
Clara tidak tahu seberapa kaya pria di sampingnya ini. Dia tidak menyangka kekasihnya juga punya sebuah rumah di negara sakura ini. Apalagi rumahnya sangatnya indah dengan gaya khas jepang. Rumah yang terbuat dari kayu dengan lantai satu tapi memiliki taman yang luas.
“Kamu suka tidak dengan rumah kita?” tanya Albert yang membuat Clara bingung dengan ucapan kekasihnya.
“Rumah kita? Kita belum menikah Albert jadi ini rumah kamu.” Ucap Clara pada kekasihnya yang dijawab dengan gelengan kepala.
“Mungkin kita belum menikah, Tapi rumah ini atas nama kamu sayang.” Ucap Albert yang membuat Clara terkejut mendengarnya.
Bagaimana bisa dia memberikan rumah besar dan indah ini kepada seorang kekasihnya. Ingat Clara dan Albert baru saja saja berpacar. Mungkin hubungan mereka sudah jalan ke jenjang yang sedikit lebih tinggi. Tapi mereka belum menjadi seorang suami istri.
Semestinya dia tidak semudah itu memberikan sesuatu pada orang lain bukan. Bagaimana kalau dirinya berniat jahat pada Albert. Walaupun hal itu tidak mungkin dilakukan oleh Clara. Karena Dia bukan orang yang mudah jatuh cinta dengan lain dan menghianati orang terdekatnya.
“Kamu gila Albert? Bagaimana kamu bisa dengan mudah memberikan properti mewah seperti ini pada orang lain? Kamu harusnya tidak melakukan hal itu.” Ucap Clara yang masih tidak bisa menerima hal ini. Dia tidak mau menerima barang mewah seperti ini. Sekarang Clara merasa tidak pantas berada di samping Albert.
“Apa maksud kamu sayang? Kamu bukan orang lain. Kamu adalah wanita yang paling aku cintai. Jadi jangan menganggap kamu buka siapa-siapa di sini. Kamu harus tahu kalau kamu sangat berharga untukku Clara.” Ucap Albert dengan suara dinginnya.
Dia tidak habis pikir dengan wanita di sampingnya. Bagaimana bisa dia berpikir kalau dirinya orang lain. Selain itu Albert hanya ingin memberikan hadiah untuk kekasihnya. Tidak salah bukan yang dilakukannya.
“Aku tahu niat kamu baik Albert, Tapi hadiah ini terlalu mewah untukku. Aku tidak bisa menerima ini.” Ucap Clara pada Albert yang membuat pria itu kesal pada kekasihnya.
“Kenapa kamu tidak bisa menerimanya? Clara aku hanya ingin memberikan hadiah buat kamu. Kamu hanya perlu menerimanya saja.” Ucap Albert pada kekasihnya. Kedua tangannya memegang bahu kekasihnya. Kedua saling bertatapan. Clara langsung membuang pandangannya.
“Aku hanya takut kamu berpikir aku seperti wanita yang diluar sana. Aku takut kamu berpikir aku wanita yang hanya mengejar hartamu saja. Aku mencintaimu bukan karena apa yang kamu miliki selama ini Albert. Aku mencintai karena setiap perlakuanmu padaku.”Ucap Clara yang membuat Albert terdia, Mungkin dia masih ada rasa kesal dengan penolakan kekasihnya. Tapi dia juga senang kalau Clara mencintainya bukan karena apa yang dimilikinya saat ini.
Albert menarik badan Clara kedalam pelukannya. Dia menyembunyikan wajahnya di leher kekasihnya. Dia mengendus aroma Clara yang selalu bisa membuatnya tenang.
“Aku senang saat taku kamu mencintaiku bukan karena apa yang aku miliki. Tapi Aku juga ingin memberikan hadiah untuk membahagiakanmu sayang. Jadi jangan tolak hadiaku ini ya.” Ucap Albert yang sekarang menatap mata kekasihnya yang indah di matanya.
“Baiklah Albert.” Ucap Clara yang lebih memilih untuk mengalah pada kekasihnya. Lagi pula kalau dia tetap ngotot dengan pendiriannya. Pria itu pasti menggunakan cara lain untuk membuatnya menerimanya. Clara sudah mengenal pria itu walaupu mereka belum lama bersama.
“Terima kasih sayang.” Ucap Albert yang dianggukan oleh Clara. Dia terlalu malas menjawab kekasihnya yang keras kepala itu.
“Kapan kita akan jalan-jalan?”tanya Clara pada Albert.
“kamu inginnya kapan sayang?”tanya Albert balik pada kekasinya.
“Aku sekarang, aku sudah tidak sabar ingin menjelajahi tempat ini.” Ucap Clara antusias pada Albert yang membuat pria itu tertawa melihat tingkah kekasihnya. Sekarang Clara seperti anak kecil yang semangat diajak ke tempat bermain.
“Mungkin kamu harus membersihkan badanmu dulu bukan? Kita sudah melewati waktu yang cukup lama menuju negara ini. Selain itu kamu juga harus makan siang sebelum berjalan-jalan.” Ucap Albert yang dianggukan oleh Clara.
Dia juga berpikir sama dengan Albert. Badannya sudah tidak enak karena belum mandi lagi. Selain itu Clara juga mulai menrasakan aroma tidak enak dari tubuhnya. Mungkin dia membutuhkan waktu membersihkan badannya agar kembali segar.
“Kalau begitu ayo aku antarkan kamarmu di sini.” Ucap Albert sambil menarik Clara masuk ke dalam rumah tradisional jepang itu.
Tapi mereka tidak menyangka kalau tuan mudahnya akan membawa wanita yang sepertinya berasal dari asian. Terlihat wajahnya yang tidak seperti orang dari negara Albert. Mereka menyambut ramha pasangan muda itu. Clara juga tersenyum pada para pekerja.
“Selama siang tuan, mari saya antarkan anda ke ruang tuan muda dan nona.” Ucap seorang wanita paruh bayah yang sudah lama bekerja pada keluarga Albert. Dia sudah seperti nenek bagi Albert.
“hallo nek, apakabar?”tanya Albert dengan senyuman ramah menyertai.
“Saya baik tuan muda”
“nek sudah aku bilang panggil saja aku Albert. Oh iya kenalkan wanita di sampingku adalah kekasih Al nek, namanya clara.” Ucap Albert pada wanita tua.
“Salam kenal nek, saya Clara. Nenek tidak usah memanggilku terlalu formal. Panggil aku seperti memanggil Al saja.” Ucap Clara dengan senyum manis.
Wanita tua itu ikut senang melihat pasangan tuan muda yang selama ini diasuhnya. Dia bersyukur Albert mendapatkan wanita sebaik Clara. Terlihat jelas kalau wanita di depanya sangat ramah. Clara terlihat berbeda dengan wanita yang ada di luar sana yang sangat dihormati oleh orang lain.
“Baiklah Al dan Clara, bukankah kalian harus segera membersihkan sebelum melanjutkan liburan kalian.” Ucap wanita tua itu dengan ramah. Pasangan muda itu menganggukan kepalanya.
Setelah selesai denga urusan pribadi. Albert dan Clara setuju untuk makan siang di luar. Alasannya karena Clara ingin mencoba restorant khas negara sakura. Tentu saja Albert tidak akan menolak permintaan kekasihnya.
Akhirnya pasangan itu memilih untuk makan sushi di salah satu kedai sushi yang berada di daerah Odaiba. Daerah itu terkenal bagi para wisatawan. Banyak sekali makan-makanan tradisional di tempat itu.
Setelah keduanya asik menikmati jalan-jalan. Tentu saja yang benar-benar senang adalah Clara. Sedangkan Albert merasa biasa saja. Dia senang karena melihat kekasihnya bahagia. Setidaknya Clara bisa sedikit merupakan masalah dengan Chiko.
“Albert aku haus.” Ucap Clara yang sedang duduk di salah satu bangku. Mereka sedang beristrihat sebelum pulang.
“Aku akan beli minum dulu. Kamu jangan kemana-mana tepat di sini.”ucap Albert sebelum meninggalkan Clara.
Sedangkan Clara menikmati orang-orang yang berlalu larang. Hari sudah gelap, banyak orang yang melewanitanya seperti pegawai kantoran. Hingga suara yang tidak pernah dirinya dengar lagi muncul.
“Clara.” Panggil seorang pria yang berjalan mendekatinya. Pria masa lalu yang meninggalkan luka pada hatinya. Kenapa dia kembali saat Clara sudah bisa menyembuhkan lukannya.
Kenapa takdirnya harus menemukannya kembali. Clara sudah tidak ingin lagi bertemu dengan Alex maupun sahabatnya. Keduanya sudah meninggalkan luka yang cukup besar.
“Clara, lama tidak berjumpa. Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Kamu tidak pernah mengangkat teleponku atau membalas pesanku.” Ucap alex pada Clara.
Sedangkan Clara tidak ingin membalas ucpaan pria itu. Dia ingin segera bertemu Albert. Clara tidak yakin bisa bertahan jika harus berlama-lama dengan Alex. Saat dia melihat sosok Albert mendekatinya. Segera Clara meninggalkan Alex begitu saja tapi tangannya ditahan oleh pria itu.
“Clara kamu masih marah padaku.”ucap Alex pada Clara.
“Bukankah hubungan kita berakhir jadi lepaskan.” Ucap Clara yang langsung menepis tangan Alex. Dia berjalan mendekati Alex yang sedang menatapnya. Albert tidak banyak bertanya saat Clara mengajaknya pergi dari tempat itu.