MY TEACHER IS A WEREWOLF

MY TEACHER IS A WEREWOLF
27



"Kau tau jack bukan manusia? apa kau bekerjasama dengannya untuk menghancurkan ku hem?" Ujar Sean dengan geraman di sela-sela ucapannya.


Lucy yang mendengar hal itu pun jadi melotot kaget, bagaimana Sean bisa tau kalau Jack bukanlah seorang manusia biasa? Ada hubungan apa sebenarnya diantara Sean dan juga Jack? Lucy benar-benar tidak tahu.


"Ka-kau? kenapa bisa tau?" Tanya Lucy dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya.


"A-apa kau juga seorang vampir?" Sambung Lucy lagi, matanya kini menatap Sean dengan takut. Ia baru sadar ternyata Sean juga bukan manusia biasa. Pantas saja waktu itu Jack menanyakan tentang Sean.


"Ahahahaha aku seorang Vampir? Bagaimana mungkin kau bisa menyamaiku dengan mahluk menjijikan seperti itu?" Ujar Sean dengan tawa yang menurut Lucy sangat mengerikan. Lucy sangat takut, ia berharap Jack mau datang dan menolongnya. Tapi itu sangat mustahil.


"La-lalu? Ada hubungan apa kau dengan Jack" Tanya Lucy lagi takut-takut, ia memundurkan langkahnya kebelakang sedikit demi sedikit.


Sean langsung menunjukan senyum smirknya.


"Kau memang tidak tahu atau hanya berpura-pura agar bisa selamat huh?" Tanya Sean dengan kedua tangan yang dimasukan ke kantong celananya.


Lucy menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak tahu apa-apa, apalagi bermaksud untuk mencelakai Sean.


Braakk!!!


Tiba-tiba saja atap ruangan Sean roboh, membentuk sebuah lingkaran yang tidak terlalu besar. Sekilas Sean melihat asap hitam yang masuk dari sana.


Sean langsung sadar dan melihat ke tempat dimana Lucy berdiri tadi. Dan benar saja, Lucy sudah tidak ada diruangannya. Ia yakin asap hitam yang masuk tadi adalah Jack, dan ia berhasil membawa Lucy pergi dari sini.


"Sial, si pengecut itu rupanya meminum ramuan agar aku tak dapat melihatnya. Tapi tetap saja aku masih bisa melihat warna auranya. Aku yakin dia sudah bekerja sama dengan penyihir hitam" Batin Jak menahan amarahnya, ia sadar bahwa saat ini dirinya sedang berada di dunia manusia, terlebih lagi di sekolahan. Ia tidak boleh terpancing emosi dan membuat masalah jika tak ingin kedoknya sebagai manusia serigala terbongkar.


"Arthur, datanglah kedunia manusia sekarang. Ada sesuatu yang harus kita bicarakan" Perintah Sean yang menghubungi Arthur melalui mid linknya.


_____________________


Disisi lain Vanya tengah berjalan ria keluar dari kelas untuk menuju parkiran. Vanya cukup puas melihat nilai hasil simulasinya tadi, semuanya diatas 90.


Tanpa sengaja Vanya melihat Sean yang tergesa-gesa memasuki mobilnya.


"Mungkin lagi sibuk" Batin Vanya yang terus melihat gerak-gerik Sean hingga Sean pergi meninggalkan halaman sekolah.


Sean sebenarnya sadar akan keberadaan Vanya yang memperhatikannya, namun ada urusan yang lebih penting yang harus ia tangani saat ini.


"Cepat lacak keberadaan vampir itu, dia sudah mengetahui lokasi ku dan juga mateku, jangan sampai dia mulai berulah" Ujar Sean kepada Arthur melalui Mid link nya.


Sean langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi, ia harus segera menemukan tempat tinggal Lucy.


Disisi lain Vanya mengayuh sepedanya menuju rumahnya, sinar matahari yang lumayan terik membuat peluh di dahi Vanya berceceran.


"Emmm wajarkah jika aku menelfonya?" Batin Vanya lagi, tanpa ia sadari, sepedanya melaju ke arah yang salah.


Tiiinnn Tiiiiinn


Brukkkk!!!!


Gelap, Vanya tidak tau apa yang terjadi, ia juga tidak merasakan sakit, tapi ia juga tidak dapat melihat apa-apa. Dia hanya bisa mendengar bunyi klakson yang ramai, dan suara orang-orang yang memanggilnya.


Namun semakin lama suara-suara itu mulai mengecil, hingga Vanya tak dapat mendengarkan apa-apa lagi. Gelap dan sunyi, itulah yang Vanya rasakan saat ini. Namun tak lama kemudian muncul segelincir cahaya yang makin lama makin membesar hingga membuat matanya menjadi silau.


Di tengah-tengah cahaya tersebut, ia melihat ayahnya yang duduk membelakanginya dengan seekor serigala putih yang juga ijut duduk disampingnya. Ayahnya nampak sedang merangkul tubuh serigala itu dengan penuh kelembutan, membuat Vanya jadi meneteskan air matanya. Entah mengapa hatinya berkata bahwa serigala itu adalah ibunya.


Seketika itu juga Ayah Vanya dan serigala putih yang duduk disampingnya membalikan badan, tatapan mereka dan Vanya bertemu membuat kerinduan dihati Vanya kepada orang tuanya jadi bertambah. Hingga tanpa ragu lagi Vanya berlari kearah ayahnya untuk memeluknya dengan erat.


Tapi, Vanya tak kunjung sampai, ia seperti berlari di tempat, tidak, melainkan ayahnya dan serigala itulah yang semakin menjauh. Ia hanya bisa melihat senyum dari bibir ayahnya, dan sepertinya serigala itu juga ikut tersenyum. Vanya ingin sekali berteriak untuk memanggil ayahnya, namun suaranya tak kunjung keluar.


Vanya semakin pasrah ketika sosok ayahnya dan serigala itu mulai menjauh dan akhirnya menghilang. Air matanya terus mengalir deras dipipinya. kakinya terasa lemas hingga ia nenjatuhkan badannya dan bersimpuh untuk memeluk kedua lututnya. Dia ketakutan, ia merindukan orang tuanya, ia ingin pulang, tapi dimana dirinya saat ini? Ia seperti berada di ruangan putih yang luas, namun kosong dan terasa sangat hampa.


"Bangunlah, masih ada aku" Ujar seseorang mengulurkan tanganya, membuat Vanya yang tertunduk jadi mendongakan kepalanya.


Vanya yang tak mampu mengeluarkan suaranya kini langsung bangun dan memeluk erat sosok yang ada di hadapannya, ia menangis sekeras-kerasnya, melampiaskan kerinduannya dan juga ketakutannya.


"Jangan tinggalkan aku" Ujar Vanya di sela-sela tangisnya.


"Aku juga tidak ingin meninggalkanmu, jadi tetaplah bersamaku" Ujar sosok itu yang kini membalas pelukan Vanya dengan erat.


Bersambung.....


________________________


________________________


Halo readers, maaf baru sempet up.


Cerita sudah berada di tengah jalan loooh....


Jadi jangan lupa untuk dukungannya ya, kalian pasti tau harus ngapain☺


/Maaf Gaje dan see you 🙃🙂