
Kinara merebahkan tubuhnya di atas ranjang, matanya terpejam erat mencoba melupakan kejadian siang tadi, namun semakin dia tak ingin mengingat justru semuanya terus berputar dalam ingatannya. Kinara kembali membuka matanya, mendudukkan dirinya dan menyenderkan tubuhnya di atas ranjang.
" Apa yang harus aku lakukan jika begini? Kalau ternyata yang disukai Andra adalah Rissa, itu artinya yang seharusnya jadi tunangan Andra bukan aku. Apa aku harus memutuskan pertunangan ini? " Kinara kembali menekan dadanya yang terasa nyeri kala mengingat dirinya bukan orang yang dicintai Andra selama ini.
" Enggak, aku gak boleh membatalkannya, kalaupun harus dibatalkan itu harus Andra yang melakukannya karena dialah yang memintaku untuk bertunangan dengannya "
Kinara bangkit kemudian berjalan menuju meja riasnya, dibuka laci kedua dimeja rias itu. Didalamnya terdapat kotak kecil, Kinara mengambil kemudian membukanya.
Kotak itu berisi cincin tunangannya, cincin yang selalu disimpannya. Kinara tak pernah menggunakan cincin itu karena cincin itu sedikit kebesaran makanya Kinara selalu menyimpannya dirumah. Kinara menutup kembali kotak itu lalu meletakkannya ditempat semula.
Kinara membuka kembali laci ketiga, disana ada sebuah album foto kecil, Kinara membukanya satu persatu, terdapat banyak foto Andra dan Kinara. foto itu diambil saat dimana Kinara dan Andra melakukan kencan. Kinara terkekeh saat melihat fotonya dan Andra saat kencan pertama mereka di taman hiburan. Andra benar-benar membuatnya bahagia saat itu, seumur hidup Kinara tak pernah memiliki kekasih, kekasihnya hanyalah Andra jadi saat melakukan kencan pertama itulah saat yang paling membahagiakan.
Kinara terus membuka album foto itu sampai halaman terakhir, setelah selesai Kinara kembali memasukannya kedalam laci. Kinara mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mengamati boneka kelinci disetiap sudut kamarnya. Boneka yang selalu Andra berikan ketika dia sedang merajuk, Kinara berjalan menghampiri boneka-bonekanya.
Kinara mengambil salah satu boneka yang pertama kali Andra berikan untuknya, Kinara mengelus boneka itu sambil tersenyum lirih dan mendekap erat boneka kelinci yang tadi diambilnya. Perasaan Kinara begitu kacau sekarang, entahlah namun perasaannya mengatakan sepertinya dia harus melepas semuanya, entah apa yang akan dilepas dan kapan waktu yang tepat untuk melepasnya. Kinara hanya menyerahkan seluruhnya kepada Tuhan saja. Kinara kembali meletakkan bonekanya ditempat semula kemudian keluar dari kamarnya.
CKLEK
Baru saja Kinara akan menutup pintu kamarnya ternyata itu berbarengan dengan kepulangan Andra. Andra menatap Kinara namun Kinara pura-pura melihat kearah lain dan berjalan menuju dapur. Andra mengikuti Kinara dari belakang.
" Kamu belum tidur ? " Kinara hanya menjawab dengan gelengan kepala kemudian meneguk minuman yang tadi diambilnya.
" Kamu udah makan? " Kinara kembali memberi jawaban dengan anggukan kepalanya.
Bohong, tentu saja Kinara berbohong, bagaimana dia bisa makan sedangkan pikirannya sedang kacau. Bahkan di sekolah tadi dia hanya makan roti saja. Andra terus memandangi Kinara, entahlah Andra merasa Kinara jadi pendiam sejak kejadian kemarin. Kinara sudah ingin berlalu dari dapur menuju kamarnya namun Andra menahan pergelangan tangannya.
GREP
" Ada apa dengan kamu? " Kinara tak menjawab, Andra memeluk Kinara dari belakang dengan erat.
" Katakan sesuatu, jika kamu marah maka marahlah, jangan diam seperti ini, jangan membuat aku bingung " Andra terdiam menunggu respon dari Kinara.
" Jangan buat aku terus menunggu lebih lama" Ucap Kinara pada akhirnya, Andra mengerenyitkan dahinya, Andra benar-benar bingung dengan ucapan Kinara.
" Menunggu? Kamu marah karena harus menungguku pulang malam? Kalau begitu maafkan aku, aku sedang banyak peker .. " Kinara melepaskan pelukan Andra kemudian membalik menghadap Andra.
" Bukan itu " Potong Kinara, Andra kembali mengerenyitkan dahinya.
" Jangan biarkan aku menunggu, berikanlah kepastian agar aku bisa menata kembali sampai semuanya baik-baik saja " Setelah itu Kinara berlalu menuju kamarnya. Andra masih diam ditempat mencerna ucapan Kinara namun dia tetap tak mengerti maksud dari ucapan Kinara.
" Maksud Kinara tadi apa? Aku tak paham " Andra mengendikkan bahunya kemudian berjalan menuju kamarnya.
.
.
Hari ini hari libur, Kinara masih diam diatas ranjangnya. Dia tak berniat untuk bangun apalagi keluar dari kamarnya. Padahal sejak pagi dia sudah bangun namun masih enggan untuk beranjak bahkan sejak satu jam lalu Andra sudah bolak balik mengetuk pintu kamarnya untuk memastikan apa Kinara sudah bangun apa belum.
Drtttt Drrrrttt
Kinara mengambil ponselnya diatas nakas samping tempat tidurnya, ternyata ada pesan masuk. Kinara dengan malas membuka pesan masuk itu.
From : Dila
Aku, Rissa dan Justin dalam perjalanan menuju apartemenmu
To : Dila
Oke, aku akan segera mandi
Dengan gontai Kinara beranjak dari ranjang tidurnya kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sekitar 15 menit Kinara melakukan ritual mandinya dan setelah selesai Kinara bergegas keluar dari kamar menuju dapur, Kinara mulai mengacak-acak isi kulkas untuk melihat bahan makanan apa saja yang ada disana.
" Kamu lagi ngapain? " Tanpa membalikkan tubuhnya juga Kinara tahu itu suara Andra.
" Melihat persediaan makanan " Kinara tampak tak puas dengan isi kulkas yang ternyata sudah menipis.
" Kenapa? Aku rasa bahan makanannya masih cukup sampai besok lusa, apa kamu mau belanja keluar? Aku akan menemani kamu " Kinara mendudukkan dirinya di kursi ruang makan, kepalanya sedikit pusing karena belum makan nasi sejak kemarin. Andra ikut mendudukkan dirinya disamping Kinara.
" Cukup, tapi Dila mau kemari dan aku rasa gak akan cukup jika sampai lusa " Kinara menekan pelipisnya yang terasa pusing.
" Dila mau kesini? Barengan sama Rissa juga ? " Tanya Andra dengan nada yang terdengar antusias, Kinara tersenyum kecut kemudian mengangguk dan diliriknya Andra yang kini sedang tersenyum senang.
TING TONG TING TONG
" Ah itu pasti Rissa, biar aku saja yang membukanya " Andra langsung melesat pergi membukakan pintu. Kinara menahan getaran yang semakin menusuk dihatinya.
CKLEK
" Bang Andra, Nara mana bang? " Dila masuk diikuti Rissa dan Justin, Senyuman Andra yang awalnya mengembang kini sirna sudah saat melihat Justin juga ikut bersama mereka.
" Kinara di dapur " Dila, Rissa dan Justin langsung melesat ke dapur diikuti Andra dibelakang.
" Naraaaa " Dila menghampiri Kinara kemudian duduk disebelahnya diikuti Rissa dan Justin yang duduk dihadapan mereka.
" Kalian cepat banget datangnya, aku belum menyiapkan apapun, bahan makanan pun habis, kalian tunggu aja disini sebentar ya, akuĀ mau belanja sebentar " Kinara bangkit dari duduknya.
" Biar aku antar yah " Tawar Justin namun Andra langsung menginterupsi Justin.
" Biar aku aja yang ngantar " Kinara menggelengkan kepalanya.
" Biar aku sendiri aja "
" Yasudah kalau kamu mau sendiri " Ucap Andra akhirnya, Rissa pun menghampiri Kinara.
" Biar aku temani saja, wajahmu terlihat pucat " ucap Rissa.
" Sudah biar aku saja dan Rissa yang berbelanja Ra " Andra kembali memberikan penawaran.
" Gak usaj bang, biar aku dan Justin aja yang belanja, abang temani Kinara aja disini " Andra menggeleng keras.
" Nggak, kamu gak boleh pergi sama Justin " Rissa tampak bingung dengan penolakan Andra begitu juga dengan Justin dan Dila.
" Yasudah kalau begitu biar aku dan Justin saja " Andra kembali menggelengkan kepalanya tak setuju.
" Nggak, kamu juga gak boleh pergi sama Justin, biar Justin sama Dila aja yang belanja" Kinara menghela nafasnya lelah.
" Dila gak bisa disuruh belanja " Dila mengangguk antusias dengan ucapan Kinara tadi, dia memang paling tak bisa kalau berbelanja di supermarket tapi kalau berbelanja pakaian di Mall tak perlu diragukan lagi.
" Kalau gini terus gak akan selesai, sekarang kamu pilih mau aku dan Justin yang berbelanja atau Rissa dan Justin yang berbelanja? " Andra tampak berpikir sejenak.
Kinara tersenyum kecut, tentu saja Andra tak akan membiarkan wanita yang sebenarnya disukainya pergi bersama lelaki lain, karna itu dia membiarkan Kinara untuk pergi bersama Justin. Itulah pemikiran Kinara.
" Ayo Justin kita pergi " Kinara menarik tangan Justin dan menyeretnya untuk segera keluar dari apartemennya. Dila memandang Andra dan Rissa bergantian, entahlah namun firasatnya mengatakan bahwa ini tak akan baik-baik saja.
Sejak tadi Justin membiarkan Kinara menarik nya meskipun pergelangan tangannya terasa sakit namun dia membiarkannya.
" Nara, berhenti " Kinara menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Justin.
" Ada apa sebenarnya denganmu? " Kinara tak menjawabnya, Justin terus memandang punggung Kinara dan matanya membulat saat melihat Kinara tiba-tiba berjongkok sambil memeluk lututnya erat.
" Hikksssss hikksssss aku harus bagaimana hikksssss tolong aku" Ucap Kinara dengan lirihnya
Justin menghampiri Kinara kemudian berjongkok disamping Kinara dan mendekap erat tubuh Kinara yang bergetar hebat.
" Ssstttt jangan nangis" Justin menepuk-nepuk bahu Kinara mencoba menenangkan.
" Hikksss disini sakit sekali Justin" Kinara menekan bagian dadanya, air matanya terus saja bercucuran. Justin tak tega dengan keadaan Kinara pun dengan segera membantu Kinara untuk berdiri.
" Ayo kita pergi dari sini, setelah itu ceritakan semuanya padaku " Justin menggiring Kinara menuju mobilnya, dengan langkah tertatih akhirnya Kinara sampai juga dimobil Justin. Setelah Kinara masuk kedalam dengan segera Justin berlari menuju pintu kemudi dan masuk kedalam mobilnya lalu melajukan mobilnya kesuatu tempat.
.
.
Justin mengepalkan kedua tangannya erat saat mendengar cerita Kinara soal Andra dan Rissa, dia sendiri sudah menduga kalau ada sesuatu pada Andra saat melihat perlakuan yang ditunjukan Andra pada Rissa.
" Kau tak boleh lemah " Justin duduk disebelah Kinara, kini mereka sedang berada disalah satu cafe yang dekat dengan supermarket yang mereka tuju
" Tapi aku juga gak tau harus bagaimana dan aku bingung Justin hikkssss " Justin mendekap Kinara sambil mengelus punggung Kinara agar tenang.
" Tenanglah, ada aku disini, ada Dila juga yang akan selalu siap kau jadikan sandaran, jika kau tak bisa bertahan kumohon menyerahlah, jangan siksa dirimu lebih dari ini " Kinara mengangguk dalam dekapan Justin sambil terus menangis.
.
.
CKLEK
" Kalian pulang juga, lama banget sih belanjanya " Rissa menghampiri Justin dan Kinara yang baru saja datang, Justin membawa tentengan belanjaan mereka ke dapur. Kinara langsung segera menyusul Justin tanpa bicara apapun pada Rissa. Akhirnya Dila, Rissa, dan Andra pun menyusul mereka didapur.
" Hari ini kita akan memasak apa? " Tanya Dila sambil mengobrak-abrik barang belanjaan yang tadi dibeli Justin dan Kinara.
" Aku ingin membuat sup daging dan ikan bakar " Ucap Justin sambil menyiapkan bahan-bahan untuk memasak.
" Kamu bisa masak Justin? "
Rissa menghampiri Justin dengan antusias dan hanya dijawab Justin dengan anggukan kepala saja. Andra mengikuti Kinara saat melihat Kinara berjalan kearah kamarnya.
" Sayang, kamu diam aja dari tadi, apa terjadi sesuatu? Wajah kamu juga pucat, kamu sakit? " Andra hendak menyentuh pipi Kinara namun dengan segera Kinara menghindar membuat Andra menatap Kinara aneh.
" Aku gakpapa" Jawab Kinara singkat
Kinara kemudian mengambil pakaian santainya didalam lemari lalu membawanya ke kamar mandi. Andra duduk diranjang Kinara sambil menunggu Kinara selesai mengganti pakaiannya. Tak lama Kinara keluar dari kamar mandi, tanpa bicara apapun Kinara langsung saja melesat keluar meninggalkan Andra yang merasa bingung dengan sikap Kinara.
Andra pun bangkit dari atas ranjang Kinara mengikuti Kinara keluar, Andra melihat Kinara dan yang lainnya sibuk memasak. Sebenarnya Andra ingin sekali menyeret Kinara dari sana untuk meminta penjelasan mengenai sikapnya namun Andra urungkan niatnya itu karena tak ingin merusak suasana ceria Kinara dengan sahabatnya itu.
Andra berjalan menuju sofa ruang TV dan mendudukan dirinya disana, mengganti-ganti chanel mencari acara TV yang bagus namun lagi-lagi perubahan sikap Kinara begitu menghantuinya, dengan kasar Andra pun mematikan TV dan lebih memilih memejamkan kedua matanya.
1 Jam kemudian
" Bang Andra, bang, bangun bang " Rissa mengguncang tubuh Andra yang ternyata tertidur di ruang TV.
" Eughhhh " Andra melenguh sejenak dan menggeliat namun tak juga membuka matanya.
" Ya ampun, bang cepat bangun, makanannya udah siap, aaaaaaaa " Rissa menjerit terkejut saat Andra menarik tangannya dan memeluk Rissa erat diatas pangkuannya.
" Stttt diamlah Ra, kamu ini ribut banget sih, aku masih ngantuk " Ucap Andra dengan mata terpejam.
" Aku Buk.. "
" Kalian sedang apa? " Kinara memotong ucapan Rissa dan Rissa langsung melepaskan pelukan Andra lalu berdiri dengan kaku, dia salah tingkah saat melihat wajah datar dari Kinara.
" Nara, kau salah paham " Ucap Rissa lirih
Andra pun membuka matanya dan bingung melihat suasana yang begitu canggung antara Kinara dan Rissa.
" Kalian ini kenapa? Kamu ngapain disini Sa" Andra kembali menyamankan posisinya diatas sofa, Rissa mengerang kesal pada Andra yang masih belum mengerti situasinya.
" Biarkan saja dia tidur, sebaiknya kita makan saja dulu " Ucap Kinara datar lalu meninggalkan Rissa yang memandang Kinara sendu. Setelah Kinara beranjak menuju ruang makan dengan segera Rissa membangunkan Andra.
" Bang Andraa!!! Bangun bang!! " Andra pun kembali membuka matanya.
" Eh, Rissa, kenapa? " Andra pun dengan malas mendudukan dirinya.
" Abang ini bodoh banget sih, aku yang dari tadi bangunin abang dan pas bang Andra meluk aku Kinara melihatnya, pasti dia salah paham " Andra membulatkan matanya.
" Hah? Ya Ampun!! " Andra langsung beranjak menuju ruang makan, Rissa mengekori dari belakang.
" Bang Andra udah bangun, ayo kita makan bang " Andra tak menghiraukan ucapan Dila, Andra menghampiri Kinara, saat dia ingin mengucapkan sesuatu namun dengan cepat Kinara menginterupsi.
" Duduk dan makanlah " Kinara sama sekali tak ingin memandang Andra dan itu membuat Andra menatap Kinara sedih, Rissa sendiri merasa tak enak pada Kinara hanya bisa menunduk.
" Waaaahh masakanmu benar-benar enak Justin, sering-sering saja kau memasak " Justin hanya tersenyum menanggapi Dila, Justin melihat Kinara, Andra, dan Rissa bergantian. Dia merasa ada sesuatu yang terjadi karena suasana diantara mereka begitu aneh.
Setelah selesai makan siang, mereka berkumpul diruang TV menonton film yang dibawa Dila dari rumah, semua fokus pada film itu, hanya saja Andra sesekali melirik Kinara yang duduk disampingnya, tangan Andra terulur menggenggam tangan Kinara, sebenarnya Kinara sendiri gugup saat Andra menggenggam tangannya namun Kinara mencoba tak menghiraukan Andra.
Tiba-tiba Andra menarik tangan Kinara dan mengecup punggung tangannya dan lagi-lagi Kinara tak menghiraukan meskipun debaran jantungnya semakin menjadi. Nafas Kinara semakin tercekat kala Andra menopangkan dagunya dibahu Kinara, tangan kanannya menyusup kepinggang Kinara kemudian memeluknya dari samping. Tak ada yang menyadari apa yang Andra lakukan karena mereka sibuk menonton film itu.
Kinara tetap mempertahankan diri untuk tidak menghiraukan apa yang Andra lakukan, agak risih juga saat Andra terus memandang wajahnya dari jarak sedekat itu, Kinara menyerah, akhirnya dia mencoba melepaskan diri dari Andra namun dengan sigap Andra menahannya kemudian berbisik ditelinga Kinara.
" Jangan menghindariku lagi " Kinara pun akhirnya hanya bisa diam membiarkan Andra terus menempel padanya.
Tbc~~~~
Jangan lupa vote dan komen teman-teman~~