
Setelah makan siang, Rico langsung meninggalkan ruangan Albert karena pria itu memberikan tatapan yang sangat tajam. Rico merasa bossnya menjadi sangat menyeramkan saat ada yang mengganggu waktunya dengan Clara.
Albert sedang merebahkan badannya di sofa dengan kepala yang belada di pangkuan Clara. Dia sebenarnya ingin cepat pulang karena ada tugas kuliah yang harus dikumpulkan besok. Tapi dasar Albert, Pria keras kepala yang beruntungnya clara mencintai pria itu juga. Pada akhirnya dirinya mengalah untuk menemani Albert di kantor dibandingkan pria itu ikut pulang bersamanya.
Flashback
Clara membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk meninggalkan ruangan Albert. Namun tubuhnya terasa tertarik dan jatuh tepat di sofa samping albert.
"Al, aku harus pulang. Tugas kuliahku belum aku kerjakan dan besok date linenya."
"Kenapa kamu harus kuliah sih? kita nikah saja Clara dan kamu gak usah kerja. Kamu hanya harus fokus rawat aku dan anak-anak kita saja." Ucapan albert itu clara dirinya dengar lagi. Rasanya sangat sebal dengan pembicaraan ini yang jelas-jelas mereka sudah selesaikan beberapa waktu lalu.
"Masa aku baru juga kuliah harus, cuti nikah terus nanti cuti ngelahirin."
"Makanya kamu berhenti saja kuliahnya. Kamu sudah punya gelar lagi pula."
"Al, aku sudah sangat bosan dengan pembicaraan ini. Bukankah kamu sudah setuju dengan keinginanku ini."
"Tapi aku ingin milikin kamu seutuhnya Clara. Aku takut kalau suatu hari kamu malah dimilikin oleh orang lain." Albert membawa Clara dalam pelukannya. Albert itu masih belum tenang karena banyak pria diluar sana yang memiliki perasaan pada gadisnya.
"Sejak kamu membuatku mencintaimu, Kamu adalah milikmu Al. "
"Baiklah, Tapi kamu harus menemaniku atau aku ikut saja pulang dengan kamu."
"Hey,kamu tidak semudah itu meninggalkan tanggung jawabmu. Bagaimana bisa boss memberikan contoh yang tidak baik pada bawahannya."
"Makanya kamu temaniku di sini." Albert menaruh kepalanya pada pangkuan Clara. Sedangkan Clara hanya bisa menghela nafas dan mengusap rambut sang kekasih. Dia melihat wajah lelah sang kekasih. Albert memang workholic tapi itu sebelum mengenal Clara. Apalagi wanita itu sering memarahi Albert dengan kebiasaan buruknya yang jarang tidur. Rico memberi tahukannya tentang Albert bisa tidak tidur 2-3 hari dan hanya mengisi dengan bekerja.
Flashback End
"Al, ini gak baik buat kesehatan mata kamu loh. "
"Bukannya kamu juga sering melakukan ini?"
Clara terkejut dengan ucapan sang kekasih. Kenapa albert bisa tahu kalau dirinya senang membaca sambil tiduran. Karena kebiasaan buruknya dia harus menggunakan kaca mata karena matanya minus.
"Tapi Sekarang aku sudah mengurangi kebiasaan itu. Kenapa kamu malah membalik ucapanku sih?"
"Hahahaha tidak apa-apa hanya saja aku senang melihatmu kesal seperti ini." Albert mencubit kedua pipi cabi Clara yang selalu dirinya sukai. Bahkan dia merasa akhir-akhir ini pipi gadisnya semakin besar. " Pipimu semakin besar ya."
"Apa maksudmu Alber?"
"Hahhaha jangan marah, aku senang pipi cabi semakin menggemaskan untukku."
"Berhentilah mengejekku. Lanjutkan kerjaanmu itu. Kasihan Rico harus membereskan pekerjaanmu akhir-akhir ini."
"Aku tidak peduli, Lagi pula dia digajiku."
"Hey, kamu bos yang semena-mena sekali."
Akhirnya Albert kembali fokus dengan tablet yang pria itu pegang. Clara terus mengelus rambut hitam milik Albert. Pria itu sangat suka kalau gadisnya melakukan itu. Dia merasa sangat disayangi oleh Clara. Keduanya asik dengan dunianya hingga tak sadar ada seorang gadis seumuran dengan Clara yang masuk dan terkejut melihat keadaan di ruangan itu.
"Albert."
Panggilan wanita itu menyadarkan Clara dan Albert. Clara tidak mengetahui gadis itu. Albert yang sadar akan tatapan kesal gadisnya hanya membalas dengan senyum cerah. Sedangkan Gadis yang tak lain adik Albert terkejut melihat kakaknya dingin bisa tersenyum tulus seperti selain bersama sang ibu.
"Sedang apa kamu Micky?" Albert masih pada posisi sebelumnya tanpa ada niatan merubah posisinya. Sedangkan Clara mencoba merubah posisi ini. Rasanya sangat canggum.
Micky berjalan mendekati pasangan itu dan segera menarik Clara dari Albert. Hal itu membuat kepala Albert jatuh ke sofa dengan sedikit keras karena tidak ada persiapan.
"Micky. Apa yang kamu lakukan?" Micky tidak ada niatan membalas ucapan sang kakak. Gadis itu menarik Clara ke sofa di depan Albert. Sedangkan Clara masih mencerna keadaan yang ada di ruangan ini.
"Aku sangat senang kalau kamu kekasih kakak dingin itu." Micky memeluk tubuh Clara sedangkan Albert merasa kesal dengan tingkah laku sang adik. Walaupun dia merasa senang kalau sang adik juga menyukai Clara.
"Kamu micky yang sekelas denganku kan?"
"Rasanya kita tidak terlalu dekat di kelas micky."
Micky memang satu kelas dengan clara. Tapi tidak begitu dekat karena adik Albert merupakan model yang sangat terkenal makanya dia sangat jarak berinteraksi dengan teman sekelas. Hal itu disebabkan terlalu padat jadwal pemotretan yang membuatnya sulit menyisikan waktu ruang dengan teman-teman.
"Ya kamu benar juga, Aku terlalu sibuk setelah kelas. " Micky menarik Clara keluar dari ruangan Albert. Sedangkan Albert terkejut dengan tindakan sang adik pada gadisnya.
"Kak aku pinjam Clara dan kirimkan uang ke ATMku. Jika tidak kakak kirimkan, aku pastikan mom akan mengetahui ini secepatnya. Bye."
"Micky."
Micky segera berjalan keluar dari kantor sang kakak dan mengajak calon kakak iparnya menuju salah satu mall. Selama di perjalanan Clara belum mengeluarkan sepatah katapun. gadis itu masih belum percaya kalau micky temannya yang paling dihindari karena terlalu dingin adalah adik Albert.
"Clara santai saja, sebenarnya aku juga terkejut. Kamu ternyata wanita yang bisa membuat Es Kutub utara itu manja. Bahkan awalnya aku tidak percaya saat kakak rico bilang kalau kakak lebih menyeramkan dari sebelumnya dan faktanya aku melihat kakak bermanja membuat aku takut. Serasanya aneh melihatnya."
"Jujur aku saat awal-awal merasa kurang nyaman dengan Albert yang manja. Tapi lama-lama yang biasa saja sih."
"APA? Kak Albert sering bermanja-manja padamu?"
"Iya begitulah, kadang dia tidak akan makan kalau aku tidak mau menyuapinya. Bahkan dia bisa seharian memelukku dan mengikuti kemanapu bahkan menungguku di depan toilet."
"Wah ini harus aku kasih tahu ke mom. Pasti mom tidak akan menyangka kak Albert yang sejak kecil tidak manja dan dingin bisa seperti itu. Clara harus tahu tingkah kak Albert seperti dad."
"Benarkah?"
"Iya, aku bersyukur kamu wanita yang dicintai oleh kakak bukan si angel itu."
"Sepertinya kamu tidak menyukai Angel bukan wanita itu sangat cantik dan menawan."
"Cih apanya cantik, wanita itu hanya seperti ****** tahu. Setiap malam dia menghabiskan waktu di club untuk melakukan hubungan intim dengan pengusaha agar bisa menjadi model terkenal."
"Itu sangat mengejutkan. Bukankah angel manta tunangan albert."
"APA? SEJAK KAPAN?"
"kamu tidak tahu itu, seingatku beberapa bulan aku bertemunya dan wanita mengaku kalau dirinya tunangan albert. Selain itu informasi itu sempat ramai di media sosial."
"itu hanya rumor yang dibuat oleh wanita itu. Sebenarnya kakak tidak pernah menyukai wanita itu hanya saja dia anak dari teman dad. Jadi kakak sangat menghormati. Berita itu juga sebenarnya hanya buatan si angel kakak tidak pernah mengkonfirmasi sebelumnya. kakak baru mengkonfirmasi saat ada wanita yang dia sukai itu dan wanita itu kamu kan clar?"
Clara hanya diam dengan wajahnya yang sudah berwarna merah. Sedangkan Micky yang milihat sangat gemas dia tidak menyang calon kakak iparnya sangat menggemaskan.
"Mari kita memulai berbelanja dan menghabiskan uang kekasihmu ini."
"Tapi Micky."
"Sudah jangan kamu pikirkan opini kakak Albert, Dia bahkan tidak akan marah kalau kamu mau membeli seisi mall ini."
"Tidak mungkin aku membeli seisi mall dan rasanya aku tidak nyaman menggunakan uang kakakmu."
Micky mendapat telepon dan saat tahu siapa orang segera diangkat.
"Hallo kak, Clara tidak mau menggunakan uangmu?"
"Berikan HPmu ke Clara."
Micky segera memberikan HPnya pada clara.
"Clar aku sangat senang kalau kamu menggunakan uangku untuk membeli barang yang kamu suka. Jangan kelelahan aku akan menjemput jam 5 sore. Nikmati waktumu dan jangan terlalu baik pada adikku yang menyebalkan. bye baby."
Telepon itu langsung dimantikan secara sepihak dan Clara memberika HPnya pada micky kembali.
"Mari kita bersenang-senang." Ucap Micky