
“Kamu membenci Ardan?” Andra mengerutkan keningnya mendengar ucapan Kinara.
“Bukan gitu! yang aku benci itu kenyataan kalau Ardan nggak mau nurut sama aku. Aku benci sama diriku sendiri. Apa aku seburuk itu memperlakukan Ardan? Aku rasa aku udah gendong Ardan dengan cara yang benar kok, aku juga gak pernah telat ngasih susu ke Ardan, aku selalu berusaha membuat Ardan nyaman sama aku” Mata Kinara mulai memerah dan tak lama pun Kinara menangis lagi.
“Ya ampun Kinara.... Ardan itu masih bayi sayang. Ardan bahkan belum bisa ngerti apa apa, yang Ardan tau ya emang susu dan poop. Mungkin karena Ardan tau daddy nya baru pulang dari bekerja seharian, jadi saat aku pulang Ardan ingin lebih dekat dengan aku.”
“Nggak! aku yakin nggak gitu! Ardan hanya mau dekat sama kamu aja”
“Sebenarnya kamu ini kenapa? jangan bilang kalau kamu cemburu sama aku karena Ardan?” Kinara menatap Andra lalu menggeleng.
“Aku juga gak tau Ndra.. aku merasa kesal, frustasi, stres, sedih, perasaan aku sekarang campur aduk, aku rasanya ingin nangis terus” Ucap Kinara lalu memeluk Andra sambil menangis
“Udah ya sayang...udah jangan nangis lagi, nanti Ardan bangun kalau kamu nangis nya kayak gitu” Andra terus mengelus punggung Kinara dan berusaha untuk menenangkan Kinara, tapi bukannya berhenti, tangisan Kinara malah berubah menjadi lebih kencang lagi dan membuat baby Ardan kaget dan menangis karna terbangun dari tidurnya.
“Tuh kan Ardan jadinya kebangun, lepasin aku dulu, biar aku nenangin Ardan sebentar”
“Nggak mau”
“Tapi Ardan lagi nangis Nara” Kinara menarik wajahnya dan menatap Andra.
“Kamu ngebela Ardan terus ya sekarang! kamu lebih perhatian sama Ardan dari pada sama aku, sekarang kamu udah lebih sayang sama Ardan dari pada aku! aku juga butuh kamu Ndra!”
“Astaga aku gak habis pikir lihat kamu Ra, bisa bisanya sekarang kamu cemburu sama Ardan karena Ardan mendapatkan perhatian dari aku?” gumam Andra sembari memijat pelipisnya. Andra menghela nafas panjang lalu Andrq memaksa Kinara untuk melepaskan tangannya. Andra berjalan mendekati box bayi lalu meraih baby Ardan untuk menggendong nya.
“Kamu mau nyusuin Ardan?”
“Ardan nggak butuh aku lagi, dia cuma butuh sama kamu” Kinara menyeka air matanya dengan punggung tangan.
“Nara....!?” Andra mengintimidasi wanita itu dengan suara rendahnya. Kinara menatap Andra sesaat lalu mengambil alih baby Ardan dari gendongan Andra dan hal itu membuat Andra tak dapat menahan senyumnya.
Andra mencium kening Kinara dengan sayangnya, kemudian Andra memutuskan keluar dari kamar mereka dan menelfon salah satu kakak sepupunya yang berprofesi sebagai dokter kandungan, Andra berpikir mungkin saja tingkah laku Kinara ini adalah efek dari hormon yang tidak stabil setelah melahirkan.
“Halo mbak? Maaf Andra menghubungi abang malam-malam gini”
“Nggak apa-apa Ndra santai aja. Ada apa nih nelfon, apa ada sesuatu sama Kinara?” Tanya kakak sepupu Andra yang sebenarnya merupakan dokter kandungan Kinara selama masa kehamilannya.
“Aku mau nanya sesuatu nih mbak tentang Kinara. Hari ini tuh Kinara aneh banget kak, pagi pas aku mau pergi ke kantor masih baik baik aja tapi pas aku pulang kantor sikapnya jadi berubah. Tadi aku pulang kantor dan ternyata Ardan itu nangis terus, Kinara udah nyoba untuk buat Ardan diam tapi Ardannya gak mau mbak, eh pas aku yang gendong Ardan, Ardannya langsung diam mbak. Kinara tiba tiba nangis mbak dia bilang dia nggak becus untuk ngurusin Ardan, Nara bahkan cemburu karna dia rasa aku lebih sayang Arda dari pada dia. Itu kenapa ya mbak? apa ada hubungan sama hormon setelah kehamilan atau apa ya mbak?
“Andraa!” Teriakan Kinara tiba tiba memanggil Andra. Dapat Andra dengar dari telfon kakak sepupunya sedikit terkekeh.
“ Kayaknya Kinara lagi kena Baby Blues Syndrome. Kamu benar ini juga di pengaruhi oleh hormon pasca melahirkan Ndra dan juga mungkin Kinara masih merasa terlalu lelah setelah melahirkan dan membuat hormonnya nggak stabil sekarang. Sebenarnya ini wajar aja kok kurang lebih 75% ibu yang baru aja melahirkan emang mengalami kayak gini, kayak orang yang lagi pms tapi dengan porsi yang lebih parah sensitifnya dan lebih mudah tersinggung.
“Andra!! Ardan mulai nangis lagi nih!” Teriakan Kinara kembali terdengar dari dalam kamar mereka.
“Bentar sayang! aku lagi telfonan!” balas Andra berteriak.
“Terus aku harus gimana ya mbak, jujur aku bingung banget ngehadapin Kinara yang lagi kayak gitu?” tanya Andra lagi.
“Kamu hanya harus ngedukung dia aja, terus kasih dia semangat dan terus ada disamping dia, kalau bisa jangan sampai kepancing emosi juga sampai memarahinya. Tenang aja sikap yang kayak gitu biasanya cuma sebentar aja, tapi Ndra kalau sampai lebih dari dua minggu sikap Kinara masih tetap kayak gitu berarti kamu harus membawa Kinara ke psikiater. Bisa jadi tahap baby blues nya udah sampai ke depresi ringan”
“Ahh… ya ampun kalau lama lama gini aku yang bisa gila mbak” Keluh Andra dan membuat kakak sepupunya kembali terkekeh.
“Oke deh mbak, aku ngerti sekarang, makasih ya mbak, maaf udah ganggu mbak malam begini, selamat malam mbak” Andra langsung menekan tombol end call setelah kakak sepupunya telah menjawab salamnya. Andra pun dengan cepat bergegas menghampiri Kinara dan baby Ardan yang sama-sama sedang menangis.
Dengan cepat namun tetap berhati hati Andra langsung mengambil baby Ardan, kemudian menimangnya sebentar lalu kembali meletakkannya di box bayi setelah baby Ardan tertidur. Kemudian kembali lagi menghampiri Kinara yang masih terisak.
“Aku buatin teh madu hangat mau ya?” Andra meraih tangan Kinara dan menggenggam nya kemudian menariknya keluar dari kamar menuju ke dapur. Setelah beberapa menit berkutat dalam pekerjaannya membuat kan teh madu hangat untuk Kinara, Andra pun duduk di kursi meja makan dan menarik Kinara untuk duduk dipangkuannya. Andra memeluk erat Kinara dari belakang.
“Aku nyebelin ya Ndra? aku cuma bisa bikin kamu repot dan pusing kan?” tanya Kinara memulai.
“Nggak sayang... jangan pernah berpikir kayak gitu, aku nggak apa apa kok”
“Menurut kamu, apa emang Ardan benci sama aku Ndra?” Andra terkekeh mendengar pertanyaan Kinara itu. Andra pun kini mulai mencium pundak Kinara dari belakang.
“Tentu aja itu nggak mungkin sayang.”
“ Kenapa kamu gak kepikiran, mungkin aja Ardan cuma nggak mau kamu kelelahan karena Ardan bisa ngerasain kalau kamu udah jagain dia seharian ini. Jadi pas aku pulang Ardan cuma mau di gendong sama aku, dan kamu jadi bisa istirahat selagi ada aku untuk gantian jagain dia" Lanjut Andra berusaha untuk memberikan pemikiran positif pada Kinara.
“ Tapi......kamu juga lebih sayang sama Ardan daripada aku sekarang"
“Aku sayang sama Ardan sebesar aku sayang sama kamu, Ardan itu bagian dari kita berdua sayang...dan pasti aku mencintainya dengan sangat besar, aku tau tanggung jawab menjadi orang tua yang baik emang nggak mudah dan kita baru belajar untuk menjalaninya, wajar kalau kamu bahkan aku belum terlalu terbiasa sama semua ini. Tapi kita harus mulai membiasakan diri untuk selalu berusaha ngasih kebahagian terbaik di hidupnya Ardan, kamu mau kan ngelakuin itu bareng aku?" Andra menatap Kinara dengan pandangan berharap, Kinara pun membalas tatapan nya lalu mengangguk dan tersenyum.
“Jangan nangis lagi ya? Aku paling nggak suka lihat kamu nangis” Kinara tertawa pelan dan mengangguk kembali, membuat Andra gemas dan memajukan wajahnya. Menyentuh bibir lembut wanita itu dengan bibirnya. Andra memberi kecupan-kecupan ringan di bibir Kinara, namun kegiatan itu tak kan bisa bertahan lama karna suara tangisan Ardan pun kembali terdengar.
“Ardan benar-benar nggak bisa ngelihat kita habisin waktu berdua, kayaknya Ardan juga pencemburu sama seperti ibunya, bahkan Ardan nggak membiarkan kita ngelanjutin ini.” Gumam Andra membuat Kinara terkekeh.
“Aku lihat Ardan dulu deh” Kinara bangkit menyingkir dari pangkuan Andra.
“Habisin dulu teh nya sayang” Kinara pun berbalik dan meraih segelas susu yang sudah disiapkan Andra, lalu meneguknya hingga habis.
“Terima kasih sayang" Kinara mengecup bibir Andra sekali lagi kemudian sedikit berlari menuju kamar untuk melihat Ardan.
.
.
Andra membuka pintu kamarnya perlahan. Matanya menatap langsung ke arah ranjang nya dan Kinara. Andra memperhatikan Kinara yang sedang menyusui Ardan. Kinara mengangkat wajahnya dan tersenyum mendapati Andra disana.
“Merasa lebih baikan?” tanya Andra dengan suara sekecil mungkin agar tak mengganggu baby Ardan yang sedang asik menikmati susunya.
“I love you.” Bukannya menjawab pertanyaan Andra tapi Kinara malah melontarkan pernyataan cintanya yang membuat senyuman Andra semakin lebar
“I love you more mommy nya Ardan” Jawab Andra kemudian mencium puncak kepala Kinara
Tbc~~~
Jangan lupa vote dan komen ya teman-teman ^_^