
“surat perjanjian pra nikah”
“Untuk apa? ” Aleysia menatap tak percaya pada selembar kertas yang penuh dengan tulisan itu.
Peraturan
Larangan
Hal yang boleh dilakukan
Sanksi jika melanggar
Aleysia meletakan surat bermatrai itu disisi kiri meja. Ia tidak berniat membaca atau mengetahui isinya. Matanya lebih tertarik untuk memandang Bryan yang masih berkutat pada ponselnya. Wajah datar dan dingin itu tak tampak mengeluarkan ekspresi.
“Kita menikah bukan karena cinta, melainkan keterpaksaan. Kau perlu uang, dan aku juga tak ingin kehilangan uangku. Kita saling membutuhkan untuk keuntungan masing-masing” Bryan meletakan ponselnya. Sorot matanya tajam membalas tatapan gadis itu.
“Kenapa harus ada peraturan, larangan bahkan sanksi... kita hanya akan menikah selama bebe..”
“Kita akan menikah seumur hidup”
Ucapan Aleysia terputus ketika suara berat bryan memotong ucapannya.
“Tidak mungkin. Isabelle hanya mengatakan jika aku hanya akan menikah beberapa bulan denganmu”
Alesya menaikan suaranya. Gadis itu melayangkan protes dengan berdiri sok berani.
Bryan tak langsung menjawab, ia hanya memandangi Aleysia yang berdiri nampak emosi. Gadis 18 tahun dengan Ekspresi emosi yang mudah ditebak. Meledak-ledak dan selalu berpikir pendek.
“Kau menuruti Perintah Isabelle? Kau melakukan perjanjian apa saja dengannya?”
“Apa yang Isabelle berikan dan janjikan untukmu. Hingga kau mau menuruti perintahnya? Rumah, mobil, uang, perhiasan... apa lagi?”
Aleysia menyembunyikan keterkejutannya. Ia memilih duduk kembali dan membuang wajahnya. Pikirannya melayang kemana-mana. Benar, apa yang diberikan Isabelle padanya. Wanita itu menjanjikan pengobatan dan biaya rumah sakit untuknya. Hanya itu...
“Asal kau tahu, Isabelle dan ayahku hanya memanfaatkanmu. Mereka memanfaatkan situasimu untuk menikah denganku. Kau hanya digunakan sebagai jembatan untuk mengambil warisan kakek yang harusnya jatuh padaku”
“maksudmu?” Aleysia melembutkan suaranya. Ekspresinya berubah, antara bingung dan tidak paham.
“kalau aku menolak menikah maka semua warisan kakekku akan disumbangkan pada badan amal. Sedangkan jika aku bercerai Ayahku yang akan mendapatkan warisan.
“Tapi... aku tidak mungkin menikah selamanya denganmu. Aku masih...”
“Kau masih mengharapkan John, mantan pacarmu yang selingkuh itu” Bryan tertawa mencibir
Ucapan Aleysia kembali terpotong. Bryan, seperti tahu isi pikirannya. John pikirannya berkecamuk ketika meningat nama itu. Antara rindu, benci dan masih berharap mewarnai hati Aleysia pada nama itu.
“ Kau hanya memiliki dua pilihan. Menikah denganku dan menuruti semua perintahku atau menikah denganku dan menuruti apa yang Isabelle dan ayahku perintahkan dan.... “ Bryan menggantung ucapannya, membuat Aleysia tak sabaran
Aleysia menunduk dengan mata yang berkaca-kaca. Dua pilihan, ya dua pilihan yang pria itu berikan. Namun tak ada satupun yang akan menguntungkannya. Yang jelas iya harus menikah dengan pria itu. Aleysia menitikan air matanya yang sudah berusaha ia tahan sejak tadi. Ini kesalahannya, ia sendiri yang membawa langkahnya pada keluarga Dickinsson. Ia yang memutuskan untuk menerima perjanjian dengan Isabelle. Tetapi ia juga mulai terperangkap dengan Bryan. Pria itu mengancamnya, tak ada bantahan untuk Aleysia menyetujui pernikahan itu. Harusnya ia berpikir lebih panjang ketika Isabelle dengan mulut manisnya itu merayunya untuk menyetujui perjanjian untuk menikah dengan Bryan. Ah tapi situasi memang sangat buruk saat itu, neneknya perlu pengobatan. Nasi telah jadi bubur. Menyesal sekarang tidak akan ada gunanya.
“sudah memutuskan?”
Aleysia terhenyak dari pikirannya. Buru-buru ia menghapus air matanya. Dan mencoba menghembuskan nafasnya lebih teratur. Biasanya cara itu akan ampuh untuk menahan air matanya ketika ia menangis.
Aleysia mengalihkan pandangannya pada dinding kaca restoran. Lalu mulai terlintas niat konyol diotaknya. Gadis itu berdiri dengan cepat, dengan langkah lebar ia berhasil menyentuh pintu kaca bewarna bening itu.
Nafasnya memburu...kakinya mulai lemas hanya dengan lari beberapa meter dari tempat ia tadi duduk.
Krek... sial pintu itu terkunci. Niat untuk kabur dari Bryan sepertinya tak semudah banyangannya. Padahal baru beberapa menit yang lalu ia jelas melihat seorang pelayan baru saja melewati pintu itu. Kenapa sekarang terkunci.
Aleysia bergidik, ia sedikit merinding saat hembusan nafas berat berhembus disekitar tengkuknya. Dengan posisi tubuh yang masih sama, menghadap pintu. Ia bisa merasakan jika Bryan sedang berada dibelakangnya. Gadis itu panik. Lututnya hampir saja lunglai jika saja pintu bening didepannya itu tak memiliki gagang yang dapat dijadikannya pegangan. Ia tidak dapat kabur karena sekarang pintu itu terkunci, juga tidak dapat berbalik karena pria itu jelas sedang berada dibelakangnya.
“Kau mau kabur kemana huh...” Bentakan Bryan membuat Aleysia mengeratkan cengkramnya pada gagang pintu. Keringat menetes dari dahinya. Sungguh... ia benar-benar takut sekarang. Apa ia pura-pura pingsan saja ... pria itu mungkin saja akan kasihan. Setidaknya ia akan terlepas dari situasi mencekam seperti ini.
Grebbb...
Bryan memutar tubuh Aleysia dengan paksa. Mengunci tubuh gadis itu dengan dua lengan besarnya. Sekarang mereka saling berhadapan. Hanya berjarak beberapa senti, Aleysia dapat melihat dengan sangat jelas jika Bryan menatapnya penuh ancaman. Rahang pria itu mengeras menandakan jika ia benar-benar marah.
“kau sendiri yang menyetujui perjanjian ini. Dan sekarang kau berusaha kabur dariku”
“Maaf... tapi aku sepertinya tidak bisa melanjutkan perjanjian konyol ini. Isabelle hanya menjanjikanku untuk menikah denganmu beberapa bulan. Aku tidak mau menikah seumur hidup denganmu..tidak!!” Aleysia berteriak histeris, dengan tenaga yang tersisa ia mencoba mendorong Bryan menjauh dari tubuhnya.
Akkhhh... gadis itu menjerit, bukan tubuh Bryan yang terdorong melainkan lengan Aleysia yang sekarang di cengkram kuat oleh pria itu. Aleysia terisak, cengkraman Bryan begitu kuat. Ia berusaha memukul dada pria itu. Dan sekali lagi Aleysia meringis merasakan cengkraman pria itu semakin kuat di lengannya.
“Kau tahu kenapa Isabelle mengatakan padamu jika kau hanya akan menikah denganku beberapa bulan? karena itulah tujuan mereka sebenanya. Mereka ingin aku bercerai, dan seluruh harta kakek akan jatuh kepada Ayahku. Dan itu artinya Isabelle berkesempatan menikmati harta ayahku. Dan aku... aku akan jatuh miskin tanpa sepeserpun harta. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi”
Aleysia mematung, butiran bening masih mengalir di wajahnya. Tatapan tajam Bryan seperti sedang menusuk jantungnya.
Akkhhh....
“Lepaskan aku...lepas...”
Aleysia berteriak nyaring, Bryan meremas lengannya kuat dan menarik gadis itu menuju mobilnya.
“Lepaskan tanganku Bryan...”
Aleysia memukul Bryan dengan sebelah tangannya. Suara gadis itu mulai serak. Sungguh ia takut. Belum menikah saja Bryan sudah sekasar ini padanya. Bagaimana jika ia harus hidup selamanya dengan pria itu.
“Masuk!!” perintah Bryan sambil mendorong paksa tubuh Aleysia memasuki mobilnya...
“Kau akan membawa ku kemana?” Aleysia memberanikan diri bertanya tanpa menatap wajah Bryan. Ia mengusap lengannya yang memerah akibat remasan pria itu.
“Kerumahku. Aku ingin memastikan kau tidak akan berniat kabur lagi dariku”