My Little Fiance

My Little Fiance
Baby Ardan



Andra baru saja pulang dari kantor, Andra mempercepat langkahnya menuju kamarnya dan Kinara saat mendengar suara tangisan bayi yang tak juga berhenti, namun sebelumnya Andra tidak lupa mencuci tangannya dahulu di wastafel dapur. Begitu memasuki kamar Andra berjalan mendekati Kinara yang sedang menggendong baby Ardan.


“Kenapa Ardan Ra?” tanya Andra pada Kinara sembari duduk di tepi ranjang.


“Ardan nggak mau berhenti nangis Ndra, padahal aku udah mengganti popoknya. Aku juga udah kasih Ardan susu, tapi dia masih nangis terus” Kinara menatap Andra. Matanya sudah memerah menahan tangis.


Tangan Andra terangkat menyentuh kening baby Ardan. Memeriksa suhu tubuhnya takut-takut jika bayinya terserang demam.


“Kamu udah cuci tangan?”


“Udah, kamu tenang aja” Andra tersenyum.


“Coba sini aku yang gendong Ardan, mungkin Ardan mau berhenti nangis kalau aku yang gendong dia” Kinara dengan hati-hati memberikan Ardan pada Andra.


“Aduhh anak daddy lagi nangis ya? Ardan kenapa sayang? Kenapa Ardan nggak mau berhenti nangis hmm? Ardan mau sesuatu nak?” gumam Andra pada baby Ardan.


Andra mencium pipi gembil dan kening baby Ardan, dan ajaibnya gerakan meronta baby Ardan dan juga rengekan tangisnya mulai mereda dan berhenti dan perlahan Ardan kembali tertidur dengan dengkuran halus khas bayi. Andra tersenyum lega. Andra beranjak ke arah box bayi dimana biasanya baby Ardan tidur disana, namun sebelum meletakkan baby Ardan, Andra mencuri ciuman di pipi baby Ardan kembali.


Andra menoleh ke arah ranjangnya dan Kinara namun Andra tak menemukan Kinara disana.


Andra mendengar suara isakan kecil dari kamar mandi, Andra pun kontak beranjak menuju kamar mandi karena suara isakan itu pastilah berasal dari Kinara. Andra menemukan Kinara yang duduk di atas kloset kamar mandi mereka sambil menangis dan berurai air mata.


Andra mendekari Kinara. Andra Berdiri di hadapan Kinara dan mengelus punggung Kinara pelan.


" Kamu kenapa sayang?" Tanya Andra pada Kinara yang kini telah menatapnya dengan pandangan sedihnya.


“Aku nggak bisa bikin baby Ardan tenang Ndra hiks..hiks.... Aku bahkan nggak bisa bikin baby Ardan berhenti nangis, aku bukan ibu yang baik”


Andra sedih melihat Kinara menyalahkan diri seperti itu. Andra berusaha untuk bisa mengerti dengan semua yang Kinara rasakan, ini pertama kalinya Kinara menjadi seorang ibu dengan usia yang tergolong masih muda apalagi dengan tingkah lakunya yang terbiasa dimanjakan itu, mungkin saja Kinara merasa terkejut dengan tanggung jawab baru nya ini.


Andra menyeka air mata Kinara dan mengelus pipi Kinara dengan lembut.


“Kamu bukan tidak bisa, sayang. Mungkin Ardan memang sedang manja hari ini” Kinara menyeka air matanya, kemudian memeluk Andra.


“Maafin aku ya Ndra belum bisa jadi ibu yang baik untuk anak kita” Ucap Kinara


“Nggak perlu minta maaf Nara, apalagi untuk hal yang memang bukan kesalahan kamu” Ucap Andra sambil mengelus punggung Kinara hingga Kinara merasa tenang. Setelah merasa sedikit tenang Kinara melepas pelukannya lalu mencium bibir Andra sebentar.


"Makasih ya Ndra..." Andra tersenyum hangat mendengar ucapan Kinara


."Sekarang kamu mandi ya, biar aku nyiapin air hangat buat kamu mandi. Habis itu kita makan malam bareng”


“Mandi bareng nggak nih?” Andra menyeringai menggoda Kinara.


“Nggak ya Ndra! Aku harus nyiapin makan malam, geser kamu” Jawab wanita itu ketus.


Andra menampakkan wajah kecewanya, membuat Kinara terkekeh. Kinara itu mengecup bibir Andra sekali lagi, lalu pergi menyalakan keran air hangat di bath up.


.


.


“Gimana pekerjaan kamu? semua baim baik aja kan Ndra?” tanya Kinara membuka obrolan pada makan malam mereka.


“Semuanya baik-baik aja. Oh iya karyawan di kantor pada nitip salam, katanya mereka rindu sama kamu dan pengen jengukin kamu”


“Hahaha mereka itu emang bisaan aja, tapi aku juga rindu sama mereka semua sih”


“Aku tau sayang, tapi maafin aku ya... aku tetap baru akan memperbolehkan mereka semua jenguk kamu setelah kamu benar-benar pulih. Setidaknya sampai Ardan berumur satu bulan. Aku nggak mau buat Ardan ngerasa nggak nyaman terlalu banyak orang datang untuk ngelihatin dia”


“Apa setelah itu aku bisa kembali bekerja Ndra?” Andra menghentikan aktifitas makannya. Kemudian meneguk segelas air putih sebelum menjawab pertanyaan Kinara.


“Aku udah memikirkannya baik-baik jauh sebelum Ardan lahir. Dan aku udah memutuskannya kalau kamu nggak perlu kembali kerja lagi”


“Ndra…” Kinara menatap protes ke arah Andra.


“Tapi Ndra-”


“Nggak pokoknya aku gak izinin, kamu hanya perlu di rumah menjaga Ardan setiap hari. Aku yang akan kerja. Toh selama ini juga kamu bekerja sebagai asisten pribadi aku, aki rasa dua sekretaris aku yang ada sekarang juga bisa ngehandle semua kerjaan aku” Ucapan Andra sontak membuat Kinara berdecak kesal.


“Tapi kamu tau sendiri kan Ndra walaupun kerjaan aku itu nggak terlalu penting bagi kamu, aku cinta sama pekerjaan aku, aku suka untuk harus ngurus kamu di rumah dan di kantor, aku suka harus berurusan sama berkas kantor yang buat aku gak merasa sia-sia sama pendidikan yang udah aku jalani”


“Kalau begitu, mulai sekarang kamu harus lebih mencintai Ardan daripada semua pekerjaan kamu itu”


“Ndra!” pekik Kinara .


“Tega kamu bilang gitu sama aku Ndra! aku jelas lebih cinta Ardan lebih daripada apapun. Aku nggak akan pernah mungkin menomor duakan Ardan demi hal apapun! tapi kamu harus ngerti Ndra aku juga udah cinta sama pekerjaan aku jauh sebelum Ardan lahir.”


“Maksudku adalah… kamu nggak bisa membuat aku di posisi harus memilih kayak gitu Ndra. Aku benar-benar mencintai keduanya.”


“Jawabanku masih akan tetap sama. Tidak.” Andra menghela nafasnya lalu beranjak ke kamar.


Kinara menjambak rambutnya frustasi. Wanita itu segera membereskan meja makan dan bergegas menyusul Andra ke dalam kamar.


.


.


Kinara menutup pintu kamar mereka dengan perlahan. Berjalan mendekati Andra yang tengah berdiri di samping box bayi mereka. Memperhatikan baby Ardan yang masih terlelap dan sesekali mengelus pipi baby Ardan.


Kinara kemudian meraih lengan Andra dan mengelusnya, semua itu Kinara lakukan demi mencoba menarik perhatian Andra dan memang berhasil, yang dilakukan Kinara membuat Andra menolehkan wajahnya pada Kinara.


“Kenapa?” tanya Andra.


“Aku berjanji akan bisa membagi waktu dengan baik. Aku nggak akan mementingkan hal lain lebih daripada Ardan apalagi sampai menelantarkan Ardan. Aku pasti akan tetap memperhatikan Ardan setiap saat. Pekerjaan ini bukan hanya sekedar pekerjaan, tapi juga udah jadi hobi aku Ndra dan kamu sendiri tau itu. Jadi biarkan aku tetap bekerja, ya?”


“kamu tidak akan berhenti merecokiku tentang hal ini kan? kamu juga gak akan berniat mengalahkan dalam perdebatan kita ini kan?


“Tidak sebelum kamu berkata ya dan setuju sama semua yang aku katakan”


“Ck...kamu benar-benar keras kepala Nara.”


“Seperti kamu nggak aja” Cibir Kinara dan langsung memasang senyum menggodanya untuk Andra.


“Jadi.......gimana Ndra?”


“Kamu pasti akan terus ganggu aku bahkan bakal rela ngegoda aku untuk dapat yang kamu inginkan kan?”


“Hehehe...Aku nggak keberatan sih kalau emang diperlukan.” Kinara mengerling nakal.


“kamu memang benar-benar ya..... Ok, aku nggak akan jawab sekarang. Aku akan memikirkan solusi yang terbaik untuk hal yang satu ini, ngerti?” Ucap Andra dan Andra pun menempelkan dahinya pada dahi Kinara dan disambut Kinara dengan senyum lembutnya.


“Terima kasih.” Lirih Kinara lalu kembali ******* bibir Andra hingga suara tangisan baby Ardan membuat mereka melepaskan diri satu sama lain.


Kinara membungkuk untuk menggendong Ardan. Kinara menimang baby Ardan dan berusaha untuk mencoba membuat baby Ardan berhenti menangis, tapi semua usahanya itu gagal.


Andra kembali menawarkan diri untuk mengambil alih menggendong baby Ardan. Ketika Andra menyentuh putra kesayangannya itu, Ardan berhenti menangis.


Kinara menggeram tertahan lalu berlalu ke ranjang besar miliknya dan Andra. Kinara membaringkan tubuhnya di atas ranjang sambil memandang kesal ke arah Andra yang sedang meletakkan baby Ardan ke dalam box tempat tidurnya.


“Ardan bahkan nggak mau nurut sama aku. Ardan hanya nurut ke kamu, Ardan hanya diam kalau kamu yang gendong dia” Rengek wanita itu.


“Aku membencinya.” Lanjut Kinara.


Tbc ~~~~


Jangan lupa vote dan komen ya teman-teman ^_^