MY TEACHER IS A WEREWOLF

MY TEACHER IS A WEREWOLF
4



"Si-siapa kau, berani ikut campur urusan saya" Ujar pria itu menyembunyikan ketakutannya, lalu matanya beralih menatap tangan sean yang menggenggam erat tangan Vanya


"saya tidak perduli dengan urusan anda, tapi kalau itu bersangkutan dengan wanitaku, apalagi kau memperlakukannya kasar seperti tadi, aku tidak akan pernah memberimu ampun" jawab Sean santai, namun terdengar sangat tegas


Pria tua itu terkekeh, memandangi Sean dan Vanya dengan remeh


"Oh ya? nyalimu sangat besar karna berani menantang direktur besar sepertiku" kekehnya


Namun saat Sean ingin membalas, tiba tiba saja seorang wanita paruh baya datang menghampiri mereka, wanita itu adalah pemilik cafe tempat Vanya bekerja


"Maaf, ada apa ini ribut ribut di cafe saya. Dan kamu vanya, sudah berapa kali saya bilang untuk tidak ceroboh! cepat bersihkan pecahan gelas itu!" Perintah wanita itu yang nampak sedang menahan amarah


"Maa-maaf bu" Jawab vanya takut, dengan segera ia melepaskan genggaman tangan Sean, lalu memunguti pecahan gelas dengan tangannya. Semua pegawai cafe kasihan melihat Vanya yang selalu di marahi oleh ibu bos, namun mereka tak bisa berbuat apa apa selain berdoa agar Vanya tidak dipecat.


"Jangan sentuh benda kotor itu Vanya!" Perintah Sean tegas, rahangnya mengeras sehingga urat urat di lehernya kelihatan, matanya menatap tajam dua sosok di depannya, berani berani nya mereka memperlakukan Matenya seperti itu


Vanya yang nampak bingung lebih memilih untuk mengabaikan Sean, ia tetap bersikukuh membersihkan pecahan gelas itu dengan tangannya, ia tidak ingin dipecat, kalau itu sampai terjadi, bagaimana ia harus membayar uang sekolah adiknya


Merasa ucapannya diabaikan, Sean menarik paksa tangan Vanya hingga pecahan yang sudah ia pungut terjatuh kembali. DARAH! Sean melihat darah di telapak tangan Vanya, kini amarahnya sudah mencapai batasnya, ia menendang meja meja yang ada didekatnya hingga membuat semua pengunjung lari keluar dari cafe, bahkan pegawai dan pemilik cafe itu hanya menganga ketakutan, entahlah nyali mereka untuk menahan Sean seketika menciut


"Pak, tolong berhenti!" Teriak Vanya dengan takut, ia tidak ingin bahwa gurunya itu merusak tempat ia bekerja


"Kau direktur? Aku mengetahui perusahaanmu Mr. Coral. Dan lihat saja apa yang akan aku lakukan terhadap karir mu" Ujar Sean dingin, lalu kini ia beranjak untuk menghampiri bos Vanya


"Dan kau wanita tua, oh bukan, nenek lusy? yah kau lebih cocok disebut nenek nenek. Mulai sekarang Vanya tidak akan bekerja di cafe kotor mu ini, dan akan aku pastikan bahwa kau akan jatuh bangkrut!" Lanjutnya dingin, lalu ia keluar cafe dengan tanganya yang masih menggenggam tangan Vanya


"Masuk" Perintah Sean saat tiba di parkiran, ia geram melihat Vanya yang daritadi hanya berdiri menatap pintu mobilnya


Vanya yang melamun kini tersentak kaget, ia bingung harus bagaimana, mengapa pria itu harus membawanya pergi? apakah ia akan diculik? ah tidak mungkin, Sean kan guru barunya! Lalu bagaimana Sean mengetahui nama bos nya? dan juga nama pria tua itu tadi? sungguh memikirkan hal itu membuat kepala vanya ingin pecah


Sean yang sudah tidak sabar langsung membukakan pintu mobil untuk Vanya, namun ia baru teringat bahwa tangan Vanya sedang terluka. Amarahnya kini muncul lagi, ia tidak suka Matenya terluka. Sedangkan Marc daritadi sudah meraung raung ingin keluar dan menghabisi orang yang melukai vanya, namun Sean menahanya, bisa gawat kalau orang lain tau bahwa ia adalah manusia serigala


"Masuk, aku akan mengobati tangan mu didalam" Ujar Sean lembut, ia tidak ingin membuat Matenya ketakutan


Vanya yang masih ragu kini menatap Sean, memastikan bahwa pria itu tidak akan macam macam. "Ba-bapak mau bawa saya kemana?" Tanya vanya polos


Sean yang tadinya masih menahan kini terkekeh mendengarkan pertanyaan Vanya, apakah sedari tadi matenya itu berpikir ia akan menculiknya? lalu sebuah ide terlintas di benaknya


"Bagaimana kalau kita bersenang-senang?" Bisiknya di telinga Vanya


"Eh!!!!????"