
Clara sudah berdiri di dalam ring dengan menatap kakaknya tajam. Sedangkan yang ditatap sudah keringat dingin. Rico saja yang disamping Chiko dapat merasakan aura menyeramkan dari seorang Clara. Padahal gadis itu bukan seorang mafia seperti bossnya Albert.
"Kakak cepatlah naik, Aku ingin cepat membereskan ini semua." ucap Clara dengan tatapan seperti seorang singa lapar melihat kakaknya.
"Kakak sebaiknya harus berhati-hati, aku sudah lama tidak membuat orang masuk ke rumah sakit karena sudah mempunyai pacar. Jadi kakak harus siapkan fisik dan mental ya." ucap Clara dengan senyum penuh makna. Albert saja yang seorang mafia sedikit takut dengan senyuman manis kekasihnya.
"Rico jika adikku sudah tidak bisa berhenti sebaiknya kamu telepon micky ya. Aku takut tidak bisa mengucapkan perkataan terakhir sebelum nyawaku dicabut oleh adikku sendiri." ucap Chiko pelan pada Rico. Sedangkan Rico mengerti maksud sang sahabat. Dia ingat dulu Chiko pernah dirawat di rumah sakit karena Clara mengamuk. Bahkan dia hampir mati karena adiknya mengenai beberapa titik vital sang kakak.
"Adikku tersayang, aku harap kamu tidak membunuhku hari ini, karena aku masih ingin bertemu dengan micky." ucap Chiko setelah berada di dalam ring. Sedangkan Clara tersenyum sinis.
"Tenang saja kakaku sayang aku tidak akan membawamu ke kuburan. Mungkin beberapa hari dirawat lebih baik bukan. Micky jadi bisa merawat kakak." ucap Clara yang sudah dalam posisinya. Sedangkan Chiko sangat sulit menelan ludahnya saat mendengar ucapan adiknya satu-satunya ini. Sebenarnya ibunya waktu hamil Clara mengidam apa sampai Chiko mendapatkan adik macam macam begini.
"siap ya kak." ucap Clara.
Setelah itu Clara beberapa menyerang Chiko yang membuat sang kakak kesulitan menghindar karena serangannya sangat cepat. Walaupun badan Clara tidak besar tapi tenaganya jangan dipandang sebelah mata. Bahkan wajah tampan Chiko sudah berubah biru di beberapa sisi.
Setiap serangan Chiko berikan pada Clara dengan mudah dihindari bahkan saat itu kesempatan bagi Adiknya menyerang sang kakak dengan kekuatan penuh. Beberapa kali Chiko terjatuh karena sulit menopang tubuhnya setelah terkena pukulan Clara.
Albert tercengang melihat Clara. Dia tidak menduga gadis menggemaskannya menjadi seperti singa betina yang diganggu oleh orang lain. Dia bakah tidak memberikan ampun pada Chiko yang notabennya kakak kandung sendiri. Albert dan Rico merasaka keringat dingin bercucuran di dahi mereka.
Keadaan Chiko sangat mengenaskan sekarang. Bahkan berdiri tegak saja dia sudah sulit. Padahal pertandingan ini baru beberapa menit dimulai. Rico ingat permintaan sang sahabat langsung meninggalkan tempat itu untuk menelepon gadis yang dicintai Chiko yang tak lain adik dari bossnya.
"Hallo kakak Rico" jawab micky dari balik telepon itu.
"Sebaiknya kamu datang ketempat alamat yang aku kirimkan. Chiko sedang diberikan hukuman..."
"APA? Kakak memberikan hukuman pada Chiko?" tanya micky.
"Bukan nona tapi pacar kakak kamu yang sedang memberikan hukuman. Sebaiknya kamu kemari sebelum Chiko hanya tinggal nama saja. Clara kalau memberikan hukuman pada kakaknya tidak ada ampun." jelas Rico.
"Baik kakak sekarang aku ke sana."
"Sedang apa kamu?" tanya Albert yang sudah berdiri di samping Rico.
"Saya menelepon nona micky."
"Untuk apa kamu menelepon adikku ?" tanya Albert dengan nada tajam.
"Chiko tadi memberikan pesan kalau dia ingin mengucapkan beberapa kata terakhir karena Clara pasti akan sulit diberhentikan." jelas Rico. Albert langsung masuk kembali. Dia terkejut melihat kondisi Chiko.
Sekarang lebih tepatnya Chiko sedang dipukuli tanpa berhenti. Ini tidak seperti sebuah pertarungan tapi lebih tepatnya penyerangan dari satu orang karena Chiko sudah tidak bisa berbuat apapun. Bahkan dia melihat Chiko melambaikan tangan meminta bantuan.
"Kakak jangan harap bisa mendapat bantuan orang lain. Ingat kesalahan kakak dimasa lalu huh?" ucap Clara dengan nada yang tinggi. Sekarang gadis itu sedang berdiri dengan mata menatap ke bawah karena Chiko dalam keadaan terbaring.
"Clara, maafin kakak ya. Masa kakak dihukum sampai mati. Nanti kapan dong kesempatan kakak deketin micky." ucap Chiko dengan nada yang sangat pelan.
"Makanya kaka kalau mau berbuat apapun dipikir dulu baik buruknya jangan kaya orang bodoh deh. Katanya CEO tapi kok bodoh." ucapa Clara membuat para pria yang ada di ruang itu terdiam sesaat. Kenapa kata-kata gadis itu seperti menusuk mereka. Padahal Albert dan Rico tidak melakukan kesalahan apapun.
"Karena aku baik sama kakak, jadi sekarang aku hanya akan mematahkan tangan kiri kakak dan kaki kiri saja." ucap Clara dengan santai tapi orang yang mendengar terkejut.
"Clara kamu tega matahin tangan dan kaki kakak. Kalau micky gak mau dekatin kakak lagi gimana." ucap Chiko
"Ya udah nikmati nasibnya. Makanya jangan jadi cowok gatel sih. Tangannya suka nyentuh wanita ini harus dikasih pelajaran loh." ucap Clara yang sudah mengambil tangan kiri kakaknya.
"Jangan Clara,aaaaaaaakh," teriakan Chiko saat tangan kananya dipatahkan oleh micky dengan mudah.
"Tenang kak, tangan kamu masih bisa sembuh, Albert akan bantu Clara buat sembuhi Chiko kan?" tanya Clara pada Albert. Sedangkan Albert yang tidak ada persiapan ditanya hanya menganggukkan kepala.
"Tuh lihat Albert bakal bantuin kakak cari dokter agar tangannya bisa sembuh. Sekarang kita ke kaki kiri kakak. " Ucap Clara yang sudah memegang kaki kiri Chiko. Saat akan melakukan aksinya, Clara mendengar teriakan seseorang yang dikenalinya.
"CLARA BERHENTILAH, AKU MOHON."
"Micky? kenapa kamu bisa ada di sini." ucap Clara yang langsung menatap tajam pada Chiko yang sedang tersenyum.
"Kamu memang licik kakak." ucap Clara yang keluar dari ring dengan kesal. Dia berjalan keluar dari tempat itu. Albert mengikuti Clara keluar. Dia sedikit khawatir melihat tatapan Clara tadi.
Micky langsung memasuk kedalam ring. Dia melihat kondisi Chiko yang sangat menyedihkan bahkan tanpa sadar micky menngeluarkan air mata saat melihat wajah Chiko yang sudah berbiru.
Rico langsung menelepon ambulan untuk membawa Chiko segera menuju rumah sakit. Dia tidak menyangka akan menyaksikan kekejaman seorang adik menghukum kakaknya. Walaupun dia juga kesal dengan kebiasaan dulu sahabatnya. Tapi ini hukumannya juga terlalu berat bukan bagi sebuah keluarga.
"kakak perasaannya gimana?" tanya micky.
"Sakit sih tapi ya ini hukum yang pantas dengan perbuatan yang telah aku perbuat padamu. Saat Clara memukuli aku sadar setiap kesalahanku yang telah aku perbuat di masa lalu. Jangan marah pada Clara, dia hanya ingin membuat kakaknya tidak salah mengambil jalan. " ucap Chiko sambil tersenyum walaupun sulit karena bibirnya juga robek.
"kakak tidak usah tersenyum. bibir kakak robek bahkan darahnya lumayan banyak loh." ucap Micky.
"Tapi terimakasih ya kamu sudah datang menyelamatkanku. Clara pasti tidak ingin bertemu dengan kamu beberapa waktu ini. " ucap Chiko sedih. Dia tahu permintaanya membawa micky ke sini saja akan membuat Clara semakin marah. Dia tidak suka ada orang lain yang melihat ketika sedang kondisi seperti ini. Bisa dikatakan ini adalah kehidupan gelap yang selalu ingin dia hapus.
"Kenapa Clara akan menjauhiku?" tanya Micky.
"Sebenarnya dia akan menjauhi kita beberapa saat. Hati adikku terlalu rapuh, dia tidak ingin melukaiku tapi dia juga benci perlakuanku ini. Dia melukai nurani hatinya micky." jelas Chiko.
Sedangkan Albert mengejar Clara yang berjalan tanpa arah. Dia merasa aneh dengan keadaan Clara saat ini. Dia seperti orang linglung bahkan beberapa kali dia memanggilnya tidak ada jawaban ulang. Dia berlari dan menarik tangan Clara. Dia melihat tatapan itu kosong tapi air matanya terus keluar.
"CLARA, Kenapa kamu menangis?" tanya Albert tapi tidak ada respon dari Clara.
"CLARA JAWAB AKU." teriak Albert. Saat itu Clara mengeluarkan suara tangisnya.
"hiks hiks , Albert aku jahat ya, bahkan kakakku sendiri saja aku buat babak belur. Aku adik yang jahat . hiks hiks. Kamu harus menjauh dari monster iniĀ Albert. Aku hanya sampah yang harus dibuang saja ." ucap Clara sebelum tubuhnya jatuh kedalam pelukan Albert. Hal itu tentu membuat Albert terkejut. Dia langsung berlari menuju tempat pertandingan.
"Chiko sebenarnya apa yang terjadi pada Ana. Kenapa dia pingsan setelah memukuli kamu?" tanya Albert. Chiko tersenyum miris menatap sang adik. Saat ini dia sudah dalam posisi duduk.
"Mungkin Traumanya sudah kembali." ucap Chiko.
Saat itu mereka bisa mendengar suara Ambulan. Kedua kakak adik itu di masukkan kedalam Ambulan.