MY TEACHER IS A WEREWOLF

MY TEACHER IS A WEREWOLF
14



Happy 1000 viewers 🥳🥳


Tapi yang vote & like masih dikit :)


yaa gpplah, nanti author usahakan memperbaiki cerita ini biar kalian ga ragu lagi buat vote sama likenya🤗


Happy Reading✌️


________________________________


________________________________


"Jika kau butuh sesuatu, kau bisa menekan bel ini dan perawat akan segera datang untuk membantumu, kau mengerti?" Ujar Vanya memperingati adiknya yang tengah asik menyantap semangkuk bubur


"iya iyaa, kau berhati-hatilah dan sampaikan salamku pada pak Sean" Teriak Varel karna Vanya saat ini sudah keluar dari ruangannya dengan langkah yang tergesa-gesa


Hari ini Vanya memutuskan untuk pergi ke sekolah karna kemarin Sean sempat memperingatinya agar tidak membolos lagi. Saat ini ia sedang berlari di koridor rumah sakit menuju parkiran untuk mengambil sepedanya.


"Hei kau, berangkat dengan saya" Ujar seorang pria yang membuat langkah Vanya terhenti dan menoleh ke asal suara


"Eh bapak, kenapa bisa ada disini?" Tanya Vanya kaget dengan kedatangan Sean


Namun bukanya menjawab, Sean malah berjalan mendahului Vanya dengan kedua tangannya yang dimasukan ke dalam saku celana "Jika kau terus menanyai saya, sudah dipastikan kita akan telat, ayo" Ujar Sean terus melangkah.


Vanya hanya mampu menghela nafas dan mengekori Sean dari belakang. Jika Vanya pikir-pikir, untuk apa Sean repot-repot kesini hanya untuk menjemputnya? Bahkan dia juga sudah bersedia membayarkan biaya rumah sakit Varel, padahal Sean hanya guru yang baru dikenali oleh Vanya, apakah dia begitu dengan semua muridnya?


"Sampai kapan kau akan melamun?" Tegur Sean, Ternyata mereka berdua sudah berada di depan mobil milik Sean


"ah, oh iya iya saya masuk" Sadar Vanya gelagapan, dengan segera ia membuka pintu belakang dan segera duduk dengan tenang, takut di protes oleh Sean lagi.


Dugaan Vanya ternyata salah, saat ia akan menutup pintu mobil, sebuah tangan kekar menahanya "Saya bukan sopir" Ujar Sean Ketus


"Eh? Lalu siapa yang akan menyetir? saya tidak bisa mengendarai mobil" Jawab Vanya polos, matanya yang lebar saling beradu dengan mata elang milik Sean.


Sean menghela nafasnya pelan, entah mengapa perutnya menjadi geli saat Vanya berkata begitu.


"Maksud saya, saya bukan sopirmu, jadi duduklah di depan" Ujar Sean lagi


Vanya yang paham akhirnya mengangguk dan segera pindah menuju kursi depan, begitupun dengan Sean yang langsung masuk ke kursi kemudi.


Saat mobil tengah melaju, vanya merasa canggung dengan keheningan yang tercipta antara dirinya dan juga Sean. Jadi ia memutuskan untuk menanyai suatu hal


"Eum pak, eh Sean, saya mau--


"Kecuali saat disekolah" Sambungnya lagi


Vanya menghela nafasnya sabar, entah apa dosanya dulu sehingga ia dipertemukan oleh guru yang super menyebalkan ini.


"Sean, kenapa kau harus repot-repot menjem--


"Aku tidak menjemputmu, hanya saja aku membawakan buah-buahan untuk varel dan tak sengaja melihatmu berjalan" Elak Sean memotong ucapan Vanya


"Mengantarkan buah buahan? pagi-pagi?" Batin Vanya sebal, lalu memutar kedua matanya malas


Setelahnya tak ada lagi yang membuka suara di sepanjang perjalanan, entah itu Vanya yang terlalu malas, atau Sean yang terlalu gengsi.


"Pak, saya berhenti di depan aja" Printah Vanya yang tanpa sadar memukul mukul pelan lengan Sean


"Kenapa?" Jawab Sean singkat


"Nanti ada yang liat, bisa-bisa mereka salah paham" Jawab Vanya yang masih terus memukul mukul lengan Sean agar ia segera memberhentikan mobilnya.


Kreeeeettt


suara decitan ban terdengar akibat rem mobil yang berhenti mendadak, hal itu membuat Vanya hampir terbentur, untung saja dia sudah memakai sabuk pengaman


"Terimakasih atas tumpangannya, saya pamit" Ujar Vanya berpamitan, lalu segera membuka pintu mobil dan keluar dari sana


Jujur saja Sean tak ingin menurunkan Vanya disini, tetapi pukulan kecil yang vanya berikan padanya membuat tubuhnya menjadi seperti tersengat listrik, dadanya bergemuruh, dan ia tak tahan dengan hal itu. Jadi ia terpaksa memberhentikan mobilnya dan menurunkan Vanya disini


Sedangkan disisi lain, Sean terus menatap Vanya yang tengah berlari menuju gerbang sekolah yang masih terbuka lebar, tanpa ia sadari, senyuman manis terbit di bibirnya


"Apakah aku benar benar mencintai seorang manusia?"


Bersambung....


__________________________________


__________________________________


Author usahain akhir september cerita ini tamat T_T


maafkan author yang malas ini T_T


Jangan lupa voment buat nyemangatin author yah ><