My Husband is Billionaire

My Husband is Billionaire
Chapter 32



Hari hampir malam ketika Bryan dan Aleysia memutuskan untuk pulang dari liburan dadakan mereka. Setelah berganti pakaian basah dengan pakaian yang ternyata telah di siapkan oleh Bryan, Keduanya kemudian menaiki mobil dengan kecanggungan yang begitu terasa. Entah apa yang sedang berada dalam relung pikiran mereka masing-masing hingga menyisakan kebisuan . Padahal beberapa saat yang lalu mereka sudah melewatkan waktu bersama dengan kedekatan yang mungkin tak pernah mereka duga sebelumnya.


“Ehm…” Bryan akhinya membuka suara dengan  deheman cukup panjang. Pria itu sepertinya sudah tak mampu untuk membiarkan rasa canggung yang melingkupi keduanya


Aleysia menoleh singkat lalu kembali fokus menatap jalanan beraspal yang sedang mereka lewati. Gadis itu cukup kebingungan bagaimana cara menanggapi Bryan yang sepertinya sedang memancing reaksinya untuk memulai percakapan.


Pipinya terasa merah jika mengingat apa yang  sudah mereka lalukan di Pantai.


Flash back


Bryan menarik Aleysia semakin ke tengah pantai. Pria itu memegang tangan Aleysia dan mereka saling bertatapan. Dengan tubuh yang memanas dan jantung yang berdebar mereka semakin mendekat satu sama lain. Hinga jarak  itu hampir mengikis tubuh mereka dan  hanya menyisakan hembusan nafas panas keduanya. Hampir saja Bryan mendaratkan bibirnya pada gadis itu,


Byurrr….


Ombak besar menghantam ke duanya…


Aleysia terpental hampir terbawa ombak. Untung saja Bryan dengan sigap menggapai tubuh gadis itu dan menariknya ke sisi pantai. Gadis itu  bahkan terbatuk-batuk karena terminum air laut.


***


“Apa yang sedang kau  pikirkan?” Setelah mempertimbangkan sesaat, akhirnya Bryan memutuskan untuk bertanya.


“Ti..tidak ada” Aleysia berbicara dengan gugup menanggapi pertanyaan Bryan


“Lalu?kenapa kau diam saja sejak tadi?” Bryan memelankan mobilnya. Mereka sudah berada di tengah kota sekarang.


“Maafkan aku. Harusnya aku tak menarikmu ke tengah pantai tadi, hingga menyebabkan kau hampir terseret ombak besar “ Bryan merubah ekspresi wajahnya menjadi  muram.


“Tidak perlu cemas, aku baik-baik saja” Aleysia tersenyum tipis berusaha meyakinkan pria itu jika dirinya baik-baik saja. Lagi pula itu juga bukan kesalahan Bryan, ia mungkin hanya cukup sial saja hari ini.


“Apa kau lapar?” Bryan  bertanya lagi. Pria itu berusaha mengubah topik pembicaraan yang membuat mereka semakin terlihat canggung.


Aleysia mengangguk dengan pasti tanda mengiyakan pertanyaan  pria itu. Seingatnya mereka hanya  makan sekali sebelum pergi ke pantai. Dan ketika hari sudah hampir menginjak malam ini tak ada satupun yang masuk ke dalam perutnya.


“Baiklah. Ayo kita makan!”


***


Setelah memarkirkan mobilnya, Bryan  langsung mengajak Aleysia untuk memasuki restoran. Keheningan langsung merayapi pikiran gadis itu, ketika Restoran bintang lima yang  mereka masuki sekarang tak terlihat satupun pengunjung. Hanya deretan meja-meja kosong yang tertata rapi di sepanjang jalan yang mereka lewati.


Aleysia mempercepat langkahnya ketika Bryan ternyata sudah berjalan cukup jauh mendahuluinya.


“Selamat datang Tuan Bryan. Saya Rose manager restoran ini” seorang wanita cantik bertubuh tinggi semampai menyambut kedatangan mereka. Wanita cantik itu tersenyum mempesona dengan gerak  langkahnya yang di buat-buat untuk memperlihatkan  belahan rok mininya.


Wanita cantik itu memperkanalkan dirinya dengan hormat sembari mempersilahkan Bryan untuk duduk di tempat yang telah di persiapkan. Tidak lama kemudian para pelayan berdatangan membawa hidangan  pembuka yang kemudian di sajikan diatas meja.


Aleysia memperhatikan menu makanan yang tersaji. Semuanya terlihat begitu lezat dengan aroma harum masakan yang menguar memasuki indra penciumannya. Namun, sesaat  kemudian gadis itu tertegun.


Bukankah mereka belum memesan makanan sebelumnya?


“Aku sudah memesan tempat ini sebelumnya. Aku pemegang saham terbesar di restoran ini!” Bryan berusaha menjelaskan ketika membaca  ekspresi wajah Aleysia yang terlihat bingung,


Harusnya Aleysia sudah dapat menebak sebelumnya. Bryan tak mungkin akan makan di tempat sembarangan. Bahkan pria itu juga pasti memesan satu restoran hanya untuk makan malamnya.


“Ini hidangan andalan restoran kami Tuan. Sajian ini di hidangkan dengan bahan-bahan berkualitas tinggi dan di masak oleh koki berlesensi. Anda akan sangat menikmati  sajian makan malam anda” Bryan mengernyitkan alisnya ketika wanita bernama  Rose itu belum juga beranjak dari tempatnya berdiri sekarang. Wanita itu bahkan tersenyum  penuh pesona ketika menatap Bryan.


“Terimakasih atas sambutan anda Nona Rose. Kami akan segera menikmati hidangan ini” seperti biasa Bryan selalu menampilkan sikap dinginnya. Pria itu bahkan tak tersenyum sedikitpun dan malah mengusir wanita itu secara halus.


Tapi, bukannya pergi. Wanita bernama Rose itu malah berjalan mendekat ke arah Bryan.


“Aku juga bisa membantu anda untuk makan. Bahkan untuk menyuapi anda sekalipun” Rose mengerlingkan mata dengan sikap merayu yang nyata. Wanita itu  bahkan terang-terangan menyentuh  jemari Bryan dan memberikan elusan lembut di sana. Dengan sigap Bryan menarik jemarinya, lalu membalas dengan tatapan tidak senang kepada wanita itu.


Rose nampak tergagap, namun dengan cepat kembali berhasil menguasai dirinya. Wanita membenarkan posisinya berdirinya lalu kembali tersenyum ramah penuh kekaguman pada Bryan.


“Sepertinya anda sedikit malu pada sekretaris anda tuan Bryan” Rose melirik pada Aleysia yang nampak bingung


Bukannya senang, Bryan terlihat muak dengan desahan nafas berat yang menguar jelas. Ia bukannya tidak paham dengan isyarat yang di berikan oleh Rose. Tapi entah mengapa gadis itu terlihat menjijikan di matanya. Apalagi dengan sikap menggoda dan suara serak yang sengaja di buat-buat oleh wanita itu membuatnya hampir tak berselera makan lagi.


Bryan memiringkan kepala sejenak, mengawasi Aleysia dengan ekspresi bingung dan tercengang. Sama seperti dirinya, bahkan gadis itu belum menyentuh sedikitpun hidangan pembuka yang berada di atas meja.


“Mohon maaf Nona Rose. Aku kemari hanya untuk menikmati makan malam. Tidak lebih dari itu. Ku harap kau berperilaku  lebih sopan!” Bryan melambatkan kalimatnya dengan penuh penekanan dengan tatapan tajam yang langsung mengarah kepada Rose.


“Dan satuhal lagi. gadis di sebelahku ini, bukanlah sekretarisku. Ia istriku” Bryan merangkul Aleysia untuk mendekat ke arahnya. Lalu meletak lengannya di pinggang ramping gadis itu.


Rose nampak terkejut luar biasa tak menduga jika gadis yang berada di sebalah Bryan itu adalah istri pria itu. Ia memang pernah mendengar jika Bryan telah menikah. Tapi, ia sama sekali tak menduga jika pria sekelas Bryan akan menikahi gadis seperti Aleysia. Gadis itu jauh di bawahnya. Tidak menarik bahkan tak bisa berdandan sama sekali. Bagaimana bisa Bryan yang ia anggap mempesona tertarik untuk menikahi gadis yang berada di bawah standart menurutnya. Harusnya Pria seperti Bryan berpasangan dengan wanita yang pantas. Seperti dirinya mungkin.


Berbeda dengan Rose, Aleysia nampak terkesiap. Sentuhan Bryan yang berada di tubuhnya itu membua dirinya terasa kikuk.


“Istri anda? Ini tidak mungkin! Sepertinya anda sedang bercanda tuan Bryan” Rose terkekeh berusaha menyembunyikan sikap keterkejutannya. Ia masih tidak dapat menerima, gadis yang berada di sebelah Bryan adalah istri pria itu.


Cup


Bryan mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir Aleysia dengan senyuman menggoda kepada Aleysia. Lalu kembali menatap Rose dengan percara diri.


“Apa kau sekarang sudah yakin Nona Rose? Atau  kau ingin aku menunjukan hal-hal lain yang seharusnya tak perlu ku pertontonkan di tempat umum?”


Rose mematung seketika. Ia sekarang tidak dapat menyanggah ucapan Bryan lagi. Ia bahkan kehabisan kata-kata sekarang untuk hanya sekedar meninggalkan Bryan dan Aleysia yang sedang bersamaan menatapnya. Rasa kecewa bercampur malu meliputi pikiran wanita itu. Ia tak pernah di tolak sebelumnya. Semua Pria menyukainya. Namun kali ini berbeda, pria yang sebenarnya sudah lama ia kagumi itu bahkan tak menampakan rasa tertarik sedikitpun padanya. Bahkan pria itu nampak merasa risih dan tak nyaman ketika ia menawarkan diri untuk bersikap mendekati.


“Jika kau sudah tidak ada keperluan lagi, bisakah kau segera tinggalkan kami. Istriku sepertinya hampir tidakbernafsu lagi untuk makan karena kehadiranmu di sini” kalimat yang bersisi pengusiran secera terang-terangan itu membuat wajah Rose memanas dan di liputi rasa malu.


Dengan berusaha menundukan kepala sekedar untuk bersikap hormat, gadis itu pamit pergi dengan langkah kaki yang  sengaja ia hentakan cukup keras, menandai rasa marah yang menjalar di ubun-ubun wanita itu.


***


Dengan langkah kaki lebar Aleysia berjalan dengan terburu-buru meninggalan restoran. Gadis itu bahkan tak mau menoleh pada Bryan yang memanggil-manggil namanya. Setelah menyantap setengah hidangan utama yang membuat dirinya menahan diri untuk tidak menendang bokong pria itu karena marah. Aleysia akhinya memutuskan untuk pergi. Sikap Bryan yang  menjadikan dirinya sebagai umpan untuk memancing kemarahan manager restoran bernama Rose itu membuatnya sangat kesal. Terlebih perlakuan Bryan yang seenaknya mencium dirinya di depan umum hanya agar Rose pergi menjauh.


“Aleysia… Aleysia..” Bryan mengulang panggilannya. Namun gadis itu sudah menetapkan hatinya untuk tidak menoleh  sedikitpun dan semakin mempercepat langkahnya


Prankkkk


Bunyi piring yang terjatuh menghentikan  langkah  kaki gadis itu. Piring kotor berisi sisa makanan itu berhamburan di lantai.


“maa…maafkan aku”


“hati-hati pecahan piring itu bisa mengenai tubuhmu”


Aleysia mendongak. Ia kenal dengan suara ini


“Brave…”


“Aleysia..” sama seperti Aleysia, Brave nampak terkejut dengan hadirnya gadis itu  di restoran ini


“Apa yang yang terjadi? Kau tidak apa-apa?” Bryan yang tiba-tiba datang dari belakang. Langsung menarik tubuh Aleysia ke arahnya. Pria itu memperhatikan tubuh gadis itu dengan cemas.


“menjauh dariku!” Aleysia menepis tangan Bryan yang  memegangi pundaknya


“Hei.. ada apa denganmu? Kau ingin kita pulang?”


“Ayo kita pulang sekarang” Bryan menarik lengan Aleysia agar gadis itu mengikutinya


“Lepaskan aku” Bryan menghentikan langkahnya. Pria itu membalikan tubuh ketika Aleysia ternyata bertentangan keinginan dengannya


“Aku tidak ingin pulang bersamamu?”


“Brave… ! bisa kau antar aku pulang sekarang!” Aleysia menarik lengan Brave dan tanpa dengan persetujuan pria itu pergi dengan cepat. Meninggalkan Bryan yang berdiri mematung menatap punggung Aleysia yang semakin menjauh.


Please beri like dan komentar ya. ...