My Husband is Billionaire

My Husband is Billionaire
chapter 7



Maaf ya lama gak update novel ini... kesibukan ngajar dan ngurus anak membuat saya agak kesusahan cari-cari waktu buat ngetik novel😂


Bryan menyandarkan punggungnya pada sisi ranjang...matanya menatap kosong pada jendela kaca yang berembun.


Menikah?


Pikirannya kembali pada kata yang menurutnya keramat itu. Tak pernah terbesit dibenaknya untuk menikah, bahkan diusianya yang hampir menginjak 33 tahun.


Ia masih betah dan merasa nyaman dengan yang ia lakukan sekarang. Hidup bebas tanpa terkekang. Hanya dengan jentikan jari ia mampu mendapatkan apapun dengan uangnya. Bahkan ia tak perlu susah payah untuk mencari wanita yang diinginkannya. Semua wanita menginginkannya, meskipun dengan embel-embel uang tentunya. Lalu untuk apa menikah? Bukahkah ia sudah punya segalanya. Menikah hanya akan mengekangnya... membatasi geraknya.


Dan semua wanita baginya sama, semuanya mata duitan dan licik. Pengecualian untuk Ibunya tentunya. Dan ia ingat betul bagaimana uang merusak keluarganya. Menghancurkan ibunya dan semakin menjauhkannya dari ayahnya. Semua karena wanita. Sudah sejak lama ia menghindari pernikahan. Bahkan ketika mendiang kakeknya masih hiduppun. Ia benar-benar tak berniat untuk menikah. Meski kakeknya menelepon setiap Minggu hanya untuk membujuknya berumah tangga.


Dan sekarang, batinnya benar-benar tak percaya. Lelaki tua yang ia panggil kakek itu membuat surat wasiat yang tak dapat dipercaya. Kenapa harus menikah? Kenapa ia harus berumah tangga? Dan bahkan ia tak boleh menceraikan istrinya. Apa yang lelaki tua itu pikirkan ketika membuat surat wasiat itu.


Ia mengenal kakeknya sama seperti ia mengenal ibunya. Kakeknya pasti tahu bahwa ia tak memiliki ketertarikan untuk menikah.bahkan ia sengaja tak ingin memiliki kekasih atau pacar agar menghindari menikah.


Apa ia menolak saja untuk menikah? mungkin Ia tak akan segalau ini jika menolak. Ah...tidak itu akan lebih buruk. Seluruh harta kekayaan dan warisan kakeknya akan disumbangkan pada badan Amal. Ia miskin dan gelandangan. Lalu apa gunanya kerja kerasnya selama ini untuk memajukan perusahaan jika ia hanya akan berakhir miskin.


1 minggu lagi, dan umurnya akan genap 33 tahun. Dengan waktu sesingkat itu bagaimana ia bisa mencari wanita yang akan ia nikahi.


Jika ia tak boleh menceraikan istrinya demi warisan. Bukankah artinya ia harus mencari istri yang akan menguntungkannya. Yang hanya akan tunduk pada perintahnya, tak mengekang dan tentunya memiliki paras yang lumayan sehingga tak akan membuatnya malu jika harus mengenalkan istrinya pada banyak orang. Tapi dimana ia mencari wanita seperti itu. Semua wanita yang ia kenal mata duitan, dan bahkan rela menjual tubuhnya hanya untuk uang. Dan ia tak ingin menghabiskan seluruh hidupnya dengan wanita seperti itu. Cukup ayahnya saja yang diperalat wanita. Ia tidak akan mengikuti jejak sesat ayahnya.


Tok.. tok... Bryan mengalihkan pandangannya pada daun pintu yang sedang diketuk dari luar.


“Tuan anda diminta menemui tuan besar diruang keluarga sekarang”


Seorang pelayan berbicara menunduk dengan wajah yang memucat. Ia benar-benar takut pada pria yang berada di hadapannya itu. Pikirannya kembali terlintas tentang cerita-cerita para pelayan lain yang mengatakan jika tuan muda mereka memiliki sikap yang kasar dan tak segan-segan menghajar siapapun yang yang membuatnya kesal. Bahkan tak peduli jika wanita sekalipun.


Tanpa beruara sedikitpun Bryan berlalu meninggalkan pelayan wanita yang berdiri mematung dihadapannya. Pelayan wanita itu nampak menghembuskan nafasnya panjang. Seakan-akan sejak tadi ia menahan nafasnya.


***


“kau sudah mendengar tentang surat wasiat kakekmu itukan?? Kau tentu tahu apa yang sekarang harus kau lakukan??”


“menikah!” tambah tuan Dickinsson , sambil menatap Bryan yang duduk berseberangan dengannya.


Bryan melipat tangannya di dada, sedari tadi matanya sibuk menatap kumpulan kayu bakar yang dilahap oleh api dalam perapian. Bunyi kayu yang terbakar itu menjadi bunyi unik ditelinganya. Sejak tadi pria itu memang sengaja mengacuhkan tatapan lekat ayahnya. Ia benar-benar tak berniat untuk berbicara dengan pria itu. Bahkan untuk menjawab dengan kata singkatpun tenggorokannya terasa tercekat.


“Bryan! Kau mendengarkanku?” tuan Dicckinsson menaikan nada bicaranya setelah tak mendapat respon dari putranya.


Bryan mendengus, namun tetap pada posisinya semula. Ia benar-benar muak untuk bertatapan langsung dengan wajah Ayahnya itu.


“kurang dari satu minggu lagi usiamu sudah 33 tahun. Kau harus menikah sebelum tanggal lahirmu”


“sejak kapan kau tahu tanggal lahirku?? Ku pikir hanya aku yang ingat tanggal lahirku sendiri” Bryan tersenyum mengejek. Dan kini mata mereka bertemu.


“Aku sudah mengatur hari pernikahanmu. Aku juga sudah mencarikan wanita yang akan kau nikahi” Tuan Dickinsson mengalihkan pembicaraan. Ia ingin fokus pada niat awalnya untuk mengajak putranya berbicara masalah pernikahan dan menghindari perdebatan.


“Sepertinya kau bersemangat sekali untuk menikahkanku. Apa kehilangan harta menjadi momok yang menakutkan bagimu?"


“Aku bisa mencari calon istriku sendiri. Kau tak perlu repot untuk mengurusinya” Bryan bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Ayahnya. Ia sedang sangat malas untuk berdebat sekarang. Lebih baik ia pergi dari hadapan Ayahnya itu.


“Jangan membuatku malu dengan menikahi wanita-wanita jalangmu itu. Aku tidak ingin wajahku tercoreng karena kau menikahi wanita yang tak pantas” cecar tuan Dickinsson lagi


“ak...”


“Calon menantumu sudah datang sayang” ucapan Bryan terpotong sebelum ia selesai membalas ucapan ayahnya itu.


Kedua pria itu menoleh cepat pada sumber suara yang kini menguar di ruangan itu.


Issabel datang dengan wajah penuh kemenangan. Bunyi hak sepatu tinggi yang kini ia kenakan menggema diruangan itu. Dengan wajah tenang ia menarik lengan Aleysia lembut dan mengarahkannya untuk duduk di sampingnya.


“Bagaimana? Calon istrimu cantik bukan?” Isabelle menatap Aleysia dan Bryan bergantian. Ia ingin tahu pendapat pria yang nampak begitu acuh itu sekarang.


Tuan Dickinsson tersenyum simpul. Ini pertama kalinya ia bertemu Aleysia. Meskipun istrinya Isabelle sudah menceritakan gadis itu secara mendetail dengan penuh antusias. Sedangkan Bryan ... pria itu melirik malas pada Aleysia. Manik matanya mengamati gadis itu dari ujung rambut hingga kaki. Untunglah Isabelle begitu pintar, ia sempat membawa Aleysia ke salon mahal langganannya. Beruntung Aleysia, gadis itu memang sudah cantik. Ia hanya perlu memolesnya sedikit agar nampak semakin cantik.


***


Aleysia menundukan wajahnya malu. Sejak tadi pria yang duduk berseberangan dengannya itu terus menatapnya. Meskipun dengan tatapan malas, tapi ekor matanya dapat menangkap jika Bryan mengamatinya dari atas rambut hingga kepala.


Aleysia membenarkan gaun merah marunnya dengan cepat saat belahan gaunnya itu nampak tersingkap hingga menampakan paha mulusnya. Ia mendongak memberanikan diri untuk sedikit menatap wajah Bryan. Tampan. Itu kata yang ia temukan ketika lensa matanya berhasil menatap wajah Bryan. Pria itu terlihat atletis dengan bentuk tubuh yang proporsional. Rambut coklat dengan tatanan gaya faux hawk itu mencuri perhatiannya. Pria itu nampak keren sekaligus dingin.


“perkenalkanlah dirimu!”


Tuan Dickinsson angkat bicara ketika tatapannya mengarah pada Bryan yang sibuk dengan ponselnya. Ia ingin Aleysia mengenalkan dirinya dan memecah keheningan diruangan itu.


Aleysia meremas kuat bagian gaunnya ketika tuan Dickinsson menatapnya lekat. Tenggorokaannya terasa tercekat untuk bersuara. Bibirnya terasa berat. Apa mungkin ini efek lipstik mahal yang digunakannya. Ah tidak, bukan itu. Ia benar-benar merasa salah tingkah sekarang. Bukan hanya tuan Dickinsson yang menatapnya. Bryan... pria itu juga menatapnya lebih tajam. Tatapan tajam yang seperti mengejek membuat Aleysia ragu-ragu untuk mengeluarkan suaranya.


“perkenalkan nama saya Aleysia Aldertina. Umur saya 18 tahun. “ Aleysia memejamkan matanya sejenak diiringi menelan ludah cepat ketika ia berhasil memperkenalkan dirinya. Perkenalan diri yang singkat, bahkan terlalu singkat untuk gadis yang baru pertama bertemu calon suami dan mertuanya. Ini lebih seperti perkenalan diri anak sekolah yang baru saja pindah di sekolah baru.


Sebelum masuk dirumah ini, Isabelle sudah melatih gadis itu untuk memperkenalkan diri. Bahkan untuk cara berjalan dan dudukpun sudah diajarkan. Tapi entahlah. Mulutnya kelu, kata-kata yang sudah ia susun sedemikian rupa hilang begitu saja saat matanya menatap Bryan. Pria itu menghipnotisnya hanya dengan tatapan dinginnya.


“Kau ingin menikahkanku dengan anak kecil? Yang benar saja.”


“dari mana kau menemukan gadis itu? Apa karena ambisimu yang besar kau bahkan rela mengambil gadis dibawah umur untuk jadi istriku”


“hey... umurnya 18 tahun. Ia bukan gadis dibawah umur” Isabelle melakukan pembelan pada ucapan Bryan


“Apa ini lulocon. Kalian pasti bekerjasama dengan gadis ini. Memilih wanita yang jelas-jelas tak aku sukai. Sehingga aku akan berpikir cepat untuk menceraikanya dan kalian akan mendapatkan seluruh harta warisan kakek”. Cecar Bryan panjang lebar. Ia sudah dapat menebak rencana jahat ayah dan Ibu tirinya itu. Mereka sengaja memilih calon istri yang akan mudah mereka kendalikan. Licik, sangat licik pikir Bryan.


Bryan pergi meninggalkan ruang keluarga. Mukanya merah padam. Ia kesal, di situasi seperti ini ia tak dapat berbuat apapun. Ia harus menurut dengan perintah Ayahnya.


Brukkkk


Suara bantingan pintu yang keras membuat Aleysia terperanjat kaget. Nyalinya semakin menciut dengan tubuh yang sedikit bergetar.


Ya Tuhan, apakah pria seperti ini yang akan menjadi suaminya.


Tolong like 👍dan komment ya... terimakasih😀