
Vanya Pov
Hari ini adalah hari peringatan Pancasila, jadi aku kesekolah hanya untuk melakukan upacara bendera, setelahnya semua siswa akan dipulangkan.
Oh ya namaku adalah Vanya Larasti, Saat ini aku duduk di bangku SMA kelas 3. Aku memiliki seorang adik laki laki yang sangat tampan, sifatnya yang ceria membuatku tak pernah kesepian sekalipun, walaupun kami hanya tinggal berdua dirumah sederhana ini.
Ya, Orang tua kami telah meninggal akibat kecelakaan lalu lintas 3 tahun yang lalu, saat itu aku masih berumur 15 tahun, dan Varel adikku berumur 12 tahun. Orang tua ku bukanlah orang kaya, mereka hanya meninggalkan rumah sederhana ini sebagai warisan, sedangkan yang harus membiayai kebutuhan hidup adalah aku.
Seperti biasa aku bangun jam 5 pagi untuk menyiapkan sarapan, dan menu hari ini adalah nasi goreng telur. Aku dan adikku harus berhemat, karna gaji dari kerja paruh waktuku tidak terlalu banyak, hanya 800 ribu perbulanya.
Saat nasi goreng buatanku sudah selesai, aku lekas ke kamar Varel untuk membangunkanya
Tok tok tok
"Varel? kau belum bangun? ayolah kau harus cepat bersiap siap atau kau akan terlambat kesekolah" teriakku dari luar kamar Varel
Hening, tak ada jawaban dari dalam sana. Alhasil aku membuka piintu kamarnya dan benar saja, aku melihat dia masih tidur tengkurap dengan nyenyaknya. sungguh anak ini sangat sulit untuk bangun pagi
"Hei bangun, sana cepat mandi, aku tidak mau telat karna harus menunggumu" Ocehku sambil terus menggoyang goyangkan tubuhnnya
Tubuhnya menggeliat seperti cacing, lalu ia merentangkan tanganya untuk meregangkan otot ototnya yang pegal.
"Ah kakak, selalu saja mengganggu mimpi indahku" Omelnya sambil terus mengucek ngucek mata bulatnya
Aku yang sedang merapihkan selimutnya pun memelototinya
"Hei, cepat mandi sana, mimpimu dilanjutkan sebentar malam saja" ucapku
Dia pun hanya memandang ku malas, lalu berjalan ke luar kamarnya menuju kamar mandi dengan langkah kaki yang di hentak hentakkan, dasar anak kecil!
Namun saat ia sudah berada di depan pintu kamar, ia menghentikan langkahnya, lalu menoleh kearahku
"Kak, apakah kau sudah punya uang?" Tanya nya takut takut
"Untuk apa kau menanyakan uangku?" Tanyaku balik
Ia menundukkan wajahnya, lalu menepuk nepuk kedua jari telunjuknya
"Wali kelasku menyuruhku untuk segera melunasi uang gedung" Ujarnya pelan
Aku melihat raut kesedihan di wajah adikku, dan hal itu membuatku tak tega. Untuk saat ini uang yang aku kumpulkan memang belum cukup, tapi aku tak mau membuat adikku terus memikirkan uang sekolahnya lebih lama
"Kau tenang saja, besok aku akan segera melunasinya" Ucapku dengan penuh keyakinan, agar ia tak mengetahui kalau aku sedang berbohong
Benar saja, ia langsung mengangkat wajahnya dan tersenyum lebar kepadaku
"Benarkah? kalau begitu aku akan semakin rajin belajar, supaya aku mendapatkan beasiswa dan tak merepotkan mu lagi, Terima kasih ya kak" Girangnya, ia langsung mengecup pipiku dan berlari menujh kamar mandi. Aku masih heran dengan tingkahnya yang seperti bocah sedangkan saat ini dia sudah berumur 15 tahun
NORMAL POV
"Belajar yang rajin dan jangan membuat masalah, oke?" Ujar Vanya kepada Varel yang masih berdiri di depan gerbang sekolahnya
Varel mengangguk mantap, lalu mengarahkan jari jempolnya kepada Vanya
"Aku tak akan membuat masalah, dan kau berhati hatilah diperjalanan,aku masuk dulu" Ucapnya, lalu dengan segera ia berlari kecil memasuki gerbang sekolahnya
Setelah memastikan Varel memasuki kelasnya, Vanya pun segera mengayuhkan sepeda keranjangnya menuju ke sekolahannya, untung saja jarak dari sekolah Varel ke sekolahan Vanya tidak terlalu jauh.
Sembari bersenandung ria, Vanya mengayuhkan pedal sepedanya dengan kecepatan sedang. Sepeda keranjang yang satu satunya menjadi alat transportasinya. Dan vanya sangat bersyukur bahwa ia masih memilikinya
Bersambung.....
**Part ini masih pengenalan jadi maaf kalah terlalu pendek.
Cerita ini adalah cerita pertamaku :), jadi aku mungkin masih kaku dan sangat membutuhkan suport dari kalian** :)