My Lovely Mafia

My Lovely Mafia
Family's Albert



Hubungan Clara dan Micky semakin dekat. Keduanya sering menghabiskan waktu ruang bersama. Bahkan tak jarang micky ikut dalam kegiatan kampus bersama clara dan Gloria. Setelah mengenal clara, micky juga mengurangi kegiatan pemotretan dan fokus dengan kuliah. Saking dekatnya albert tak jarang cemburu dengan keberadaan sang adik yang selalu menggangu waktunya dengan clara.


Seperti biasa hari sabtu, Albert selalu menghabiskan waktunya dengan clara. Sudah tidak ada sosok albert yang menghabiskan setiap waktunya dengan pekerjaa. Mungkin hanya sesekali saja pria itu harus kerja di hari libur. Itupun dia tidak ingin berjauhan dengan clara. Gadis itu harus ikut kemana saja albert pergi.


Keduanya sedang duduk di taman yang ada di belakang mansion Albert. Taman ini merupakan tempat favorit keduanya menghabiskan waktu. Pemandangan bunga lavender dengan aroma yang menenangkan. Taman ini hanya berisi hamparan bunga lavender karena Clara sangat menyukai bunga lavender. Clara sedang asik membaca novel yang baru saja dia beli kemarin. Sedangkan Albert yang sudah merubah posisi dari duduk dengan tiduran di pangkuan clara. Pria itu sejak tadi hanya menatap wajah clara tanpa bosan.


"Apakah kamu tidak bosan melihat wajahku terus menerus?" Ucap Clara yang matanya masih fokus pada bukunya.


"Entahlah hanya wajahmu yang menarik untuk aku pandangi terus menerus. Rasanya aku tidak akan pernah bosan menatap wajah cantikmu." Ucapan Albert membuat kedua pipi Clara bersemu.


"Berhenti menggodaku Al." Ucap Clara sambil mengalihkan pandangan ke samping. Rasanya dia sangat malu mendengar pujian Albert.


"Aku tidak sedang menggodamu. Sungguh." Ucap Albert. Kedua tangan pria itu membawa wajah gadisnya menatap wajahnya. "Aku selalu bersyukur bertemu dengan kamu saat di pantai. Kamu merubah kehidupanku yang semu menjadi berwarna karena keberadaanmu."


"Cukup Albert." Clara menutup wajah Albert dengan novelnya. Sedangkan Albert yang tahu kalau gadisnya sedang malu, membuatnya tersenyum dengan lebar. Dia selalu senang dapat membuat Clara tersipu malu.


Beberapa saat Clara menatap pemandangan di depannya. Dia sangat nyaman berada di taman ini dengan pemandangan bunga lavender dan aroma yang menenangkan. Dia serasa merasa pikirannya selalu rileks bila berada di taman ini. Sedangkan Albert sudah sejak tadi menyimpan novel gadisnya di sampingnya.


"Sebenarnya aku yang sangat bersyukur bisa bertemu dengan kamu Al. Karena keberadaan kamu membuat aku percaya kembali dengan arti cinta yang mempernah membuatku sulit menikmati hidup ini."


Albert bangun dari posisi tidurnya dan membawa gadisnya kedalam pelukannya. Dia tahu kalau sang kekasih akan mengeluarkan air matanya. Sebenarnya dia tidak pernah suka kalau gadisnya mengingat masa lalu yang membuatnya terluka.


"Aku selalu ada di sisi kamu jadi jangan kamu ingat masa lalu. Selain itu bukankah kamu sudah bahagia. Hubungan kamu dengan keluarga Britario sudah membaik bukan?" Ucapan Albert membuatnya terkejut karena Clara tidak pernah menceritakan tentang masalah keluarganya. Dia belum siap membuka ingatan yang hanya menyisakan luka besar dan itu semua belum sembuh seluruhnya.


"Bagaimana kamu tahu tentang masalah keluargaku ?" Albert tertawa dengan pernyataan gadisnya. Hal itu membuat kesal Clara yang melihat respon pria yang sedang memeluknya.


"Hahahaha. Kamu lupa Aku Albert Nicolas Jacobson, Tak sulit untuk mencari informasi tentang kamu. Selain itu apapun yang berhubungan dengan kamu pasti aku tahu."


"Dasar penguntit." ucap clara yang melepaskan pelukan dan wajah terlihat jengkel.


"Hahahaha, Kamu sangat menggemaskan baby."


"Stop memanggilku baby."


Pembincaraan keduanya terhenti saat dering panggilan dari saku celana Albert. Pria itu melihat siapa yang berani mengganggu waktunya bersama dengan kekasihnya. Albert langsung mengangkat panggilan itu saat tahu yang meneleponnya adalah ibunya.


"Pulang dan bawa kekasih kamu. Tidak ada penolakan atau mom yang akan menculik kekasihmu."


Setelah ucapan itu panggilan langsung dimatikan secara sepihak. Albert kesal mendengar ucapan sang ibu.  Apalagi ibunya mematikan sepihak tanpa mendengarkan jawabannya. Dia tahu kalau adiknya pasti sudah memberi tahukan hubungannya dengan Clara pada sang ibu. Sebenarnya dia tidak pernah berniat menutup hubungannya dengan Clara. Hanya saja dia terlalu malas berkunjung ke rumah orang tua dan beresiko waktunya dengan gadisnya semakin berkurang akibat sang ibu yang akan memonopoli clara.


"Ada apa Albert? Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu? "


"Clara aku tidak ingin bertemu dengan mom tapi........kalau aku tidak membawamu. Dia akan mengambilku dari aku dengan paksa." Clara yang terkejut dengan ucapan albert. Walaupun dirinya masih sedikit kurang paham maksud mengambil.


"Aku belum siap Albert bertemu dengan kedua orang tua kamu."


"Sudahlah sebaiknya kita bersiap-siap saja. Pasti micky S*** itu yang memberi tahu mom."


"jangan mengumpat Al."


Sebuah pesan masuk dari micky di HP Clara. Gadis itu terkejut dan sekaligus kesal saat membaca tulisan pesan itu. Albert yang  membaca juga ikut sebal dengan sang adik. Rasanya dirinya harus memberikan pelajaran pada micky. Adiknya selalu lemah untuk menyimpan rahasianya pada sang ibu.


From: Micky Mouse


"Clar maafkan aku, Mom memaksaku untuk jujur kalau tidak uang jajanku akan diambil dan tidak boleh berbelanja untuk satu minggu. Kamu tenang saja mom sangat menanti kehadiranmu. Jangan lupa berdandan yang cantik ya. Selain itu aku minta tolong merahasiakan pesan ini dari kakak. Pasti dia akan menghukumku kalau aku tidak bisa menjaga rahasianya."


Albert mengambil Hp Clara dan mengirimkan balasan pada sang adik. Setelah itu Albert mengajak gadisnya ke dalam mansion untuk bersiap-siap. Dia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan ini dari sang ibu.


To: Micky Mouse


"Tunggu hukuman kamu Adik nakal."


Sedangkan tempat lain, Micky terkejut dengan balasan dari calon kakak iparnya. Pupus sudah kabur dari hukuman sang kakak. Dia lupa kalau sang kakak pasti ada di samping clara. Karena pria itu sangat bucin pada calon kakak ipar.


"Aduh bahaya ini namanya." ucap micky.


Clara keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang tamu. Albert sudah berada di ruang tamu menunggu gadisnya mengganti baju. Dia merasa terpesona dengan penampilan clara. Walaupun hanya menggunakan dress sederhana dengan warna nude yang panjangnya di bawah lutut. Selain itu hiasan tipis pada wajah gadisnya menambah kecantikan clara.


"Kamu sangat cantik, aku jadi tidak ingin pergi ke rumah mom dan dad." ucapan albert membuat clara tersipu malu.


"ayolah al, aku hanya menggunakan dress biasa."


"Bisa gak sih kamu sehari saja gak mesum, nanti orang pikir kita sudah ngapain."


"Aku tidak peduli kok, bagus kalau mereka mikirnya begitu jadi tidak akan ada yang ngerebut kamu dari aku dong."


"Sudahlah berdebat sama kamu mah tidak akan pernah selesai. Tapi Al, aku takut bertemu dengan kedua orang tua. Bagaimana kalau mereka tidak merestui hubungan kita."


"Tenanglah, Ada aku. Itu semua tidak akan terjadi. Lagi pula aku yakin kalau mom akan suka padamu."


Albert menarik tangan clara menuju mobilnya. Setelah tidak ada pembicaraan di dalam mobil. Clara asik melihat pemandanga di luar sambil menenangkan pikirannya. Dia sangat gugup untuk bertemu dengan keluarga albert walaupun dirinya sudah mengenal dengan micky. Albert yang masih menggenggam tangan clara mencoba menenangkan gadisnya. Dia sesekali mencium tangan clara. Hal itu membuat clara sedikit tenang.


"Tenanglah ada aku." ucap Albert sambil mengelus tangan clara.


Tanpa clara sadari mobil albert sudah memasuki perkarangan mansion keluarga Jacobson. Clara hanya menatap  mansion di depannya dengan tatapan kosong. Dia sangat gugup saat ini. Sedangkan Albert sadang dengan keadaan sang kekasih.


"Ayo kita masuk."


Clara yang menerima uluran tangan albert segera keluar dari mobil. Dia terkejut saat melihat seorang wanita yang sudah tidak muda lagi tapi masih cantik menanti di depan pintu mansion. Wanita tua itu berjalan menuju clara dan memeluk tubuh clara. Sedangkan Albert dan Micky terkejut dengan perlakuan sang ibu. Ibunya memang wanita yang ramah tapi perlakuan ini tidak sesuai ekspetasi mereka.


"Aku tidak menyangka kalau kamu kekasih anakku. Ayo kita masuk." wanita itu menarik tangan Clara masuk kedalam mansion. Clara masih terkejut dengan perlakuan ibu Albert. Walaupun dia merasa pernah bertemu tapi dia lupa kapan dan dimana.


"Ayo kamu duduk samping mom."


"ya tante."


"kamu panggil mom saja seperti Albert dan micky. Sebelumnya mom mau pekernalkan pria dingin yang duduk di sofa itu adalah dad albert. Tenanglah dia sebenarnya tidak sedingin itu hanya saja pria tua itu gugup bertemu calon istri anaknya."


"Neila." ucap pria tua yang kesal dengan ucapan sang istri.


"Mom masih tidak menyangka kamu yang menjadi kekasih Albert. Pasti kamu sangat terbebani dengan sikap menyebalkannya kan?"


"Mom, aku tidak menyebalkan"


"Hanya saja kakak manja." Ucap micky yang duduk di samping clara. Albert menatap tajam sang adik. Clara yang mendengar ucapan micky tertawa kecil.


"Benarkan pria es ini manja. Dia seperti dadnya saja."


"Neila"


"Apa?" tanya ibu albert pada sang suami.


"Kalian harus tahu kalau Clara ini adalah wanita yang menolong mom saat hampir terserempet mobil."


"Apa kamu mau terserempet ? Pengawal kamu kemana apakah mereka tidak bisa bekerja dengan baik."


"Diamlah Nike, mereka tidak bersalah. Waktu itu aku kabur dari pengawalmu."


"MOM." teriak micky dan Albert bersamaan. Mereka tidak habis pikir dengan tingkah sang ibu yang tidak ingat umur  sudah berkepala lima tapi masih suka kabur dari pengawal.


"Apa? kamu micky diamlah. Kamu juga sering kaburkan."  ucap Neila.


Sontak kedua pria dalam keluarga itu menatap tajam pada micky. Sedangkan Clara tertawa kecil melihat keharmonisan keluarga Albert. Dia sangat iri karena sejak kecil ayahnya selalu memperhatikan sang kakak dan memang keluarga tidak begitu harmonis. Dia hanya dekat dengan kakak laki-lakinya chiko. Mereka juga jarang menghabiskan waktu bersama. Tanpa dia sadari  cairan bening jatuh dari matanya. Semua itu disadari oleh keluarga albert.


"Kenapa kamu menangis sayang." ucapa Neila, ibu Albert.


"Aku hanya senang melihat keharmonisan keluarga ini." ucapan clara membuat albert sangat mengerti perasaan gadisnya saat ini. Dia tahu dengan hubungan keluarga Clara. Setelah clara sampai di negara ini, Dia mencari semua informasi mengenai gadisnya dan fakta mengenai perlakuan clara di keluarganya membuatnya geram.


"Bagaimana kalau kita makan malam bersama, untuk merayakan hubungan albert dan clara." ucapan neila membuat keheningan yang sempat muncul menjadi menghilang.


"Mom tapi." ucapan albert di potong oleh sang ibu.


"Mom tidak menerima penolakan, Bagaimana kalau calon menantu mom membantu membuat memasak? " Clara menjawab dengan anggukan pertanyaan ibu albert. Mom langsung membawa  clara menuju dapur meninggalkan micky, Albert dan dad.


"Aku akan ke kamar." ucap Albert sambil meninggalkan ruang keluarga itu.


Jangan lupa like, commernt dan follow juga ya. Oh iya baca juga beberapa cerita yang author buat juga. Memang masih belum selesai sih tapi doaian ajah yang secepatnya auhor beresin semua ini.


THANKYOU sudah mampir baca cerita author.