
Flashback
Andra POV
Aku melangkahkan kaki menuju taman, aku bosan hanya diam saja dirumah menunggu hasil pengumuman beasiswaku. Semoga saja kali ini aku berhasil mendapatkannya, aku gagal mendapatkannya tahun lalu karena flu bodoh itu.
Kemarin untungnya aku tidak mengalami sakit apapun saat mengerjakan test itu, tapi tetap saja aku merasa khawatir, karena perjanjian ku dengan mama, jika aku kali ini tak mendapatkan beasiswa itu aku harus segera mendaftarkan diriku ke perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Tentu saja aku tak mau itu terjadi, kuliah diluar negeri adalah impianku sejak dulu, dan aku harus mendapatkan itu.
BUKK
KRET
" Awww " Aku melirik kearah pakaianku yang sedikit robek, karena seorang gadis kecil ini.
" Ma.. maaf bang, aku tak sengaja menabrak abang sampai-sampai kalungku tersangkut di baju abang "
Aku melihat kearah gadis yang sedang menunduk di hadapanku sambil mencoba melepas kaitan kalungnya yang tersangkut di pakaianku. Aku ikut membantu gadis itu melepaskannya.
" Pantas saja ini tersangkut, ujung kalung ini sangat tajam, kau bilang nanti sama mamamu untuk segera memperbaikinya "
Akhirnya kalung berbentuk itu pun terlepas dari pakaianku, gadis itu pun mengangkat wajahnya dan memandangku.
DEG
" Makasih bang, maaf, aku sedang buru-buru pulang karena ini sudah sore "
Astaga mata ini, wajah ini, kenapa begitu indah. Mata mungil ini kenapa begitu menjeratku untuk masuk lebih dalam lagi. Dan jantungku, kenapa berdebar-debar tak karuan begini.
" bang.. bang, kenapa melamun? " Seketika aku tersadar saat dia melambaikan tangannya didepan wajahku.
" Ah maaf, hmm perkenalkan aku Andra, siapa namamu? " Aku terus saja memperhatikan gadis ini.
" Aku gak boleh kenalan sama orang asing bang, ah iya aku harus segera pulang kalau begitu aku permisi duluan ya bang, bye "
Gadis itu langsung berlari meninggalkanku sebelum aku berkenalan lebih jauh, rasanya aku ingin bertemu lagi dengannya.
1 Minggu kemudian
Aku kembali melangkahkan kaki ke taman ini, semoga saja aku bertemu dengannya kembali, seminggu semenjak aku bertemu dengannya aku tak bisa kemari karena ternyata aku mendapatkan beasiswa itu jadi mau tak mau aku harus mengurus berkas-berkas kepindahan ku.
" Huwaaaaaaaaaaa Bunny kau dimanaaaaaaaa " Kudengar suara perempuan berteriak sambil menangis, aku semakin mendekat kearah suara perempuan itu.
DEG
Ah itu gadis yang kemarin, apa yang dia lakukan? Kenapa menangis sambil berjongkok seperti itu? Aku langsung saja menghampirinya.
" Hei kamu gakpapa?? Kenapa menangis? Kalung mu yang kemarin kenapa belum diperbaiki? "
Gadis itu tiba-tiba menghentikan tangisnya dan menatapku, lagi-lagi mata itu menjeratku namun kenapa mata ini terlihat lebih indah dari yang waktu itu? Apa seminggu tak bertemu membuat matanya berubah?
" Eunghh? Kau mengenalku? " Mata itu mengerjap-ngerjap dengan polosnya membuat debaran jantungku menjadi-jadi.
" Kau ini pelupa yah? Seminggu lalu kita baru saja bertemu " Aku tersenyum padanya, wajah manis ini aku ingin melihatnya terus, tapi bagaimana bisa, setelah aku menyelesaikan keperluanku disini aku akan segera pergi.
" Bertemu? Kapan? Aku gak ingat " Aku tersenyum kecut, ternyata hanya aku yang terus mengingatnya.
" Tak usah dipikirkan lagi, dan kenapa kau menangis tadi ? " Pertanyaanku tadi membuat matanya kembali mengeluarkan air mata.
" Bunny hilaaaaaang hikssssss" Bunny? Siapa itu? Gadis itu masih saja menangis dan kini menangis semakin kencang.
" Bunny itu siapa? Aku akan membantumu mencarikannya " Tangisnya kembali berhenti, astaga anak ini kenapa suka membuat jantungku berdebar-debar sih.
" Bunny itu kelinciku, warnanya coklat, tadi aku tinggal sebentar disini untuk membeli ice cream tapi ternyata saat aku kembali dia hilaaaaang " Oalah ternyata Bunny itu kelincinya, aku mengedarkan pandanganku kesekeliling taman, kulihat seekor kelinci coklat dengan sedikit motif putih melompat-lompat didekat bangku taman.
" Apa kelinci itu yang kau maksud? "
Aku menunjuk kearah kelinci itu, gadis itu pun menengok kearah yang aku tunjuk. Tiba-tiba dia langsung berdiri dan berlari kearah kelinci itu.
" Bunnyyyyyyyyyyyyyyyyy " Aku mengikutinya dari belakang dengan langkah santai.
" Waaahh aku senang bisa melihatmu lagi Bunny, kenapa Bunny nakal pergi pergi dari ku "
Aku terkekeh saat mendengar celotehannya pada kelincinya itu, dasar anak-anak, masa binatang diajak bicara sih.
" Bang, makasih sudah membantuku, nama ku Kinara biasanya di panggil Nara, nama abang siapa? " Gadis itu mencoba mengajakku berkenalan yang membuat aku spontan tersenyum kemudian mengelus kepalanya.
" Nama abang Andra Dirgantara"
"Ohh oke, Nara gak akan lupakan abang kalau nanti kita ketemu lagi, pinky promise" ujar Nara sambil menunjukkan jari kelingkingnya yang terlihat mungil dimata ku dan hanya kubalas dengan senyum
"Hmmm karena abang sudah membantumu, bolehkan abang minta sesuatu?" Gadis itu mengerutkan keningnya sejenak kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Abang mau minta apa? Kalau hanya sekedar mentraktir ice cream aku bisa " Aku tersenyum kemudian menggeleng perlahan.
" Bukan itu, hmmmmm bisakah kau menungguku? setelah sukses nanti abang akan kembali lalu menemuimu sebagai pria yang mapan dan bisa kau banggakan " Nara tampak bingung dengan ucapanku.
" Maksudnya? Aku tak mengerti abang bicara apa " Aku memandang wajahnya lama, Nara juga ikut menatapku.
" Cukup katakan iya " Nara tampak berpikir sejenak kemudian menatapku lagi.
" Ya sudah iya " jawaban darinya membuat senyumanku mengembang, tunggu aku Nara, setelah aku sukses aku akan menjadikanmu milikku. Kumohon bertahanlah sebentar dan aku akan memberikan kebahagiaan untukmu.
Flashback End
Author POV
Andra termenung mengingat kejadian 8 tahun yang lalu, pantas saja Nara tak mengenalnya saat bertemu ditaman itu, perempuan yang pertama kali ditemuinya bukan Nara. Namun kalung tersebut yang membuatnya keliru
CKLEK
" Ndra, kamu kenapa? "
Nara masuk kedalam kamar Andra kemudian berlutut dihadapan Andra sehingga kini wajahnya berhadapan langsung dengan Andra.
" Nara, tolong peluk aku " Pinta Andra dengan lirih dan mata yang sayu, Nara semakin tak mengerti dengan Andra saat ini.
" Kamu kenapa? " Andra menggeleng lemah.
" Cukup berikan aku pelukan, aku butuh ketenangan "
Nara memajukan tubuhnya kearah Andra kemudian melingkarkan kedua tangannya dileher Andra lalu mendekapnya hangat. Andra membalas pelukan Nara dengan erat dan semakin lama semakin mengerat, Andra membenamkan wajahnya dibahu Nara sambil menghirup aroma tubuh tunangannya ini.
" Sebenarnya kamu kenapa Ndra?"
Nara mengusap-usap punggung Andra mencoba menenangkan lelaki yang dicintainya ini.
" Iya? " Andra tak menjawab lagi, Andra mengangkat tubuh Nara dan merebahkan kedua tubuh mereka diatas ranjang, posisi mereka masih saling berpelukan dengan Nara yang berada diatas tubuh Andra.
" Kamu tak keberatan kalau aku menimpa tubuhmu begini? " Andra sedikit terkekeh mendengarnya.
" Menurut kamu? Tentu saja berat " Nara sudah ingin bangkit dari atas tubuh Andra namun dengan sigap Andra menahannya.
" Aku hanya bercanda, biarkan begini dulu " Nara pun menuruti keinginan Andra.
TOK TOK TOK
" Nara, bang Andra pesanan makanan sudah datang "
Mendengar itu mau tidak mau Andra pun melepaskan pelukannya pada Nara dan dengan segera Nara bangkit dari atas tubuh Andra dan berjalan menuju pintu namun Andra menarik tangan Nara kemudian memutar tubuh Nara agar menghadap kearahnya kemudian memberikan kecupan dibibir Nara.
" Ck kamu ini mengejutkan aku saja " Andra hanya tersenyum kemudian menggandeng tangan Nara untuk keluar bersama.
CKLEK
" Maaf jadi meninggalkanmu sendirian di luar Rissa " Ucap Nara dengan sesal.
" Tak apa, ayo kita makan sekarang, aku sangat lapar" Rengek Rissa.
" Aku akan mengambil uang untuk membayar makanan kita dulu " Ucap Andra tanpa memandang kearah Rissa namun Rissa langsung menginterupsi Andra.
" Aku sudah membayarnya bang, jadi kita langsung makan saja "
Rissa pun menarik tangan Nara dan Andra menuju meja makan. Mereka pun langsung memulai ritual makan mereka, Nara dan Rissa sibuk berceloteh berbagi cerita sedangkan Andra hanya makan dalam diam dan sesekali melirik kearah Rissa. Setelah selesai makan Nara dan Rissa kembali kekamar Nara sedangkan Andra kembali kekamarnya.
.
.
Andra, Nara, dan Rissa sedang berada diapartemen Rissa, mereka membantu Rissa membereskan barang-barang yang ada disana, sebenarnya tak banyak barang yang harus dibereskan karena ibunya Rissa sudah menyiapkan semua keperluan Rissa, hanya beberapa pernak pernik dan barang tambahan saja yang dibereskan.
Nara sibuk membereskan buku-buku sekolah Rissa di rak buku sedangkan Rissa sibuk menata foto-foto di dalam rumah dibantu Andra karena ada beberapa bingkai foto yang harus ditaruh ditempat yang tinggi sehingga Rissa memerlukan bantuan Andra.
PRAAAAANG
Andra menoleh kearah Rissa yang membereskan bingkai yang tadi tak sengaja disenggolnya, Nara pun langsung keluar dari kamar Rissa begitu mendengar suara dentingan barang pecah.
" Rissaaaa" Nara menghampiri Rissa.
" Awww "
Rissa meringis saat tangannya tak sengaja tergores pecahan kaca, Andra menghampiri Rissa dan memeriksa tanganya. Andra langsung menarik Rissa menuju dapur untuk mencuci tangannya dan Nara ikut mengekor dibelakang.
"Kamu ini, seharusnya kamu hati-hati, ini sangat berbahaya, kalau pecahan tadi terinjak oleh kakimu bagaimana? Kamu juga gak pakai sendal rumah? Jangan biasakan begitu, agar saat ada benda tajam kamu akan terlindungi " Andra terus mengomel pada Rissa sambil mengobati luka Rissa, Nara sendiri hanya mengangguk setuju dengan ucapan Andra.
" Iya benar kata Andra, kau kan tinggal sendiri Rissa, jadi harus lebih hati-hati "
" Iya aku ngerti, sudah kalian tak usah menceramahi aku " Nara terkekeh kemudian mencubit pipi Rissa keras sehingga Rissa terpekik karena sakit.
" Awww sakittt " rengek Rissa
Andra melotot tajam pada Nara membuat Nara menghentikan aksinya.
" Kau ini jangan nakal Nara, itu tadi pasti cubitan kamu sakit banget" Andra memeriksa pipi Rissa yang terkena cubitan.
" Apa ini sakit? " Tanya Andra dengan lembut sambil mengelus pipi Rissa, Rissa hanya mengangguk.
" Hehe habis aku gemas, Rissa menggemaskan " Rissa langsung memeluk Nara erat.
" Nara juga menggemaskan "
Mereka berdua tertawa tak jelas, Andra memandangi Rissa sambil tersenyum kemudian dia bangkit untuk membereskan pecahan kaca bingkai tadi.
" Kalian tetap disana dan jangan bergerak sampai aku selesai membereskan ini semua "
Nara dan Rissa pun mengangguk patuh, keduanya malah sibuk bercanda-canda sedangkan Andra sibuk membereskan kekacauan yang terjadi.
.
.
Hari ini hari pertama Rissa masuk kesekolahnya, pagi tadi Andra dan Nara menjemput Rissa untuk berangkat bersama. Sesampainya di sekolah Nara mengantar Rissa menghadap kepala Sekolah setelah itu mereka berjalan menuju kelas mereka. Yah mereka ditempatkan dikelas yang sama bersama Dila dan Justin juga.
" Dila, Justin " Nara berlari menghampiri mereka kemudian memeluk mereka erat.
" Ya Ampun Nara, kau ini mengejutkan kami saja "
Dila melepaskan pelukan Nara kemudian tak sengaja matanya menangkap sosok Rissa yang sedang memperhatikan Justin yang masih sibuk memperhatikan Nara.
" Wah jadi ini sepupu yang kau ceritakan itu? Ya ampun kalian ternyata benar-benar mirip yah "
Dila memandang Rissa penuh decak kagum, Justin pun langsung mengarahkan pandangannya kearah Rissa dan sontak membuat Rissa langsung menunduk malu.
" Dila, Justin perkenalkan iniĀ Carissa sepupuku, dia pindahan dari Korea dan sekarang sahabat kita bertambah satu, dan Rissa kau perkenalkanlah dirimu " Rissa mengangguk dan tersenyum serta menjabatkan tangannya pada Dila dan Justin.
" Hai kenalin nama aku Carissa, semoga kita bisa berteman baik ya"
Dila dan Justin tersenyum pada Rissa kemudian Dila bangkit dari duduknya kemudian merangkul Rissa.
" Tentu saja kami akan menjadi teman baikmu Sa, gakpapa kan kami panggil kamu Rissa atau Sa?"
" Gak masalah kok, oh iya aku duduk dimana yah? " Rissa tampak bingung menatap sekeliling mencari bangku kosong.
" Kau duduk dengan Justin saja bagaimana? Aku sudah terbiasa duduk bersama dengan Dila, tak apa kan? dan Justin kau gak masalahkan duduk dengan Rissa? " Justin memandang Rissa sejenak dan itu membuat Rissa merona.
" Iya, kau duduk denganku saja "
Rissa langsung mengembangkan senyumannya dan mengangguk dengan semangatnya lalu langsung mengambil posisi duduk disamping Justin.
" Nara, sepertinya sepupumu menyukai Justin, lihat saja wajahnya terus merona saat memandang Justin" Bisik Dila.
" Hahaha kayaknya bener deh, gak apalah, sekalian saja kita jodohkan mereka, agar Justin segera menyusul kita memiliki pacar hihihi " Bisik Nara
Tak lama bel pun terdengar dan mereka memulai pelajaran dengan tenang, Rissa sendiri tak fokus memperhatikan pelajaran karena hatinya berdebar saat melihat Justin dari jarak sedekat ini.
" Tampannya " Batin Rissa sambil tersenyum malu.
Tbc~~~
Jangan lupa vote dan komen teman-teman