
"Kenapa? apa kau tidak mau? Hem?" Bisik Sean sambil menahan tawanya
Sedangkan Vanya kini kebingungan setengah mati dengan ucapan Sean. Bagaimana mungkin seorang guru berkata begitu dengan siswa nya?
"Ah,, maaf pak, sa-saya bisa pulang sendiri, lagian saya bawa sepeda" elak Vanya sopan, bagaimanapun Sean adalah guru barunya, ia tidak mau membuat Sean tersinggung jika ia menolak secara kasar
Mendengar Vanya memanggil dirinya dengan sebutan "PAK", Sean menggeram tidak suka, ia segera menggendong vanya ala bridle style dan memasukkannya ke dalam mobil. Setelah dipastikan Vanya duduk di kursi mobil dengan baik, ia segera memasang seat belt lalu berbisik "Disekolah kau memang harus memanggil ku dengan sebutan pak, tapi tidak dengan di luar sekolah"
Vanya hanya diam mematung
"Apa itu tadi? aku digendong? lalu mengapa jantungku berdetak dengan kencang? apa ini? ah tidak tidak, mana mungkin seperti itu. bisa saja jantungku berdetak kencang karna aku takut diculik. diculik? eh aku diculik?!" Batin Vanya setelah sadar bahwa kini ia berada di dalam mobil Sean
Sedangkan Sean yang sudah asik menyetir kini terkekeh melihat ekspresi Vanya yang tiba tiba melotot.
"Ckck, Mateku memang bodoh, apa yang dia pikirkan sehingga ekspresinya bisa seperti itu" Batin Sean mengulum senyumnya
"p-pak,, ki-ta mau kemana? kenapa sa-saya ikut bapak?" Tanya Vanya gelagapan, ia baru sadar bahwa kini mobil sean sudah melaju meninggalkan cafe tempatnya bekerja
Sean yang sedari tadi berusaha menahan senyumnya kini kembali memasang wajah datar "Sudah kubilang, jangan panggil aku dengan sebutan pak jika di luar sekolah" Jawabnya sambil terus fokus menyetir
"Tapi saya tidak tau dengan nama bapak" Ujar Vanya menunduk, saat upacara pelantikan tadi pagi Sean memang sudah memperkenalkan namanya. Tapi entah bagaimana Vanya bisa lupa
"Padahal kau baris di barisan paling depan, bagaimana kau bisa tidak mendengar aku hem?" Tanya Sean santai, ia hanya ingin mengerjai Matenya
Vanya yang ketahuan kini menggaruk garuk tengkuknya yang tidak gatal
"Aku hanya ingat sedikit, hem apakah nama bapak Asean? apa aku harus memanggil bapak dengan sebutan Ase jika sedang berada diluar kelas?
Serigala marc yang mendengarkan itu hanya ketawa keras sembari mengejek Sean.
"Hahaha Nama macam apa itu, lucu sekali hahaha" Ejek marc lewat mid link
Sedangkan Sean hanya mendengus kesal, Asean? mengapa seperti nama organisasi?
"Diamlah atau aku akan mencium mu" Jawab Sean kepada Vanya.
vanya yang tadinya ingin memastikan apakah ucapannya tadi benar kini menutup mulutnya dengan kedua tanganya
"Apakah aku salah? astaga apa yang ku lakukan, kau harus menjaga kesucian bibir mu Vanya" Batinnya
••••••••••••••••••
"Ya, ayo masuk, aku akan mengobati luka mu" Jawab Sean santai, lalu menarik tangan Vanya agar mengikutinya masuk ke dalam mansion miliknya
Terdapat beberapa bodyguard di depan pintu yang menundukan kepalanya kepada Sean, tak hanya itu, beberapa maid pun datang untuk menyambut kedatangan Sean. Hal ini sungguh membuat Vanya semakin kagum
"Pantas saja dia mampu membeli sekolah ku yang terkenal elit, rumahnya aja segede istana" Batin Vanya terkagum kagum
Jika kalian berfikir bagaimana Vanya bisa bersekolah di sekolahan elit? Itu karna ia mendapatkan beasiswa, semua biaya akan ditanggung oleh pemerintah. Tentu saja itu tidak gratis, dengan mendapatkan beasiswa, Vanya harus mempertahankan prestasinya, ia harus pintar membagi waktu. dan untung saja sampai saat ini prestasinya tidak menurun sama skali.
"Duduklah dulu" suruh sean, lalu memanggil seorang maid untuk membawakan kotak P3K
"Luka saya tidak parah kok pak, lagian ini sudah kering, tidak usah rep-
"Tidak ada alasan, bagaimanapun kau tetap terluka" Ujar Sean memotong ucapan Vanya
Vanya mengernyitkan dahi nya heran, Apa Sean memperlakukan semua muridnya seperti ini? mengapa possesiv sekali?
namun tiba tiba suara dering ponsel milik Sean berbunyi, dan dengan segera Sean mengangkatnya tepat di hadapan Vanya
"Bagus, buat mereka bangkrut dan berlutut kepada Mateku" Ujar sean di telepon, lalu menutupnya dengan sepihak
"Mate? siapa itu? apakah dia pacarnya? hah aku tidak peduli" Batin Vanya
Seorang wanita yang berpakaian pelayan kini menghampiri Vanya dengan kotak P3K ditanganya, saat ia hendak menyentuh tangan Vanya yang terluka, tiba tiba Sean bersuara
"Biar aku saja, kau boleh pergi" Ujarnya datar, lalu dengan segera ia mengambil kapas dan alkohol untuk membersihkan luka ditangan Vanya
"Ba-baik tuan" ujar pelayan tersebut, lalu pergi meninggalkan sean dan vanya di ruang tamu
"Apakah aku masih bisa bekerja di cafe?" Tanya Vanya sembari memperhatikan sean yang membersihkan lukanya dengan telaten
"Tentu saja tidak" Jawab sean santai
"tapi bapak tidak berhak melarangku, jika tidak bekerja disana, maka adikku tidak akan bisa bersekolah" Bantah Vanya yang sedikit membuat Sean terkejut, matenya menangis?
"Ka-kau? kenapa menangis? mereka tidak pantas memperlakukan mu seperti itu, dan sudah sewajarnya kau keluar dari pekerjaanmu yang buruk" Jawab Sean dengan lantang, ia tidak suka jika Matenya menangis hanya karna pekerjaanya, apalagi bos nya yang memperlakukannya kasar seperti itu
"Itu urusan saya, bapak hanya seorang guru, dan bapak tidak berhak mengatur hidup saya. Saya permisi" Ujar vanya sambil mengusap air matanya, lalu ia segera berlari keluar dari mansion mewah milik Sean
"Vanyaaa! kau mau kemana!" Teriak Sean mengejar vanya, namun ia tak menemukan sosok matenya. bagaimana bisa vanya bisa mengelabui kecepatan sean yang merupakan manusia serigala? ini aneh!