My Lovely Mafia

My Lovely Mafia
Rencana berlibur



Akhirnya Clara sadar dari pingsannya selama 1 hari. Albert dan Chiko tidak pernah meninggalkan wanita muda yang sedang terbaring di tempat tidur. Dia menjadi sedikit berbicara.


Clara tidka sama sekali menatap wajah kakaknya sejak dirinya sadar. Dia lebih menerima bantuan dari kekasihnya dibandingkan sang kakak. Bukan karena dia masih marah dengan sang kakak. Tapi Clara merasa bersalah karena sudah membuat kakaknya babak belur.


Sungguh Clara tidak menyangka tidak bisa mengontrol dirinya. Mungkin sisi lainnya kembali ketika mengingat kesalahan yang telah diperbuat oleh Chiko pada Micky.


“Albert bisakah kita pergi ke suatu tempat. Aku tidak ingin bertemu kakak beberapa waktu.” Bisik Clara pada Albert.


Pria itu mengerti dengan kondisi wanitanya yang sedang ingin menenangkan dirinya. Selain itu Clara juga mulai menata hatinya. Dia harus membuat perasaan kembali balik agar sisi lainnya tidak muncul dalam waktu dekat ini.


“Baiklah akan aku rencanakan, ada tempat yang ingin kamu kunjungi?” tanya Albert pada Clara.


“Bagaimana kalau kita ke jepang ?” tanya Clara yang langsung dianggukan oleh Albert.


“Baiklah kamu beristirahatlah, aku akan mengurus liburan kita.” Ucap Albert sambil membantu membaringkan badan Clara. Dia menarik selimut kekasihnya dan tidak membutuhkan waktu lama untuk Clara terlelap kembali.


Hal itu terjadi karena Clara baru saja mengomsumsi obat penenang. Obat yang selalu dirinya minum jika sisi lain dari Clara muncul. Setidaknya dengan obat itu, Clara akan tertidur dan tidak ada kemungkinan salah satu dari mereka sadar.


Clara tidak ingin membahayakan kakaknya seperti kejadian di masa lalu. Dia ingat saat dirinya melihat kehidupan bebas kakaknya. Hal itu membuat sisi Clara yang lain bangun dan memberikan hukuman pada kakaknya. Bahkan Chiko hingga harus dilarikan ke rumah sakit akibat serangan dari Clara.


Albert keluar dari kamar, Chiko langsung menghampiri kekasih adiknya. Dia memang tidak masuk kedalam kamar Clara saat adiknya tidak ingin menatapnya saat sadar. Dia sadar kalau Clara sedang menahan sisi lainnya yang berusaha keluar.


“Bagaimana kondisinya?” tanya Chiko.


“Sebaiknya kamu tidak bertemu dengan Clara dulu. Aku dan Clara akan berlibur ke jepang untuk menenangkan perasaannya.” Jelas Albert yang langsung dianggukkan oleh Chiko.


Dia mengerti kalau adiknya sekarang lebih memerlukan pria di depannya dibandingkan dirinya. Chiko sadar kalau belum bisa menjadi kakak yang baik untuk Clara. Dia berkali-kali tidak bisa melindungi adiknya.


Bahkan Clara memilih meninggalkan rumah di usia muda karena perlakuan keluarga sendiri. Saat Itu Chiko merasa bersalah saat tahu kalau adik kandungnya memilih keluar. Sedangkan adik tirinya malah tidak merasa bersalah.


“Jagalah Clara, Aku titip adiku padamu.” Ucap Chiko yang berjalan menjauhi Albert. Wajahnya terlihat sangat sedih.


Micky sudah menunggu di ruang keluarga rumah Albert. Saat Chiko turun dari lantai dua. Dia sadar kalau perasaan kekasihnya tidak dalam baik-baik saja.


Hubungan Chiko dan Micky baru memulai hubungan keduanya. Karena sejak awal keduanya memang saling mencintai. Hanya karena beberapa hal membuat mereka tidak bisa bersama.


Micky berdiri dari posisi duduknya. Dia berjalan ke depan kekasihnya. Langsung merentangkan tangannya, dia tahu kalau Chiko membutuhkan pelukan. Terlihat dari wajah Chiko yang penuh dengan beban. Padahal luka yang diritannya saja belum sepernuh sembuh.


“Tenanglah, Clara pasti akan memaafkanmu. Dia hanya membutuhkan waktu untuk menenangkan perasaanya.” Ucap Micky sambil mengelus punggung lebar kekasihnya. Chiko merasakan kenyamanan dari perlakuan wanita yang sekarang sudah menjadi kekasihnya.


“Aku hanya merasa menjadi kakak yang tidak baik untuk Clara. Aku tidak pernah ada untuknya saat dia sedang membutuhkanku. Aku memang kakak yang tidak berguna.” Ucap Chiko dengan air mata yang keluar dari kedua matanya. Kepalanya diletakan di celuk leher Micky.


Micky bisa mendengar suara Chiko yang mulai bergetar. Dia tahu kalau laki-laki di depannya sedang merasa bersalah pada sang adik. Walaupun dia tidak begitu mengetahui hubungan antara Chiko dan Clara seperti apa.


Tapi mengingat cerita Chiko di masa lalu tentang adiknya yang menghilang. Micky dapat bisa menebak kalau Clara tidak seterbuka itu dengan kakaknya. Wanita itu lebih memilih menanggung bebannya sendiri dibandingkan membagikan pada orang lain.


“Jangan terlalu menyalahkanmu kak Chiko, Kakak bisa memperbaiki hubungan kalian setelah Clara kembali.” Ucap Micky.


Chiko merenggangkan pelukannya. Dia melihat gadis kecil yang seusia dengan sang adik. Gadis yang membuatnya jatuh cinta beberapa tahun lalu. Bahkan karena micky dia jadi tidak tertarik dengan para wanita yang biasanya menemani malamnya. Dia masih tidak menyangka bisa memiliki hubungan dengan micky.


“Terima kasih karena kamu sudah menerima aku yang bukan pria baik ini.” Ucap Chiko sambil mendekatkan kedua dahi mereka. Keduanya saling merasakan perasaan sayang. Micky tidak mempermasalahkan masa lalu Chiko. Karena dia tahu Chiko tidak seberengsek itu. Walaupun dia sudah mengambil miliknya di masa lalu.


“Aku yang harusnya berterima kasih pada kakak yang sudah memperjuangkanku. Padahal di dunia banyak wanita yang lebih cantik dan pintar dibandingkan aku. Tapi Kak chiko tetap memilihku. Terima kasih.” Ucap Micky dengan sebuah kecupan yang mendarat di pipi Chiko. Pria itu tersenyum lebar karena baru saja mendapatkan sebuah kecupan dari kekasihnya.


“Kenapa kamu tidak mengecup di sini sayang.” Goda Chiko sambil mengarahkan jari terunjuknya pada bibirnya yang berwarna merah muda.


Micky langsung merona mendengar godaan kekasihnya. Chiko tertawa melihat reaksi kekasihnya. Mungkin kalau wanita di luar akan langsung mengecupnya. Tapi Micky malah tersipu malu seperti seorang remaja yang baru saja beranjak dewasa.


Dia sangat gemas dengan kekasihnya. Chiko memberikan kecupan pada pipi micky. Hal itu membuat wajah wanita itu berubah menjadi merah. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sedangkan Chiko semakin tertawa melihat tinggkah menggemaskan kekasihnya.


“Kamu sangat menggemaskan sayang.” Ucap Chiko.


Tempat lain, tepatnya di ruang kerja Albert yang berada di kediamannya. Dai sedang mengerjakan pekerjaan yang dibawa ke rumahnya karena tidak ingin meninggalkan Clara di rumah sendirian. Dia tahu kalau gadisnya sedang membutuhkan dirinya.


Beberapa saat kemudia seseorang masuk ke dalam ruang kerja Alex dengan beberapa map yang dibawanya. Orang itu adalah Rico yang baru saja tiba dari kantor untuk membawa dokumen yang harus ditanda tangani bossnya.


“Rico, Besok aku dan Clara akan pergi ke jepang. Kamu urus pesawat pribadiku dan kediamanku yang berada di tokyo.” Ucap Albert yang membuat Rico terkejut.


Kenapa bossnya bisa sesuka hatinya pergi begitu saja. Ketika banyak pekerjaan yang menumpuk di kantor. Harusny Albert bertanggung jawab dengan pekerjaanya bukan berlibur dan membuatnya tersiksa.


“Rico aku pergi untuk menemani Clara. Selain itu rencana berliburku ini sudah aku rencanakan jauh-jauh hari jadi kamu tidak usah menggerutu. Aku sudah menyelesaikan dokumen penting. Jadi selama satu minggu kedepan kamu tidak usah menggerutu denga pekerjaanku.” Ucap Albert yangs seperti cenayang karena bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh bawahannya sendiri.