My Husband is Billionaire

My Husband is Billionaire
Chapter 17



Aleysia keluar dari kamar perawatan neneknya dengan langkah terburu-buru. Seperti dugaannya bodyguard yang semenjak tadi berdiri di depan ruang perawatan itu langsung sigap mengejarnya.


Aleysia semakin memperlebar langkahnya, diikuti derap langkah keras yang mengikuti langkah kakinya. Meski bertubuh kurus, Aleysia memiliki kaki jenjang yang memudahkan langkah lebarnya untuk berlari, hingga membuat bodygaurd itu sedikit kewalahan untuk mengejarnya.


“Anda ingin diantar kemana nona?” tanya supir ketika ia sudah duduk di kursi belakang mobil.


Aleysia berpikir sejenak hingga ia memutuskan tempat yang ingin ia kunjungi.


“Kau tahu dimana kantor Bryan?”


Aleysia bertanya dengan ragu.


Supir itu menaikan alisnya dengan pertanyaan yang Aleysia sampaikan. Aleysia mengamati perubahan wajah supir itu dari kaca spion mobil. Mungkin pria itu berpikir, bagaimana bisa majikannya itu tidak tahu dimana letak kantor suaminya berada.


“saya tahu nona. Apa anda ingin saya antarkan kesana?”


Tanya supir itu ramah, dan mendapat anggukan cepat dari Aleysia.


***


Renata memasuki ruangan Bryan dengan langkah penuh percaya diri. Memakai gaun merah selutut yang memamerkan lekuk tubuhnya yang indah. Polesan makeup mahal yang menempel pada wajahnya sungguh membuat penampilan gadis itu terlihat segar . Belum lagi kaki jenjangnya yang memamerkan kulit pahanya yang putih, membuat pria manapun akan menelan ludah melihatnya.


Renata tersenyum ramah berjalan melenggok-lenggokan tubuhnya menghampiri Bryan yang menunggunya di sofa ruang tamu di ruangannya.


“Aku patah hati ketika mendengar kau menikah. Jika bukan karena sebuah pemotretan penting, aku pasti sudah kabur dan menarikmu dari acara pernikahan. Membawamu pergi dan mengajakmu kawin lari saja. “ Renata mendekatkan wajahnya dengan gerakan seduktif mengelus turun naik bagian punggung Bryan.


“Benarkah?”


Tanya Bryan tidak percaya


“Tentu saja. Kau tahu aku begitu sakit hati kau menikah. Tapi saat sekretarismu meneleponku, aku tahu saat itu juga. Kau pasti masih menyukaiku. Pernikahanmu itu pasti hanya paksaan atas dasar bisnis”


Renata bergelayut manja di lengan Bryan. Nada suaranya dibuat-buat seseksi mungkin dan tingkah manja yang cukup menggelikan.


Bryan menarik tubuh Renata mengahadapnya, menarik tubuh seksi perempuan itu untuk menempel pada tubuhnya. Lalu mendaratkan ciuman di bibir Renata.


Renata terkesiap dengan tingkah Bryan yang tergesa-gesa dan menggebu-gebu. Wanita itu setengah mendorong tubuh besar Bryan untuk sedikit menjauh. Menghirup udara sebanyak mungkin untuk mengisi paru-parunya yang terasa kosong akibat ciuman panas mereka.


Tapi Bryan tidak menghentikan kegiatannya. tubuhnya sudah terasa panas dengan rasa nyeri yang menjalar di bagian bawah tubuhnya membuat pria itu melanjutkan ciuman panas mereka. Saling memeluk dan mencumbu.


Renata tersenyum puas dalam hati, ia merasa telah berhasil mendapatkan pria itu. wanita itu semakin berani lalu menggesek-gesekan tubuhnya di dada Bryan dan membuat ciuman mereka bertambah panas.


***


Gedung perkantoran setinggi 60 lantai itu menjulang tinggi dibandingkan gedung lain di sekitarnya.


Aleysia lagi-lagi dibuat takjub dengan kekayaan Bryan yang begitu besar dan tak ada habis-habisnya. Aleysia dapat menerka kenapa Bryan begitu melindungi hartanya, ya tentu saja jika aset berharganya itu seperti perusahaan ini . Siapa yang ingin kehilangan. Dan tentu saja pasti masih ada aset lain yang dimiliki keluarganya selain perusahaan besar ini.


Suasana kantor terlihat cukup lengang. Karena ini sudah lewat dari jam istirahat, semua pegawai kembali melanjutkan pekerjaan mereka.


Hanya ada petugas keamanan yang berjaga. dan petugas kebersihan yang berlalu lalang untuk mengepel lantai atau membersihkan toilet yang digunakan oleh para pegawai.


“Anda yang bisa saya bantu?” wanita yang berprofesi sebagai resepsionis itu menyambut hangat Aleysia ketika ia sudah sampai di lobi perusahan.


“Bisa saya bertemu Bryan?” tanya Aleysia jujur


Aleysia menggeleng. Ia hanya ingin bertemu sebentar dengan pria itu, sambil melihat-lihat dimana letak kantor pria itu bekerja. Tetapi wanita yang mengaku sebagai resepsionis itu menanyakan apakah ia sudah memiliki janji atau belum. Sesulit itukah bertemu Bryan hingga ia harus membuat janji terlebih dahulu.


“Jika anda belum memiliki janji saya sarankan untuk datang dilain waktu nona. Terimakasih”


Wanita itu tersenyum ramah dengan mengusir secara halus.


Aleysia ingin melayangkan protes, namun tertahan ketika bodyguard yang tadi berdiri di belakangnya itu menunjukan sebuah kartu kepada resepsionis.


“silakan nona, ruangan tuan Bryan ada di lantai paling atas. Anda bisa bertemu dengan sektetaris tuan sebelum memasuki ruangannya nanti.”


Ajaib !ucapan itu yang pertama terlintas diotak Aleysia. Ketika hanya sebuah kartu dapat meluluhkan hati si resepsionis dan membolehkannya bertemu Bryan. Entah kartu apa itu, Aleysia tidak mengerti. Tapi ia akan bertanya langsung kepada Bryan nanti, kalau perlu ia akan meminta satu. Agar bisa dengan mudah masuk ke perusahaan ini jika ia perlu dengan pria itu.


Ternyata ada untungnya membawa bodyguard ini bersamanya. Setidaknya ia terbantu untuk masuk ke kantor Bryan.


Aleysia menaiki lift khusus yang akan mengantarnya menuju lantai utama. Tempat dimana Bryan menghabiskan waktunya bekerja di tempat ini.


Bodyguard itu sepertinya sangat hafal denga kondisi kantor Bryan. Di bahkan tahu apa saja prosedur yang dilakukan untuk menemui majikannya itu.


Aleysia berdiri dengan tenang menanti pintu lift terbuka ketika telah sampai dilantai utama. Tempat Bryan bekerja. Diikuti Bodyguard yang berdiri tegap dibelakangnya.


***


Sam merasakan perih dibagian lambungnya. Sejak mehabiskan makan siangnya dua jam yang lalu, perut pria itu seperti melilit. Sudah bolak-balik toilet beberapa kali sakit ternyata sakitnya belum juga kelar. Bahkan berkali lipat lebih sakit dari sebelumnya.


Sam menyeka keringat yang menetes membanjiri wajahnya. Tubuh pria itu panas dingin karena menahan sakit.


Sam menoleh ke arah pintu ruangan Bryan yang tertutup. Bryan dan Renata masih ada disana dan menghabiskan waktu bersama. Sangat tidak mungkin jika mereka selesai dengan waktu yang singkat. Mungkin ia bisa pergi ke toilet dulu, lalu pergi ke klinik di lantai bawah yang khusus di sediakan oleh kantor. Ia akan memeriksakan kondisi perutnya nanti.


Pintu lift terbuka, Aleysia langsung melangkahkan kakinya mencari Sam, sekretaris Bryan. Resepsionis bilang ia harus melapor dulu kepada pria itu jika ia ingin menemui Bryan. Sungguh prosedur yang sulit hanya untuk menemui pria yang bersatus suaminya itu.


Aleysia meminta bodyguard untuk menunggunya diluar. Ia sendiri yang akan berbicara dengan Sam.


Sejauh mata memandang, hanya ada satu ruangan di lantai utama. Hanya ada ruangan Bryan. Aleysia memutar bola matanya mencari-cari dimana sekretaris Bryan. Ia belum menemukannya sejak tadi. Padahal tidak ada ruangan lain selain ruangan Bryan du lantai itu. Lalu kemana sekretaris pria itu?


Apa Aleysia mengetuk saja pintu ruangan Bryan. Ia hanya akan bertemu dengan Bryan sebentar. Jika harus menunggu sekretarisnya datang, sepertinya itu akan lama. Apalagi Aleysia tidak tahu kemana perginya sekretaris Bryan itu.


Aleysia mengetuk pintu beberapa kali, tidak ada sahutan sama sekali. Apa Bryan sedang pergi. Atau jangan-jangan Bryan dan sekretarisnya memang sedang tidak ada di ruangan.


Aleysia tidak menyerah, gadis itu mengetuk pintu lagi. Masih sama, tidak ada sahutan di balik pintu besar itu.


Timbul rasa penasaran di benak Aleysia. Gadis itu menyentuh gagang pintu dan membukanya perlahan.


“Bryan....!!!”


Aleysia menjerit dengan suara lantang lalu buru-buru menutup matanya. Nafasnya memburu dengan mulutnya tertahan oleh telapak tangannya sendiri untuk tidak berteriak.


Gila, Bryan sedang dalam keadaan tanpa busana dengan seorang wanita di sofa ruangan kerjanya.


Terima kasih sudah membaca.


Tolong like, comment dan vote😀