My Little Fiance

My Little Fiance
Terungkap



Andra memutuskan menceritakan semua masalah nya pada Bagas,  karena sekarang Andra bahkan tak tau lagi apa yang harus dia lakukan


" Apa kau gila huh? "


Bagas berdecak pinggang saat mendengar cerita Andra mengenai Rissa dan juga kesalahpahaman mereka dimasa lalu.


" Aku gak tau Gas, aku ngerasa bingung sekarang " Andra mengacak-acak rambutnya frustasi.


" Jangan bilang kau akan meninggalkan Kinara untuk mengejar Rissa " Bagas menyipitkan matanya memandang Andra curiga.


" Aku gak tau " Jawab Andra sambil menunduk lesu.


" Andra, berpikirlah jernih, kau yakin akan melepas Kinara yang sudah 8 tahun kau kejar demi seseorang yang baru masuk kedalam kehidupanmu? " Andra menatap Bagas tajam.


" Dia bukan orang baru untukku! dia cinta pertamaku! Orang yang pertama kali aku temui ditaman itu! " Ucap Andra marah, Bagas berdecih.


" Lalu satu tahun kebersamaanmu dengan Kinara kau anggap apa? " Tanya Bagas dengan nada sinis dan itu membuat Andra bungkam.


" Jangan sampai kau menyesal melepas Kinara nantinya, pikirkanlah siapa yang selama ini yang selalu berada disisimu, jangan terlalu terlarut dalam masa lalumu itu, sadarilah siapa yang benar-benar kau cintai sebelum kau menyesal nantinya" Setelah itu Bagas beranjak meninggalkan Andra yang hanya bisa diam mendengar ucapan Bagas.


.


.


Andra menunggu Kinara dan Rissa keluar dari sekolahnya, tak lama munculah Dila, Rissa, dan juga Justin. Mereka menghampiri Andra.


" Kinara dimana? " Tanya Andra saat tak melihat Kinara bersama mereka.


" Nara udah pulang sejak tadi, katanya dia ingin ke toko buku dulu, tadi dia dihukum karena melamun dikelas jadi dia disuruh mengumpulkan tugas dengan mencari bahannya dari buku lain selain buku sekolah, bang Andra gak lihat Nara pas datang tadi? " Tanya Dila, Andra menggelengkan kepalanya.


" Nggak, aku baru saja sampai, yasudah kalau begitu, Rissa ayo abang antar pulang " Rissa tampak sedikit ragu kemudian melirik kearah Justin.


" Justin, kau pulang sendiri? Dila kan sebentar lagi dijemput pacarnya " Rissa berharap Justin mau pulang bersamanya dan Andra. Justin menggelengkan kepalanya.


" Nggak, aku akan langsung kerumah sakit jadi kau pulang saja dengannya " Andra pun langsung menggenggam tangan Rissa.


" Ayo kita pulang sekarang, Dila abang duluan ya" Dila hanya mengangguk sambil menatap heran tautan tangan Andra pada Rissa, Justin juga merasakan keanehan yang sama.


" Apa kau memikirkan hal yang sama seperti aku pikirkan? " Tanya Justin pada Dila setelah Andra dan Rissa sudah menjauh.


" Iya, terlalu aneh memang, tapi kita gak boleh berpikiran yang gak bener, siapa tau bang Andra kayak gitu karena tahu Rissa kan sepupu Kinara" Justin tampak menghela nafasnya.


" Iya, semoga aja itu tak terjadi "


" Sayang!" Dila menoleh kearah Bagas yang terlihat berlari kearahnya.


" Maaf aku sedikit terlambat, kamu uudah lama nunggu aku? " Dila menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


" Nggak kok, aku baru aja keluar, yok kita pergi, Justin aku duluan ya, byee " Justin tersenyum pada Dila dan Bagas.


" Kami duluan yah " Pamit Bagas kemudian menggandeng tangan Dila menuju mobilnya. Justin pun langsung berjalan menuju halte Bus menuju rumah sakit.


.


.


" Hah? abang serius? bang Andra bilang gitu?"


Bagas dan Dila sedang makan siang di sebuah cafe dan sambil menunggu pesanan datang Bagas pun menceritakan soal Andra dan Rissa pada Dila.


" Iya, aku juga terkejut dengarnya " Dila menggeleng tak percaya.


" Pantas aja sikap bang Andra gitu banget ke Rissa " Bagas mengerutkan keningnya mendengar celetukan Dila.


" Maksud kamu apa sayang? " Dila tampak membenarkan posisi duduknya kemudian mencondongkan tubuhnya kearah Bagas.


" Andra itu benar-benar, dan jangan sampai dia melakukan tingkah bodoh, dia hanya merasa bimbang aja, tapi abang yakin kalau dia sangat mencintai Kinara " Dila mengangguk setuju, namun tiba-tiba dia teringat sesuatu.


" Astaga bang, tadi bang Andra ngantarin Rissa pulang bahkan mereka pegangan tangan " Bagas membulatkan matanya terkejut mendengar itu.


" Memangnya Kinara kemana? Kenapa dia biarin mereka pulang berdua? "


" Kinara pulang duluan karena harus ke toko buku, dia dihukum karena melamun dikelas, bahkan dia kelihatan lesu banget hari ini, aku yakin dia merasakan keanehan bang Andra kemarin " Bagas tampak geram mendengar cerita Dila.


" Lihat aja kalau Andra sampai menyakiti Kinara, aku akan menghajarnya, anak sepolos Kinara pasti akan sangat rapuh jika disakiti " Dila lagi-lagi setuju dengan pendapat Bagas.


" Kejadian kemarin aja udah buat Kinara jadi murung apalagi kalau bang Andra menyakitinya lebih parah dari kemarin, aku gak tau apa yang akan terjadi, dan semoga itu gak terjadi " Bagas mengamini ucapan Dila, semoga saja itu tak terjadi.


.


.


" Bang, apa gak sebaiknya kita menghubungi Kinara? siapa tahu dia masih di toko buku, dia bisa menyusul kemari untuk makan siang bersama " Rissa dan Andra berada di Blue Cafe untuk makan siang bersama, saat di mobil tadi Andra tiba-tiba mengajak Rissa mampir untuk sekalian makan siang.


" Kurasa Kinara sudah pulang ke apartemen, sebaiknya kita makan saja dulu setelah itu abang akan mengantarmu pulang, sekarang kamu makan dulu makananmu itu " Rissa pun memakan makanannya dnegan lahap, Andra terkekeh melihat cara makan Rissa.


" Kamu ini, makan pelan-pelan, jangan berantakan, seperti Kinara saja "


Rissa hanya menyengir tak jelas, Andra terus menantap Rissa dengan intens, sebenarnya sejak tadi dia ingin menanyakan soal kejadian 8 tahun lalu namun sedikit ragu.


" Bang, kenapa makanannya gak dimakan? Kenapa malah natap aku kayak gitu? " Andra tersadar dengan tingkah bodohnya kemudian menggaruk tengkuknya salah tingkah.


" Hmm Rissa, abang ingin bertanya sesuatu padamu, apa boleh? " Rissa menatap Andra sejenak kemudian menganggukkan kepalanya sambil melanjutkan makan siangnya.


" Hmm, kamu ingat tidak 8 tahun lalu, di taman deket rumah Kinara, dua hari sebelum kau berangkat ke Korea, kamu nabrak cowok sampai kalung kamu tersangkut di baju cowok itu? " Andra menatap was-was kearah Rissa yang sedang berpikir keras.


" Ah, yang sampai bajunya robek itu? Kenapa abang tahu? Aku aja hampir lupa " Andra tersenyum senang saat tahu Rissa sudah mengingatnya.


" Apa kamu gak ingat wajah cowok itu? " Rissa menggeleng kan kepalanya.


" Nggak, kejadiannya sudah lama sekali, memangnya kenapa bang? " Tanya Rissa penasaran, Andra tampak gugup, Andra mengepalkan tangannya dibawah meja.


" Hmm sebenarnya cowok itu adalah bang " Rissa membulatkan matanya tak percaya.


" Eh beneran? Waahh dunia ini sempit banget ternyata hahaha " Andra bernafas lega saat sudah mengatakan hal itu pada Rissa.


" Dari dulu aku selalu menanti saat-saat bertemu denganmu kembali, namun aku gak nyangka kita ketemu dengan cara seperti ini " Ucapan Andra yang lirih membuat Rissa sedikit bingung dan merasa aneh namun dengan segera dia menepis pikirannya itu jauh-jauh.


" Yang penting kan kita udah ketemu bang, jangan pikirkan yang lainnya " Rissa memberikan cengiran tak jelasnya, Andra terkekeh kemudian mengelus kepala Rissa dengan lembut.


" Kamu benar, mari mulai sekarang kita ukir banyak kenangan" Rissa tampak bingung maksud Andra namun dia tetap menganggukan kepalanya.


" Mari lanjutkan makaaaaaaan " Rissa kembali menyantap makanannya, Andra pun ikut menyantap makanannya dengan lahap sambil memandang Rissa.


Tak jauh dari mereka seseorang tergesa-gesa keluar dari cafe itu, niatannya untuk makan sirna setelah mendengar percakapan mereka. Yah orang itu Kinara, tadinya dia berencana untuk makan siang, namun saat melihat Andra dan Rissa niatnya ingin menghampiri tapi saat mendengar percakapan mereka tadi membuatnya mengurungkan niatnya. Kinara berlari menuju halte bus, dia duduk di Halte sambil meremas seragam sekolah bagian dadanya. Air matanya mengalir kala merasakan nyeri itu.


" Apa kamu salah mengira waktu itu Ndra? Apa Rissa orang yang seharusnya menjadi tunangan kamu? Hikksss aku harus bagaimana "


Kinara menunduk sambil terus meremas seragam sekolahnya. Perasaan takut dan kalut menyergap hatinya, pikirannya mencerna-cerna bagaimana kalau dugaannya benar? Bagaimana kalau Andra meninggalkannya? Bagaimana jika dia harus hidup tanpa Andra lagi? Pikirannya juga dipenuhi dengan kata kalau, kalau saja dia lebih dulu bertemu dengan Andra, kalau saja Rissa tak kembali ke Indonesia, kalau saja semua ini tak pernah terjadi, dan kalau saja dia bisa memutar waktu kembali, tentu dia akan memohon pada Tuhan agar dirinyalah yang dipertemukan pertama kali dengan Andra, bukan sepupunya.


Kinara bangkit dari duduknya dan berjalan dengan gontai meninggalkan halte bus, biarlah kakinya membawa dia pergi sejauh mungkin berharap saat pulang nanti seluruh beban hati dan pikirannya ikut tertinggal dan menghilang diperjalanan.


.


.


Tbc~~~


Jangan lupa vote dan komen ya teman-teman ^_^