, karna ia sudah menghubungi bos nya untuk mengambil kerja tambahan. Sebenarnya setelah upacara pelantikan usai, semua siswa sudah dibolehkan untuk pulang kerumahnya masing masing, namun beberapa siswa terutama para gadis gadis lebih memilih untuk bersaliman dengan pemilik baru sekolah, sekaligus guru baru mereka


Biasanya Vanya bekerja paruh waktu saat pukul 05 sore sampai pukul 12 malam. Namun karna saat ini sekolahnya pulang lebih awal, ia memilih untuk mengambil kerja tambahan agar bos nya memberikannya bonus


"Sebentar lagi aku akan lulus sekolah, aku harus mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, agar varel adikku bisa bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi" Batin Vanya semangat, lalu ia segera mengendarai sepeda keranjangnya keluar dari area sekolah


Berbeda dengan Sean yang dengan setengah hati membiarkan para siswi siswi menyentuh tangannya, bahkan ada yang terang terangan untuk meminta nomor ponselnya. Apakah siswi jaman sekarang memang begini?


"Hahahaha bagaimana rasanya dirayu oleh muridmu sendiri? dan kau? kau tersenyum pada mereka? hahaha ayolah, kau bukan seperti Sean yang aku kenal" Ledek Marc pada Sean yang masih membiarkan para siswa siswi menyalimmi tanganya.


"Diamlah, aku tersenyum karna terpaksa, dan senyuman ku ini tak akan lagi ku tunjukan mulai besok" Ujar Sean dengan kesal, namun Marc hanya tertawa menanggapi ucapan Sean, dan hal itu semakin membuat Sean geram.


Sean adalah sosok pria dengan ke pribadian yang tegas, Ia adalah seorang Alpha terkuat di salah satu pack terbesar. Ia juga memiliki serigala hitam yang kekuatanya 20 kali lipat dari serigala biasa. Sorotan matanya yang tajam membuat siapa saja takut untuk memandanginya, bahkan rakyat di pack nya sendiri tak pernah berani untuk menatap wajah Sean, Alpha mereka. Namun kali ini Sean terpaksa menunjukan senyumannya yang langka kepada calon murid muridnya. Ia tidak mau kesan pertama siswa terhadap dirinya buruk.


••••••••••••••••


Kini Sean tengah mengendarai mobilnya dengan kencang, pikirannya sedang berkecamuk karna tak lagi melihat Matenya disekolah. Entahlah, padahal Sean tidak sudi memiliki Mate seorang manusia, namun hatinya sangat bertolak belakang dengan pikirannya. Saat Marc mengetahui bahwa Matenya sudah tak ada di sekolah, ia sama sekali tak menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Sean, bahkan dengan teganya ia memutuskan mid link secara sepihak, mungkin ia marah karna Sean lebih memilih untuk meladeni muridnya daripada mengawasi Matenya


Kepribadian Sean dengan serigalanya memang bertolak belakang. Sean memiliki kepribadian yang angkuh, dingin, dan juga memiliki gengsi yang tinggi. Sedangkan Marc serigalanya memiliki sikap yang hangat, namun walaupun begitu jangan pernah membuat sang serigala marc marah, karna saat itu terjadi, Marc akan hilang kendali dan membunuh siapa saja yang dianggapnya musuh.


"Sialan, kenapa aku harus se panik ini. Begitu besarkah pengaruh Mate kepadaku? arggghh ini sungguh membuatku menjadi gila!" Batin Sean emosi, tangannya mengepal setir dengan kuat, tapi saat ia melewati salah satu cafe, penciumannya menangkap aroma wangi yang sangat menusuk, Aroma vanilla yang membuat jantung Sean berdetak dengan kencang. Ya, ini adalah aroma Matenya, dan hanya Sean yang dapat mengenalinya.


"Sean itu aroma Mate kita!" haboh Marc secara tiba tiba, membuat Sean yang sedang memutar balik mobilnya terkejut


"Cih, setelah berjam jam mendiamiku kini kau mulai bicara" Cibir Sean kesal


"Tidak usah berbasa basi, cepat temui Mate kita" Perintah Marc tidak sabaran, ia ingin memastikan bahwa Matenya baik baik saja


Sean segera memarkirkan mobilnya di parkiran khusus pengunjung cafe. Ia yakin bahwa saat ini Matenya sedang berada di dalam cafe ini.


Saat Sean memasuki pintu cafe, hal yang pertama ia lihat adalah gadis mungil berpakaian pelayan yang sedang mengantarkan pesanan. Mengetahui bahwa gadis pelayan itu adalah Matenya, Sean mengepalkan tangannya kuat, matanya merah menahan amarah. Ia tidak terima bahwa matenya di perlakukan layaknya pembantu


"Bodoh, untuk apa dia mau menjadi seorang pelayan, sedangkan ia adalah Mateku, Mate dari seorang Alpha terkuat" Batin Sean geram menahan amarah. Ia sendiri juga bingung, disatu sisi ia tidak terima bahwa Matenya seorang manusia, disi lain ia tidak mau kalau Mate nya terluka.


Lama Sean memandangi gadis pelayan yang menjadi matenya itu. Ia tidak mau tergesa gesa, maka dari itu Sean lebih memilih duduk di salah satu meja untuk memperhatikan kegiatan Matenya.


Praaaaang


Suara gelas terdengar begitu nyaring hingga membuat sang penghuni cafe mengalihkan pandanganya menatap sang penyebab keributan


"Mohon maaf, maafkan saya" Ujar gadis itu dengan takut, ia sungguh tidak sengaja menjatuhkan minuman dan membuat sepatu pria tua di depannya kotor


Vanya yang dibentak oleh pria itu semakin menundukkan kepalanya takut


"Ma- maafkan saya tuan, sa- saya benar benar hiks, tidak sengaja" Ujarnya menahan tangis


Semua penghuni cafe lebih memilih untuk diam dan memperhatikan, mereka tidak mau ikut campur dan terkena masalah


"Enak saja, sekarang cepat kau bersihkan sepatuku" Bentak pria itu sambil menunjuk nunjuk sepatunya yang kotor


Vanya yang sangat takut dengan segera mengambil tisu, lalu berjongkok untuk mengelapi sepatu pria itu


namun saat ia akan mulai mengelap, sebuah tangan kekar memegang tangannya, alhasil Vanya tidak jadi mengelapi sepatu pria itu, dan lebih memilih melihat sang pemilik tangan kekar yang menggenggam tangannya.


Mata Vanya melotot tak percaya, ia kenal dengan pria ini, ya, dia adalah pria yang menatap dirinya dengan tajam saat disekolah tadi, dia adalah guru barunya!


"Kau tidak pantas menyentuh benda kotor seperti itu Mateku" Ujar pria itu menatap vanya lembut, tangannya masih menggenggam erat tangan vanya, namun kini matanya beralih menatap tajam sang pria tua angkuh yang membentak Vanya tadi


"Dan kau tidak sepantasnya membentak wanitaku seperti itu pria tua" sambungnya lagi, suaranya terdengar sangat tenang namun begitu menakutkan. lalu sebuah smirk muncul di wajahnya membuat sang pria tua didepannya ketakutan. begitu juga dengan seisi cafe yang sedari tadi masih memperhatikan aksi mereka







BERSAMBUNG..........


_________________________


Hai readers


kalau kalian suka sama cerita aku, jangan lupa follow dan dukung aku terus ya, biar aku makin semangat nulis ceritanya.


See you di next chapter😉