
Akhirnya impian Clara untuk datang ke negara yang terkenal dengan bunga sakura. Dia ingin sekali melihat bunga itu yang kata orang sangat indah. Clara masih tidak menyangka akan datang ke tempat ini.
Meskipun dia terlahir dari keluarga kaya raya. Tapi hal itu tidak membuat Clara bisa begitu saja menggunakan uang dari keluarganya. Walaupun kakaknya pasti akan mewujudkan keinginan jika dia menginginkannya.
Tapi sejak dia memilih meninggalkan keluarganya saat usia muda. Saat itu dia juga tidak lagi bergantung pada kakaknya maupun keluarganya. Sebenarnya dia juga tidak enak menggunakan uang kekasihnya. Clara tidak ingin dicap sebagai gadis materialistis yang memanfaatkan Albert untuk kesenangannya sendiri.
“kamu menyukainya?” tanya Alex yang sejak tadi hanya diam sambil menatap kekasihnya yang sangat bahagia. Clara memang wanita yang sederhana. Dia jarang meminta barang pada Albert. Kali ini adalah permintaan pertama kekasihnya pada Albert. Tentu saja hal itu tidak akan dilewatkan oleh pria itu untuk mewujudkan keinginan Clara.
Clara sudah manjadi orang penting untuknya setelah keluarganya. Bahkan sekarang wanita lebih berharga dibandingkan adiknya. Wanita yang sejak pertemuan pertama sudah membuatnya jatuh cinta. Hanya Clara yang tidak tergoda dengan penampilannya saat itu. Mungkin wanita lain akan langsung mencoba mendekatinya. Tapi wanita di depannya berbeda. Dia tidak menunjukkan ketertarikan pada pertemuan pertama mereka.
“Tentu saja, Terima kasih Albert sudah mewujudkan keinginanku. Maaf kalau aku jadi membuatmu harus cuti bekerja.” Ucap Clara yang dijawab dengan senyuman oleh pria itu. Albert mendekati badan kekasihnya. Dia langsung membawa Clara kedalam pelukannya.
Clara tidak lagi menolak perlakuan kekasihnya. Tak apa bukan kalau dia bermanja dengan kekasihnya. Clara selalu merasa nyaman dan aman bila berada di pelukan Albert. Pria yang bisa menggeserkan luka di masa lalunya.
Padahal Clara berpikir tidak lagi ingin percaya pada pria di dunia. Kenangan buruk yang di dapatkannya saat bersama Alex. Apalagi orang yang merebut prianya adalah orang terdekatnya. Sungguh miris hidupnya pikir Clara. Tapi setelah bertemu dengan Albert dia merasa hidupnya menemukan cahaya kembali. Tidak lagi dia merasakan kesendirian yang menemaninya dalam kepedihan hidupnya.
“Kenapa sayang?” tanya Albert yang melihat kekasihnya melamun. Padahal dia sudah beberapa kali memanggilnya. Tapi wanitanya tidak memberikan respon apapun.
“Tidak ada, aku hanya bersyukur dipertemukanmu.” Ucap Clara yang semakin mengeratkan pelukannya pada Albert. Pria itu menatap bingung pada kekasihnya. Walaupun dia suka senang dengan pernyataan Clara.
“Sayang aku selalu berterima kasih pada tuhan yang sudah mempertemukanku denganmu. Aku dulu berpikir semua wanita hanya manusia yang menyebalkan dan menyusahkan. Aku tidak tertarik untuk memiliki hubungan dengan wanita manapun. Tapi saat pertemuan denganmu. Semua pemikiran itu seakan sirna begitu saja.” Ucap Albert yang membuat Clara terharu mendengarnya. Dia tidak menyangka akan merasakan dicintai seperti saat ini.
Padahal dulu Clara tidak berani untuk hanya memimpikan ada orang yang mencintainya begitu besar. Walaupun Clara tahu kalau Chiko juga menyanginya. Tapi hatinya sudah terkunci saat ayahnya sendirinya memilih anak lain dibandingkan dirinya yang sedarah dengannya.
Hidupnya tidak pernah benar baik-baik saja. Setelah dia menemukan kebahagian dari seorang wanita yang menggantikan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Tapi Tuhan memilih untuk mengambil darinya.
Saat dia sudah yakin dengan seorang pria di masa lalu. Clara sudah merangkai masa depan dengan pria itu. Tapi semua rencananya gagal saat dia tahu kalau pria yang dicintainya ternyata selingkuh dengan sahabatnya sendiri.
Tapi sekarang semua hal yang tidak pernah terbayangkan itu. Silir berdatang untuk memberi tahu pada Clara kalau kebahagiannya tidak benar-benar menghilang. Dari pertemuan tidak sengaja dengan Albert. Hingga keteguhan pria itu untuk mengejarnya dan membuatnya perlahan bisa membuka hatinya untuk Albert.
Setelah itu dia perlahan bisa membuka hati untuk sekitarnya. Clara memiliki teman selain sisil. Walaupun temannya adalah adik kekasihnya. Tapi dia bisa kembali percaya pada orang lain bukankah hal itu sangat baik. Setelah itu dia bertemu lagi dengan kakaknya yang paling di sayanginya.
“Sayang apa yang sedang kamu pikirkan? Kerutan muncul di dahi kamu ini.” Ucap Albert sambil menyentuh dahi kekasihnya. Hal itu membuat dia gemas dengan tingkah polos kekasihnya yang sedang menatapnya. Albert memberikan kecupan pada dahi kekasihnya itu.
“Aku hanya berpikir hidupku perlahan membaik setelah bertemu denganmu Albert. Aku mulai bisa kembali menikmati hidup ini. Terima kasih karena kamu masih memperjuangkanku padahal saat itu aku menolakmu.” Ucap Clara pada kekasihnya.
“Aku akan selalu memperjuangkumu sayang. Karena hanya bersama kamu saja aku merasakan perasaan seperti saat ini.” Ucap Albert sambil menarik tangan Clara ke dadanya. Clara bisa merasakan debaran Albert yang kencang.
“Perasaan ini sangat membuatku nyaman. Aku merasakan menemukan rumah yang selama ini tidak pernah aku temukan. Karena itu aku pasti selalu memperjuangkan rumah yang menjadi tempatku untuk pulang.” Ucap Albert yang membuat Clara bahagia bahkan tanpa sadar dia menitikan air mata. Dia tidak pernah berpikir akan menjadi orang yang berharga untuk orang lain. Albert memang selalu membuat Clara jatuh cinta terus menerus dengan setiap pelakuan lembutnya.
“sayang kita tidak akan terus berdiri di sini bukan?” tanya Albert yang menyadarkan Clara kalau keduanya masih berada di bandara. Mereka memang sedang menunggu mobil jemputan untuknya dan Albert.
Clara tersipu malu mengingat adegan drama yang baru dibuatnya dengan Albert. Sungguh saat ini Clara ingin menghilang saja. Apalagi melihat orang-orang menonton adegan mereka.
“Tidak usah malu sayang, mereka hanya iri dengan keromantisan kita.” Ucap Albert sambil menarik tangan kekasihnya ke salah satu mobil yang sudah berhenti di depannya. Clara langsung masuk tanpa berniat untuk bebincang lagi dengan Albert.
Albert tidak bisa menahan tawanya saat melihat wajah merah kekasihnya. Dia masih tidak menyangka kalau kekasihnya akan semenggemaskan ini ketika sedang malu. Saat dia sadar kalau supirnya sedang menatap mereka. Albert langsung menatap tajam yang membuat pria muda itu fokus menatap jalan.
Albert menekan satu tombol yang membuat sebuah kaca pemisah antara bagian penumpang dan supir. Albert tidak ingin ada pria yang melihat kekasihnya yang seperti saat ini. Hanya boleh dia saja yang menikmati wajah merona Clara.
“Berhenti tertawa Albert. Kamu kenapa tidak mengingatkanku tadi. Aku jadi sangat malu karena menjadi tontonan gratis.”ucap Clara sambil memukul bahu kekasihnya yang sama sekali tidak merasakan sakit dari pukulan itu.
“Aku suka saat kamu seperti tadi. Kamu terlihat sangat mencintaiku sayang.” Ucap Albert yang menarik badan kekasihnya. Dia kembali memeluk badan Clara. Sedangkan Clara tidak berniat memlepaskan kedua tangan kekasihnya yang sudah membelit perutnya.