
“Bryan apa kau di dalam?” Sam meneriaki pemilik nama itu, ia mengetuk pintu kamar mandi yang terletak di dalam ruangan kantor Bryan. Sejak tadi ia menunggu pria itu untuk segera pergi ke tempat pertemuan rapat mereka. Tapi pria itu tak kunjung muncul juga untuk memenuhi tugasnya.
“Bryan…” Sam mengulang panggilannya kembali. Kali ini dengan nada suara yang lebih keras dari sebelumnya.
Krekk..
pintu kamar mandi terbuka, dan menampakan wajah Bryan yang kusut dan pucat pasi. Sam yang semenjak tadi menunggu dengan gelisah tak mampu menahan rasa ingin tahu untuk menanyakan kondisi pria itu.
“Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat begitu pucat dan lemah” Sam menunjukan ekspresi cemasnya.
“Telepon segera dokter pribadiku! Aku sepertinya tidak bisa mengikuti rapat dengan pimpinan perusahaan Solla Grub hari ini”
Bryan menjatuhkan tubuhnya pada sofa panjang yang berada diruang kerjanya. Perutnya masih terasa perih dan melilit. Sudah berulang kali ia bolak-balik ke kamar mandi untuk buang besar, namun rasa sakit itu tak kunjung juga reda. Padahal rasanya ia sudah menguras habis seluruh isi perutnya di dalam kamar mandi.
“Apa” Sam melebarkan mulutnya tak percaya. Pria itu mendadak protes dengan sikap Bryan. Tak biasanya pria itu memutuskan untuk tidak mengikuti rapat. Terlebih ini rapat penting menyangkut kerja sama mereka yang bernilai ratusan ribu dollar.
Meskipun Sam yakin, pria itu tidak akan bangkrut hanya karena membatalkan rapat kerja sama mereka hari ini. Mengingat begitu kayanya Bryan, tapi tetap saja setelah rapat hari ini batal kemungkinan besar mereka akan bekersama akan sangat sulit. Terlebih dengan rumor yang beredar jika pemimpin perusahaan Solla grub adalah orang yang keras dan sangat selektif dalam memilih mitra bisnis mereka.
“Sebenarnya ada apa denganmu?” sam masih tak menyurutkan usahanya untuk mencari tahu. Mungkin saja ia bisa membantu atau mencari solusi apapun dengan yang terjadi pada Bryan hingga pria itu tidak membatalkan rencana kersama mereka hari ini
“Apa kau tak mendengar perintahku barusan! Cepat telepon dokter sekarang!” Bryan berbicara dengan suara parau sambil memegangi perutnya. Pria itu kini memejamkan matanya dengan ekspresi wajah yang menahan sakit.
Sam akhirnya menyerah untuk ingin tahu kondisi pria itu. Ia mengambil ponselnya dan mencari kontak dokter pribadi Bryan.
***
Aleysia menghabiskan coklat hangatnya yang ketiga yang dipesannya setengah jam yang lalu. Coklat hangat yang telah dingin itu ia habiskan hanya dengan sekali minum. Sebenarnya, gadis itu memesan beberapa kali minuman yang sama hanya untuk berada cukup lama di dalam kafe itu. Ia juga memesan makanan kecil yang ia habiskan sebelum meminum coklatnya yang terakhir.
Ia sangat malas untuk pulang ke rumah. Ia tidak memiliki teman untuk berbicara, dan itu sangat membosankan. Lagi pula Bryan selalu pulang malam, pun jika pria itu ada di rumah mereka juga akan sering berdebat.
Aleysia mengambil tas selempang yang di letakannya di atas meja. Gadis itu berniat meninggalkan kafe. Sudah cukup lama ia berada di sana. Mungkin ia harus mencari kesibukan di tempat lain. Lagi pula Brave, pria yang baru dikenalnya dan merupakan karyawan kafe ini juga sibuk melayani pelanggan. Ia tidak dapat mengajak mengobrol pria itu.
“Anda akan pulang?” Aleysia menajamkan telinganya. Suasana kafe yang ramai membuatnya sedikit kesulitan untuk mendengar. Namun gadis itu tetap membalikan tubuhnya juga. Suara itu serasa pernah di dengarnya.
“Brave” Aleysia mengelus senyum lebar menatap pria di hadapannya yang terlihat menawan dengan setelan santai. Pria itu baru saja mengganti pakaian kerjanya.
“anda akan pulang?” Brave mengulang pertanyaan kembali untuk meyakinkan
Aleysia menggeleng “Entahlah, aku hanya merasa bosan tapi belum berniat untuk pulang”.
“Kau sendiri? Akan pergi kemana?” Aleysia menyadari perubahan penampilan Brave yang berbeda. Tidak lagi menggunakan seragam pelayan.
“aku bekerja shift di sini, hanya sampai siang hari. Tapi aku akan bekerja lagi nanti malam di tempat yang berbeda”
Aleysia terkesan. Pria itu sosok pekerja keras sepertinya. Bekerja di dua tempat dalam sehari tentu bukan hal mudah dan tidak ada jaminan ia akan dapat menghasilkan uang yang banyak dengan dua pekerjaan sekaligus. Mengingat pekerjaan itu berat dan tidak semua pemilik usaha dapat mentoleransi keterlambatan pekerja. Aleysia sudah pernah mengalaminya sendiri.
Tapi mengingat perawakan tubuh Brave yang tinggi dan besar serta wajahnya yang mendukung, pastilah kondisinya akan berbeda dengan pengalaman yang di dapat Aleysia. Banyak wanita yang sepertinya menjadi penggemar pria itu di kafe ini. Padahal pria itu baru dua hari bekerja.
“Aku berencana pergi ke perpustakaan kota yang terletak tak juah dari sini untuk mengisi waktu luangku sebelum bekerja lagi nanti malam”
“Apa kau ingin ikut?” sambungnya lagi dengan ajakan
“Aku akan ikut” Aleysia mengangguk pasti dan langsung mendapat respon senang oleh Brave. Sepetinya pria itu sangat berharap Aleysia menyetujui ajakannya.
“Apa kita akan berjalan kaki?” Aleysia mengikuti langkah kaki Brave yang sedikit mendahuluinya. Merasa Aleysia yang tertinggal di belakangnya, pria itu memperlambat langkahnya. Menyamakan langkah kakinya dengan Aleysia.
“perpustakaan hanya berjarak sekitar lima puluh meter dari sini. Akan lebih efisien jika berjalan kaki” Aleysia tersenyum setuju lalu mempercepat lagi langkah kakinya yang kecil. Sesekali gadis itu menengok ke belakang. Di mana supir dan bodyguard yang mengawalnya ke kafe ini masih berada di seberang jalan yang menghadap langsung dengan kafe. Sepertinya mereka tidak menyadari kepergian Aleysia yang kabur dengan diam-diam.
***
Bryan membenamkan tubuhnya dalam selimut. Pria itu memutuskan untuk beristirahat di rumah saja selah bernegosiasi yang cukup panjang dengan William, dokter pribadinya.
Dokter itu menyarankan Bryan untuk di rawat di rumah sakit saja sampai keluhan di bagian lambungnya sembuh. Dan juga ia akan mudah memantau kondisi kesehatan pria itu jika berada di rumah sakit. Berbeda dengan di rumah yang tidak memiliki fasititas penunjang kesehatan.
Tapi sikap Bryan yang keras kepala itu tidak membuahkan hasil untuk membujuk pria itu di rawat di rumah sakit. Ia bersikeras akan segera baik-baik saja. Meski dokter itu juga tahu Bryan masih merasakan nyeri di lambungnya.
Bryan menelan obat yang di berikan dokter pribadinya. Sekarang bukan hanya perutnya yang nyeri, kepalanya juga terasa pusing. Bagaimana tidak, Sam menghubunginya sekitar sepuluh menit lalu. Solla Grub membatalkan kerja sama mereka dan tidak berminat untuk melakukan kerja sama lagi di kemudian hari. Habis sudah, pria itu merugi banyak. Dan sialnya penyebannya hanya satu. ‘Sandwich terkutuk yang berisi cabe’. Jika ada orang yang akan di salahkan untuk ini, tentu saja ia akan berbicara dengan lantang, Aleysia lah penyebabnya. Istri hitam di atas putihnya itu ternyata selalu berulah masalah.
Drettt.. bunyi ponsel yang berada di samping meja tempat tidurnya itu berbunyi
“Apa yang terjadi?” Bryan bertanya di liputi kecemasan.
Mereka kehilangan Aleysia itu yang dapat ia simpulkan dari percakapannya di telepon.
Bryan mengerang tertahan dengan rahang yang mengeras. Nafas pria itu naik turun menahan marah sekaligud nyeri pada lambungnya.
Sungguh ia ingin sekali rasanya menjambak-jambak rambut gadis itu karena kesal. Semua mala petaka yang terjadi padanya hari ini seperti bersumber pada gadis itu, dan gilanya ia yang menjadi korbannya.
“kerahkan semua anggotamu, cari gadis itu sampai dapat” Bryan memutus sambungan telepon secara sepihak setelah kalimat perintah laksana ultimatum itu berhasil menciutkan nyali para bodyguard berbadan besar itu.
***
Aleysia tak henti-hentinya tersenyum riang sembari membaca novel yang di bacanya di perpustakaan inim Gadis itu sempat berbincang-bincang sebelum memasuki perpustakaan. Kenyataan jika Brave memiliki nasib yang mirip dengannya, berasal dari panti asuhan dan hidup sebatang kara membuat Aleysia serasa memiliki penderitaan dan kisah hidup yang hampir sama.
“Ada apa?” Brave menyadari perubahan ekspresi wajah Aleysia yang di liputi kecemasan. Padahal tadi gadis itu masih terlihat riang dan senyum yang mengembang di bibirnya.
“Ada apa?” Brave mengulang tanya lalu menutup buku yang ia baca.
Ekor matanya mengikuti arah pandang Aleysia. Tampak segerombolan pria berpakaian serba hitam dan bertubuh besar berkeliaran di sana.
Aleysia di selimuti ketakutan. Keringat membanjiri tubuhnya. Pria-pria berbadan besar itu mungkin akan menyeretnya dari perpustakaan ini jika berhasil menemukannya.
“Mereka sedang mencariku. Aku perlu tempat untuk sembunyi” Aleysia berbicara dengan berbisik.
Brave mengangguk mengerti, pria itu langsung dengan sigap menarik tubuh Aleysia hingga mereka berdua berakhir di kolong meja.
Pergerakan Brave yang cepat membuat Aleysia tak dapat mempersiapkan diri. Gadis itu terjatuh menimpa wajah Brave di bawah kolong meja.
****
Plese like👍, comment, dan juga klik favorit❤. Jadilah pembaca yang baik ya..