
Siang ini Andra menjemput Kinara dan Rissa ke sekolah, Andra tersenyum saat melihat Kinara keluar bersama Dila namun senyum nya menghilang saat melihat Rissa berjalan beriringan dengan Justin sambil tertawa bersama. Andra mengepalkan kedua tangannya dengan erat sampai telapak tangannya memutih.
" Andraaaaa " Kinara berlari ke arah Andra dan memeluknya erat, Andra membalas pelukan Kinara namun matanya menatap tajam kearah Justin. Dila yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya, dia mengira Andra masih cemburu jika melihat Justin berada didekat Kinara.
" Aku sengaja menjemput kamu sama Rissa, kita makan siang dulu setelah itu aku antar kalian pulang " Andra mengelus rambut Kinara.
" Yaaaah padahal aku, Dila, Rissa dan Justin akan makan siang bersama untuk merayakan kedatangan Rissa " Kinara menunduk sedih, Andra menatap Rissa sejenak.
" Bagaimana kalau kamu ikut aja? " Tawar Kinara, Andra menatap kearah Justin dengan angkuhnya sebelum menganggukkan kepalanya.
" Baiklah, biar aku yang mentraktir kali ini " Kinara, Dila, Rissa, langsung terlonjak senang mendengarnya. Tanpa sadar Rissa merangkul tangan kanan Andra dan itu sukses membuat debaran jantung Andra menggebu.
" Waaahh bang Andra yang terbaik, makasih bang " Rissa memberikan senyuman terbaiknya pada Andra membuat Andra membalas dengan senyuman bahagianya saat melihat Rissa tersenyum.
" Tentu saja Andra terbaik, siapa dulu, tunanganku" Ucap Kinara dengan bangganya membuat Dila dan Justin melirik malas pada Kinara.
" Yasudah sekarang kalian masuk ke dalam mobil, kita pergi sekarang " Mereka pun bergegas masuk ke dalam mobil dan melaju kearah Blue Ocean cafe.
Sesampainya disana mereka sibuk memesan makanan, semua sudah memilih makanan mereka masing-masing namun hanya Kinara yang masih bingung untuk memesan apa.
" Kenapa? Cepat pesan makanan kamu " Kinara masih sibuk membolak--balik menu, tak menghiraukan ucapan Andra.
" Ahhh aku bingung, pesanan ku samain aja deh sama punya kamu" Ucap Kinara pada akhirnya. Setelah itu mereka sibuk berbincang-bincang sambil menunggu pesanan makanan datang.
" Rissa, di Korea kamu udah pernah punya pacar nggak? " Tanya Dila.
" Pernah sih, waktu aku berusia 16 tahun aku memiliki kekasih tapi hanya berjalan selama dua bulan setelah itu aku tak memiliki kekasih lagi sampai saat ini "
" Lalu apa kau berniat mencari kekasih orang Indonesia sekarang? " Tanya Kinara to the point sambil melirik kearah Justin, Dila sendiri merutuki sahabatnya yang kelewat nyablak itu.
" Huh? Aku tak tahu " Wajah Rissa sudah merona hebat dan saat melirik kearah Justin ternyata Justin sedang menatapnya.
" Ada apa dengan wajahmu? Kau sakit? " Justin mencoba menyentuh wajah Rissa namum Andra menepis tangan Justin dengan kasar.
" Jangan asal menyentuh perempuan" Andra menatap Justin tajam, Kinara yang merasa tak enak pada Justin pun mencoba menenangkan Andra.
" Andra, jangan mulai lagi "
Andra tak menghiraukan ucapan Kinara, dia sibuk menatap tajam Justin, Rissa sendiri bingung mengapa Andra sebegitu terlihat membenci Justin, Rissa berbisik pada Dila yang duduk disebelahnya.
" Kenapa bang Andra terlihat benci sama Justin? " Bisik Rissa.
" Bang Andra itu sangat posessif pada Nara, dia gak suka lihat Nara didekati lelaki lain selain dia, jadi meskipun Justin sahabat Nara tapi dia tetap bertingkah seolah Justin akan merebut Nara darinya " Jelas Dila dengan berbisik juga. Rissa hanya mengangguk mengerti. Pelayan pun datang membawakan pesanan makanan mereka, dan mereka makan dengan tenang kali ini.
" Uhhh steak ini susah sekali dipotongnya, apa pisau ini gak tajam ya" gerutu Rissa.
Justin tersenyum melihatnya, dia bersiap mengambil piring Rissa yang berisikan steak namun ternyata Andra sudah mengambil duluan pring Rissa kemudian memotong seluruh steak hingga menjadi potongan-potongan kecil setelah itu mengembalikan lagi piring itu kehadapan Rissa.
" Makanlah "
" Makasih bang " Rissa pun memakan steaknya dengan santai, Kinara melirik kearah Andra kemudian menyenggol siku Andra.
" Hmm? " Andra menatap Kinara.
" Aku juga susah motongnya " rengek Kinara membuat Dila dan Rissa terkekeh melihat tingkahnya.
" Ya ampun ada yang iri rupanya " Sindir Dila sambil menjulurkan lidahnya kearah Kinara.
" Ck, kau menyebalkan Dila " Kinara pun memotong steaknya dengan kasar namun Andra segera menghentikan pergerakan tangan Kinara.
" Sini biar aku yang memotongnya " Andra pun memotong steak dipiring Kinara setelah itu menyodorkannya kepada Kinara.
" Makan yang benar dan jangan berantakan seperti ini " Andra megusap saus Steak yang ada disudut bibir Kinara dengan ibu jarinya dan itu sukses membuat Kinara merona.
" Makasih " Dila melihat itu kembali mencibir.
" Kau terlihat menggelikan jika seperti itu Nara " Ejek Dila.
" Sudahlah Dil, jangan menggodanya terus " Bela Justin membuat Kinara tersenyum penuh kemenangan, Andra langsung menatap tajam kearah Justin namun Justin tak menghiraukan itu.
.
.
Setelah selesai makan mereka memutuskan berjalan-jalan sebentar untuk menemani Rissa yang memang belum berjalan-jalan semenjak kedatangannya ke Indonesia, Rissa dan Kinara berjalan beriringan sambil bergandengan tangan sedangkan Andra mengekori dari belakang, Dila dan Justin sibuk bercengkrama dibelakang Andra.
Andra terus memperhatikan Kinara dan Rissa yang berputar-putar sambil saling menautkan tangan mereka, Andra terkekeh melihat tingkah kekanakan keduanya.
" Nara hati-hati nanti kalian jatuh, hentikan itu Nara, jangan membawa Rissa berputar-putar " Teriak Andra namun Kinara tak mendengarkannya dan tiba-tiba mata Andra membulat saat melihat keduanya terjatuh.
" Rissaaaa!! " Andra segera menghampiri keduanya, mendengar teriakan Andra pun Dila dan Justin ikut berlari menghampiri Kinara dan Rissa.
" Kamu gakpapa? " Tanya Andra sambil memeriksa seluruh keadaan Rissa, untungnya Rissa tak terluka sedikit pun.
" Nara ada yang sakit? " Tanya Dila dan Justin bersamaan namun Kinara hanya menunduk diam.
" Bang jangan marahin Kinara, tadi aku yang gak sengaja melepas tautan tangan kami " Ucap Rissa. Melihat Andra yang masih menatap tajam Kinara membuat emosi Justin menjadi naik.
" Kau, yang tunanganmu disini itu siapa? Kinara atau Rissa? Kenapa kau malah menyalahkan Kinara? Kau bahkan tak memeriksa keadaan Kinara apa dia terluka atau tidak, kau malau memarahinya! " Andra mendapatkan serangan seperti itu dari Justin merasa tidak terima, dicengkeramnya kerah seragam Justin.
" Ini bukan urusanmu! Jangan ikut campur " Justin berusaha melepaskan cengkraman tangan Andra dari kerah seragamnya namun kekuatan Andra jauh lebih besar dari pada dirinya.
" Ini akan menjadi urusanku jika kau menyakiti sahabatku " Andra sudah hampir memukul Justin namun Kinara dengan cepat menginterupsi.
" HENTIKAN! " Kinara bangkit dari duduknya, Dila pun ikut bangkit dan baru menyadari bahwa siku Kinara terluka dan berdarah.
" Ya ampun Nara siku mu berdarah " Kinara tak menghiraukan ucapan Dila, Rissa menghampiri Kinara untuk melihat lukanya.
" Nara sikumu harus diobati "
Mendengar ucapan Rissa itu dengan segera Andra melepaskan cengkeramannya pada Justin dan menghampiri Kinara kemudian melihat luka Kinara.
" Kita pulang sekarang, luka kamu harus segera diobati " Andra sudah bersiap menggandeng tangan Kinara namun Kinara menepisnya.
" Nara bukan saatnya untuk bersikap kekanakan! " Lagi-lagi Andra menyentaknya membuat Justin geram.
" Bisa gak kau berhenti berteriak pada Nara! " Andra tak memperdulikan ucapan Justin.
" Aku ingin sendiri " Setelah itu Kinara membalikkan tubuhnya berjalan menjauhi mereka namun baru tiga langkah Andra kembali menahannya.
GREP
" Jangan seperti ini kumohon, ikut aku pulang, obati dulu luka kamu habis itu kalau kamu mau marah-marah sama aku, aku terima "
Kinara melepaskan cengkraman tangan Andra kemudian berlari meninggalkan Andra, saat Andra ingin mengejarnya dengan cepat Dila menahannya.
" Biarkan dia sendiri dulu bang " Andra hanya menatap punggung Kinara yang semakin menjauh.
" maaf " Batin Andra.
.
.
Andra sibuk mondar mandir menunggu Kinara pulang, jam menunjukkan pukul 7 malam dan Kinara belum juga pulang. Beberapa kali Andra menghubungi ponselnya namun hanya operator yang menjawabnya. Dila pun belum memberikan kabar mengenai Kinara dan itu membuat Andra khawatir, ditambah sejak tadi Rissa terus menghubunginya untuk menanyakan kabar Kinara dan cemas dengan keadaan Kinara.
Andra pun merasa cemas, tadi Kinara pergi dalam keadaan terluka, entah lukanya sudah diobati atau belum. Andra tak bisa menunggu lagi dengan segera Andra berjalan menuju kamar untuk mengambil jaket dan kunci mobilnya. Saat dia membuka pintu apartemennya ternyata saat itu juga Kinara baru akan masuk kedalam apartemennya.
" Nara" Andra langsung memeluk Kinara erat, Andra bernafas lega melihat Kinara akhirnya pulang.
" Kamu baik-baik aja? Aku cemas sekali kamu belum pulang sejak tadi, dan luka kamu, bagaimana luka kamu? Apa sudah kamu obati? " Andra memeriksa siku Kinara, dan dilihatnya darah yang mengering.
" Kenapa kamu biarin mengering gini? "
Andra langsung menggiring Kinara masuk kedalam apartemen, mendudukkan Kinara di sofa setelah itu Andra bergegas mengambil baskom dan air hangat, obat-obatan dan juga handuk untuk membasuh luka Kinara.
Kinara sendiri hanya diam tak berniat menghindar ataupun menanggapi. Andra duduk berhadapan dengan Kinara kemudian mulai membasuh siku Kinara setelah itu memberikannya obat antiseptic. Setelah selesai Andra pun merapihkan rambut Kinara yang terlihat berantakan.
" Maaf " Ucap Andra lirih, Kinara masih saja diam sambil menatap lurus ke lantai.
" Bicaralah sayang, marah bila perlu tapi jangan diam seperti ini " Andra menarik dagu Kinara agar menatapnya. Mau tidak mau Kinara pun menatap mata Andra.
" Bicaralah " Pinta Andra namun Kinara tetap bungkam, Andra mengacak-acak rambutnya frustasi.
" Andra.... " Mendengar Kinara memanggilnya sontak membuat Andra mengalihkan pandangannya kearah Kinara.
" Iya sayang, kenapa?? Katakan? " Tanya Andra antusias.
" Aku ingin kekamar "
Andra langsung menggendong tubuh Kinara ala bridal style dan membawanya kedalam kamar kemudian menduduki Kinara diatas ranjang, Andra mengambil piyama Kinara didalam lemari kemudian menyerahkannya pada Kinara.
Dengan langkah gontai Kinara berjalan menuju kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Setelah keluar dari kamar mandi Kinara melihat Andra merebahkan dirinya di atas ranjang Kinara.
" Aku akan menemani kamu tidur malam ini " Ucap Andra saat melihat raut bingung diwajah Kinara.
Andra menarik Kinara agar naik keatas ranjang, Andra mendekap tubuh Kinara kemudian menyelimuti tubuh keduanya. Tak ada percakapan diantara keduanya, Kinara sebenanya belum mengantuk, dia hanya diam didalam pelukan Andra. Andra sebenarnya tahu Kinara belum tidur, dia sendiri bingung kenapa Kinara diam begini, dia lebih suka melihat Kinara merajuk sambil marah-marah padanya dari pada diam begini, setidaknya dia masih tau apa yang Kinara rasakan namun jika dia diam begini bagaimana bisa dia mengetahui apa yang Kinara rasakan.
" Nara " Panggil Andra, Kinara mendongakan kepalanya untuk menatap Andra. Andra mendekatkan wajahnya pada Kinara berniat mencium Kinara namun dengan segera Kinara kembali menundukan wajahnya.
" Aku mengantuk, selamat malam "
Setelah itu Kinara memejamkan matanya, Andra menatap kelapa Kinara yang ada didadanya dengan sendu. Andra pun mengeratkan pelukannya pada tubuh Kinara kemudian berkali-kali mengecup pucuk kepala Kinara.
Tbc ~~~
Jangan lupa vote dan komen ya teman-teman ^_^