
"Eum, Kau duluan saja, aku harus ke ruangan pak Sean untuk memberitahu" Ujar Vanya menyuruh Kevan.
"Ta-tapi---
"Nanti akan kuhubungi lagi,, daaaah" ucap vanya memotong perkataan Kevan, lalu segera berlari menuju ruangan pak Sean untuk memberitahu bahwa ia sudah berjanji akan bekerja di cafe milik bibi Kevan.
Sedangkan Kevan hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Vanya yang menurutnya sangat menggemaskan.
Saat ini Vanya tengah ragu untuk memasuki ruangan Sean, ia masih canggung mengingat kejadian dimana Sean memeluknya tadi.
"Sampai kapan kau akan berdiri disana? cepatlah masuk" Teriak Sean dari dalam, teryata sedari tadi Sean telah menyadari kedatangan Vanya.
Deg
"Kenapa dia bisa tau? perasaan aku tidak berisik sama sekali" Batin Vanya kaget sekaligus bingung. Namun karna tak mau membuang waktu lama, Vanya segera membuka pintu dan berjalan dengan sopan ke meja Sean.
"Eumm saya akan bekerja di tempat lain pak, jadi pekerjaan yang bapak tawarkan tadi saya tolak" Ujar Vanya menjelaskan, lalu menundukan kepalanya karna tiba-tiba aura dingin terpancar diruangan tersebut.
"Kau akan bekerja dimana?" Tanya Sean dingin, matanya menatap Vanya yang tertunduk dengan tajam
"Cafe milik bibi Kevan" Lirih Vanya pelan, namun masih dapat didengar Sean.
Mendengar nama Kevan membuat Sean menjadi risih, ia segera bangun dari duduknya dan mendekati vanya yang masih tertunduk di hadapannya.
"Bagaimana kalau aku melarangmu hem?" Bisik Sean di telinga Vanya.
Vanya yang kaget secara spontan mundur menjauhi Sean.
"Sa-saya tetap akan bekerja disana pak, lagian saya tidak tau bapak akan memberi saya pekerjaan apa" Jawab Vanya tegang, entah mengapa jantungnya terus berDJ saat berdekatan dengan Sean.
Sean merasa tak terima karna Vanya lebih memilih bekerja di cafe milik bibi kevan, ia tak mau Vanya merasa berhutang budi dengan Kevan. Karna Sean tau bahwa Kevan memiliki perasaan kepada Vanya, itu bisa dilihat dari cara kevan memandang vanya.
"Kalau begitu kau ikut saya sekarang" Ujar Sean dingin, lalu segera mengambil kunci mobilnya dan menarik tangan Vanya untuk segera keluar dari ruangannya.
Vanya yang kebingungan sekaligus takut mulai memberanikan diri untuk bertanya.
"Saya mau dibawa kemana pak?" Tanya Vanya takut takut, biar bagaimanapun masih ada siswa yang berlalu lalang disekolah, ia takut mereka akan curiga dengan dirinya yang saat ini berjalan mengikuti Sean.
"Mengunjungi tempat kerjamu" Jawab Sean singkat, tatapan tajamnya memandang lurus kedepan, langkahnya kakinya sangat cepat sehingga vanya sangat sulit untuk menyamainya.
''Tapi kan saya akan bekerja di---
"Kau bisa membatalkannya, aku yakin kau akan betah bekerja denganku" Potong Sean, lalu segera menghidupkan mobilnya.
Vanya yang tak enak dengan tatapan para siswa dengan cepat memasuki mobil Sean, Pikirannya kalang kabut saat ini. Mau tidak mau Vanya harus menelfon kevan untuk memberitahu bahwa ia tidak jadi bekerja di tempat bibinya.
Dengan segera Sean menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan sekolah. Hanya keheningan yang tercipta antara Sean dan Vanya. Tak ada yang mau membuka suara karna masing masing sibuk menenangkan jantungnya yang berdetak kencang.
__________________________
__________________________
"Bagaimana, kau suka?" Tanya Sean kepada Vanya.
Sedangkan Vanya yang saat ini terkagum-kagum hanya mengganggukan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Sean, ternyata dirumah besar milik Sean terdapat Taman bunga yang ditutupi kaca besar, dan ini sangat indah.
"Kau hanya perlu merawat tanaman ini, dan aku akan memberikanmu 10 juta perbulan. tapi dengan syarat kau tidak boleh sampai kelelahan, ingat jangan sampai kelelahan kau mengerti?" Ujar Sean yang mengingatkan Vanya. Sedangkan sang empunya hanya mengerutkan keningnya heran.
"10 juta perbulan pak? tidakkah terlalu banyak?" Tanya Vanya dengan ekspresi yang lucu, hal itu membuat Sean mengulum senyumnya.
"Tidak" Jawab Sean memalingkan wajah
"Kau tidak akan bekerja sendiri, ada beberapa orang juga yang bekerja mengurusi taman ini" Sambung Sean menjelaskan
"Aah pasti akan menyenangkan,, haaaa bunga bunganya cantik sekali" Ujar Vanya kegirangan, sedari tadi tangannya tak pernah berhenti memegangi bunga-bunga disekitarnya.
"Kapan saya bisa bekerja pak?" Sambung Vanya lagi, senyum di wajahnya sedari tadi tak hilang-hilang, ia tidak menyangka bahwa orang sedingin Sean juga menyukai bunga.
"Besok" jawab Sean singkat, ia mati-matian menahan senyumnya, entah kenapa hatinya menghangat melihat Vanya tersenyum seperti ini.
"Manis" Gumamnya
+
Bersambung......
____________________
____________________
Jangan lupa dukungannya ya readers ><