
"Eh?" Tanya Vanya melongo, jantungnya seakan-akan berhenti berdetak.
"Tidak, keluarlah" Jawab Sean kembali dingin, entah kenapa secara tidak sadar ia mengatakan kalimat yang tidak pantas seperti itu.
Tanpa menunggu lagi, Vanya langsung berlari keluar dari kamar Sean, keringat dingin sudah membasahi dahinya.
"Aku berjanji tak akan mau masuk ke kamar orang dengan sembarangan lagi" Gumamnya sambil beranjak untuk mengambil tasnya.
"Bi, Vanya pamit pulang dulu, nanti Vanya akan datang lagi sesuai jam kerja" Ujar Vanya kepada salah satu pelayan yang tengah membersihkan sofa di ruang tamu.
Bibi tersebut berbalik kaget karna sang calon lunanya sudah berdiri di sampingnya. Dengan segera ia membungkuk hormat.
"Maaf nuna, apakah nuna sudah izin kepada tuan Sean?" Tanya pelayan itu dengan kepala yang masih tertunduk.
Vanya lagi-lagi keheranan, kenapa semua pelayan dirumah ini memperlakukannya seakan-akan ia adalah ratu dirumah ini?
"Ah maaf, bisakah kau memanggilku Vanya saja? Dan kau tidak perlu membungkuk hormat seperti itu, aku juga pekerja disini" Ujar Vanya kepada sang pelayan tersebut, namun sang pelayan itu masih menundukan kepalanya, membuat Vanya jengah melihatnya.
"Ah sudahlah, jika pak Sean tanya bilang saja aku pulang untuk mengurusi adikku, aku juga harus belajar karna ujian kelulusan sudah dekat" Ucap Vanya menyuruh pelayan tersebut, sang pelayan hanya membungkukkan badanya sebagai jawaban. Tak mau memusingkan hal aneh lagi, Vanya langsung beranjak dari rumah yang besarnya bak istana itu.
Sehari sebelum Vanya bekerja di rumah Sean, Sean sudah mengumpulkan para pelayan yang bekerja di rumahnya untuk memberi tahu bahwa Matenya akan ikut bekerja di taman. Awalnya para pelayan terkejut karna Alpha mereka telah menemukan Matenya, yang sudah pasti akan menjadi luna mereka.
Namun, saat Sean memberitahu bahwa Matenya adalah seorang manusia biasa, para pelayan nampak sangat kecewa. Namun mereka tidak ingin mengeluh karna apapun itu, keputusan tetap berada di tangan Sean, Alpha mereka. Sean juga mengingatkan pada para pelayan dirumahnya untuk menghormati Vanya seperti mereka menghormati dirinya. "jangan biarkan Vanya sampai kelelahan dan jangan beri tahu bahwa kalian adalah manusia serigala, jangan beritahu tentang identitas kita yang sebenarnya untuk sementara waktu" Itulah yang Sean katakan pada para pelayannya sebelum Vanya bekerja disana.
_______________________________
_______________________________
"Kemana Vanya" Tanya Sean saat ia melangkah memasuki meja makan.
Para pelayan yang berdiri disana hanya saling tatap kebigungan, pasalnya mereka juga tidak tahu dimana keberadaan sang Luna. Namun tiba-tiba saja seorang pelayan yang umurnya sekitar 20an berlari mendekati Sean, lalu membungkuk hormat.
"Maaf tuan, tadi nona menyuruhku untuk memberitahumu bahwa ia akan pulang, tapi setelah jam kerja ia akan datang kembali kesini" Ujar pelayan tersebut dengan kepala yang terus membungkuk hormat.
Sean mengangguk-nganggukan kepalanya mengerti, lalu kerutan di dahinya kembali terlihat.
"Siapa yang mengantarkannya pulang?" Tanya Sean dan langsung membuat pelayan di depannya membeku.
"Ma-maaf tuan, saya tidak tahu soal itu" Jawab pelayan itu gemetar, ia takut Sean akan memarahinya karna ia sangat tau notabe Sean yang sangat tegas dengan para rakyat di dalam packnya.
Brakkk!!
Sean memukul meja makan dengan sangat keras membuat para pelayan yang berdiri disana tertunduk ketakutan. Namun lama mereka tunggu tak ada yang terjadi, Sean nampak tengah mengotak atik ponselnya meski rahangnya terlihat mengeras.
"Kau dimana?" Tanya Sean dingin, ternyata ia sedang menelfon Vanya.
".................."
"Besok-besok jika ingin berpergian kau harus melapor padaku, agar aku bisa mengantarmu, kau mengerti kan?" Ujar Sean lagi dengan nada yang memerintah.
".................."
".................."
"Kau tak perlu tahu, belajarlah dengan giat, kau akan segera lulus paham?"
"................"
"Hem"
Tut tut tut
Sean segera memutuskan telfonnya dengan Vanya. Ternyata Vanya sudah sampai dirumahnya dengan memesan ojek online. Sebenarnya Sean sangat risih jika Vanya berboncengan dengan pria lain, apalagi sopir ojek yang sudah dipastikan kebanyakan pria. Lain kali Sean tak akan membiarkan hal ini terulang lagi.
Sean kemudian menatap semua pelayan yang berdiri di sisi meja makanya dengan tatapan yang tajam.
"Lain kali, jangan biarkan Mateku berpergian sendiri, kalian paham kan?!" Ucap Sean dengan tegas, membuat semua pelayan yang ada disana mengangguk gemetaran. Jika Sean berteriak di dalam wujud manusianya, itu sama saat Sean mengaung di wujud serigalanya.
"Kalian katakan pada semua pelayan yang tidak ada disini untuk pulang ke Pack siang ini, kita akan melakukan upacara di malam bulan purnama" Ujar Sean memerintah.
"Baik tuan" Jawab para pelayan dengan kompak.
______________________________
______________________________
"Aish bocah itu ternyata malah sekolah, sudah kubilang untuk tetap dirumah" Gumam Vanya kesal, bagaimana tidak? saat ia pulang ia sudah mendapati rumahnya yang kosong. Saat ia melihat ke rak sepatu, ternyata dugaanya benar, Varel kesekolah.
Jika hari sabtu sekolah Vanya libur, maka tidak dengan sekolah Varel. Sekolah Varel hanya meliburkan muridnya satu kali dalam seminggu, yaitu hari minggu.
"Huh awas saja jika dia pulang nanti" Kesal Vanya mendengus, lalu ia memutuskan untuk belajar dikamarnya. Hari ini dan besok adalah hari santainya, karna selain ia libur sekolah, pekerjaanya juga ikut meliburkannya.
Note :
Alpha itu adalah Raja dari kaum werewolf.
Luna itu adalah Ratu dari kaum Werewolf
Bersambung........
______________________
______________________
**Hai readers, kalian masih ada? kok author ga merasakan keberadaan kalian 🙂
Jangan lupa likenya, akhir-akhir ini like menurut. Sedih deh *_***