
“Mundur... tutup matamu! Jangan berpikir mesum!!
Bryan menggertakan giginya menatap Aleysia yang menunjukan ekspresi seperti mengusir kedatangan pria itu.
“Jangan terlalu percaya diri. Tidak ada yang menarik pada tubuhmu. Tubuh kurus kering dengan dada rata. Bahkan anak SMP jauh lebih menarik dari pada tubuhmu” Bryan tersenyum mengejek membuat Aleysia naik darah.
“Jika aku tidak menarik kenapa kau pilih aku. Kenapa tidak cari wanita lain saja yang lebih cantik dan seksi?” tantang Aleysia
Ucapan Aleysia membuat Bryan mati telak. Pria itu diam. Tidak menjawab.
“Kenapa diam? Karena kau memerlukan aku untuk mempertahankan seluruh warisan kakekmu”
Bryan lagi-lagi diam. Tidak ada jawaban sama sekali atas celotehan Aleysia. Pria itu hanya menatap tajam dengan ekspresi seperti menahan marah.
“Tiga jam lagi semua undangan akan datang. Pastikan wanita itu sudah siap dengan riasan dan gaun pengantinnya.”
“pastikan juga semua aksesoris dan gaun yang ia pakai terlihat elegan dan berkelas. “
“Dan juga.... buat riasannya senatural mungkin tapi terkesan anggun dan memukai. Aku tidak ingin dikira bersanding dengan badut di acara pernikahan nanti. “
Cecar Bryan dengan menekankan setiap kata.
“Baik Tuan” ucap Semua pelayan diruangan itu serentak.
Aleysia mematung. Tiga jam lagi? Sebegitu cepatnya waktu berlalu. Rasanya ia belum siap jika harus mengakhiri masa lajangnya dengan pria itu. Dan apa ia bilang? Pria itu menyamakannya dengan badut?. Yang benar saja. Jika bukan hari ini adalah hari pernikahannya, ia pasti akan memberi hadiah bugeman di wajah Bryan.
Aleysia mengerjap. Entah mengapa bayangan neneknya melintas begitu saja di kepalanya. Ia bahkan belum meminta izin atau restu pada neneknya itu untuk melangsungkan pernikahan hari ini.
“Bryan...” Panggil Aleysia tepat saat pria itu menghilang dibalik pintu. Aleysia mendengus, kenapa pria itu selalu datang dan menghilang dengan tiba-tiba.
****
Acara pernikahan itu dilangsungkan disebuah gedung besar nan megah. Dengan dekorasi gemerlap dan perpaduan bunga-bunga. Membuat suasana ruangan itu bak negeri dongeng. Aleysia tidak dapat membayangkan berapa tinggi lembaran uang Bryan untuk membuat acara megah hanya dalam waktu yang sesingkat itu.
Aleysia berdiri dengan gusar menatap para tamu yang datang. Bukannya berkurang, tamu itu semakin bertambah banyak. Para pria dengan jas serta tuxedo berkumpul disana. Belum lagi wanita dengan gaun mahal dan anggun juga tak kalah banyaknya.
Aleysia tersenyum ramah disetiap detik dengan memamerkan deretan gigi putihnya yang rasanya hampir saja mengering karena harus tersenyum setiap waktu. Rasanya, Jantungnya juga berdegup tak karuan. Ia gugup. Semua orang tengah menatapnya yang menjadi pusat perhatian.
Blit kamera yang menyilaukan matanya juga tak kunjung berhenti sejak tadi. Ia benar-benar menjadi pusat perhatian hari ini.
Aleysia mengenakan gaun pengantin ala Mermaid Tail dengan belahan dada yang sedikit terbuka. Gaun seksi yang menampilkan bentuk tubuhnya itu semakin terlihat anggun dengan cepolan rambut yang di ikat keatas dengan lilitan bentuk kepang dan mahkota perak berhiaskan permata yang melilit dirambutnya. Make up minimalis yang terpoles di wajahnya membuat gadis itu terlihat manis.
Aleysia merasakan keringat disekujur tubuhnya. Pendingin ruangan yang berjejer di ruangan besar itu sepertinya tidak berhasil membuatnya merasa sejuk. Ditambah dengan gaun ketat yang yang begitu pas di tubuhnya itu membuat ia sedikit kesulitan untuk bernafas. Padahal gaun pengantin itu sudah memiliki model yang terbuka dibagian dada. Tapi ternyata tetap tidak mampu membuat Aleysia menghilangkan rasa gerahnya. Sungguh Aleysia ingin segera cepat-cepat meninggalkan tempat itu.
“Wah pengantin wanitanya cantik sekali...”
Terdengar pujian dari beberapa tamu. Entah sudah yang keberapa pujian itu ia dengar hari ini. Sungguh makeup artis yang Bryan bayar begitu handal membuatnya bagaikan ratu sehari. Aleysia tersenyum paksa. Sedangkan Bryan, pria itu terlihat begitu asyik menyalami tamu. Bahkan ia tidak sekalipun melirik pada Aleysia yang sudah sah menjadi istrinya itu.
“Kapan acaranya selesai?” Aleysia memiringkan kepalanya lalu berbisik ke telinga Bryan.
“Sebentar lagi” Bryan berbicara dengan wajah datar, ia menolehkan wajahnya menatap Aleysia. Hingga jarak diantara mereka hampir terhapus. Aleysia meremang, cepat-cepat menelan salivanya karena gugup. Bayangan kejadian setengah jam yang lalu melintas diotaknya.
FLASH BACK
“Silahkan pengantin Pria untuk mencium pengantin wanita” Pendeta tersenyum menatap kedua mempelai
Aleysia melototkan matanya. Hampir saja bucket bunga yang ia pegang jatuh kelantai saking kagetnya. Ia meraba bibirnya, sungguh benar-benar tak sudi jika harus memberikan bibirnya pada pria itu.
“Silahkan pengantin pria untuk mencium pengantin wanita” pendeta itu mengulang kalimatnya karena tidak ada respon dari Aleysia dan Bryan.
Bryan memiringkan tubuhnya, menatap Aleysia yang memamerkan wajah gugupnya. Pria itu merubah tubuh Aleysia menghadapnya. Lalu menarik pinggang gadis itu menjadi lebih dekat.
Sorak riuh tamu undangan memenuhi ruangan saat Bryan memiringkan wajahnya. Aleysia mendadak lemas. Tubuhnya hampir saja hilang keseimbangan. Bahkan sepatu hak tinggi yang dipakainya itu tak cukup kuat untuk menopang tubuhnya yang kurus.
Dengan cepat Bryan menyambar tubuh gadis itu, menariknya dalam pelukan dan disambut dengan tepukan tangan para tamu undangan.
Aleysia membuka matanya, lalu menatap bagian bawah bibirnya yang seperti tertusuk. Ada daun yang menancap di bibirnya. Daun itu berasal dari bucket bunga yang ia pegang. Ternyata Bryan mengambil bucket bunga yang ia pegang untuk mengelabuhi para tamu undangan yang menyangka mereka berciuman..
Aleysia mendadak lega, namun juga malu. Kenapa ia harus menutup mata, padahal pria itu memang tak berniat untuk menciumnya. Pasti Bryan berpikir jika ia sedang berharap untuk dicium. Sungguh memalukan.
*****
“Kita akan pulang?” tanya Aleysia memecah keheningan.
“Bisakah aku mengunjungi nenekku dulu sebelum pulang? Aku merindukannya? Aku bahkan belum meminta izinnya untuk menikah.”
“Kau akan kerumah sakit dengan gaun seperti itu?” Aleysia menatap Bryan. Pria itu masih sibuk dengan stir mobilnya. Pandangannya lurus kedepan, bahkan ia tak memandang saat berbicara dengan gadis itu.
Aleysia memperhatikan gaunnya. Gaun pengantin putih yang memperlihatkan lekuk tubuhnya itu sudah membuatnya terasa gerah. Apa ia pulang saja dulu, lalu kembali ke rumah sakit untuk mengunjungi neneknya itu.
“Kita pulang dulu, lalu kita akan kembali kerumah sakit untuk mengunjungi nenekku?. Begitu maksudmu?”
“Apa maksudmu dengan kata ‘Kita’?” Bryan menepikan mobilnya di tepi jalan lalu memicingkan matanya menatap gadis itu
“ya, tentu saja kita. Kau dan aku akan menjenguk nenekku dirumah sakit” Aleysia menatap Bryan penuh harap untuk meminta persetujuannya
Bryan menggeleng“Aku ada janji dengan teman-temanku. Kau pergilah sendiri”
“Tapi...” Aleysia hampir saja protes. Namun Bryan mengemudikan mobilnya dengan cepat. Membuat gadis itu hanya menggangguk dan menggumam.
***
Bryan memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Lalu berjalan dengan langkah lebar mendahului Aleysia. Ia melonggarkan dasinya lalu melepas jas nya sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
Seperti biasa, para maid sudah berdiri dengan setengah membungkuk ketika Bryan melewatinya.
Berbeda dengan Aleysia, gadis itu membuka pintu mobil, lalu mengangkat cukup tinggi ujung gaun pengantinnya. Dengan sepatu hak tinggi yang dipakainya, gadis itu sedikit kesulitan untuk berjalan. Ia mendengus dengan gigi yang menggertak menatap punggung Bryan yang semakin jauh meninggalkannya. Dimana sikap gentle pria itu, bahkan untuk wanita yang sudah menyandang status istrinya pria itu malah tak berniat untuk membukakan pintu atau membantu mengangkatkan gaunnya.
****
Aleysia menghapus keringat yang membanjiri tubuhnya. Tinggal beberapa anak tangga lagi dan ia akan sampai dilantai atas. Gadis itu mengangkat ujung gaunnya dengan kedua tangan ditambah dengan sepatu hak tingginya yang juga ia tenteng di tangan kanannya.
Harusnya kemaren ia meminta pria itu untuk memberinya kamar di bagian bawah saja, tidak dilantai dua yang akhirnya membuat gadis itu kerepotan sendiri jadinya.
“Yes” Aleysia mengangkat tangannya kegirangan ketika kakinya mendarat dilantai dua rumah itu. Ia berjalan dengan langkah lebih cepat menuju kamarnya.
“huuuh” hembusan nafas lega keluar dari mulut gadis itu. Ia membaringkan tubuhnya di kasur dengan tubuh yang terlentang.
Aleysia merenung sesaat, sungguh hidupnya berubah dengan sekejap. Menikah dengan pria kaya seperti Bryan adalah hal yang tak pernah ia sangka. Menjadi nyonya Dickinson adalah hal mustahil yang tak pernah ia bayangkan. Tapi sekarang ia melakukannya. Ia menyandang gelar itu. Meskipun hanya dianggap sebagai istri dengan hitam diatas putih.
Dengan gelar nyonya yang ia sandang sekarang dan kehidupan yang didapat dari pria itu. Sungguh pasti membuat kehidupan ekonominya lebih baik, tidak perlu membanting tulang dengan kerja siang dan malam, makan dan tidur dengan teratur serta uang yang cukup. Ya meski harus di bayar dengan hidup selamanya dengan pria itu. Tidak, ia tidak mau. Gadis itu menggeleng. Hidup dengan pria dingin dan arogan seperti Bryan rasanya akan membuatnya lebih cepat mati.
Aleysia menyentuh kepalanya dengan jari. Gadis itu berekspresi seperti sedang berpikir keras. Cukup lama gadis itu berpikir hingga sebuah senyum terukir di bibirnya.
Aku harus membuat pria itu membenciku. Bahkan ia sendiri yang harus menceraikan ku.
Aleysja tersenyum sumringah dengan rencana yang sudah ia rancang diotaknya. Gadis itu bangkit dari kasur dengan semangat. Ia berdiri dan siap untuk melepas gaunnya.
“aduh sulit sekali” Aleysia menjangkau resleting gaunnya yang sudah setengah terbuka dengan sebelah tangannya. Entah kenapa resleting gaun mahal itu macet dan tak mau terbuka.
Aleysia hampir membalikan tubuhnya. Ia harus keluar dan mencari maid untuk menolongnya melepas gaun pengantin itu.
Krek.. pintu terbuka tanpa Aleysia sadari. Bunyi resleting yang ditarik ke bawah membuat Aleysia lega. Gadis itu buru-buru melepas gaunnya hingga hanya menyisakan pakaian bawahnya saja. Gadis itu lantas memutar tubuhnya.
“Terimakasih Belin...” Belum selesai dengan ucapan terimakasihnya Aleysia cepat-cepat berbalik dengan kedua tangan yang menutup dadanya.
“Bryan...” Teriak gadis itu sekencang-kencangnya...
Hai para riders tercinta... maaf baru bisa update cerita😉
semoga kalian suka ya...
please kasih like dan comment biar author tambah semangat. dan jangan lupa juga kasih vote😀😀😀😀😀😀😀😀😀
love u all😘😘😘
baca juga novel terbaru author ya "Suamiku! jodohku?" kasih like, comment and vote ya guys