
Clara dan Albert sekarang sedang di dalam mobil. Albert dengan asiknya memainkan rambut Clara. Sesekali dia mencium rambut panjang kekasihnya. Sedangkan Clara sebal dengan perbuatan Albert.
"Bisakah kamu berhenti memainkan rambutku tuan Albert?" ucap Clara.
"Tentu saja saya tidak bisa memberhentikannya nyonya Jacobson." ucap Albert.
"Hey kita belum menikah jadi mengganti namaku." ucap Clara yang menarik rambutnya dari tangan Albert yang membuat pria itu cemberut. Rio merasa geli melihat ekspresi boss saat ini. Albert hanya merajuk jika dengan Clara seperti saat ini.
"Jangan merajuk, kamu lupa kalau kamu seorang ketua mafia. Rico apakah ada ketua mafia seperti Albert?" tanya Clara pada Rico yang sedang fokus mengemudi.
"Tentu saja ada sayang, orangnya ada di samping kamu." ucap Albert dengan bangga.
"Kalau musuh kamu melihat seorang Albert seperti ini pasti mereka bukannya takut pada kamu. Mereka akan mertertawakan tindakan kamu saat ini." ucap Clara sinis.
"Tentu saja aku hanya begini saat bersama kamu saja sayang." Ucap Albert yang menarik badan Clara mendekatinya.
"Tapi kamu bahkan lebih cocok menjadi seorang mafia wanita. Saat kamu marah, aku yang seorang ketua mafia saja takut padamu." ucap Albert.
"Benarkah?" tanya Clara yang tidak percaya.
"Tentu saja ,kakak kamu saja langsung berkeringat dingin saat kamu marah." ucap Albert.
"kalau kakak karena takut aku menghukum dengan tidak bertemu." ucap Clara.
"Sepertinya bukan karena itu sayang. Hukuman apa yang pernah kamu berikan pada Chiko dulu sayang?" tanya Albert.
"Aku hanya memukuli kakak hingga kakinya patah dan tidak bisa berjalan selama sebulan." ucap Clara dengan polos. Sedangkan kedua pria yang ada di mobil itu sangat terkejut. Mereka saja hingga susah menelan ludahnya. Albert dan Rico sangat tahu keahlian Chiko dalam beladiri. Keahlian Chiko dalam beladiri tepat dibawah Albert. Gadis disebelah Albert dengan mudah membuat Chiko terluka parah.
"Sekarang aku tahu kenapa si pembuat onar itu takut pada nona Anabella. Karena nona seperti singat tidur, terlihat manis saat tidur tapi menyeramkan saat yang mengusiknya." ucap Rico dalam hati.
"Ternyata kekasihku sangat menyeramkan." ucap Albert dalam hati.
"Apakah kamu pernah belajar beladiri Clara? Sepertinya kamu sangat ahli dalam bidang itu." ucap Albert. Dia ingat saat pertemuan kedua di club malam. Gadis disebelahnya dengan mudah membuat seorang pria besar tidak bisa berkutik. Mungkin untuk seorang pria biasa saja akan sulit untuk mengalahkannya.
"Sebenarnya ini sedikit memalukan Albert?" ucap Clara dengan malu-malu.
"Ceritakan saja tidak perlu malu."
"Aku tidak pernah belajar secara serius untuk beladiri. Hanya saja saat aku SMA dulu, aku adalah ketua geng di sekolah yang selalu ikut tauran." ucapan Clara membuat kedua pria itu terkejut. Ternyata wanita yang terlihat ayu dan manis ini memiliki masalalu yang sedikit berbeda dari gadis biasanya.
"Tapi itu cuman masa lalu kok Albert." ucap Clara yang diakhiri dengan senyum manis.
"Kamu tidak mendapat luka parahkan pada saat ikut tauran itu?" tanya Albert khawatir pada gadis disampingnya.
"Bisakah kita tidak usah bahasa masa laluku yang sedikit berandalan dulu." ucap Clara malu.
"Baiklah." ucap Albert. Pria itu menatap tangan kanannya. Rico sangat mengerti tatapan bossnya yang memintanya mencari kembali informasi tentang Clara lebih detail.
Tidak terasa mereka sudah sampai di tempat yang diminta oleh Clara. Bahkan gadis itu keluar dari mobil terlebih dahulu. Aleardo hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kekasihnya. Dia terlihat sangat bersemangat memberikan pelajaran pada sang kakak.
Beberapa saat setelah Clara dan Albert datang, Chiko datang dengan wajah yang murung. Rico bahkan menahan tawa melihat Chiko yang sangat pucat pasih. Hanya Rico yang tahu seberapa kejam Clara dalam menghukum kakaknya itu. Dia sengaja tidak memberi tahu Albert. Niatnya sih kalau nanti bossnya membuat kesalahan, dia orang yang akan menikmati Albert mendapat hukuman dari kekasihnya itu.
"Kamu sudah datang Chiko." ucap Rico yang berjalan mendekati sahabatnya yang sedang murung dan pasrah akan nasibnya hari ini.
"Diam kamu, aku tahu kamu sedang menahan tawa melihatku." ucap Chiko kesal pada sahabat satunya ini.
"Ya kamu juga sih, sudah tahu punya adik kaya singa masih saja membuat ulah." ucap Rico, Dia melihat tuannya dan nonanya sudah masuk kedalam tempat berlatih para anggota Albert selama ini. Sengaja untuk sore ini tempat latihan itu dikosongkan. Tentu saja karena Albert tidak akan membiarkan pria lain melihat nona Clara.
"Rico jika aku gugur hari ini. Aku titip Clara padamu." ucap Chiko dengan wajah sendunya.
"hahahah kamu seperti akan berperang saja." ucap Albert yang berada di depan kedua sahabatnya. Nana sudah pergi terlebih dahulu karena harus berganti pakaian katanya.
"Diamlah kuman, kamu tidak tahu saja seberapa kejam adikku jika sedang di dalam ring. Dia seperti mesin pembunuh." ucap Chiko mengingat beberapa tahun lalu dia hampir meninggalkan dunia ini. Tentunya kedua orang tuanya tidak memarahi perbuatan adiknya. Bahkan mereka memberikan wewenang untuk menghukum Chiko jika melakukan perbuatan buruk kembali.
"Benarkah, Aku hanya melihat wajah imut dan menggemaskan dari adik kamu." ucap Albert. Sedangkan Chiko dan Rico saling melemparkan tatapan. Sepertinya kedua pikiran itu sama, kalau Albert sudah terlalu bucin dengan Clara. Albert meninggalkan kedua sahabatnya yang sedang saling tatapan itu.
"Apakah dia bodoh?" tanya Chiko pada Rico,
"Dia tidak tahu kehidupan sebenarnya adikmu. Clara mengancamku beberapa waktu lalu untuk tidak memberi tahun Albert, Katanya sih dia malu jika Albert tahu kebiasaanya masa muda." ucap Rico.
"Pantas saja, Aku saja selalu kalah bertarung dengan adikku. Walaupun kata orang aku dibawah Albert. Sepertinya kalau dipikir-pikir Clara yang dibawah Albert atau mereka setara." ucap Chiko.
"Kamu benar, Kadang aku berpikir mereka pasangan yang pas. Jiwa mereka menyeramkan." ucap Rico yang berakhir dengan keduanya tertawa.
"Mungkin, Albert akan mendapat kejutan hari ini." ucap Chiko sambil berjalan menuju tempat adiknya akan memberikannya hukuman.
"Kamu benar, sepertinya dia akan sangat terkejut bahkan terdiam." ucap Rico.
Permbincangan mereka berhenti saat melihat Clara sudah berdiri di atas ring. Dia menggunakan celana pendek dan kaos oblong. Rambutnya di untun satu dan kedua tangannya sudah dililit dengan tali. Mereka berdua terdiam melihat penampilan Clara saat ini. Antara kagum dan takut dengan Clara.
Sedangkan Albert sejak masuk kedalam ruang latihan itu dia sudah terpesona dengan penampilan kekasih. Sexy dan cantik adalah Clara saat ini. Bahkan dia tidak rela Chiko dan Rico melihat Clara kali ini. Walaupun Chiko adalah kakak kandung sang kekasih.
"Rico tundukkan tatapanmu atau besok pagi kamu tidka bisa melihat sebuah cahaya kembali." peringatan Albert langsung dilakukan tangan kanannya. Dia masih ingin melihat dunia ini dengan kedua matanya. Terkadang dia lelah dengan tingkah posesif atasanya pada kekasihnya. Tapi dia mengakui penampilan Clara sangat menggugah mata setiap pria saat ini.
"Jangan sampai otak kamu aku keluarkan dari kepalamu itu." ucap Albert. Dia tahu tangan kanannya sedang memikirkan pacarnya itu.