
Rico menatap semua tumpukan laporan dan pekerjaan yang kata bosnya sudah di selesaikan. Ternyata dia kena tipu oleh Albert. Semua pekerjaan ditinggalkan begitu dan banyaknya lebih dari hari biasanya.
“Bukankha dia kejam padaku.”Ucap Rico lirih melihat pekerjaanya. Sedangkan orang yang sudah membuatnya harus lembur malah berlibur.
“Sudahlah, kamu juga tidak bisa melakukan apa-apa bukan? Tenang aku akan membantumu.” Ucap Chiko yang menepuk bahu sahabatnya. Dia merasakan beban yang ditanggung oleh Rico.
Ternyata Albert tidak berubah sama sekali. Dia masih suka menjaili sahabatnya. Menyusahkan Rico adalah kebahagian untuk Albert dan Chiko di masa lalu. Bukankah Albert keterlaluan kalau masih suka menyiksa sahabatnya sekaligus tangan kananya ini.
“Aku yakin kamu tidak akan banyak membantuku. Apalagi kamu sudah resmi berpacaran dengan micky.” Ucap Rico dengan tatapan kesal pada sahabatnya.
Chiko membuang nafas kasar. Rico tidak tahu kalau micky memintanya untuk fokus membantu sahabatnya ini. Rasanya dia seperti tidak memiliki kekasih. Micky ternyata sebelas dua belas dengan adiknya yang menyebalkan itu.
“Tenanglah Rico, kekasihnya sedang tidak ingin menemuinya hingga tugas kakaknya selesai. Makanya dia ingin segera menyelesaikan masalah yang ditinggalkan oleh Albert.”Ucap Rain yang merupakan tangan kanan Chiko.
Sebenarnya Rain baru saja tiba di negara ini atas permintaan atasanya. Padahal pekerjaanya di negara asalnya sudah menumpuk. Tapi dia tidak bisa menolak permintaan atasanya yang sama menyebalkan dengan atasan Rico.
“Rain kamu ada di sini?” tanya Rico yang terkejut dengan keberadaan tangan kanan Chiko.
“Bisa dibilang nasibku sama sepertimu. Pria ini sedang ingin bersenang-senang di atas penderitaan bawahanya.” Sindir Rain yang membuat Chiko langsung menatap tajam pada tangan kananya itu.
Sayangnya Rain berbeda dengan Rico yang takut dengan Albert. Rain sama sekali tidak memperdulikan tatapan tajam dari atasannya. Dia bisa kapan saja keluar kalau dirinya ingin. Paling yang akan merengek adalah atasannya sendiri.
“Bukankah perkataanku benar tuan Chiko.” Tantang Rain pada atasannya.
“Cih kamu kapan seperti Rico yang takut pada Albert.” Ucap Chiko yang langsung berjalan menuju kursi kerja Albert. Dia mulai mengerjakan pekerjaan sahabatnya sekaligus kekasih adiknya. Mungkin sekarang dia menjadi calon kakak iparnya sekaligus adik iparnya. Hubungan yang sangat membingungkan antara keduanya.
“Tidak ada alasan untuk aku takut padamu. Aku bisa keluar dari perusahaanmu dan berpindah ke perusahaan Albert yang sudah lama menginginkanku.” Ucap Rain yang membuat Chiko mendengus sebal.
Sedangkan Rico terkejut mendengar pembicaraan dua orang di depannya. Apakah Albert berencana menggantikannya dengan Rain. Tidak bisa dibiarkan itu terjadi. Kalau sampai itu terjadi tidak ada lagi mobil gratis yang selalu dirinya dapatkan dari atasannya itu.
“Kamu tidak bisa menggeser posisiku Rain. Aku pastikan kamu tidak bisa melakukannya. “ Ucap Rico yang langsung pergi ke ruang kerjanya dengan membawa beberap tumpukan dokumen. Dia harus bekerja keras agar tidak membuat Albert kecewa padanya.
“kamu sepertinya selalu tahu cara membuat orang lain bekerja keras.” Ucap Chiko pada tangan kananya. Tentu saja ucapan Rain tadi tidak sepenuhnya benar. Walaupun Rain bisa kapan saja keluar dari perusahaan Chiko. Tapi dia memiliki hutang budi pada Clara adik dari atasanya. Jadi dia tidak bisa keluar sebelum mengatakan pada Clara.
“Jadi kamu benar-benar akan keluar dari perusahaanku?” tanya Chiko pada tangan kananya yang juga sedang mengerjakan beberapa dokumen.
Kenapa Rain hanya tunduk pada adiknya padahal yang membayar gajinya adalah dirinya bukan Clara. Tapi Rain tidak takut padanya sama sekali. Dia tidak tahu alasan tangan kananya sangat menghormati adiknya dibandingkan dirinya sendiri.
“Kenapa kamu sangat menghormati adikku?” tanya Chiko yang sangat penasaran dengan apa yang telah dilakukan adiknya pada tangan kananya.
“Aku berhutang nyawa padanya.” Ucap Rain yang membuat Chiko berhenti seketika.
“Berhutang nyawa?” tanya Chiko kembali. Dia tidak paham dengan maksud Rain. Sepertinya adiknya tidak pernah menyelamatkan Rain atau bertemu dengan tangan kananya.
Karena Rain baru menjadi tangan kananya setelah Clara pergi dari rumah. Rain adalah orang yang dirinya tolong saat sedang mencari adiknya. Setelah mengetahui kalau Rain tidak memiliki tempat tinggal. Chiko memberikan rumah dan pekerjaan. Dia tidak menyangka kalau orang yang ditolongnya ternyata sangat handal dalam bekerja dalam bidang bisnis.
Rain banyak membantunya dalam mengerjakan pekerjaan. Dia juga tidak pernah banyak mengeluh dengan sifat Chiko. Hanya sekarang-sekarang saja dia sering menyatakan ingin keluar kalau Chiko semena-mena terus.
Mungkin karena Chiko pergi meninggalkan perusahaan untuk menemui adiknya. Bukannya pulang secepatnya, Chiko malah meminta untuk kantor pusatnya berpindah ke negara ini. Hal itu yang membuat Rain kesal dengan atasannya.
“Karena dia sudah menggantikanku menemani ibuku.” Ucap Rain pada Chiko.
“Maksud kamu wanita yang selama ini bersama adikku adalah ibumu. Bagaimana bisa?” tanya Chiko pada Rain.
Rain sebenarnya sangat berat untuk menjelaskan tentang keluarganya pada orang lain. Tapi pria yang berada di depannya adalah sahabatnya. Dia sudah dianggap sebagai keluarganya sendiri. Selain itu chiko dan Clara adalah orang yang sangat berharga bagi Rain. Chiko sudah memberikannya tempat tinggal dan pekerjaan.
Sedangkan Clara sudah memberikan kebahagian untuk ibunya yang tidak bisa diberikan olehnya. Adik Chiko sudah menemani ibunya dalam keadaan bahagia maupun sedihnya. Tidak ada hal yang bisa menggantikan jasa mereka berdua bahkan dengan uang.
“Ibu angkat nona Clara adalah ibu kandung saya. Saya dipaksa ikut dengan ayah saya. Ibu saat itu tidak bisa melakukan apapun karena ayah saya lebih memiliki kekuasaan. Saya juga tidak tahu keberadaan ibu saya. Hari dimana anda menemukan saya adalah hari dimana saya memilih untuk meninggalkan keluarga ayah saya yang berada di negara ini. Saat itu saya dirampok saat mencari ibu saya dari detektif yang diperkerjakan oleh saya.” Jelas Rain yang membuat Chiko sedikit mengerti situasi sahabatnya ini.
“Jadi kamu sudah tahu lama tentang hubungan ibumu dan Clara?” tanya Chiko.
“Sayangnya saya baru bisa menemukan ibu saya saat beliau sudah kembali pada sang pencipta.” Ucap Rain sedih mengingat dirinya telat dalam bertemu dengan sang ibu. Saat itu dirinya bertemu dengan Clara yang sedang menangis di depan nisan ibunya.
Ternyata Clara mengetahuinya kalau dirinya adalah anak dari ibu angkatnya. Tidak ada amarah yang diarahkan padanya. Clara malah memberikan satu kotak yang berisi surat yang ditulis oleh sang ibu untuknya.
Saat itu Rain berjanji untuk mengabdikan dirinya pada Clara. Tapi wanita muda itu menolak, Dia malah meminta untuk selalu berada di sisi kakaknya. Karena Clara tidak mungkin bisa menemani kakaknya. Rain tidak banyak bertanya dengan keinginan Clara. Alasan itu Rain selalu bertahan dengan sikap Chiko.