
“Namaku Brave. Senang bertemu denganmu Nona” pria dengan tubuh tinggi dan berkacamata besar itu mengulas senyum, lalu dengan langkah gontai mengiring langkahnya untuk pergi.
Aleysia masih berdiri kaku pada tempatnya, gadis itu seperti terhipnotis hanya dengan sebuah senyuman lembut yang pria itu berikan. Pria asing yang bahkan baru ditemuinya beberapa menit lalu itu nyatanya mampu mengalihkan perhatiannya.
“Ya Tuhan kenapa aku membiarkannya pergi” Aleysia menepuk jidadnya mengakui kecerobohannya yang tak dapat menolong pria yang ditabrak supirnya itu. Bahkan ia membiarkan pria malang itu pergi tanpa ia sadari.
***
Bryan menunggu dengan gusar diruang makan, pria itu sudah berulang kali mondar-mandir dari tempatnya duduk hanya untuk mengecek keberadaan Aleysia. Sudah lima belas menit dari perkiraannya dan gadis itu belum juga sampai.
Apakah terjadi sesuatu? Atau gadis itu berupaya kabur dengan mengancam supirnya dengan melakukan tindakan kriminal?
seharusnya ia sendiri yang harusnya menjemput gadis itu dirumah sakit, tapi gengsinya terlalu besar untuk itu, meskipun apa yang terjadi dengan Aleysia bersumber darinya, Bryan tetap bergeming dan tak mau merelakan sedikit waktunya untuk memberikan perhatian dengan menjemput gadis itu.
Bryan menggeleng. Sepertinya ia terlalu banyak menonton Film yang membuat ia terlalu berimajinasi. Meski ceroboh Aleysia tidak mungkin akan kabur darinya, lagi pula ia masih memegang kendali atas neneknya dan gadis itu tidak akan berani berbuat macam-macam.
Tapi dimana gadis itu sekarang?
Bryan melirik hidangan makan malam yang tersaji dimeja. Makanan dengan sajian koki bintang lima itu sudah hampir mendingin. Padahal ia sengaja meminta koki terbaiknya menghindangkan makanan itu untuk disantap bersama Aleysia. Ia sudah mempertimbangkan keputusannya untuk mencoba berdamai dengan gadis itu. Setidaknya hanya dengan cara itu, ia dapat mempertahankan warisan kakeknya. Apapun dan bagaimanapun caranya Aleysia harus berada dalam kendalinya, meyakinkan gadis itu untuk tunduk dan mematuhi semua ucapannya. Dan memastikan gadis itu tidak menghianatinya. Meskipun semuanya akan sangat sulit karena tidak disertai dengan perasaan dan cinta. Dengan kata lain ini hanya sebuah kepura-puraan.
Aleysia berjalan malas memasuki rumah, gadis itu masih dibayangi oleh rasa bersalahnya karena tak dapat menolong pria malang yang telah tertabrak itu. Padahal ia sudah meminta supir untuk mengendarai mobil dengan sangat pelan agar ia dapat leluasa memandangi sisi kiri dan kanan jalan, siapa tahu ia akan menemukan pria itu dan mengantarnya kerumah sakit. Namun hingga hampir tiba di kediaman Bryan, pria itu tak dapat ditemukannya.
“Kau pergi kemana? Kenapa baru saja tiba dirumah?” Aleysia menghentikan langkah kakinya. Ia memandang dengan keterkejutan ketika sosok Bryan sudah berdiri dengan tangan bersidekap didada tepat dihadapannya. Pria itu memasang ekspresi kaku dan angkuh seperti biasa.
“Aku…” Aleysia berbicara ragu, gadis itu berpikir sejenak untuk melanjutkan ucapannya. Jika pria itu tahu ia terlambat sampai rumah hanya karena mencari seseorang yang telah ditabrak oleh supirnya pasti mereka akan berakhir dengan adu mulut. Belum lagi, supir tua yang malang itu pasti akan kehilangan pekerjaannya.
“Aku hanya sedang mencari angin segar . Kau tahu, aku cukup lama tinggal di rumah sakit dengan aroma obat yang menguar setiap hari” Aleysia menjawab dengan nada mengejek penuh penekanan membiarkan Bryan berpikir jika karena pria itulah ia berakhir di ruang perawatan. Ia bahkan mengulas senyum sinis dengan ekspresi Bryan yang yang kaku tak bergeming.
“Harusnya kau memberiku kabar agar aku tidak menunggumu seperti ini. Bukankan kau memiliki ponsel. Kau tidak lihat aku melakukan panggilan ke nomor ponselmu?”
“kau menungguku? Untuk apa? Bukankah supir bilang kau sedang sibuk?” pertanyaan beruntun itu membuat Bryan merubah ekspresinya. Ia sepertinya salah bicara.
“Siapa yang menunggumu! Aku hanya berpikir jika kau akan kabur lagi. Itu saja” Bryan berbicara begitu cepat tanpa memperdulikan ekspresi Aleysia yang sepertinya sedang mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut Pria itu.
“ooh benarkah” Aleysia memelankan suaranya, ia menyesal kenapa harus mengelurakan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. Lagi pula untuk apa pria itu menunggunya, bukankah itu tidak seperti sikap Bryan. Meskipun ia juga masih kebingungan dengan sikap yang Bryan tunjukan dirumah sakit tadi siang, ketika pria itu dengan ekspresi lembut menyuruhnya istirahat dan menarik selimutnya hingga batas leher.
“Apa kau sedang makan malam?” Aleysia memecah keheningan diantara mereka dengan menatap hidangan makan malam yang tersaji di meja makan. Harum masakan yang menguar itu mengusik penciumannya hingga membuatnya merasa lapar.
Bryan mengikuti arah pandang Aleysia, sajian mahal ala hotel bintang lima itu sudah tidak menarik minatnya untuk makan. Makanan itu sudah dingin dan tidak akan terasa sedap di lidahnya untuk dinikmati. Lagi pula ini sudah lewat jam makan malam.
“ wah makanan ini sepertinya enak sekali? Apa ini makan malammu?” Tanpa dikomando, Aleysia sudah duduk di salah satu kursi meja makan. Gadis itu memasang ekspresi tidak sabar untuk menikmati setiap hidangan yang tersaji disana.
“ Jangan!” Aleysia berteriak cukup kencang hingga menghentikan langkah kaki pria itu yang hendak memerintahkan pelayan untuk membuang hidangan yang tersaji dimeja.
“meskipun dingin, Ini masih sangat layak untuk dimakan. Kau tak boleh membuang-buang makanan meskipun uangmu tak akan pernah habis untuk membelinya. Tidak banyak orang yang seberuntung dirimu bisa makan dengan hidangan seperti ini. Kau harus bersyukur” Aleysia memasang ekspresi sedih bercampur marah. Gadis itu teringat masa lalu ketika ia harus bersusah payah bekerja hanya untuk dapat menyantap sepotong roti keras sebagai pengganjal laparnya. Tapi Bryan, pria itu sama sekali tak menghargai makanan.
Helaan nafas berat menguar dari mulut Bryan. Ia akan berusaha menahan diri untuk tidak berdebat dengan gadis itu.
“kalau begitu, aku akan meminta koki memanaskannya” Bryan mencoba berkompromi, Pria itu sebenarnya juga lapar. Ia belum memakan apapun malam ini untuk makan malamnya. Tapi makanan dingin itu bukan seleranya. Ia terbiasa makan dengan sajian hangat dan segar yang langsung tersaji ketika makanan itu selesai dimasak oleh koki handalnya.
“ Tidak!. Makanan yang dipanaskan itu tidak bagus untuk kesehatan” Aleysia berseru cepat dengan anda keras kepala, hingga kali ini benar-banar membuat Bryan tercengang. Gadis itu bahkan sudah menyendokan beberapa makanan masuk ke dalam mulutnya dan menyumpalnya dengan tidak sabaran.
“udang ini sangat nikmat, ah ya ayam panggang juga sangat lembut di lidahku” Aleysia berbicara dengan tidak jelas dengan mulutnya yang masih penuh dengan makanan.
.
Bryan menghela nafas panjang lagi yang entah sudah keberapa kalinya, pria itu berusaha mengendalikan diri dan mengumpulkan kesabarannya sebanyak mungkin. ‘beramai’ Bryan menekankan itu di dalam jiwanya.
“kau tidak makan? ini sangat enak! Aku belum pernah makan makanan seperti ini sebelumnya” Aleysia terus mengoceh dengan mulutnya yang sesak dengan makanan. Bahkan mulut Aleysia sudah belepotan dan menimbukan rasa jijik bagi Bryan dengan cara makan gadis itu yang serampangan.
Mata Bryan melebar ketika hanya beberapa menit saja, hidangan besar itu sudah hampir tersisa setengahnya saja.
Bagaimana bisa gadis bertubuh kurus itu bisa melahap makanan sebanyak itu dengan waktu yang singkat.
“Makanlah dengan pelan. Kau bisa tersedak jika makan dengan cara bar-bar seperti itu” Bryan memperingatkan cara makan Aleysia yang jauh dari kata kesopanan menurut cara makannya.
“Kau tidak akan tahu nikmatnya cara makan seperti ini, jika kau tak tahu hidangan seperti apa yang biasa kumakan setiap hari” Aleysia memelankan suaranya, dengan arsa bersalah dan malu gadis itu menyudahi makanannya.
Bryan mendesah dalam hati, ia salah berbicara lagi. Harusnya ini makan malam ‘perdamaian yang akan membuat gadis itu perlahan melunak dengan sikap keras kepalanya, harusnya gadis berterimakasih padanya dengan sajian luar biasa yang ia berikan ini dan memancing simpati gadis itu untuk tunduk pada perintahnya. Tapi apa dayanya, ia memang hanya memiliki harta yang berlimpah tapi bukan kesabaran yang berlimpah.Mungkin ia harus lebih bekerja keras untuk membangun kesabarannya.
Uhuk…uhuk… Aleysia tersedak hingga memancing reaksi Bryan yang berdiri tak jauh dari makan.
“ kau tidak apa-apa?” Bryan berjalan mendekat, lalu menawarkan segelas air putih yang disambut cepat oleh Aleysia.
Belum sempat gadis itu meneguk segelas air putih yang berada ditangannya, tiba-tiba saja perutnya terasa begitu melilit dan…
Uekkkk… Aleysia tak sempat menghindar hingga memuntahkan isi perutnya ditubuh Bryan.
**
Hi readers salam hangat dari author. Berhubung ini bulan ramadhan dan juga lockdown daerah author di Banjarmasin jadi author tidak akan bekerja, dan kesempan ini akan author manfaatkan untuk update novel ini setiap hari. Doakan author terus dapat ide yang berlimpah yang akan memanjakan mata kalian dengan tulisan author yang penuh typo ini. Wkwkwk…