My Husband is Billionaire

My Husband is Billionaire
chapter 21



Bryan meringis, memijati pelipisnya yang berdenyut.


Pria itu langsung di dera pusing mendadak karena pesan yang di sampaikan oleh Sam.


Bagaimana mungkin ia akan menghadirkan Aleysia untuk penyerahan harta warisan sedangkan gadis itu masih terbaring lemah tak berdaya.


Bryan kembali meruntuki kebodohannya, yang diliputi oleh nafsu ketimbang logika. Bahkan jika nanti Aleysia sudah sadarkan diri, gadis itu pasti memberontak dan meminta cerai. Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang?


“Apa rencanamu sekarang? Kita tidak mungkin mengatakan pada pengecara kakekmu jika Aleysia sedang di operasi bukan?”


Tanya Sam ketika menyadari kekalutan di wajah Bryan


“Sementara ini, pastikan setiap tenaga medis yang menangani Aleysia adalah tenaga yang benar-benar profesional. Pastikan juga seluruh obat-obatan dan perawatan yang di berikan adalah yang terbaik. “


“yang terpenting saat ini adalah memastikan gadis itu tetap hidup”


“Tutup semua informasi tentang Aleysia, pastikan tidak ada yang tahu dengan kondisinya sekarang. Terutama Ayah dan Ibu tiriku”.


Tambah Bryan lagi dan langsung mendapat anggukan setuju dari Sam.


***


Aleysia sudah keluar dari ruang operasi. Gadis itu sudah dipindahkan diruang perawatan.


Bryan berdiri di sebelah ranjang Aleysia, gadis itu belum sadarkan diri. Selang infus juga terus saja terpasang di tangan kanannya.


Bryan mengamati wajah Aleysia yang masih pucat, meski tidak seburuk ketika ia menggendong gadis itu menuju rumah sakit.


Sudut bibir Aleysia yang berdarah juga sudah mendapat pengobatan, namun tanda merah kebiruan di beberapa bagian tubuh gadis itu masih terlihat jelas Mungkin perlu waktu beberapa hari hingga tanda itu agar hilang dengan sempurna.


“Kapan dia bisa sadarkan diri dan dapat meninggalkan rumah sakit ini?”


Bryan melirik ke arah dokter yang berdiri menunduk cukup jauh darinya. Dokter itu sepertinya sengaja berdiri agak jauh, nuansa gelap Bryan yang menyelimutinya dan nama Bryan Dickinsson, pria yang terkenal dengan sikap dingin dan kejamnya itu siapa yang mungkin tidak tahu.


“Kami masih belum bisa memastikan tuan. Tapi kami akan terus memantau kondisinya.”


“Bagaimana mungkin kau tidak bisa memastikan? Ini pasti bukan pertama kali kau menangani pasien seperti ini bukan? “


Seperti tidak puas dengan jawaban dokter itu, Bryan berjalan mendekat ke arah dokter pria yang kini meremas ujung seragam putihnya itu.


“ Ku beri waktu seminggu. Pastikan gadis itu sudah sadarkan diri dan siap untuk pulang.” Bryan menatap dokter itu tajam, memberikan perintah yang di bumbui oleh ancaman


Dokter itu melonjak kaget, ia berusaha menelan ludahnya sendiri untuk sedikit menstabilkan keterkejutan serta ketakutannya sendiri.


Sebagai seorang dokter kepala dan telah lama menggeluti bidang kedokteran, tentu saja ia tahu jika gadis yang sedang terbaring itu baru saja mengalami tindakan perkosaan. Dari pendarahan yang terjadi tentu ia sudah dapat menyimpulkannya. Tapi ia juga sempat mendengar dari beberapa perawat bahwa gadis itu adalah istri tuan Bryan. Apa tuan Bryan memaksa istrinya untuk berhubungan hingga terjadi pendarahan pada organ intimnya? Ah tidak, lebih baik ia mengurungkan niat untuk bertanya jika tidak ingin terkena masalah.


“seminggu?... tapi..”


“Apa itu terlalu lama dokter?”


Dokter itu membulatkan mata, ia ingin menyela lagi. Tapi ucapan Bryan yang memerintah menghentikan pergerakan lidahnya untuk berbicara.


“kalau begitu ku beri waktu 3 hari, pastikan gadis itu sudah sadar dan pulih. Jika dalam waktu tersebut ia belum sadarkan diri, ku pastikan kau dan rekan-rekan kerjamu akan kehilangan pekerjaan. Aku juga akan menutup rumah sakit ini!”


Dokter itu menggeleng cemas, kehilangan pekerjaan dan rumah sakit ini juga akan ditutup. Bagaimana bisa pria yang berdiri menatapnya tajam itu berpikir jika dalam waktu singkat gadis itu akan sembuh total. Bahkan orang bodohpun akan tahu dengan hanya sekali menatap jika Aleysia masih terbaring lemah. Meski gadis itu akan segera sadarkan diri sekalipun, ia tetap harus melakukan serangkaian perawatan lainnya.


Tanpa berani membantah, dokter itu hanya mengangguk ragu tanpa berani menatap.


***


Aleysia membuka matanya dengan perlahan. Sinar matahari yang menerobos di balik ventilasi rumah sakit ini cukup menyulitkannya untuk membuka mata.


Gadis itu memindai seluruh ruangan dengan nuansa putih itu. Aroma obat yang sedikit menyengat menusuk penciumannya. Aleysia menerka-nerka ada dimana ia sekarang ini. Ruangan ini begitu asing untuknya. Alesyia menggerakan tubuhnya, hingga bagian bawah tubuhnya terasa begitu nyeri dan sakit. Dan tangannya, gadis itu menyadari ada selang infus yang tertanam di tubuhnya. Apa ini rumah sakit, gadis itu sedikit menyimpulkan pemikirannya.


Krekkk


Aleysia beringsut menjauhkan tubuhnya ke sisi ranjang, hingga rasa nyeri yang kuat itu seketika menjalar di bagian bawah tubuhnya.


“akhhh sakit” Aleysia meringis menahan sakit dengan air mata yang membasahi wajahnya.


“jangan banyak bergerak. Kau baru saja dioperasi. Jahitannya akan terbuka jika kau melakukan pergerakan” Aleysia seketika mematung dengan rasa nyeri yang berusaha ditahannya.


Apa yang terjadi hingga ia harus di operasi?


Aleysia tidak memperdulikan ucapan Bryan, gadis itu masih di dera oleh ketakutan. Bayangan Bryan yang begitu brutal menyentuhnya hingga merenggut keperawanannya membuat gadis itu merasa begitu muak sekaligus benci kepada pria itu.


“Menjauh dariku!” masih dengan di dera ketakutan Aleysia berusaha menghentikan langkah Bryan yang semakin berjalan mendekat kearahnya. Tapi bukan Bryan namanya, bukannya berhenti, pria itu semakin berjalan mendekat hingga membuat bulu kuduk gadis itu meremang.


“Apa yang... yang ingin kau lakukan?”


Aleysia melonjak kaget dengan sebelah tangannya yang ingin menepis tangan Bryan ketika pria itu hampir menyentuh punggung tangannya.


Bryan tercengang, gadis itu menepis tangannya begitu kasar.


“Menjauh dariku!”


Dengan segenap keberanian dan tenaga yang dimilikinya, Aleysia kembali mengusir Bryan, berharap pria itu pergi menjauh meninggalkannya.


“Berani sekali kau mengusirku!. Kau pikir siapa dirimu? Jika bukan karena kebaikan hatiku, kau pasti sudah berakhir di dalam kubur. Harusnya kau bersyukur aku masih memberikanmu kesempatan untuk hidup”


Bryan menyeringai, merasa puas dengan lontaran kalimat yang menyudutkan gadis itu.


“Kenapa tak kau biarkan saja aku mati? Bukankah itu lebih baik”


“Aku masih sangat memerlukanmu untuk mengambil semua warisan kakekku, dan kau tidak boleh mati untuk itu. Kau harus terus hidup sampai semua rencanaku berhasil”


Bryan mendekat, dengan berbicara setengah berbisik di telinga Aleysia.


“Setelah semua yang kau lakukan padaku, memaksa menikah denganmu, memperkosaku, dan sekarang kau berpikir agar aku tunduk dan mengikuti semua rencanamu? Kau gila!. Aku akan melaporkan tindakanmu pada polisi”


Bryan terkekeh, lalu melangkah lebih dekat kepada Aleysia.


“Memperkosa?” Bryan menekankan pada kata ‘memperkosa’. Entah lucu atau aneh, kata itu cukup memancing ketertarikannya untuk angkat bicara.


“Apa yang kau sebut memperkosa itu adalah menyentuh istriku sendiri? Bukankah kita telah sah menikah di hadapan Tuhan dan negara. Lalu pantaskah kau menyebut itu sebagai tindakan perkosaan?”


Aleysia tidak mengelak, kenyataanya memang benar ia adalah istri sah pria itu. Berhubungan suami Istri tentunya bukan sebuah hal yang dilarang. Hanya mereka tidak menikah dengan disertai cinta, dan tindakan pria itu bahkan juga mencerminkan seorang suami yang berhati lembut. Lalu salahkah jika ia ingin melaporkan pria itu pada pihak berwajib dan meminta keadilan untuk itu?


“Bukankah kita sudah membuat surat perjanjian jika kau tidak akan menyentuhku, ‘Tidak ada hubungan sex’, apa kau ingat itu? Kita bahkan sudah menandatanganinya dengan matrai.”


Aleysia menaikan nada suaranya, ia tidak ingin kalah dari pria itu. Setelah semua yang dilakukan pria itu padanya sekarang gadis itu tidak akan tinggal diam saja.


“Itu hanya sebuah perjanjian konyol, kita tidak perlu merisaukan itu. Bukankah kita bisa saling menyenangkan?” Bryan mengedipkan sebelah matanya, membuat Aleysia melotot dengan gigi yang bergemelatuk.


“Sialan kau!”


Aleysia menendang Bryan dengan sebelah kakinya, namun dapat ditangkis pria itu dengan cepat.


Hanya dalam hitungan detik setelah gadis itu menendang, rasa nyeri langsung menyerang bagian bawah tubuhnya. Kali ini berapa kali lipat lebih sakit dari sebelumnya.


Darah segar itu kembali merembes di selimut putih yang menutupi tubuh Aleysia seiring dengan jeritan kencang gadis itu.


***Maaf ya baru posting dan membuat kalian terlalu lama menunggu . Author sangat sibuk😭 mohon bersabar. Hehe


Author akan kabur sebentar ketika kalian mungkin akan protes dengan postingan ini😂 selamat membaca guyssss***


. wkwk wkwk wkwk