My Lovely Mafia

My Lovely Mafia
Perbincangan 2 Sahabat



Clara sudah berada di kantor Albert. Dia sudah terbiasa keluar masuk kantor ini jadi tidak ada yang memperlakukannya buruk. Walaupun dia masih menatap tatapan tajam dari pegawai wanita. Bagaimanapun dia sudah mencuri pria yang paling diminati oleh para wanita. Tapi Clara tidak peduli akan itu.


Sebelum dia masuk kedalam ruangan Albert. Dia berpapasan dengan Rico yang wajahnya sangat menyedihkan. Terlihat kantung mata hitam wajah lesuh. Sepertinya Rico terkena semprotan kekasihnya lagi. Ana hanya menggelengkan kepala mengingat Albert yang sangat suka marah-marah. Hanya saat bersamanya pria itu akan seperti anjing jinak.


“Nona.” Panggil Rico saat melihat Clara keluar dari liftnya. Dia merasa harapan kembali muncul. Setidaknya bossnya tidak akan membuatny pusing dengan moodnya yang buruk karena belum bertemu dengan Clara hari ini.


“Sepertinya Albert membuat ulah lagi Rico?” tanya Clara.


“Saya bersyukur anda sudah datang dan berniat menemui tuan Albert.” Ucap Rico yang selalu berbicara sopan bila di kantor. Sedangkan Clara mendengar ucapan tangan kanan kekasihnya membuatnya tertawa kecil.


“Kembalilah ke ruangan kamu dan mungkin kamu bisa beristirahat sebentar karena anjing galak itu akan tenang beberapa saat bukan?” ucap Clara yang dianggukan oleh Rico dan senyuman muncul dari pria itu.


“Terimakasih nona sudah datang ke kantor hari ini. Anda memang malaikat penyelamat dari amukan iblis.” Ucap Rico dengan nada yang sedikit pelan karena takut terdengar orang lain. Sedangkan Clara sudah tertawa mendengar ucapan pria di depannya.


“Ya kamu benar dia seperti malaikat pencambut nyawa kalau sedang marah jadi segeralah kamu menjauh sebelum dia kembali mengeluarkan taringnya.” Ucap Clara becanda.


Rico menganggukkan kepala setelah meninggalkan Clara. Dia memang sangat bersyukur dengan kedatangan majikannya. Setidaknya hidupnya akan tenang beberapa saat dari sekarang. Semoga saja sahabatnya Chiko tidak membuat tindakan yang mempersulitnya lagi.


Rico langsung mengambil handphonenya dan menelepon seseorang yang membuatnya pusing selama ini. Kedua sahabatnya selalu membuat hidupnya sulit. Mereka sepertinya sangat suka membuat Rico kesusahan.


“Hallo Ric ada apa nelepon? Jangan bilang kamu kangen aku ya?” tanya seseorang yang ditelepon oleh Rico. Sedangkan wajah rico terlihat seperti orang yang ingin muntah mendengar ucapan sang sahabatnya.


“Berhenti dengan rencana kamu menjauhkan Albert dari Adikmu.”ucap Rico dengan nada yang sangat marah. Sedangkan lawan bicaranya hanya tertawa mendengar ucapan sahabatnya. Dia sadar semua perbuatannya dan Albert selalu membuat Rico kesulitan.


“Kamu pasti jawabannya Rico? Aku tidak mungkin memberhentikan rencanaku.” Ucap Chiko dengan santai.


“CHIKO, kamu ingin aku mati muda huh?” tanya Rico dengan nada kesalnya.


“Tentu saja aku tidak ingin membiarkan sahabatku mati muda sebelum merasakan nikmatnya mengahabiskan waktu dengan wanita.” Ucap Chiko yang membuat Rico menderik matanya. Katanya sahabatnya satu ini sudah tobat tapi masih sama seperti dulu. Sepertinya fakta itu hanya sebuah kebohongan saja.


“Kamu ingin aku melaporkan pada adik kamu tentang ucapan tadi?” ancam Rico yang langsung membuat Chiko terdiam.


“Jangan kamu gila, Aku hanya bercanda.” Ucap Chiko.


“Tapi itu tidak akan dianggap candaan bagi adikmu bukan?” ucap Rico dengan senyuman tipis yang muncul dari wajah tampan itu.


“Cih kamu selalu tahu cara mengancamku. Aku Sudah tidak bisa menjalankan rencanaku. Clara menyatakan kalau dia akan marah. kalau aku masih membuat dia menjauh dari Albert.” Ucap Chiko yang terdengar lirih.


“Aku sudah mengetahui tentang itu. Walaupun adikmu tidak menunjukkan perasaannya. Berbeda dengan Albert yang terlihat tergila-gila pada adikmu. Tapi aku tahu perasaan adikmu sangat menyangi Albert. Bahkan dia rela mengorbankan dirinya untuk Albert.” Ucap Rico.


“Kamu tidak tahu itu?” tanya Rico dengan santai. Walaupun dia sadar ucapannya bisa membuat sahabatnya semakin kesal pada Albert. Tapi tidak apa-apa sekali-kali dia membuat sahabat menyebalkan pusing sendiri bukan.


“Aku tidak tahu itu, Sebaiknya kamu ceritakan tentang kejadian itu Rico.”


“Aku terlalu malas menceritakan itu.” Ucap Rico.


“Aku akan memberikan kamu hadiah jika menceritakan tentang kejadia adikku yang menyelamatkan kuman satu itu.” Ucap Chiko. Rico tersenyum lebar, umpan dimakan dengan tepat oleh Chiko. Setidaknya dia mendapatkan hiburan setelah Chiko membuatnya stress akibat rencananya itu.


“Hadiahnya apa dulu?” ucap Rico.


“Aku akan memberikan mobil Lamborghini keluar terbaru. Jika kamu menceritakannya.” Ucap Chiko. Rico tersenyum lebar dengan tawaran Chiko. Walaupun dia bisa saja membeli mobil itu dengan gaji dari Albert. Rico mendapat gaji yang cukup untuk membeli barang-barang mewah.


“Baiklah akan aku ceritakan, tapi kamu harus tepati janji kamu atau aku akan ceritakan ucapanmu tadi pada adikmu.” Peringatan Rico.


“Ya sudah ceritakan saja.” Ucap Chiko.


Pada akhirnya Rico menceritakan awal pertemuan Albert dan Clara yang penuh drama untuknya. Walaupun begitu dia sangat salut dengan keberania Clara waktu itu. Dia dengan berani menyelamatkan orang yang dikenalnya tanpa pandang bulu. Bahkan gadis itu meninggalkan Albert begitu saja.


“WOW, Itu benar adikku. Dia tahu sekali membuat seorang Albert tunduk seperti anjing.” Ucap Chiko setelah mendengar cerita dari sang sahabat.


“Ya kamu benar, Bahkan setelah adik kamu menghilang begitu saja. Albert seperti manusia tanpa jiwa. Walaupun dia menjadi lebih menyeramkan setelah bertemu dengan adikmu. “ ucap Rico.


“Itulah pesona adikku. Namun aku harus memberikan sedikit pelajaran pada Albert bukan. Dia dengan mudah mendapatkan adikku sedangkan dia menghalangiku mendekati adiknya.” Ucap Chiko yang kesal saat mengingat beberapa tahun dia harus melukai wanita yang dicintai karena sahabatnya itu.


“Kalau tindakan Aleardo yang dulu, Aku juga mendukungnya. Kamu tidak pantas untuk micky yang baik. Bahkan kamu tega membawa wanita saat micky sudah menyatakan perasaanya.” Ucap Rico.


“Kamu tidak tahu yang sebanarnya Rico.” Ucap Chiko setelah itu mematikan panggilannya terlebih dahulu. Rico memang tidak tahu apa yang dilakukan Albert dan Chiko beberapa tahu yang menyebakan sahabatnya itu meninggalkan negara ini.


“Diam masih menyukai micky ternyata.” Ucap Rico. Setelah itu dia kembali focus dengan tumpukkan laporan yang ada di meja.


“Setidaknya aku tidak harus mendengar omelan dari Albert.” Gumam Rico saat melihat tumpukan laporan di meja. Dia memiliki banyak pekerjaan karena Albert sejak pagi hanya marah-marah dan membentak setiap pegawai yang masuk kedalam ruangannya. Tentu hal itu membuat Rico mendapatkan pekerjaan tambahan.


Clara masuk ke ruangan Albert tanpa mengetuk. Albert menyadari seseorang masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu. Tentu membuatnya kesal. Dia tidak tahu kenapa hari ini, Albert sangat ingin marah-marah. Apalagi dia belum melihat wajah kekasihnya karena Clara menginap di rumah Chiko. Tadi pagi saat dia ingin pergi bersama sang kekasih. Clara dan Chiko sudah terlebih dahulu pergi menuju kampus Clara. Hal itu membuat Albert belum bertemu dengan sang kekasih.


"Apakah kamu tidak memiliki sopan santu?" ucap Albert dengan nadanya marahnya. Tapi orang yang dimarahi tidak sama sekali menjawab ucapannya. Karena kesal dia mengalihkan fokusnya dari laporan menuju orang masuk ke ruangannya begitu saja. Terlihat wajah kesal dari Albert. Seketika wajah itu berubah dengan senyum lebar saat melihat orang yang berdiri di depannya. Gadis yang dia rindukan sejak tadi pagi.


"Sepertinya aku mengganggu kamu ya Albert." ucap Clara dengan wajah sedih. Sebenarnya dia sama sekali tersinggung dengan ucapan Albert. Dia tahu tindakan memang tidak sopan kalau dilakukan oleh pegawai Albert. Tapi berbeda bukan kalau dilakukan oleh kekasih pria pemilik ruangan ini.