
Aleysia menyipitkan mata menatap isi lemarinya yang sesak dengan pakaian baru. Pakaian bermerek yang terpajang rapi itu bahkan di rancang khusus oleh desainer ternama. Tidak hanya gaun, dress, piyama bahkan pakaian dalampun sudah tersedia disana. Aleysia tersenyum geli, ketika mengetahui ternyata pakaian dalam itu telah sesuai dengan ukurannya.
Bagaimana pria itu tahu ukuran tubuhnya? Padahal ia tidak pernah mengatakannya? Apa Bryan memiliki keahlian dalam menilai tubuh wanita. Hingga hanya dengan memandang saja ia sudah tahu ukuran wanita tersebut.
Dan tidak cukup itu saja, perhiasan, sepatu, jam tangan serta tas bermerek juga telah tersedia dengan berbagai macam model dan warna. Begitu juga koleksi makeup yang berjejer rapi di atas meja rias. Bryan sepertinya tahu betul kebutuhan wanita, hingga mempersiapkan dengan details tanpa kurang satupun. Kerap bergaul dengan banyak wanita membuat Bryan tahu setiap hal yang di senangi wanita, apa saja yang membuat wanita kerap merengek untuk di belikan. Pria itu sudah mencukupinya di kamar Aleysia.
Aleysia membuang nafas kasar ketika tidak menemukan pakaian yang biasa ia gunakan di dalam lemari. Dari sekian banyak pakaian tidak ada satupun yang sesuai dengan seleranya. Semua barang yang ada sepertinya sesuai dengan selera pria itu. Atau mungkin sesuai dengan selera wanita-wanita lain yang dulu pernah pria itu kencani.
Aleysia lebih suka menggunakan Celana jeans, kaos dan sweater. Tidak biasa menggunakan gaun atau dress. Dan sialnya semua jenis pakaian yang ia sukai itu tidak ada disini.
Aleysia mengingat kembali pakaian yang pernah ia bawa ketika datang kerumah ini. Mungkin saja pakaian itu terselip di salah satu gantungan baju.
Setelah cukup lama mencari, gadis itu akhirnya harus menyerah dengan usahanya. Bryan, pasti sudah menyingkirkan pakaian gadis itu sebelum memerintahkan pelayan untuk meletakan pakaian baru di lemari.
Aleysia mengambil salah satu gaun selutut berwarna silver dengan renda di bagian lehernya. Ia menatap pantulan tubuhnya di cermin dan sedikit takjub saat pakaian mahal itu ternyata dapat membungkus tubuhnya dengan indah. Meski bukan seleranya, pakaian itu tidak terlalu buruk juga untuk ia gunakan.
Aleysia menggeraikan rambutnya yang panjang, tanpa polesan makeup gadis itu sudah terlihat cantik dengan tampilan natural. Dengan sepatu flat berwarna senada dan tas selempang kecil ia siap untuk pergi. Tujuannya hari ini adalah mengunjungi neneknya di rumah sakit.
Aleysia menuruni anak tangga dan langkahnya terhenti ketika Belinda memanggilnya dengan hormat. Gadis itu membungkuk dan tersenyum seperti biasa lalu memberikan amplop kecil kepada Aleysia.
“Apa ini?” Aleysia memperhatikan amplop coklat yang berada di tangannya.
“Tuan Bryan meminta saya memberikan anda sejumlah uang cash, kartu ATM dan juga kartu kredit. Untuk pasword atau pinnya sudah tertera didalam amplop. Mulai sekarang anda bisa berbelanja apapun keperluan anda nona”
“Benarkah? Ini semua untukku?”
Aleysia tersenyum girang dengan mata berbinar. Sambil membuka amplop coklat yang sekarang ada ditangannya.
Perlahan gadis itu membuka amplop dan tersenyum takjub saat melihat isinya.
Setumpuk uang yang entah berapa jumlahnya, Aleysia tidak pernah memiliki uang sebanyak itu. Kartu ATM dan juga kartu kredit, ah apa ia akan bisa belanja apapun dari Sekarang? Semudah itukah ternyata memiliki suami yang kaya raya.
“Tapi ada Syarat yang harus anda patuhi nona, ketika anda menggunakan semua fasilitas yang tuan berikan untuk anda.”
“Syarat?” Aleysia bertanya dengan cepat
“ Setiap transaksi yang anda lakukan dengan uang cash, anda harus menyimpan struck pembayarannya dan melaporkannya ke pada tuan setiap bulan. Hal itu juga berlaku dengan penarikan di mesin ATM. Pengecualian Untuk kartu kredit, karena setiap transaksi yang anda lakukan, tuan Bryan akan menerima catatannya yang dikirimkan oleh pihak bank secara berkala. “
Melaporkan setiap transaksi belanja? Yang benar saja! Apa pria itu tidak ikhlas memberikan uangnya hingga setiap transaksi sekecil apapun harus dilaporkan juga.
“bagaimana jika aku lupa mengambil struk pembayaran, atau mungkin struck itu hilang?”
“Setiap bulan tuan akan mencek daftar belanja anda. Jika ternyata ada struck yang hilang atau transaksi anda tidak sesuai!, maka tuan akan memotong uang bulanan anda sesuai dengan jumlah yang kurang”
Belinda menjelaskan dengan rinci dan runtut apa saja yang dikatakan tuannya itu hingga tidak kurang satupun untuk di sampaikan. Gadis maid itu sepertinya sudah dilatih untuk menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Bryan dengan sangat jelas tanpa mengurangi isi pesan tuannya itu.
“Satu hal lagi nona! tuan sudah menyiapkan sopir pribadi untuk anda beserta seorang bodyguard yang akan mengawal anda ketika berpergian. Anda dilarang pergi kemanapun sendiri tanpa membawa supir atau bodyguard “
Aleysia berdiri dengan bahu yang terkulai lemas. Gila, peraturan macam apa ini? Bukan hanya melaporkan setiap transaksi, Aleysia juga harus tunduk dengan selalu membawa supir dan bodyguard. Apa Bryan mulai tidak waras, dengan melaporkan setiap transaksi dan membawa supir serta bodyguard bukankah sama saja pria itu secara tidak langsung mencampuri urusan pribadinya. Ia harus segera melayangkan protes kepada Pria itu, sebelum Bryan berbuat lebih gila lagi dari ini.
***
Aleysia memandang keluar jendela mobil dengan wajah kusut. Setelah meminta supir mengantarnya ke alamat yang ia ingin tuju, gadis itu langsung mengunci bibirnya rapat-rapat.
Lagi pula siapa yang ingin ia ajak bicara, supir dengan wajah dingin dan hanya menggunakan kepalanya untuk menganguk itu sudah persis robot yang hanya bisa ber
gerak tubuhnya dengan ucapan perintah. Lalu di sebelah supir, duduk bodyguard dengan seragam hitam-hitam dengan wajah bengisnya. Siapa yang tertarik mengobrol dengan mereka.
Lagi pula kenapa Bryan menginginkan supir dan bodyguard untuknya. Apa pria itu sungguh takut ia kabur dan kehilangan seluruh hartanya.
“Kita sudah sampai nona!”
Aleysia menyelesaikan lamunannya ketika supir menghentikan mobilnya tepat diarea parkir rumah sakit.
Gadis itu turun dari mobil, diikuti bodyguard yang mengiringi langkahnya. Aleysia sedikit tidak nyaman dengan keadaannya sekarang, ia seperti tawanan yang dijaga ketat.
Aleysia mengambil tempat duduk disebelah ranjang tempat neneknya berbaring. Gadis itu mengecup sekilas dahi wanita yang sudah ia anggap sebagai orang tua kandungnya itu. Lalu beralih dengan memegang erat tangan wanita tua itu yang masih terpasang infus. Dokter yang memeriksanya beberapa menit yang lalu mengatakan jika keadaan wanita tua sudah lebih baik. Dalam seminggu ke depan jika keadaanya semakin membaik maka ia sudah diperbolehkan untuk pulang.
Ada rasa senang sekaligus cemas dihati Aleysia. Senang karena keadaan neneknya semakin membaik dan hampir sembuh. Tapi ia juga tidak dapat menahan rasa cemas, jika neneknya sembuh nanti, bagaimanan ia harus menjelaskan semuanya. Hubungannya yang sudah berakhir dengan John, pernikahan konyolnya dengan Bryan dan bahkan kesepakatan gilanya dengan Issabel yang berakhir dengan pernikahannya dengan Bryan. Bagaimana ia akan menjelaskan semuanya nanti.
Apa neneknya itu akan mengerti atau mungkin akan marah besar dan memutuskan hubungan keluarga dengannya. Ah tidak, neneknya tidak segila itu untuk membencinya. Yang ia takutkan adalah wanita itu akan sakit lagi dan mungkin akan lebih parah jika tahu ia sudah tidak bersama dengan John dan menikah tanpa meminta restu darinya dulu.