
Clara sudah kembali kuliah walaupun dengan syarat selalu ditemani pengawal dan tinggal bersama dengan albert. Sebenarnya dirinya ingin menolak karena dia merasa kurang nyaman tinggal bersama dengan albert. Selain itu Apartementnya sudah dia sewa selama satu tahun kedepan. Rasanya sayang jika tidak ditempatkan apalagi dia sangat menyukai apartement itu. Tapi sayang pria menyebalkan itu malah menyewakan kembali apartement clara pada orang lain. Hal itu membuat clara tidak memiliki alasan untuk kembali ke apartement. Albert memang tidak mengekang kembali seperti beberapa minggu lalu tapi tetap saja pria itu terlalu possesif. Padahal dulu dia tidak ingin pacaran karena tidak ingin dikekang tapi lihat saat ini pria itu sangat mengekangnya. Berutungnya dia sayang dengan Albert kalau tidak sudah dirinya tinggalkan.
"Clara, apa yang akan kamu lakukan setelah kelas ini?" ucap temannya yang baru dirinya kenal beberapa minggu ini yang beranama Gloria Watson Tiny. Wanita yang sangat ramah dan baik hati menurut clara.
"Sepertinya aku akan bertemu dengan kekasihku."
"Wah, kamu ternyata sudah memiliki kekasih?"
"Ya, begitulah.Kenapa kamu menanyakan kegiatanku setelah kelas?"
"Tadinya aku akan mengajakmu pergi bersama dengan teman-temanku dan sekalian mengenalkanmu dengan seorang pria. Aku kira kamu masih sendiri."
"Maaf Gloria, aku tidak tertarik dengan acara itu." ucap clara sambil berjalan menuju kelas terakhirnya. Dia sebenarnya terkejut dengan acara sang sahabatnya. Blind date adalah acara yang tidak pernah terlintas dalam benaknya walaupun itu saat dirinya masih sendiri.
"Harusnya aku yang meminta maaf Clara, Aku merasa bersalah." Ucap Gloria dengan wajah sendunya. Telihat penyesalan pada wajah gloria. Dia tahu kalau sahabatnya memang sedang menyesal bukan sebuah akting belaka.
"Sudahlah, lagi pula aku tidak menceritakan kepadamu kalau aku sudah punya pacarkan?"
"Ya, kau benar. Tapi tetap saja seharusnya bertanya padamu terlebih dulu. Sebenarnya alasanya mengajakmu karena aku merasa malu kalau sendiri."
"Sekali lagi maaf aku tidak bisa menemanimu."
"Tidak masalah, sebenarnya akupun berniat tidak ikut. Aku merasa tidak nyaman hanya saja teman-temanku memaksaku mengikutinya. Tapi sepertinya tugas dari Mr Lexo bisa menjadi alasanku tidak ikut acara itu hahahha."
"Makanya jangan kamu paksakan kalau tidak nyaman."
"Kamu tahu clara aku selalu tidak nyaman kalau menolak ajakan orang lain."Clara tahu karakter Gloria setelah beberapa minggu berteman dengan wanita itu. Kadang dia merasa kesal melihat Gloria yang kurang bisa mengutarakan keinginan dan ketidaksukaan pada seseorang. Hal itu membuatnya sesekali khawatir dengan temannya.
"Kamu harus belajar menolak dan mengutarakan keinginanmu Gloria."
"Entahlah Clara sepertinya itu terlalu sulit untukku."
Pembicaraan keduanya terhenti saat dosennya memasuki ruang kelas. Keduanya fokus dengan pemaparan yang diberikan oleh dosen di depannya. Walaupun sebenarnya Clara sedikit mengantuk. Dia memang selalu seperti itu bahkan beberapa kali wanita itu tidak sengaja tertidur di kelas dan berakhir Gloria yang membangunkannya. Gloria tidak habis pikir dengan kelakuan temannya yang senang tidur dikelas tapi semua hasil ujian dan tugasnya sangat memuaskan. Tapi tidak membuatnya iri malah merasa termotivasi untuk bisa mengejar sang sahabat barunya itu.
Clara terbangun saat dosen memanggilnya dan memberikan pertanyaan. Clara dengan mudah menjawab semua pertanyaan dosen itu padahal sejak tadi wanita itu hanya tidur nyenyak disamping Gloria. Setiap orang yang ada di ruangan itu terkejut bukan main.
"Kamu memang luar biasa Clara, Bagaimana cara kamu menjawab pertanyaan Mr xin padahal sejak tadi kamu hanya tidur."
"entahlah Gloria, aku merasa saat tidur suara Mr Xin lebih mudah diingat heheheh." Ucap Clara yang segera membereskan beberapa alat tulis kedalam tasnya. Gloria hanya menggelengkan kepala saat mendengarkan jawaban Clara. " Aku duluan ya Gloria, Sebaiknya kamu segera pulang sebelum gerombolan lathy mengajakmu ke acara itu."
"Ya kamu benar, Gloria segera membereskan barang-barangnya." Clara yang melihat tingkah Gloria hanya menggelengkan kepala. Gloria memang persisi dengan Sisil hanya saja sahabatnya yang di indonesia itu lebih menyebalkan dan sangat suka clubbing.
"Aku jadi rindu kamu sisil apakabarmu di Indonesia?" Gumam clara sambil berjalan menuju mobil jemputannya.
"Pak Will kita ke mansion dulu nanti antar aku ke kantor albert."
"Siap nona " ucap supir yang menjemputnya.
Clara menyandarkan kepalanya pada jok kursi dan menatap lalu lintas hari ini. Hari ini sangat cerah dan ramai. Dia masih tidak menyangka bisa berpacaran dengan Albert. Sesaat dirinya berpikir untuk membuat makan siang karena dia tahu Albert sering melewatkan makan siang. Hal itu dia ketahui dari Rico tangan kanan sang kekasih yang tak segan meneleponnya dan melaporkan tingkah kekasihnya.
"Nona kita sudah sampai."
"Terima kasih Pak will."
"sama-sama nona." Pak Will merasa sangat bahagia majikannya mendapatkan wanita yang sama seperti nyonya besar. Clara walau sedikit jutek tapi pada dasarnya wanita itu ramah dan baik bahkan terkadang pacar majikannya memberikan kue yang wanita itu buat."Semoga tuan muda dan nona clara selalu Bersama seperti nyonya besar dan tuan besar."
"Selamat datang nona." Sambutan Mr Eldien yang tak lain kepala pelayan mansion albert.
"Anda tidak perlu telalu sopan Paman Eldien. Bagaimanapun anda lebih tua harusnya aku yang menghormatimu."
"Nona adalah majikan saya sudah sepantas, saya menghormati anda."
"Ayolah paman Eldien, aku sudah menganggapmu seperti pamanku."
"Baiklah nona."
"Oh ya paman aku berniat membuatkan makan siang untuk Albert."
"Benarkah nona, tapi saya khawatir tuan tidak akan senang kalau nona memasuki dapur."
"Ayolah paman, pria itu tidak akan marah kalau tahu aku membuat makanan untuknya. Itu cara agar aku bisa menggunakan dapur."
"Nona akan membuat apa untuk makan siang tuan muda? Apakah saya perlu memanggil koki untuk membantu nona?"
"Tidak perlu paman Eldien, Aku sudah terbiasa memasak sebelum bertemu dengan Albert jadi tenanglah."
Clara berencana membuat gyoza yaitu semacam dimsum yang sekarang lagi viral di sosial media. Selai itu dia membuat ayam balado dan cheese cake. Eldien yang melihat nona mudanya memasak dengan lincah bahkan dia terkejut hanya butuh satu jam untuk membereskan ketiga makanan itu. Sekarang clara sedang Menyusun pada kotak makan makannya. Walaupun dia tahu Albert tidak terbiasa makan nasi tapi setelah berhubungan dengan clara pria itu sama wanitanya nasi menjadi makan pokoknya. Bahkan Eldien yang sudah melayani Albert sejak kecil terkejut dengan kebiasan baru sang majikan. Eldien merasa Clara terlihat seperti nyonya besar saat masih muda. Kedua pria Jacobson luruh hati pada karakter wanita yang sama.
"Paman Eldien, Clara minta tolong untuk memberi tahu pada Pak Will untuk mempersiapkan mobil dan sisa makan yang clara buat bisa dibagikan ke pelayan. Sengaja Clara buat banyak."
Clara pergi ke kamarnya untuk mengganti baju. Walaupun Clara dan Albert tinggal Bersama tapi mereka berada di kamar yang berbeda. Albert sang menghargi clara. Bagaimanapun mereka belum menikah dan sangat tabu untuk tinggal di satu kamar yang sama. Semua itu adalah ajaran dari sang mom yang lahir di negara yang sama dengan clara.
Clara mengganti pakaiannya dengan dress berwarna biru dongker sangat pas dengan kulitnya dan memoles wajah dengan sedikit makeup tipis. Hanya bedak, rose pipi dan lipstick nude. Clara segera mengambil tas kecil yang sudah dirinya isi dengan Hp dan dompetnya. Wanita itu berjalan menuju mobil. Makanan yang tadi dia buat sudah di bawa ke dalam mobil oleh paman Eldien.
Clara hanya membutuhkan waktu 30 menit menuju kantor Albert. Mungkin karena waktu makan siang sudah selesai para pegawai sudah kembali bekerja. Sebelum dirinya pergi dia sudah mendapat kabar kalau Albert belum makan siang dan masing dalam ruang rapat.
Sebenarnya dia merasa gugup karena ini kali pertama untuknya datang ke kantor Albert. Saat Turun dia melihat interior kantor Albert yang sangat elegan sesuai dengan gaya sang kekasih simple namun berkelas. Awalnya Pak Will menawarkan untuk menemani Clara hingga ruang tuan muda tapi ditolak karena Clara merasa tidak enak selalu merepotkan pria yang seumur dengan ayahnya itu.
Clara berjalan menuju meja receptionis. Sebenarnya melihat bertapa angkuh wanita itu membuatnya sedikit malas menatapnya. Tapi dia berpikir positif mungkin memang sudah bawaan dari lahir mukanya jutek begitu.
"Permisi."
"Ada yang bisa saya bantu nona?" Benar seperti dugaan Clara wanita memang ramah hanya saja wajahnya sedikit jutek seperti dirinya.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Albert."
"Apakah nona sudah membuat janji sebelumnya?"
"Belum."
"Kalau begitu nona tidak bisa bertemu dengan Tuan Jacobson." Nada wanita jadi sedikit sini. Sepertinya watak asli sudah mulai terliat menurut clara.
"Apakah saya tidak bertemu dengan Albert ? walaupun belum buat janji terlebih dahulu."
"Maaf nona ini sudah prosedur di perusahaan ini. Selain itu Tuan Rico sudah berpesan untuk tidak mengizinkan wanita yang belum membuat janji pada tuan Jacobson. Nona sudah banyak wanita yang seperti anda datang dan ingin bertemu dengan tuan Jacobson."
"Nona bisa bertanya tuan Rico kalau Clara sudah sampai dan ingin bertemu dengan Albert."
"Maaf nona tuan Rico dan tuan Jacobson sedang melakukan rapat. Nona bisa tunggu di sofa itu atau menghubungi langsung Rico."
Clara akhirnya berjalan menuju sofa, Dia ambil HPnya yang ada di tas kecil. Berencana untuk menghubungi Albert tapi belum juga mengubungi Pria itu sudah keluar dari lift Bersama Rico menuju Clara.
"Kenapa kamu tidak langsung ke ruanganku Baby." Wanita Recepsionis yang melihat interaksi atasan dengan wanita itu. Terkejut bukan main apalagi Tuan Rico mendatanginya.
"Saya akan memaafkan untuk kejadian ini tapi jika terlurang kembali, Tuan Jacobson yang akan memberikan hukuman untukmu. Ingat dan simpatn di memori otakmu wajah wanita itu. Nona Clara adalah kekasih tuan Jacobson." Setelah mengucapkan itu Rico meninggalkan wanita yang ada di recepsionis itu. Wanita itu kaget bukan main mengenai fakta itu.
"Maaf Clara pegawaiku tidak menyambutmu dengan baik."
"Tidak apa-apa Albert, mungkin sudah terlalu banyak wanita yang mengaku pacarmu itu."
"Tenang saja hanya kamu pertama dan terakhir wanita Albert."
"Sudahlah, Kamu belum makankan. Aku buatkan Ayam balado, gyoza dan Cheese cake. Oh iya Rico ayo ikut. Aku juga sudah buatkan untukmu juga." Albert memberikan tatapan tajam pada Rico namun tidak diperdulikan oleh pria itu.
"Clara kalau kamu sudah bosan dengan Albert, Aku bakal dengan senang hati menerimamu."
"Rico, kamu ingin mati."
"Sudah-sudah ayo kalian makan."
"Suapin Clara, Albert Lelah." Rico tercengan bukan main milihat albert seperti itu. Rasanya makannya sulit untuk dirinya telan.
"Apakah ini benar-benar kamu Albert?" Ucap Rico yang masih kaget melihat sahabatnya sangat manja. Sedang Albert menatap tidak suka pada rico.
"Diam kamu."
"Ya sudah lanjut makan kalian" Pada akhirnya Clara menyuapi bayi besar yang sangat manja pada Clara padahal di depannya masih ada Rico.
"Albert berubah saat ada Clara, kalau musuhnya melihat albert seperti ini dia yakin mereka akan lebih takut lagi." Gumam rico yang masih terdengar oleh albert. Sedangkan Clara tidak begitu mendengar perkataan sahabat pacarnya itu. Rico benar-benar takut melihat Albert manja.
Jangan lupa comment , like dan follow akun author. Wow Albert manja banget sama Clara tapi sama yang lain nyebelin banget ya. Bagaimanakah perjalan hubungan keduanya? Ikutin kisah Clara dan Albert si Mafia sadis.