
"Varel?!?" Teriak Vanya kaget, lalu secara spontan mendorong tubuh Sean agar menjauh dari tubuhnya.
Sedangkan Sean hanya menatap Varel dengan tatapan datar, seolah-olah tak perduli jika Varel berpikiran negatif tentangnya.
Varel berjalan sambil menguap mendekati Sean dan Vanya yang kini menatap tajam kearahnya.
"Aish, mengapa kalian berpacaran di sana, bakal gawat kalau ada tetangga yang melihat" Ujar Varel yang kini mendorong tubuh Vanya dan Sean menjauh dari pintu, lalu menutupnya hingga rapat.
Wajah Vanya langsung merah mendengar ucapan frontal dari adiknya.
"Hei kau jangan mengada-ngada, aku- aku hanya----
''Ya, kami memang sedang berpacaran, tapi sayangnya seorang bocah mengganggu aktivitas kami" Sindir Sean yang kini melirik kearah Varel.
Blushhh. Jangan ditanya lagi bagaimana merahnnya wajah Vanya saat ini. Bagaimana mungkin Sean ikut-ikutan mengatakan hal memalukan seperti itu.
Varel Hanya terkekeh mendengar ucapan Sean, lalu mengangkat tangan kananya membentuk angka dua.
"Baiklah-baiklah, aku tidak akan mengganggu kalian lagi hahahahaha, kakak ku bucin" Ujar Varel yang berjalan masuk menuju kamarnya sambil menertawakan Vanya.
Vanya hanya mematung dibuatnya, jantungnya serasa ingin lepas dari tempatnya. Tapi beda halnya dengan Sean yang kini tersenyum smirk ke arahnya.
"Bagaimana? mumpung adikmu sudah menutup pintunya, apa mau dilanjutkan lagi?" Ujar Sean tersenyum licik.
Lagi-lagi Vanya melotot dibuatnya, lalu secara tak sadar memukul-mukul dada bidang Sean.
"Yak kau, apakah kau tidak sadar kalau aku muridmu? Apa kau tidak ingat usia? huh?" Omelnya dengan kedua tangan yang masih memukul mukul dada bidang Sean.
Alhasil mood Sean yang tadinya rusak kini kembali membaik setelah melihat Vanya yang bertingkah menggemaskan seperti ini.
"Umurku dan umurmu paling hanya berbeda 5/6 tahunnan?" Ujar Sean
"Dan akhirnya aku tak mendengarmu memanggilku dengan sebutan bapak lagi" Sambungnya lagi dengan senyum smirk andalannya, membuat Vanya jadi berhenti memukuli dadanya.
Vanya yang sadar dengan perbuatannya kini langsung menatapi Sean sinis.
"Jadi tujuan bapak kesini buat apa?" Tanya Vanya mengalihkan pembicaraan.
Sean hanya mengedikkan bahunya acuh, lalu kembali menatap Vanya tajam.
"Ingat perkataanku tadi, aku pergi" Ujarnya dengan tegas, lalu segera membuka pintu dan pergi dari rumah Vanya.
Vanya yang kesal hanya menatap kepergian Sean dengan tatapan yang sinis.
"Ck, kenapa ada guru seperti dia sih" gumannya kesal, lalu beranjak menuju dapur untuk memasak sarapan.
_____________________
_____________________
"Lucy, apakah Sean bekerja di tempatmu?" Tanya seorang pria bertubuh tegap dengan warna mata hitam yang pekat.
Lucy yang sedang mencuci piring kini menoleh ke arah pria yang saat ini sedang duduk santai di meja makan.
"Eh? Kau tau Sean? Ya dia sekarang menjadi pemilik sekolah yang baru, dia juga mengajar sebagai guru bahasa inggris. Haaa dia sangat tampan dan berwibawa, tapi sayang dia sombong sekali, huh" Jelas Lucy dengan panjang lebar.
Masih ingat Lucy? sosok yang menjabat sebagai guru BK di sekolahnya Vanya. Seorang wanita muda yang ceria dan penuh semangat. Tapi sayang, karna kebaikan hatinya ia jadi di perbudak oleh seorang vampir, mahluk yang menumpang dengannya, dan selalu meminum darahnya.
"Ck, aku tak suka jika kau memujinya seperti itu" Ujar pria itu dengan dingin, membuat Lucy menatapnya dengan bingung.
"Heemmm kau cemburu yaa? Kau sudah mulai menyukaiku kan? Hahaha sudah kuduga, kau pasti akan menyukaiku" Jawab Lucy lagi, kini wajahnya nampak sangat bersinar menatap pria yang ada dihadapannya.
"Jangan terlalu percaya diri, kau hanya makananku, tidak lebih!" Jawab pria itu dengan sinis, lalu bangkit dari duduknya dan segera meninggalkan Lucy yang terbengong.
Sinar yang ada di wajah Lucy tadi kini mulai memudar, digantikan dengan senyum miris yang penuh sesak.
"Aku cuma makanannya ya, padahal aku menyukainya, meski kita berbeda" Ujar Lucy dengan lirih, tanpa ia sadari, air matanya menetes membasahi pipi chubynya.
Disisi lain, pria yang tadi telah meretakan hati lucy kini tengah berbaring di kasurnya. Senyuman smirknya tiba-tiba terbit di wajahnya.
"Sean, aku akan segera menghancurkanmu. Tinggal tunggu tanggal mainnya" Ujarnya dengan mata yang berubah warna menjadi merah menyala.