
Pagi ini Kinara tak berniat berangkat ke sekolah sendiri, dia ingin berangkat bersama Andra agar dapat menjelaskan semuanya. Sarapan pagi tadi suasananya sangat hening, Andra tak berniat mengajak Kinara bicara dan membahas soal masalah mereka, seperti hal nya saat ini Andra hanya sibuk menyetir tanpa mengajak Kinara bicara.
Kinara melirik ke arah Andra, dia meremas tangannya sedikit ragu apa ini saatnya membahas masalah mereka. Jujur dia takut untuk bicara tapi dia juga tak ingin berlarut dalam kesalahpahaman ini.
" Andra, aku ingin menjelaskan soal tadi malam "
Andra hanya diam tanpa merespon ucapan Kinara membuat Kinara serba salah.
" Baiklah jika kamu tak ingin merespon ucapanku, tak apa, asal kamu dengarkan penjelasan aku baik-baik dan aku mohon tepikan dulu mobilnya"
Andra tak menjawab apapun namun dia mengikuti kemauan Kinara untuk menepikan mobilnya. Setelah mobil menepi Andra hanya diam sambil memandang lurus ke depan. Kinara meremas tangannya gelisah, Kinara menghela nafasnya sejenak kemudian mulai menjelaskan.
" Kamu salah paham soal note itu, sejujurnya aku memotong rambutku bukan karena aku bosan dan aku memoles wajahku dengan make up bukan karena aku terlanjur membeli make up tapi semua sudah aku niatkan.
Aku ingin berubah, aku ingin terlihat dewasa dimata kamu, aku membeli buku soal wanita, membeli majalah fashion bahkan alat make up agar aku bisa merubah penampilanku dan juga sikapku yang kekanakan. Kamu ingat saat kita datang ke pesta relasi bisnis kamu? Pak Bowo salah mengira tunangan kamu, bahkan teman kamu itu mengira aku berusia 13 tahun.
Aku hanya ingin dianggap pantas bersanding dengan kamu Ndra, aku tidak ingin mempermalukan kamu makanya aku berusaha berubah. Soal note yang Justin tulis itu hanya untuk menyemangati aku, kami tak ada hubungan apapun, dia tau semua rencana aku untuk berubah, awalnya dia tak setuju tapi melihat kesungguhan aku dia akhirnya mendukung aku dan membantu aku. Aku gak nyangka kalau kamu gak suka dengan perubahan ini, maaf karena gagal membuat kamu bangga.
Aku hanya ingin berubah agar aku juga bisa kamu banggakan didepan relasi bisnis kamu, aku tak mau dianggap anak kecil yang menyusahkan kamu hikssss tolong percayalah padaku " Kinara menunduk sambil menangis, Andra melihat kerah Kinara kemudian memeluknya erat.
" Bodoh, kenapa kamu sebodoh ini hmm? Aku tak peduli apa kata orang tentang kamu, perlu kamu tahu, aku bangga sangat bangga memiliki tunangan seperti kamu, kamu yang terbaik kamu yang terhebat dan kamu segalanya bagi aku maka dari itu aku memilih kamu. Jika aku hanya mengincar wanita cantik dengan make up tebal untuk apa aku bersusah payah untuk mendapatkan kamu? Aku hanya ingin diri kamu gak ingin yang lain" Andra mengecup kepala Kinara, Kinara kembali menangis mendengar kata-kata Andra.
" Hikssss Andraaa maaf hikssss huwaaaaaaaaaa "
Andra tertawa mendengar tangis Kinara, tangis yang kekanakan tapi itulah Kinara. Andra mencintai Kinara yang apa adanya, menyukai Kinara yang manja, kekanakan, dan polos.
" Cup cup cup, jangan menangis sayang " Andra melepaskan pelukannya, menangkupkan wajah Kinara dengan kedua telapak tangannya.
" Jangan menangis lagi ya " Kinara mengangguk kemudian mengusap air matanya.
" Yasudah, kita sekarang jalan lagi ya, kamu akan terlambat jika kita tidak cepat-cepat " Kinara menggeleng dengan keras.
" Kenapa? " Tanya Andra.
" Aku tak ingin ke sekolah, aku ingin ikut dengan kamu ke kantor, aku merindukan kamu " Andra tercengang mendengar permintaan Kinara kemudian menggelengkan kepalanya.
" Gak boleh, kamu harus sekolah, aku gak suka tunanganku membolos! " Kinara mempoutkan bibirnya kemudian melipat kedua tangannya di dada, pose merajuk andalannya.
" Kamu gak sayang sama aku! Katanya kamu merindukanku tapi sepertinya hanya aku yang merindukanmu! "
Andra lagi-lagi menghela nafasnya kemudian mengelus rambut Kinara dengan sayang.
" Aku gak ingin hubungan kita dijadikan alasan untuk kamu melakukan hal yang tak seharusnya kamu lakukan termasuk membolos sekolah, aku sangat merindukanmu sayang tapi kamu harus tetap sekolah. Lagi pula besok kan weekend, kita bisa menghabiskan waktu bersama " Kinara masih tampak cemberut.
" Ayolah sayang, kamu harus sekolah ya? " Kinara menatap tajam Andra.
" Baiklah aku akan sekolah tapi aku gak ingin kamu menjemput ku dan juga aku ingin menginap dirumah Dila dan menghabiskan weekend ku dengannya! " Andra membulatkan matanya.
" Ck, kamu mengancam ku? " Andra membalas menatap Kinara tajam agar takut namun Kinara malah menantang Andra.
" Iya!!, aku mengancam kamu! "
Andra mengacuhkan Kinara kemudian mulai menjalankan mobilnya menuju sekolah Kinara.
" Kalau kamu berani gak pulang ke rumah, aku gak akan memberikan uang jajan kamu dan melaporkan tingkah nakal kamu ke mama " Kinara kembali berkaca-kaca lagi menandakan siap menangis.
" Hikksss terserah kamu, kalau kamu memotong uang jajan aku lebih baik aku ikut orang tuaku ke jepang, aku akan menyusul mereka! "
Kinara mengalihkan pandangannya menghadap jendela, dia tak ingin melihat Andra.
" Silahkan saja kalau kamu berani menyusul mereka artinya kamu mau mengakhiri hubungan kita dan aku pastikan kita gak akan pernah bertemu lagi " Ancam Andra, dan ancaman Andra kali ini sepertinya berhasil karena Kinara langsung bungkam tak berniat menjawabnya.
Andra menepikan mobilnya tepat didepan sekolah Kinara, akibat pertengkaran mereka tadi Kinara terlambat 10 menit dan dilihatnya guru kesiswaan yang sedang menghukum anak-anak yang terlambat.
" Aku akan menjelaskan pada guru kamu agar kamu gak dihukum " Andra sudah bersiap turun dari mobil namun Kinara menginterupsi dengan cepat.
" Gak perlu, aku bisa mengatasinya sendiri "
Setelah itu Kinara keluar dari mobil Andra tanpa bicara apapun lagi. Andra hanya menatap punggung Kinara sambil menghela nafasnya kemudian melajukan mobilnya menuju kantornya
.
.
" Nara, kenapa pagi tadi kamu bisa terlambat?" Tanya Dila begitu mereka sampai di kantin dan duduk dipojokan kantin.
" Aku bertengkar dengan Andra " Kinara menangkupkan wajahnya dimeja kantin.
" Ada apa lagi dengan kalian? Kenapa selalu bertengkar sih? " Kinara menggelengkan kepalanya, dia malas jika harus membahas tentang Andra saat ini.
" Pesanan datang " Justin membawa nampan berisikan 3 mangkuk bakso dan 3 jus jeruk.
" Eh, ada apa dengan Nara, Dil? "
Justin mendudukkan dirinya dihadapan Kinara, semenjak dia berteman dengan Kinara, dengan sendirinya dia juga berteman dengan Dila dan kini Justin tak sekaku dulu, dia lebih santai dan menikmati persahabatannya dengan Kinara dan Dila meskipun terkadang mulut tajamnya suka berulah.
" Gak tau, kau tanyakan saja padanya, paling juga bertengkar dengan bang Andra lagi " jawab Dila acuh dan lebih memilih menyantap baksonya.
" Kau Kenapa Nara? " Kinara mendongakkan kepalanya.
PLETAK
" Dila sakitttt " Kinara mengelus kepalanya yang kena pukulan Dila.
" Kau saja yang bodoh, tentu saja dia marah kalau kau meminta bolos sekolah ck Justin kau urus anak bodoh satu ini, aku lelah menasehatinya "
Dila kembali menyantap makanannya. Justin menghampiri Kinara kemudian mengelus kepalanya yang terkena pukulan Dila.
" Kau ini Ra, jangan bertingkah konyol. Besok weekend dan kau bisa menghabiskan waktu berdua dengannya, kau tak boleh membolos untuk hal tak berguna " Kinara mempoutkan bibirnya.
" Ck tapi aku kan merindukannya makanya aku ingin berdua dengannya " Justin tersenyum kemudian mengacak-acak rambut Kinara.
" Itu sama saja " Justin berdiri dan kembali duduk di bangkunya. Sejenak mereka kembali menyantap makanan mereka.
" Aha, bagaimana jika kalian menginap di apartemenku saja? Besok kita menonton DVD bersama setelah itu siangnya kita menjenguk mamanya Justin, gimana? " Dila dan Justin saling berpandangan kemudian pandangan Dila beralih ke Kinara.
" Kau pikir Justin mau tidur dimana?" Justin mengangguk setuju dengan pertanyaan Dila.
" Tentu saja di kamar Andra, mau dimana lagi"
" Nggak mau, aku baru dua kali bertemu dengannya dan kau menyuruhku tidur satu kamar dengannya, itu akan terasa canggung sekali " Tolak Justin.
" Lalu kau mau tidur dimana lagi? dikamarku bersama denganku dan Dila? " Dila dan Justin membulatkan matanya terkejut dengan pertanyaan Kinara.
PLETAK
" Ishhh sakit Dila, kenapa lagi kepalaku dipukul? Sakiiiiiiit " Kinara kembali mengusap kepalanya yang semakin nyeri.
" Dila, kau jangan kasar begitu " Nasehat Justin namun Dila bersikap masa bodoh.
" Biar saja Justin, biar anak bodoh ini bisa pintar sedikit, kau pikir Justin itu cewek tidur bersama kita? Meskipun aku tak masalah dengan itu tapi kalau bang Andra tau tunangannya tidur satu ranjang dengan cowok lain meskipun ada aku disana, ku pastikan besok status tunanganmu dengannya hanya tinggal diangan, kau mau dia murka dan menceraikanmu sebelum menikah ? " Kinara menggeleng keras.
" Makanya jadi cewek jangan terlalu bodoh, pikirkan dulu sebelum bicara " Justin terkekeh melihat tingkah Dila dan Kinara.
" Kenapa kau tertawa begitu sihhh? " Kinara sedikit memukul tangan Justin.
" Habisnya kalian lucu dan aneh, sifat bertolak belakang, suka bertengkar, saling mengatai tapi persahabatan kalian terjalin erat sekali "
Dila merangkul pundak Kinara.
" Itu karena kami saling menyayangi dan mencoba mengerti satu sama lain, dan aku harap bukan hanya kami saja, tapi kau juga begitu terhadap kami " Ucap Dila dengan tulus diikuti anggukan oleh Kinara.
" Iya " Jawab Justin singkat sambil tersenyum, mereka pun kembali melanjutkan makan siang mereka.
.
.
Sore ini Andra sengaja pulang cepat untuk menghabiskan waktunya bersama dengan Kinara, dia merasa bersalah dengan pertengkaran pagi tadi dan berharap bisa baikan dengan segera. Andra memasuki apartemen namun saat dia memasuki apartemen terdengar suara pria dan perempuan sedang tertawa.
" Eh bang Andra sudah pulang " Dila langsung menyapa Andra begitu melihat Andra memasuki ruang TV.
" Kalian datang bermain? " Tanya Andra kemudian menduduki dirinya di sofa bersebelahan dengan Kinara.
" Kami akan menginap disini bang, bolehkan? "Andra menatap Justin sejenak.
" Kamu juga akan menginap disini? " Tanya Andra.
" Iya, jika bang Andra mengizinkan, tenang saja aku akan tidur di sofa bang " Kinara mendelik tak suka.
" Nggak, kau tidur di kamar Andra saja, jika dia tak mengizinkan maka kau akan tidur di kamarku, kita akan tidur bertiga " Ucap Kinara dengan tegas membuat Andra terkejut mendengarnya.
" Apa maksud kamu dengan tidur bertiga? " Tanya Andra dengan nada tak setuju.
" Mau bagaimana lagi, masa mau tidur di sofa, dia kan tamu aku jadi aku yang menentukan " Jawab Kinara dengan ketus, Andra memandang Kinara bingung.
" Sudah tak perlu bertengkar, biar aku tidur di sofa saja Nara " Justin mencoba menengahi namun Kinara masih saja tidak setuju jika Justin tidur di sofa.
" Nggak, kau tak boleh tidur di sofa! " ucap Kinara final.
" Baiklah kamu tidur di kamarku saja" Putus Andra pada akhirnya membuat Kinara tersenyum penuh kemenangan.
" Bang malam ini kita akan menonton DVD, abang bergabung dengan kami yah " Ajak Dila.
" Baiklah aku ke kamar dulu membersihkan diri dan kamu sayang ikut aku " Andra menarik Kinara menuju kamarnya.
" Apa yang akan dilakukan bang Andra pada Kinara? " Dila mengendikkan bahunya.
" Paling menyelesaikan masalah mereka, kan tadi pagi mereka sempat bertengkar "
Mendapatkan jawaban itu membuat Justin hanya ber OH ria kemudian menatap pintu kamar Andra yang kini sudah tertutup rapat.
" Kenapa hatiku resah begini saat melihatmu ditarik olehnya? Kenapa aku gelisah saat tahu kau berada didalam kamar berdua dengannya, padahal dia tunanganmu sendiri " Batin Justin.
Tbc~~~
Jangan lupa vote dan komennya ya teman-teman