
rumah lisa
saat Lisa melihat foto tersebut, air mata pun mereka kembali, ia tidak bisa menjelaskannya jika mereka tau akan kehamilan lisa.
Rasti yang tertidur di sofa karena kelelahan, ia pun menatap Rasti dengan sangat sedih, bagaimana bisa ia tidak menceritakan hal tersebut kepadanya, sedangkan Rasti sudah seperti keluarga baginya.
Lisa hanya bisa menangis meratapi kesedihannya sendiri, setelah larut dari kesedihan tak lama bibi pun memanggilnya untuk makan malam.
" non maaf, makan mlmnya sudah siap, mari makan dulu non " tanya bibi yang dibelakangi oleh Lisa.
" iya bi, makasih iya bi " jawab Lisa dengan mengusap air matanya.
Lisa yang telah berdiri dekat Rasti yang tengah tertidur, ia segera membangunkan temannya tersebut dan dengan cepat merapikan wajahnya agar Rasti tidak curiga.
" Rasti, ayo bangun ! kita makan dulu " kata Lisa dengan menggoyang-goyangkan tubuh Rasti.
"aaakh .. aduh gw ketiduran iya Lis, sorry sorry , ngomong-ngomong udah jam berapa nih ? aduh gw kayanya harus pulang " jelas Rasti yang kini tengah duduk.
" makan dulu ras, loe pasti laper, udah ayo baru juga jam berapa " ajak Lisa dengan menariknya kemeja makan.
mereka pun makan bersama-sama dengan bibi juga, karena pinta Lisa agar ikut makan bersama, setelah selesai makan Rasti pun pamit untuk kembali ke apartemen karena masih banyak tugas.
" Lisa gw pamit iya, nanti kapan-kapan gw kesini lagi, jangan lupa kabar-kabar ke gw iya " kata Rasti yang mengambil tasnya yang berada di sofa, dan melangkah ke luar rumah.
" iya ras, makasih iya udah dianterin, hati-hati dijalan ya jangan ngebut-ngebut " jawab Lisa yang berdiri di depan pintu rumah dan melambaikan tangannya .
setelah Rasti pergi, Lisa pun masuk kedalam rumah, lalu duduk di sofa dan memanggil bibi.
Lisa. : bibiii...
bibi. : iya non, ada apa ?
Lisa. : bibi duduk sini, kita ngobrol dulu sebentar !
bibi. : maaf iya non, memangnya non mau bicara apa ? . ( sudah duduk )
Lisa. : bibi tidur disini kan, aku gak mau tidur sendiri dirumah ?
bibi. : iya non bibi tidur disini, kamar bibi ada dibagian belakang dekat dapur.
Lisa. : apakah sebelum aku kesini, mamah sama papah pernah kesini lagi ?
bibi. : tuan dan nyonya sudah lama tidak kesini, baru non saja yang kesini lagi !
Lisa. : ya sudah deh, bibi boleh kembali bekerja.
bibi pun pergi kembali kedapur dan meneruskan mencuci piring yang tertunda tadi.
Langit pun mulai gelap, Lisa yang berdiri dan memandangi langit, ia berharap suatu saat ia akan mendapatkan kebahagian.
angin yang dingin pun menyadarkan lamunannya, Lisa pun masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
_esoknya
setelah pulang dari kantor reza, kembali datang ke apartemen Lisa dan menanyakan kepada receptionis yang kemarin berjaga.
Reza. : mbak apakah Lisa telah kembali ?
Reza. : nama saya Reza mba, memangnya kenapa iya ?
resepsionis pun mengambil sesuatu yang berada di bawah , dan ternyata dia mengambil sebuah kotak dan diberikannya kepada Reza.
mbak. : ini pak, saya menemukan kotak ini saat membersihkan kamar Lisa, karena sekarang mba Lisa sudah menjual kamarnya.
Reza. : apa ... menjualnya ? mbak gak salah kan kasih informasi ke saya .
mba. : maaf pak, tapi ini kebenarannya, silahkan bawa kotak ini, mungkin bapak bisa menemukna sesuatu didalamnya.
Reza. : makasih iya mba, maaf ngerepotin.
Reza pun pergi keluar dan masuk kedalam mobil dengan membawa kotak tersebut, Reza melajukan mobilnya ke sebuah caffe, dia mencari tempat yang agak sepi agar bisa membuka kotak tersebut.
reza berpikir akan kotak itu, dan berharap dia bisa menemukan sesuatu yang bisa membawa dia kepada Lisa .
kotak itu pun terbuka, dengan satu persatu Reza ambil dari dalam kotak tersebut, ia menemukan banyak barang miliknya.
ada. : jam tangan, sendal , parfum, kacamata, dan sebuah amplop.
Reza pun memegang amplop yang sepertinya sudah dibaca oleh Lisa, Reza mulai membaca surat tersebut,
" kenapa dari klinik " gumamnya dan meneruskan membacanya .
" apa positif hamil ? jadi Lisa sedang mengandung " gumam Reza, surat itu pun sudah tidak dibacanya lagi, Reza hanya terduduk lemas dengan memegangi kepalanya yang sedikit pusing .
" terus gw harus mencari loe kemana Lisa, kenapa loe gak bilang kalau loe hamil " gumamnya dengan memasukan semua barang milik Lisa dan pergi keluar dari caffe tersebut.
Reza pun duduk didalam mobil dan berpikir harus pergi kemana lagi, setelah lama berpikir Reza pun mengingat nama Rasti, dengan cepat Reza melaju ke kampus dan berharap Rasti belum pulang kuliahnya.
sesampainya di area parkir kampus, dengan cepat Reza berlari menuju kelas Rasti, benar saja ternyata Rasti belum pulang dan masih belajar, Reza akhirnya menunggu diluar kelas agar tidak kehilangan Rasti.
setelah menunggu, Rasti pun keluar dan dihalangi jalannya oleh lelaki, ternyata lelaki tersebut mantan dosennya.
" tolong minggir , gw mau lewat " kata Rasti.
" ras, dimana Lisa? " tanya Reza menatap tajam Rasti.
" lah nanya sama gw " jawab Rasti.
" kemarin dia sama loe kan " tanya Reza dengan tegas.
" gw cuman nurunin dia di apartemen nya , terus gw pulang jadi gw gak tau lagi jelaskan ! " pergi meninggalkan Reza.
Reza pun yang masih berdiri mematung, masih tidak percaya dengan ucapan Rasti, namun Reza tidak bisa berkata-kata lagi, karena perasaannya sudah campur aduk.
Reza pun pergi kedalam mobil dan melaju ke apartemen miliknya dengan wajah yang gusar dan kusam .
Reza hanya yang terbaring dikamarnya memikirkan Lisa dengan anaknya, tak terasa air mata pun mengalir begitu saja saat memikirkan keadaan mereka sekarang .
terlarut dalam kesedihan yang begitu dalam, Reza pun tertidur dan berharap Lisa menghubunginya.
_ like dan komen
jangan lupa ya say..