
“Apa cerai saja yang dalam otakmu?”
Bryan menundukan tubuhnya, menatap dengan garang ke arah Aleysia. Seperti dugaannya gadis itu kembali memunculkan sikap menantangnya. Apa seburuk itukah dirinya hingga gadis itu berulang kali minta cerai darinya.
Entah berapa banyak wanita yang ia kencani selama ini, semua memuji ketampanannya, mengagungkan hartanya dan berlomba-lomba mendapatkan hatinya. Namun Bryan tak pernah perduli ia hanya menganggap para wanita itu sebagai selingan pemuas nafsunya. Tapi kenapa Aleysia begitu kokoh untuk menolaknya. Apa pesonanya mulai pudar atau memang tak mempan pada gadis itu.
“Apa ada pilihan yang lebih baik dari itu? Tentu saja aku lebih memilih cerai darimu? Bagaimanapun rendahnya diriku dimatamu, aku tetaplah seorang wanita yang memiliki tujuan hidupku sendiri. Kau tahu, sebelum menikah denganmu aku pernah memiliki harapan besar untuk membingkai sebuah rumah tangga yang indah bersama pria yang aku cintai, memiliki keluarga dan anak-anak yang menyambutku dengan tawa setiap hari. Tapi karena sebuah keadaan, aku harus terjebak hidup bersamamu. Apa kau pikir ini adil untukku?”
Bryan memilih bungkam, mengamati Aleysia menyeka air mata yang telah membanjiri wajahnya.
Jika sudah seperti ini apa yang harus dilakukannya. Bryan bukan pria yang berhati lembut dan tersentuh dengan sebuah tangisan. Ia sudah terbiasa hidup dengan mental yang keras, hingga tidak akan pernah tersentuh sedikitpun.
“Aku tidak akan menuntut apapun darimu setelah kita berpisah. Aku juga akan mengembalikan semua yang telah kau berikan padaku. Uang, kartu Atm bahkan kartu kredit akan aku kembalikan padamu. Termasuk semua pakaian mahal dan segala aksesorisnya. “
Bryan menggeleng sambil membuang nafas beratnya. Sebegitu inginnya kah gadis itu menjauh darinya hingga menolak apapun yang pernah dia berikan agar dapat terbebas.
Harusnya dari semula ia menuruti usul Max untuk berdamai dengan gadis ini lewat kata-kata lembut yang mungkin akan membuat gadis itu takluk, tapi kenyataannya memang ia sangat susah untuk menahan diri untuk tidak bersitegang dengan gadis ini sedikit saja.
“ Baiklah jika itu maumu! Kita akan bercerai”
Aleysia buru-buru menghapus air mata di wajahnya, gadis itu menoleh tidak percaya pada Bryan. Berusaha mencari kebenaran dari ekspresi wajah pria itu. Tapi wajah tampan dan dingin itu benar-benar sulit untuk di tebak. Meskipun begitu, ada rasa senang bercampur ragu yang tiba-tiba hadir di dalam benaknya.
“A...apa kau serius?”
Aleysia mengungkapkan keraguannya dengan bertanya. Memuaskan rasa ingin tahunya yang begitu tak sabaran.
“Aku serius. Kita akan bercerai!”
Aleysia benar-benar di buat terkejut, pria itu mengabulkan keinginannya. Benarkah? Tapi kenapa? Bukankah itu artinya Bryan akan kehilangan seluruh warisan yang akan ia terima.
“kita akan bercerai. Tapi tidak sekarang!. Aku akan mengurus perpindahan tangan atas segala properti dan asetku yang akan kuterima sebagai warisan. Belum lagi aku harus menuntaskan segala urusanku dengan ayahku dan juga Isabelle. Kau tahu bukan, aku akan kehilangan seluruh warisanku jika aku akan menceraikanmu”
Aleysia melemas, rasa senang yang tadi sempat membuncah itu nyaris raib. Gadis itu berpikir keras dengan dahi bertaut. Mereka akan bercerai, tapi tidak sekarang. Itu artinya ia tidak akan segera bebas dari kekangan pria ini, lalu kapan?.
“tiga bulan. Kita akan bercerai setelah tiga bulan”.
Aleysia menyipitkan mata, seperti masih tidak percaya dengan pendengarannya.
“Kenapa harus tiga bulan?, itu terlalu lama!”
Aleysia menggerutu dalam hati. Ia menatap Bryan dengan tatapan mencibir. Mulutnya mengerucut hingga menimbulkan keriput diujung bibirnya. Pupil matanya menatap Bryan yang berdiri tegap dengan ke dua tangan yang dimasukan dalam saku celana.
“Mengurus perceraian tidak semudah yang kau pikirkan. Kita harus menggelar persidangan, dan itu tidak akan hanya sekali. Kita akan melakukan persidangan beberapa kali. Belum lagi media yang akan membabi buta mencari berita. Reputasiku akan di pertaruhkan saat itu. Selain itu, kau juga tak boleh lupa ada Ayah dan Ibu tiriku yang begitu menanti perceraian kita. Mereka akan seperti singa yang kelaparan jika tahu kita akan bercerai. Mereka akan menang dan aku harus siap untuk kehilangan segalanya. Tidakkah kau berpikir jika aku akan merugi banyak untuk itu?”
Aleysia hanya menunduk, menggigit bibirnya kuat, berusaha tidak melakukan bantahan pada ucapan Bryan.
“Apa kau tidak akan ingkar janji lagi? Apa kau benar-benar melepaskanku?”
Bryan mengakat sebelah alisnya, seperti dugaannya, gadis itu tidak akan mudah percaya begitu saja. Apalagi setelah apa yang telah ia lakukan pada gadis itu. Tentu Alisya akan berpikir berulang kali untuk mempercayainya lagi.
“Aku berjanji!” Kalimat singkat namun penuh ketegasan itu memaksa Aleysia untuk bertatap mata dengan Bryan. Ia tidak ingin tertipu lagi kali ini, rencananya untuk bisa bebas dari Bryan harus berhasil.
Lama mereka saling menatap dalam diam. Hingga Bryan melangkah lebih dekat.
“Apa yang i..ngin kau lakukan?”
Aleysia dengan sigap menaikan selimut putihnya sebatas leher, lalu menyilangkan tangannya di depan dada sebagai akhir dari pertahanannya. Bayangan Bryan yang memperkosanya dengan brutal masih berlalu lalang diingatannya meninggalkan sebuah traumatis yang sulit dilupakan. Ia tidak ingin kejadian buruk itu terulang lagi.
“Aku sudah menuruti keinginanmu, sekarang bisakah kau menuruti apa keinginanku?”
Aleysia melebarkan matanya, menatap penuh waspada kearah Bryan yang masih berdiri santai dengan tatapan tajamnya.
“ Ma..maksudmu?”
“ pasangan normal? Apa maksudmu? “ Aleysia terkekeh dalam hati, tanpa bisa menahan untuk melontarkan tanya. Apa maksud dari pasangan normal yang di sebut Bryan. Sudah jelas mereka menikah bukan atas dasar cinta.
“Kita hanya bertengkar selama ini. Tidak ada hal baik yang kita lakukan ketika kita bersama. Hanya ada adu mulut dan saling melempar amarah”
“Bukankah kau yang sering memancingku untuk bersikap emosi?”
Aleysia mendongak, menatap Bryan dengan penuh kesombongan.
Bryan mulai terpancing lagi. Baginya Aleysia itu seperti pematik yang selalu saja ingin menyulut api pertengkaran diantara mereka.
Tapi kali ini ia akan bersikap tenang layaknya air, berusaha menanggapi gadis itu penuh ketenangan. Ia harus berhasil menyakinkan Alysia untuk percaya padanya, bersikap manis layaknya anak kucing yang akan tunduk dan mengelus bulunya pada tuannya. Entah rencana apa yang nanti akan ia lakukan selanjutnya untuk dapat menaklukan gadis itu. Yang jelas ini adalah langkah awal untuk mendapat kepercayaan gadis itu padanya.
“Maafkan aku. Aku tahu semua yang ku lakukan akan sulit untuk mendapat penerimaan maaf darimu. Tapi cobalah untuk memberikanku kesempatan”
Bryan memasang ekspresi bersalahnya. Ini begitu terbalik dengan kepribadian aslinya. Selama ini Bryan tak pernah sekalipun meminta maaf, bahkan untuk kesalahan yang ia lakukan. Pria itu terbiasa berkuasa dan bertindak semaunya. Apapun yang diinginkannya selalu terpenuhi. Ia terbiasa menyelesaikan masalahnya dengan uang untuk menutup mulut-mulut lancang yang berusaha menyuarakan keadilan atas apa yang ia perbuat. Tapi, berbeda dengan Aleysia. Gadis keras kepala itu seperti cerminan sikapnya. Ia tidak akan mungkin menaklukannya dengan cara yang sama. Tapi mungkin harus dengan cara berbeda.
Aleysia tidak dapat membaca ekspresi Bryan yang berubah-ubah padanya. Tapi ia akan terus waspada. Ia tidak boleh lengah sedikitpun.
****
Bryan menyandarkan tubuhnya pada sofa, merasakan angin dingin yang berhembus dari pendingin ruangan.
Pengecara kakeknya menghubungi Sam lagi pagi ini. Mereka ingin segera bertemu Bryan dan Aleysia. Tapi keadaan Aleysia yang tidak memungkinkan membuat Sam membuat alasan bahwa Bryan dan Aleysia sedang berbulan madu.
Lalu dipilihlah sebuah kamar VVIP yang berada di samping kamar Aleysia untuk dijadikan kamar Bryan untuk sementara waktu.
Dengan kekuasaannya Bryan menyulap kamar itu layaknya hunian raja dalam semalam.
Sebuah ranjang besar berada di tengah ruangan, ditambah dengan sofa mewah dengan warna coklat yang elegan. Tidak hanya itu, kamar itu juga dilengkapi dengan meja kerja minimalis yang berada tak jauh dari ranjang. Bryan akan bekerja secara online sementara waktu. Membawa laporan dari Sam yang dikirimkan lewat internet untuknya.
Tak jauh dari tempatnya duduk, seorang dokter kepala yang menangani Aleysia sedang menunduk cemas dengan tangan keriputnya yang bergetar. Keringatnya menetes berulang kali, membasahi seragam dokternya. Entah sudah berapa kali ia menyeka keringatnya sendiri. Pendingin ruangan itu seperti tidak mempan untuk menyegarkannya tubuhnya.
Mengingat ini hari ke tiga yang dijanjikan tuan Bryan padanya. Pria itu pasti ingin segera membawa pulang gadis itu secepatnya.
“Bagaimana kondisinya?”
Bryan menatap serius dokter itu, meminta jawaban dengan segera.
“Kondisinya sudah membaik. Tapi...”
Dokter itu menelan ludahnya yang terasa begitu kental di kerongkongannya.
“Tapi luka bekas operasinya belum begitu kering. Sebaiknya anda menunda dulu untuk membawa nona itu pulang”
Dokter itu mengumpulkan semua nyalinya untuk berbicara. Entah dengan alasan apapun, ia tidak dapat membohongi nalurinya sebagai dokter. Ia tidak akan membiarakan pasiennya pulang dalam keadaan masih sakit. Ia harus bisa meyakinkan pria dihadapannya itu untuk mengurungkan niatnya membawa pulang Aleysia.
“Baiklah. Aku akan menunggu gadis itu sampai benar-benar pulih untuk di bawa pulang.” Bryan berbicara santai dengan suara jernih.
Dokter itu mendongak, merasa ada yang salah dengan pendengaranya. Berbanding terbalik dengan ke khawatirannya sebelumnya. Bryan malah menunda membawa pulang gadis itu.
“Kau boleh pergi” Bryan mengibaskan tangannya tanda ia tidak memerlukan dokter itu lagi.
Seperti mendapat angin segar, Dokter itu bergegas berdiri. Mencondongkan tubuhnya setengah menunduk untuk memberi hormat, lalu berjalan dengan tergesa-gesa menuju pintu tanpa peduli dengan rasa penasaran yang ada dalam benaknya, kenapa Bryan lebih memilih menunda membawa pulang Aleysia.
“Dokter!”
panggilan itu menghentikan langkahnya. Seketika wajahnya yang menua itu kembali memucat. Dengan menunduk hormat dokter itu memalingkan tubuhnya, menghadap Bryan yang sedang menatapnya.
“Apa hubungan sex tanpa pengaman itu sangat berpotensi untuk hamil?”