
Author Pov
Tepat satu minggu sudah berlalu sejak kejadian di club malam itu. Saat ini Clara hanya bisa berdiam diri di masion milik Albert. Berbagai cara dia lakukan selama seminggu ini agar dapat pergi dari tempat ini. Namun selalu saja rencannya diketahui olehnya. Terkadang Clara berpikir kalau dia terlalu bodoh hingga Albert yang jenius itu bisa mengetahui setiap rencana itu.
"Apa yang sedang kau pikirkan di otak kecil itu?" Pria itu keluar dari ruangan kerjanya dan melihat kerutan di wajah cantik gadisnya. Wajahnya saat ini sangat lucu dan menggemaskan. Dirinya tahu saat ini gadis itu sedang memikirkan rencana untuk kabur ke apartementnya.
"Berhentilah berpikir keras, kamu tidak cocok melakukan semua itu." Clara masih belum menanggapi perkataan Albert sama sekali.
"Hey apa kamu baik-baik saja? tidak ada roh yang memasukkimu saat inikan ?"
"Berhentilah menggangguku Al, aku sudah kesal dengan setiap tindakanmu yang membuatku harus berpikir sangat keras untuk bisa kabur dari sini."
"Kamu tidak akan bisa kamu My little girl ."
"Berhenti memanggilku itu, aku sudah dewasa ."
"Benarkah kamu sudah dewasa kalau begitu mari kita....."
"Berhenti berpikiran kotor Al kamu sangat menyebalkan ." Clara segera berjalan menuju taman untuk menenanggkan diri. Clara selalu kagum dengan taman di mansion Albert. Bahkan dia selalu bertanya -tanya seberapa kaya orang itu hingga dapat membuat mansion seindah ini. Namun dia tahu kalau semua ini hanya sebagian kecil dari kekayaan yang dimiliki oleh albert yang notabennya seorang pengusaha muda terkaya di dunia. Hingga lamunannya hancur saat sebuah tangan besar melingkar perutnya dan hebusan napas yang membuatnya merinding.
"Berhenti berpikir keras sayang, aku tidak suka melihat kerutan di wajahmu itu. hal itu membuatmu lebih tua kamu hanya harus memikirkan aku saja." Clara tidak membalas perkataan Albert. dia hanya ingin menikmati keadaan saat ini. Dia tidak munafik kalau dirinya terpesona pada pesona Albert karna itu diberinisiatif untuk menjauh agar tidak jatuh kepusaran itu.
"Clara aku tahu kamu belum bisa menerima aku dengan semua ini tapi aku harap kamu mau mencoba untuk bertahan di sampingku karna aku saat ini hingga seterusnya membutuhkan dirimu ."
"Aku tidak tahu harus bertahan atau berlari menjauh dari kamu Al. kamu harus tahu dirimu berada di langit yang tinggi dan aku berada di bumi. aku hanya bisa melihatmu dan tak akan bisa menggapaimu."
"Kalau begitu biarlah aku yang menggapaimu Clara." Clara tersenyum sedih mendengar perkataan Albert. Dia sadar kalau hal itu tidak akan bertahan selamanya.
"Tapi aku tidak yakin kamu bisa selalu melakukan itu untukku Al. itu akan sangat melelahkan untukmu. Aku tidak siap saat kamu mulai melepas tanganmu padaku. Aku lebih baik melepaskanmu saat ini dari pada harus melepaskan saat seluruh diriku telah aku serahkan padamu karena aku takut saat kamu melepaskan diriku pada saat itu aku hancur ." Tak Clara sadari air matanya jatuh pada tangan yang melingkar pada perutnya. Albert merasa sakit saat mendengar setiap kata yang diucapkan Clara saat ini. lelaki itu membalikkan tubuh clara jadi saat ini posisi mereka berhadapan. tangannya menghapus bulir-bulir air mata yang membasahi wajah cantik gadisnya.
"Aku tak bisa berjanji untuk selalu membahagiakanmu bahkan aku tidak bisa berjanji untuk dapat membuatmu berhenti mengeluarkan air mata ini tapi aku berjanji kamu selalu dan akan selalu berada di hatiku Clara." Hingga suara tembakkan membuat mereka berdua terkejut. Seseorang pelayan berlari dengan tergesa-gesa pada Albert.
"Tuan mansion diserang ."
"Apa? " Albert melirik Clara sejenak "Kau bawa Clara di tempat itu dan pastikan tidak ada satu orang yang mengikutimu ."
"Kamu tenang ya saat ini. Kamu hanya harus ikut dengan pelayanitu. Kamu bisa menggunaka pistol dan senjata tajam ." Clara menganggukkan kepalanya albert yang mendengar itu merasa sedikit lega. "Gunakan pistol ini dan di ruangan itu ada beberapa senjata tajam yang bisa kamu gunakan kalau hal buruk terjadi padamu. Sekarang kamu pergi." Clara mengangguk dan pergi mengikuti pelayan itu. setelah kepergian Clara segera Albert menuju ruang kerjanya. Dia tidak menyangka ada orang yang bisa melacak tempat ini. Seorang pria membuka pintu dengan tergesa-gesa dan pucat pasi.
"Tuan mereka sudah memasukkin halaman rumah."
"sebenarnya siapa mereka Dio?"
"mereka adalah anak buah Mr.Fred, ternyata dia menyimpan pelacak pada salah satu mobil anak buah kita tuan."
"Dasar bodoh sudah aku katakan berkali-kali melakukan dengan cantik tanpa membuat kesalahan. Siapkan semuannya dan jangan biarkan mereka mati dengan mudah." Pria itu mengangguk patuh saat mendengar perintah tuannya. Sedikit ada rasa ngeri saat mendengar perintah tuannya itu.
Di lain tempat
Clara sudah berada tempat yang dikatakan oleh Albert. Ruangan ini berada di lantai satu namun tempat ini sangat tersembunyi bahkan awalnya dia tidak menyangka ada sebuah ruangan tersembunyi di dekat ruang tamu. Pelayan yang tadi mengantarnya sudah pergi meninggalkannya sejak tadi dan dia tidak tahu nasib pelayan itu. Dia tidak tahu kalau seorang pengusaha akan mengalami kejadian seperti ini. Hingga suara samar-samar menggema di tempat itu.
"Ternyata Mr. Fred sangat pemberani memasuki kadang singa."
"Semua ini karena kamu sudah membunuh anakku Mr.mask atau aku panggil Mr. Jacobson yang terhormat." Suara tembakkan menghentikan perkataan Mr. Fred.
"Semua ini akibat kelancangan kamu memasuki jalurku Mr Fred."
"Omong kosong kamu yang sudah mengambil jalurku. Harusnya kamu yang mati bukan anakku."
"Kamu sangat lucu Mr Fred,kamu memang orang yang tak tahu diri." seorang tembak-tembakkan menggema ruangan itu. Mereka berdua saling melempar peluru tapi tak ada satu peluru yang menancap di tubuh indah Albert tapi berbeda dengan lawannya. Peluru Albert sudah menancap di bagian kaki dan tangan pria itu membuatnya terduduk lemas dengan darah yang mengalir di tubuhnya.
"Kamu akan mendapatkan balasnnya Mr Jacobson. Walaupun saat ini kamu berada di bagian teratas dalam mafia tapi lihat waktu akan berkata lain dan menghancurkanmu."
"Aku tidak akan hancur karna aku akan menghancur semua yang menghalangiku ." Suara tembakkan menggema sekali lagi diruangan itu. Albert tak sadar kalau sejak tadi gadisnya mendengar semua perkataannya dan mengetahui salah satu rahasia yang sembunyikan dari gadisnya. Tapi semua itu tetap akan terdengar walau di menyembunyikan dengan sebaik-baik pun. Gadis itu keluar dari tempat dia bersembunyi dan saat itu dia melihat banyak orang yang tergeletak dengan berbagai luka yang sangat mengenaskan. Dia menjelajahi seluruh ruangan hingga matanya bertemu dengan mata Albert. Pria itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat Clara saat ini. Dia belum siap menjelaskan semua ini dan mungkin tak akan pernah siap. Pria itu berjalan menuju Clara awalnya ia ingin membawa tumbuh gadisnya yang sedang bergetar itu kedalam dekapannya hingga satu kata membuatnya diam membeku.
"Sebenarnya siapa kamu AL?"
Hai kalian readers jangan lupa ya komen dan like karna setiap dukunganmu membuat aku semangat melanjutkan cerita ini. Ayo ikutin terus cerita Clara dan Albert dalam My lovely Mafia. Apa yang terjadi pada mereka berdua setelah ini? Bagaimana Albert bisa menjelaskan semua ini pada Clara ?Apakah Clara bisa bertahan setelah melihat semua ini? Makanya ikutin terus ya