
"Yaah pak hujannya lebat banget, gpp kan saya dirumah bapak dulu?" Ujar Vanya menatap Sean yang saat ini sedang duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya.
Saat Vanya hendak berganti pakaian dan lekas pulang, tiba-tiba saja hujan turun sangat lebat, walaupun ini masih senja, tapi warna langit sudah sangat gelap seakan-akan tak membiarkan langit senja yang indah muncul.
"Hem" Jawab Sean seolah-olah ia tak menperdulikan Vanya. Vanya pun juga tidak ambil pusing, ia ikut duduk disamping Sean sambil menahan dinginnya udara.
Sean melirik Vanya sekilas, lalu kembali menatap layar Hpnya. Ia lalu tersenyum karna sebuah ide terlintas di pikirannya. Dengan segera ia menghubungi Betanya melalu mid link.
"Malam ini aku tidak bisa ke sana, tolong jaga pack selama aku masih di dunia manusia" Ujar Sean melalui mid linknya ke sang Beta, lalu memutuskannya secara sepihak.
Sean menunda kepergianya menuju pack, ia ingin memanfaatkan malam ini untuk bisa berdekatan dengan Matenya, Vanya.
"Masuk lah kekamar jika kau kedinginan" Ujar Sean datar, pandangannya masih tetap fokus dengan layar ponselnya.
Vanya yang tadinya fokus melihat-lihat sekeliling ruang tamu kini beralih menatap Sean dari samping.
"Eh? Kam-kamar?" Ujar Vanya memastikan kalau ia tidak salah dengar. Namun setelahnya hanya keheningan yang terdengar, Sean pura-pura tak mendengar ucapan Vanya karna sibuk mengurusi detak jantungnya yang tak karuan. Hanya suara hujan yang terdengar, para pelayan sudah berada di kamar mereka masing-masing, tak ada yang berani keluar jika Tuan mereka, Sean berada di dalam rumah.
"Asataga jangan-jangan pak Sean risih aku disini, pantes aja dari tadi mukanya datar gitu" Batin Vanya tak enak, ia tak menyadari bahwa sedari ia membatin, ia terus memandangi wajah Sean dari samping.
Sean pun menyadari hal itu, membuat jantungnya semakin keras berdetak. Namun bukan Sean namanya jika tak pintar menyembunyikan ekspresi, buktinya wajahnya masih datar seperti sebelumnya, walau jantungnya sudah melompat-lompat ingin keluar.
"Emmm pak, saya mau mesen gojek aja, maaf merepotkan" Ujar Vanya bangkit dari duduknya, ia hendak memesan gojek di teras depan rumah Sean walaupun harus kedinginan daripada dia merasakan canggung jika duduk seperti ini.
Sean yang mendengar itu dengan segera mematikan ponselnya dan beranjak menarik lengan mungil Vanya, alhasil Vanya terjatuh di pangkuan Sean. Dan dengan segera Sean memeluk tubuh mungilnya dari belakang. Hangat!
"Bagaimana jika sopir gojek itu menculikmu hem?" Bisik Sean dengan serak di leher putih milik Vanya, hal itu membuat Vanya merasakan geli.
Vanya yang merasa tak nyaman dengan posisi mereka yang menurutnya intim langsung memukul-mukul pelan lengan Sean agar mau melepaskan pelukannya. Walaupun Vanya juga merasakan hangat dan nyaman di peluk Sean seperti itu, namun akal sehatnya masih bekerja. Sean adalah gurunya dan ini sudah melewati batas.
"Kau kedinginan bukan? biarkan aku memelukmu seperti ini" Ujar Sean lagi, suaranya yang serak terdengar begitu sexy, membuat Vanya yang mendengarnya merasa panas dingin.
"Ta-tapi pak, ini sudah melewati batas, ba-bapak guru saya" Ujar vanya dengan gugup, jantungnya berdetak sangat kencang membuatnya menjadi takut jika Sean mendengarnya.
Sean tak suka jika Vanya berkata seperti itu, dia memang guru Vanya, tapi Vanya adalah Matenya! Pasangan hidup Sean yang telah ditipkan oleh dewi bulan.
"Aku memang gurumu, tapi itu jika sedang disekolah. Aku tahu kau nyaman di posisi ini Vanya" Bantah Sean dengan memeluk tubuh Vanya semakin erat, hidungnya yang mancung mengendus-ngendus leher putih Vanya yang menurutnya sangat wangi.
"Ta-tapi--
Jderrrr!!!!
Suara guntur yang sangat besar membuat Vanya kaget dan reflek berbalik badan untuk memeluk tubuh Sean yang masih memangkunya. Vanya memang sangat takut dengan suara besar. Setiap ada suara guntur ia pasti akan bersembunyi di dalam selimut dengan ketakutan, bahkan pernah sampai menangis.
Sean yang tak tega melihat Vanya ketakutan seperti ini segera menggendong tubuh Vanya seperti bayi menuju kedalam kamar yang dindingnya kedap suara, dengan begitu Vanya tidak akan mendengarkan suara guntur lagi.
Vanya tau bahwa saat ini Sean tengah berjalan, namun ia tak tau Sean akan membawanya kemana. Ia masih terus memeluk Sean erat dan menyembunyikan wajahnya di pundak tegak milik Sean, sebab ia masih takut karna suara petir yang masih terdengar keras. Dan saat Vanya mendengar suara pintu tertutup, ia tak mendengar suara petir maupun suara hujan lagi.
Dengan segera Vanya mengangkat wajahnya untuk melihat sekelilingnya. sedangkan Sean mendudukan Vanya di sebuah kasur king zize miliknya dengan perlahan.
''Sudah tidak takutkan?" Tanya Sean memastikan. Dan Vanya hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Bisakah bapak mengantarku pulang? Varel belum makan" Lirih Vanya dengan suara yang serak. Entah mengapa suara Vanya akan berubah menjadi serak ketika sudah malam hari, dan itu terdengar sangat menggoda.
"Hem, suara petir masih terdengar keras, kau yakin ingin mendengarnya saat diperjalanan pulang nanti?" Ujar Sean memperingati. Itu hanyalah alasan Sean untuk menakut-nakuti Vanya agar tidak pulang dan tetap berada disini, disisinya.
Vanya menunduk dan menggeleng sebagai jawaban. Ia tidak mau mendengar suara petir apalagi berada di dalam mobil, itu sangat mengerikan bagi Vanya. Tapi disatu sisi ia memikirkan adiknya yang sendirian dirumah, apalagi Varel belum makan.
Sean tersenyum melihat Vanya menggeleng.
"Aku akan menelfon adikmu dan memesankanya makan melalu gojek, kau tenang saja, dan tidurlah di kamarku" Perintah Sean lembut, lalu beranjak keluar dari kamarnya.
Sepi dan hampa. Itu yang Vanya rasakan, dikamar yang luas ini membuatnya merasa sangat takut jika sendirian, walaupun suara hujan dan petir tidak kedengaran lagi, ia masih merasakan takut. Ia berharap Sean datang dan dengan begitu rasa takutnya akan hilang. Ia tidak perduli dengan perasaan aneh ini, yang ia butuhkan saat ini adalah Sean. Ia nyaman berada di dekat Sean.
Ceklek. Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok bertubuh tegap membawa sebuah nampan dan segelas teh hangat.
"Makanlah, aku sudah memberi tahu adikmu bahwa kau akan menginap disini" Jelas Sean sambil menaruh nampan yang berisi makanan itu di kasur.
Vanya segera bangun untuk duduk, ia lalu menatap Sean. Sean yang tau maksud dari tatapan itu segera terkekeh.
"Tenang saja, aku sudah memesankan adikmu makanan dan ia menyuruhku untuk menjagamu" Jelas Sean lagi, dan itu membuat hati Vanya merasa lega.
"Makanlah" Perintah Sean yang duduk di kaki ranjang sambil menatap Vanya.
Karna perut Vanya yang memang sudah lapar, ia langsung mengambil dan melahap makanan yang dibawakan oleh Sean.
"Emm apakah ini kamar bapak?" Tanya Sean dengan mulutnya yang masih penuh.
Sean merasa gemas melihat Vanya yang lucu seperti itu, hanya Vanya yang selalu bisa membuat hati Sean menjadi hangat.
"Ya ini kamarku'' Balas Sean singkat, ia masih terus memandangi Vanya yang makan dengan lahap.
"Kalau aku tidur disini, bapak tidur dimana?" Tanya Vanya lagi, Mulutnya yang penuh dan belepotan membuat Sean ingin memakan Pipi Vanya yang kembung bagaikan bakpao.
"Dimana lagi? ini kamarku dan sudah dipastikan aku akan tidur disini" Jawab Sean santai dengan senyum smirk handalannya.