MY TEACHER IS A WEREWOLF

MY TEACHER IS A WEREWOLF
21



"Eh? Ka-kalau gitu saya ti-tidur di kamar para pelayan saja" Ujar Vanya gugup, lalu memakan makanannya dengan lahap untuk mengurangi rasa gugupnya.


Sean yang merasa Vanya sangat lucu saat gugup pun terkekeh, ia tak menyangka Vanya bisa di bodohi begitu. Mana mungkin Sean akan tahan dan mampu menahan diri jika berada di satu kamar dengan Vanya?


"Bodoh, aku akan tidur di kamar kosong sebelah, jika ada apa-apa kau bisa menelfonku" Ujar Sean memperingati, lalu mengusap lembut kepala Vanya dan beranjak keluar dari kamar.


Pipi Vanya terasa panas saat dirinya diperlakukan manis seperti itu, jantungnga pun juga ikut-ikutan berdisko. Terakhir kali kepalanya di usap lembut seperti itu adalah 3 tahun yang lalu, sebelum orang tuanya Meninggal. Seulas senyuman manis pun terukir dari bibir kecil Vanya.


"Aku jadi merindukan kalian, ayah, ibu'' Batin Vanya sedih, namun senyuman manis dibibirnya masih terpancar. Karna tak mau bersedih, Vanya menghidupkan layar tv di depannya sambil melanjutkan makannya dengan lahap.


Disisi lain Sean tengah tersenyum menatap layar ponselnya, ia tadi diam-diam memfoto candid Vanya saat di taman. Melihat fotonya saja sudah mampu membuat jantung Sean berdegup kencang, selama ini Sean sangat jarang tersenyum dan saat ia bertemu dengan matenya,Vanya, entah mengapa ia jadi selalu ingin tersenyum.


"ashhh aku jadi ingin tidur disisinya dan memeluknya dengan erat" Erang Sean sambil mengguling-gulingkan badannya di kasur.


"Ck, baru kali ini kau bertingkah seperti bocah, bukannya dulu kau menolak Vanya? Hanya karna dia seorang manusia?" Balas Marc melalui mid link.


Sean langsung menghentikan aksinya, tangannya ia rentangkan dan beralih menatap langit-langit kamar.


"Aku rasa aku mulai mencintainya? Ah tidak, aku sudah mencintainya, bahkan sangat" Gumam Sean, senyum manis kini terbit di bibirnya, ia kini sudah tidak perduli dengan status Matenya sebagai seorang manusia. Yang ia perdulikan saat ini adalah rasa cintanya ke Vanya, Matenya, dan takdir hidupnya.


Tanpa disadari Vanya mendengar semua ucapan yang dilontarkan oleh Sean tadi. Vanya berniat untuk meminjam charger karna ponselnya yang lowbet, jadi ia memutuskan untuk menghampiri Sean dan meminjam charger miliknya. Namun langkahnya terhenti di depan pintu saat mendengar ucapan yang Sean katakan.


"Pak Sean ternyata sudah mencintai gadis lain" lirih Vanya sedih. Ia masih berdiri dengan kepala yang tertunduk. Entah mengapa dadanya sesak mengetahui bahwa Sean mencintai gadis lain, tak terasa air matanya terjatuh begitu saja.


"Ash dasar bodoh, dia guruku! Untuk apa aku berharap yang aneh-aneh" Vanya membatin, kedua tangan mungilnya kini mengusap pipinya yang sudah basah karna air matanya yang jatuh.


"Kenapa menangis?" Tanya Sean yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Vanya. Karna larut dengan perasaanya, Vanya jadi tak mendengar suara pintu kamar yang terbuka.


Sean mengetahui Vanya berada di depan kamarnya karna kepekaan manusia serigala yang sangat tinggi, terlebih lagi terhadap Matenya.


"Eh? menangis? Ah tadi mata saya kelilipan" Jawab Vanya berbohong dan Sean mengetahui hal itu. Perasaan seorang manusia serigala terhadap Matenya sangat besar, mereka akan ikut merasakan sedih jika Matenya bersedih, mereka akan ikut merasakan luka jika Matenya sedang terluka. Dan jika Mate dari manusia serigala tersebut mereject atau menolak cintanya, maka sang manusia serigala akan kehilangan setengah jiwanya, hal itu bisa membuat mereka tak memiliki semangat hidup lagi, meskipun itu seorang Alpha.


Sean langsung memeluk tubuh mungil Vanya, dan membuat sang empunya melotot kaget.


"Jangan bersedih, aku jadi ikut merasakannya" Lirih Sean lembut, kepalanya ia tundukan agar bisa bersandar di pundak Vanya.


"Ba-bapak?" Ucap Vanya, tangannya ragu hendak membalas pelukan Sean atau tidak, jadi ia lebih memilih untuk diam mematung.


"Panggil aku Sean" Ujar Sean memerintah, suaranya sanga sexy membuat Vanya jadi semakin gugup untuk berbicara. entah mengapa cara berbicara Sean sering berubah-rubah, kadang berbicaranya sangat formal dan kadang seperti saat ini, sangat menggemaskan.


"Ah anu, tadi kamu berbicara dengan siapa?" Tanya Vanya gugup sekaligus bingung karna merasa aneh jika berbicara 'aku-kamu' dengan Sean, gurunya. Entah secara sadar atau tidak, yang pasti Vanya bertanya karna hatinya yang sangat penasaran. Siapa orang yang Sean maksud tadi?


"ooh jadi dia salah paham kepadamu, mungkin tadi dia mendengar pembicaraan kita. Tapi ia cuman bisa mendengar suaramu kan?" Ujar Marc menjelaskan, membuat Sean mengangguk tanda ia mengerti. Jadi Vanya mendengar ucapannya tadi dan cemburu karna salah paham? Apa Vanya sudah mulai mencintai Sean?


Sean melepas pelukannya dan beralih menatap kedua mata Vanya.


"Aku tadi hanya menelfon, kenapa?" Tanya Sean yang ingin memancing Vanya.


Vanya sebenarnya ingin menanyakan lebih dalam lagi, siapa orang yang Sean katakan tadi? Yang Sean Cintai? Siapa? Ia ingin menanyakan itu, tapi ia cukup sadar diri karna hubungan mereka hanyalah sebatas guru dan siswa jika mereka disekolah, dan sebatas Bos dan pelayan jika diluar sekolah.


"Ah tidak, aku hanya ingin meminjam charger, ponselku lowbet" Ucap Vanya, Untung saja hujan sudah berhenti dan otomatis tak ada suara petir yang menakutkan lagi. Jadi Vanya berani untuk keluar dari kamar Sean. Dirumah ini yang dindingnya kedap suara hanya kamar Sean dan para pelayan, jadi kamar yang tersisa memakai dinding pada umumnya. Termasuk kamar yang akan Sean tiduri malam ini. Makanya Vanya tadi bisa mendengar pembicaraan Sean dan Marc, walau yang ia dengar hanya suara Sean.


"Akan aku ambilkan" Ujar Sean singkat, ia cukup kecewa karna Vanya tidak mau menanyakan yang sebenarnya, ia tahu bahwa Vanya ingin menanyakan hal lain.


Tak lama kemudian Sean keluar dari kamar dengan membawa Charger putih miliknya. Lalu dengan segera ia berikan kepada Vanya.


"Tidurlah, bukan berati besok libur kau bisa bergadang'' Ujar Sean yang kembali dingin, membuat Vanya heran melihatnya. Kenapa mood gurunya itu cepat sekali berubah? Padahal tadi sikapnya sangat manis.


Sma tempat Vanya sekolah meliburkan siswa nya dua kali dalam seminggu, yaitu sabtu dan minggu. Dan untungnya besok adalah hari sabtu. Jadi Vanya tidak perlu takut untuk menginap disini.


Vanya yang kini berbaring di tempat tidur milik Sean selalu terbayang akan kejadian tadi, malam ini Sean sangat lembut kepadanya, tapi kenapa tadi berubah jadi seram lagi? hii.


____________________________


____________________________


Jam sudah menunjukan pukul 05.00, dan kini Vanya sudah terbangun. Ia sudah terbiasa bangun pagi walaupun dirinya sedang libur. Karna saat ini Vanya sedang tidak dirumahnya jadi kebingungan harus melakukan apa, biasanya ia akan memasak untuk adiknya, Varel.


Vanya memutuskan untuk keluar dari kamar Sean dan mendapati semua pelayan yang ternyata sudah bangun untuk bekerja. Namun anehnya semua pelayan yang melihat dirinya langsung menundukan badanya seolah-olah Vanya adalah seorang putri, padahal ia juga sama-sama bekerja disini.


"emm boleh aku bantu?" Tanya Vanya sopan kepada salah satu pelayan yang sedang memasak.


pelayan tersebut langsung kaget karna calon lunanya sudah berdiri di sampingnya.


"Maaf nuna, tuan Sean akan memarahiku jika membiarkanmu bekerja" Jawab pelayan itu membungkukkan kepalanya.


Vanya langsung mengernyitkan dahianya heran? Memarahi? Mungkinkah karna ini bukan jam kerjanya? atau karna dia yang merupakan pekerja di taman? Jadi tidak bisa membantu pelayan yang bertugas mengurusi rumah?


"Ash tidak masalah, lagian aku bekerja disini, meskipun ini bukan jam kerjaku. Tapi aku tidak mau berdiam diri. Ayolah biarkan aku membantumu masak" Rengen Vanya kepada pelayan tersebut, hal itu membuat sang pelayan jadi kebingungan.


"Baiklah, tapi nuna jangan sampai kelelahan ya" Ujar Pelayan itu memperingati, walaupun hatinya masih ragu membiarkan calon Lunanya bekerja.


"Emm tapi bisakah kau memanggilku Vanya?entah kenapa semua orang dirumah ini memanggilku dengan nama yang aneh ahahaha" Ujar Vanya, sedangkan pelayan yang umurnya tidak jauh berbeda dari Vanya hanya tersenyum kikuk. Ia bersyukur kalau Alpha nya menemukan seorang Luna yang rendah hati seperti Vanya.


Tak terasa sejam lebih waktu yang Vanya habiskan untuk membantu para pelayan masak, menunya sangat banyak membuat Vanya dapat mempelajari resep-resep baru.


"Emm nuna, biasanya jam segini tuan Sean sudah bangun, tapi entah kenapa sampai saat ini tuan belum muncul. Bisakah kau membangunkannya untuk sarapan? Kami tidak cukup berani untuk membangunkan tuan" Ujar salah satu pelayan yang umurnya mungkin sudah tua jika dilihat dari raut wajahnya.


"Emm biarkan saja jika tuan belum bangun, lagian kita hanya seorang pelayan, tidak pantas menentukan jam bangun tuan" Jawab Vanya dengan sopan.


Pelayan tersebut kembali menundukan kepalanya.


"Mohon maaf nuna, bukannya saya hendak melanggar perintahmu, tapi tuan Sean selalu memberitahu kami untuk membangunkanya sebelum jam 7 pagi" Jawab Sean itu menunduk. Vanya langsung mengangguk-nganggukan kepalanya mengerti.


"Tapi aku tidak sedang memerintahnya, apalagi dia lebih tua dariku, itukan hanya saran." Batin Vanya heran, namun ia tak mau memsingkan hal itu dan lebih memilih untuk pergi membangunkan Sean, meski ia juga cukup takut.


Vanya berjalan dengan hati-hati dan sampailah ia di depan kamar yang Sean tiduri.


Tok Tok Tok


"Pak Sean, bisakah anda bangun untuk sarapan?" Teriak Vanya dari luar kamar, namun tak ada jawaban yang ia dengar dari dalam.


Meskipun ragu, ia memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Sean yang tidak dikunci. Dan alangkah terkejutnya ia saat mendapati Sean yang sudah terbangun dan duduk dikasurnya. Dan yang paling membuat Vanya kaget adalah melihat Sean yang terlanjang dada.



"Aaaa maa-maaf, aku akan keluar" Ujar Vanya panik, ia tidak mau Sean berpikir bahwa dirinya adalah orang yang mesum.


Namun sebelum Vanya beranjak keluar, Sean mengucapkan sesuatu yang membuat jantung Vanya ingin lepas seketika.


"Mau temani aku mandi? hem?