My Husband is Billionaire

My Husband is Billionaire
Chapter 30



Aleysia yang kalang kabut dengan teriakan Bryan yang berada di dekat gendang telinganya langsung saja bangkit dari tubuh pria itu. Ia turun dari tempat tidur dan menatap penuh rasa bersalah pada pria itu. Wajah Bryan dan sebagian tubuh pria itu basah kuyup. Untung saja itu adalah air hangat bukan air panas yang pastinya akan membuat wajahnya melepuh.


“ma..maaf” Aleysia berkata terbata dengan ke dua tangannya yang mengepal persis seperti orang yang sedang meminta maaf. Wajah gadis itu semakin cemas ketika Bryan melayangkan decakan kesalnya dengan mata tajam yang memicing ke arah gadis itu.


“Oh Tuhan, aku bisa cepat mati kalau seperti ini” Bryan mengerang frustasi. Pria itu menyapu wajahnya kasar dengan telapak tangan lalu beralih menarik rambutnya yang basah oleh air.


“Apa kau tidak bisa melakukan hal yang benar huh? Semua yang kau lakukan selalu saja membuat kesialan untukku!” ucap Bryan dengan nada mengejek ketika pria itu memfokuskan tatapannya pada Alesya.


Aleysia diam, gadis itu memilih bungkam. Menyadari kecerobohannya sendiri. Bukannya membantu Bryan mengurangi nyeri pada perutnya, gadis itu malah melakukan hal sebaliknya, membuat pria itu basah kuyup dan bertambah kesal. Tapi kecerobohan itu bukanlah keinginannya. Hal itu tidak selaras dengan niatnya semula yang ingin membantu pria itu.


“Aku hanya berusaha membantu, tapi kecerobohanku ternyata membuat sebaliknya…” Aleysia sedikit membela diri


“Andai saja, kau menuruti tawaranku untuk membantumu… mungkin air hangat itu tidak akan jatuh menimpamu ta…!” Aleysia memelankan suaranya sambil terus menunduk. Sepertinya hatinya mulai bertolak belakang untuk menerima tuduhan pria itu, jika semua hal yang di lakukannya itu selalu saja membuat kecerobohan.


“jadi kau pikir ini salahku…” Bryan menyela dengan cepat di sertai seringaian tajam yang membuat gadis itu kehilangan kata-kata.


Aleysia tidak membantah ucapan Bryan. Gadis itu memilih diam saja sekarang. Lapi pula ini juga sudah terlalu malam jika harus ia habiskan dengan berargumen dengan pria itu yang mungkim tidak akan ada habisnya.


“Kau mau kemana?” Aleysia mengernyit, Bryan membalikan tubuhnya dengan cepat meninggalkannya masuk ke ruang pakaian. Bunyi pintu yang tertutup dengan keras itu nyatanya berhasil membuat Aleysia terperanjat memegangi dadanya. Beberapa menit kemudian pria dengan wajah yang nampak kusut dan berantakan itu keluar dari ruang pakaian lalu melangkah menuju kamar mandi.


Dari kejauhan, Aleysia dapat menangkap ekor mata Bryan yang menatapnya tajam seolah-olah berkata ‘semua ini karena ulahmu’.


Melihat Bryan yang sudah hilang di balik pintu kamar mandi, Aleysia mengambil kesempatan untuk segera pergi ke kamarnya. Gadis itu berencana untuk segera membersihkan tubuhnya dengan mandi lalu melepas penatnya dengan tidur.


Aleysia menempatkan tubuhnya di bawah shower membiarkan dirinya basah oleh guyuran air hangat yang membasahi puncak kepala hingga ujung kakinya.


Setelah cukup membersihkan diri, Aleysia keluar dari kamar mandi. Gadis itu segera mengeringkan tubuhnya dan mengganti handuk mandinya itu dengan piyama tidur.


Baru saja gadis itu ingin melangkah menuju kasur, tiba-tiba sebuah bunyi tertangkap pendengarannya. Langsung saja gadis itu melirik ke arah pintu kamarnya dengan ragu. Seingatnya ia sudah mengunci pintu itu sebelum mandi tadi.


Aleysia mengawasi pintu kamarnya dengan cemas, hingga beberapa detik kemudian Bryan muncul dari balik pintu dengan piyama tidurnya.


“Ada apa…?” Suara Aleysia terdengar kaget di liputi rasa cemas ketika pria itu masuk dan kemudian menutup pintu kamarnya. Bayangan kejadian yang lalu ketika Bryan memperkosanya membuat Aleysia bergidik takut.


“Aku akan tidur di kamar ini!” jawaban Bryan yang tanpa basa-basi membuat Aleysia melangkah mundur. Ketakutan mulai melingkupi jiwanya ketika pria itu semakin mendekat kearahnya yang berada diujung dinding kamar.


“Tempat tidurku basah dan aku tidak dapat istirahat di sana” Bryan melanjutkan kalimatnya ketika menyadari perubahan raut wajah gadis itu.


“Disini? Di kamar ini? Bukankah kau memiliki banyak kamar lain yang bisa kau gunakan untuk tidur? ” Aleysia berusaha mengusir secara halus.


“ Aku tidak biasa tidur di kamar tamu!” Bryan menarik selimut dan memasukan tubuhnya dengan cepat ke dalam selimut. Pria itu mulai memejamkan mata dan meringkuk di dalam selimut tebal.


“kau bisa tidur di kamar tamu!”


“Atau…jika kau berminat, kau bisa tidur di sebelahku”


Bryan menepuk tempat tidur di sebelahnya dan menyambung kalimatnya dengan nada sensual yang ia buat-buat. Aleysia menggeleng dengan mulutnya yang berdecak kesal. Tanpa menunggu reaksi Bryan, gadis itu berjalan cepat menuju pintu dengan langkah kaki yang menghentak keras menyentuh lantai.


****


Bryan terbangun dengan sinar matahari yang hangat mengenai wajahnya. Pria itu membuka mata dan menarik nafasnya berulang sebelum memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur. Ini adalah hari Minggu, ia tidak bekerja. Pria itu memutuskan untuk bersantai dan mengembalikan staminanya yang kemarin hampir terkuras habis karena sakit dibagian lambungnya. Meskipun tidak bisa sepenuhnya ia sebut dengan bersantai, karena ada beberapa laporan yang belum ia selesaikan karena pulang lebih awal dari jam pulang kerjanya kemarin.


Bryan hampir saja mengambil posisi duduk dan ingin segera menarik kakinya dari tempat tidur. Namun niatnya terhenti ketika menyadari sebuah tangan melingkupi perutnya. Matanya melebar, Aleysia tidur terduduk dengan sebuah kain yang melingkupi perutnya.


Gadis itu mengompres perutnya? Kapan? Untuk apa? Apa gunanya? Bukankah gadis itu tidur di kamar tamu tadi malam?


Pertanyaan beruntun itu memenuhi pikiran Bryan. Pria itu menundukan tubuhnya menatap wajah Aleysia yang nampak tenang dengan tidurnya. Wajah polos itu seakan menampakan kedamaian. Berbanding terbalik dengan sikap gadis itu yang serampangan, ceroboh dan juga pembangkang.


Bryan menyingkirkan sebagian anak rambut yang menutupi kening gadis itu. Seulas senyum terukir di bibirnya. Gadis itu ternyata memiliki wajah yang menarik dengan bulu mata tebal dan panjang. Wajahnya yang kecil itu berpadu tepat dengan bibirnya yang tipis. Ia sangat suka ekspresi gadis ini ketika tidur.


Bryan menyingkirkan tangan Aleysia dengan hati-hati dari tubuhnya, lalu pria itu turun dari tempat tidur dan membaringkan gadis itu dengan hati-hati di atas kasur. Perutnya terasa lebih baik pagi ini, mungkin itu pengaruh obat yang ia konsumsi atau mungkin juga kompresan air hangat yang aleysia berikan tadi malam di perutnya. Entahlah, yang jelas ia sudah merasa lebih baik sekarang.


Bryan menarik selimut untuk menutupi tubuh Aleysia. Membiarkan gadis itu terlelap dengan nyenyak dalam tidurnya. Lagi pula, ia sudah begitu keterlaluan tadi malam dengan sikapnya yang memarahi gadis itu habis-habisan. Tanpa perduli sikap gadis itu yang berusaha menolongnya. Jadi, anggap saja membiarkan gadis itu tidur dengan lelap seperti sekarang adalah penebusan rasa bersalahnya.


Bryan menegakan tubuhnya lalu berdiri bermaksud kembali ke kamarnya.


Greppp


sebuah tangan mencekalnya, hingga langkahnya terhenti. Pria itu menoleh sembari menunduk. Aleysia memegang matanya dengan mata yang masih tertutup.


“Peluk… peluk… aku ingin di peluk, sebentar saja!” Gadis itu mengigau membuat Bryan menggelengkan kepalanya dan berusaha buru-buru melepaskan tangannya. Tapi cengkaman gadis itu yang semakin kencang membuat Bryan menegakan wajahnya menatap wajah Aleysia yang tiba-tiba di rundung kesedihan dan rasa takut..


Apa yang sebenarnya di mimpikan gadis itu? Apa yang membuat gadis itu bahkan merubah raut wajahnya penuh kesedihan saat tidur?


Lama Bryan membiarkan gadis itu menarik tangannya, sembari ia sendiri memindai ekspresi gadis itu yang semakin muram. Tubuhnya dengan refleks menangkup tubuh Aleysia dengan pelukan ketika Aleysia entah mengapa meraung-raung dengan isak tangis.


Hanya hari ini saja. Ya, hari ini saja! Ia akan membiarkan tubuhnya yang berharga itu memeluk Aleysia, gadis yang berstatus sebagai istrinya itu.


****


jangan lupa 👍, comment 💬 dan favorite❤.