MY TEACHER IS A WEREWOLF

MY TEACHER IS A WEREWOLF
26



Hari ini adalah hari dimana murid kelas 12 melakukan persiapan untuk menghadapi ujian kelulusan, yaitu simulasi.


Vanya kini dapat belajar dengan penuh tanpa harus kekurangan biaya hidup lagi. Sean memaksanya untuk tidak bekerja dulu selama masa ujian, meski Vanya sempat menolak, tapi Sean malah semakin bersikeras dengan alasan ia tidak mau bertanggung jawab jika nilai ujian Vanya jelek nantinya. Meskipun begitu, Vanya tetap akan mendapatkan gajih bulananya tanpa dipotong sedikitpun. Ia merasa sangat berhutang budi kepada Sean.


"Kau gugup Vanya?" Tanya Kevan yang menghampiri tempat duduk Vanya.


Vanya yang asik belajar pun langsung kaget karna kehadiran Kevan yang menurutnya tiba-tiba.


"Ya, meski ini cuma simulasi, tapi aku masih tetap gugup" Jawab Vanya jujur. Kevan langsung beralih untuk duduk di bangku samping Vanya yang kosong, ia menidurkan kepalanya sambil memandangi Vanya yang masih fokus belajar.


"Aish jika dipandangi dari sini kau terlihat seperti bidadari" Ujar Kevan yang masih terus memandangi Vanya.


Vanya tak menggubris perkataan Kevan, ia hanya mengira bahwa Kevan sedang mencoba menggodanya dan menggangu konsentrasi belajarnya.


"Saking fokusnya kau malah mengabaikanku huh" Keluh Kevan kesal, lalu beralih untuk menyandarkan badannya di kursi.


"Kau mencoba menganggu konsentrasiku huh?" Jawab Vanya yang masih terus fokus mencatat. Membuat Kevan semakin terkekeh dibuatnya.


"Aku akan duduk disini saja" Ujar Kevan santai dengan kepala yang menghadap keatas menatap langit langit kelas.


Vanya lagi-lagi tak menggubris ucapan Kevan, isi otaknya saat ini hanyalah materi-materi kimia dan fisika yang harus ia pelajari sebelum simulasi dimulai.


"Huh ngomong sama patung capek juga ternyata" Lagi-lagi Kevan mengeluh membuat Vanya yang mendengarnya jadi menghembuskan nafasnya berat.


"Mau kamu apa?" Tanya Vanya yang kini membalikan badannya kesamping dimana Kevan berada.


"Kevan yang tadinya bersandar dikursi langsung menegakan badanya semangat, tidak lupa juga dengan senyum manisnya yang ia beberkan begitu saja di depan Vanya.


"Mulai saat ini aku akan duduk disini" Ujar Kevan Mantap, membuat Vanya jadi makin heran dengan tingkah Kevan yang semakin hari semakin aneh menurutnya.


"Tidak bisa. Jika kau duduk disini, meja depan akan terlihat kosong" Bantah Vanya yang menolak.


Namun Kevan masih terlihat bersikeras dengan keinginannya.


"Hemm Jo, lu mau kan duduk gantiin gw di depan?" Tanya Kevan kepada seorang siswa yang duduk di bangku sebelah Vanya.


Siswa yang namanya terpanggil kini menolehkan wajahnya kearah Kevan, lalu menatap teman disampingnya.


"Kalo gw pindah kedepan, Jigar duduk sama siapa Van" Jawab Siswa tersebut, disatu sisi ia tidak enak menolak perintah Kevan yang notabenya pria populer di sekolahnya, bisa mati dia kalo punya masalah dengan Kevan. Tapi disisi lain ia tidak enak jika harus membiarkan Jigar, teman sebangkunya duduk sendirian.


"Udah van, aku duduk sendiri aja, udah biasa" Tolak Vanya yang tak enak dengan Bejo dan Jigar. Toh dia juga sudah nyaman duduk sendirian di bangku belakang.


"Lo pindah aja. Lagian lo bisa liat tulisan dipapan lebih jelas kalo lo pindah, gw gapapa duduk sendiri" Ujar Jigar menyuruh Bejo. Membuat Bejo menganggukan kepalanya setuju.


"Okelah kalo lo nya ga keberatan gw duduk di depan" Putus Bejo yang membuat Kevan tersenyum senang, dengan segera ia membereskan buku-bukunya dan segera berjalan pindah ke bangku depan dimana tempat Kevan duduk sebelumnya.


"Thanks ya Jo" Ujar Kevan yang kini ikut merapihkan bukunya untuk dipindahkan di bangku samping Vanya.


Abas yang notabenya mantan teman Sebangku Kevan hanya tersenyum kecut melihat tingkah Kevan yang seenaknya.


"Dia ga mikir apa gw setuju ato ngga, dasar temen haram" Batin Abas kesal, ia jadi tidak bisa menyontek lagi jika Kevan tidak duduk disebelahnya. Namun ia juga tidak berani jika harus menentang keputusan Kevan.


"Gimana? Beres kan?" Ucap Sean yang tersenyum kepada Vanya.


Namun bukannya membalas senyuman Kevan, Vanya malah memutarkan bola matanya malas.


"Nah justru karna kita mau lulus aku harus duduk disamping kamu, anggap aja sebagai kenangan teman sebangku hahaha" Tawa Kevan yang hanya dibalas gelengan kepala dengan Vanya.


__________________________


__________________________


Sedangkan disisi lain Sean nampak mondar-mandir diruanganya, mulutnya nampak berkomat-kamit seperti sedang berbicara dengan seseorang. Jika orang lain melihat sudah dipastikan mereka akan mengira Sean gila karna berbicara sendiri.


"Kau harus secepatnya menemukan si penghisap darah itu" Perintah Sean yang berbicara dengan seorang penyihir putih utusan dari bundanya. Penyihir itu sudah meminum ramuan agar tubuhnya tidak dapat di lihat oleh manusia biasa, hanya kaummnya dan Sean lah yang dapat melihatnya.


"Baik Alpha, aku akan berusaha secepat mungkin untuk menemukannya" Jawab penyihir tersebut menundukan kepalanya hormat, lalu pergi menghilang dari hadapan Sean.


Selang beberapa detik setelah kepergian sang penyihir, tiba-tiba saja pintu ruangan Sean diketuk oleh seseorang.


"Masuk" Jawab Sean dari dalam.


Pintu Sean langsung terbuka dan menampilkan seorang guru muda dengan tubuh moleknya.


"Maaf pak, saya hanya mau memberi surat ini dari pemerintah pendidikan, saya harap bapak membacanya" Ujar wanita itu yang ternyata adalah Lucy.


Namun Sean bukanya fokus dengan apa yang dikatakan lucy, ia malah fokus dengan aroma yang ia cium dari tubuh Lucy.


"Kau tinggal dengan siapa?" Jawab Sean menatap Lucy dengan tajam, tiba-tiba saja aura dingin langsung menyebar diruangan itu, membuat tubuh lucy jadi gemetar hebat.


"a-ada apa bapak tiba-tiba menanyak---


"Aku tanya kau tinggal dengan siapa!" Bentak Sean hingga membuat Lucy terjingkat kaget.


"Saya tinggal dengan pacar saya pak" Jawabnya dengan spontan, matanya ia tutup erat, takut melihat Sean yang berdiri di hadapannya.


Sean jadi semakin curiga dibuatnya, ia lalu mendekatkan wajahnya keleher lucy untuk mencium aroma yang sangat ia kenal.


"Aku yakin lehermu habis di gigit" Bisik Sean di telinga Lucy, suaranya sangat menusuk membuat Lucy jadi bergidik ngeri.


"Mu-mungkin digigit nyamuk pak'' Elak Lucy menahan ketakutannya. Ia juga tidak paham dengan apa maksud dari ucapan Sean.


Sean lagi lagi menatap Lucy dengan tajam.


"Siapa nama pacarmu" Tanyanya lagi.


Lucy pun jadi bingung sendiri, ia juga bingung dengan statusnya. Apakah pria yang dianggapnya pacar juga menganggap dirinya begitu? Atau mungkinkah hanya dirinya yang menganggap pria itu sebagai pacarnya?


"Jack" Jawab Lucy dengan kepala yang tertunduk.


Tanpa ia sadari, mata Sean sudah berubah warna menjadi warna mata srigala yang tanda nya ia siap bertempur.


Bersambung.....


_________________________


_________________________


Jangan lupa dukungannya ya😀