My Husband is Billionaire

My Husband is Billionaire
Chapter 24



Dokter tua itu menelan salivanya yang terasa pahit di dalam mulutnya. Rencananya untuk kabur


dari Bryan tak semudah pikirannya. Baru saja mendapat angin segar untuk segera


kabur ternyata ia malah dipanggil lagi oleh pria itu. Sungguh sial pikirnya.


“jika hubungan seksual itu dilakukan saat sedang masa subur kemungkinan besar akan terjadi


kemahilan. Tapi jika sebaliknya hubungan seksual terjadi diluar masa subur kemungkinan


terjadi kehamilan akan sangat kecil”


Bryan berpikir sejenak, masa subur? Ya tentu saja ia tahu tentang itu. Ia bahkan sering


menghindari hubungan sex dengan wanita yang ia kencani meski pria itu tak


pernah lupa untuk memakai pengaman setiap kali melakukan hubungan seksual. Tapi


sekarang? Ia bahkan tak tahu apa Aleysia sedang berada dalam masa subur atau


sebaliknya. Jika gadis itu sedang dalam masa subur maka itu akan sangat


menyusahkannya kelak. Ia tidak ingin memiliki keturunan apalagi membina


hubungan keluarga.


“berikan obat atau suntikan  apapun yang dapat


menggagalkan kehamilan. Aku tidak ingin gadis itu hamil.”


Dokter itu hampir melototkan matanya menatap Bryan yang sedang memberi instruksi penuh


ancaman.


“baiklah tuan”


“Apa kau yakinbisa memastikannya. Kau tahu apa yang akan terhadi dengan karirmu jika gadis


itu ternyata hamil dikemudian hari?”


Dokter itu meremas kemeja lagi yang sudah kusut dengan cengkraman kuat tangannya yang


bergetar.


“tentu, anda tidak perlu khawatir tuan. Semua akan sesuai dengan keinginan anda “. dokter


itu mencoba meyakinkan Bryan dengan penuh ketegasan. Karirnya selama puluhan


tahun bergantung dari upaya yang dilakukannya untuk gadis itu. Ia harus


memastikan Aleysia tidak akan hamil.


***


“Akh...”Aleysia meringis merasakan sedikit nyeri dibagian lengannya.


Entah suntikan apa lagi yang perawat itu suntikan di tubuhnya, dan hari ini ia sudah ketiga


kalinya ia menerima suntikan yang ia sendiri tidak tahu untuk apa fungsinya.


Yang jelas ia merasa sakit dibagian  bawah tubuhnya sudah mulai berkurang sekarang.


“suntikan apa ini?” Aleysia nyatanya tak mampu menahan diri untuk tidak bertanya. Rasa


keingin tahuannya yang tinggi akhirnya memicu semangatnya ingin tahu.


“ini suntikan kontrasepsi nona. Anda akan mendapatkan suntikan ini lagi untuk tiga bulan


kedepan”


Kontrasepsi? Bukankah itu suntikan yang dapat mencegah kehamilan? Kenapa ia harus


mendapatkan suntikan itu. Bukankah akan lebih efektif jika mengunakan pil


darurat yang juga dapat mencegah kehamilan. Lagi pula penggunaan kontasepsi


dengan suntikan tiga bulan akan lebih banyak memiliki efek samping. Selain itu,


rasanya sangat berlebihan jika  ia harus


menggunakannya.


Tidak, Aleysia menggeleng sejenak membuang pikirannya buruknya. Tidak mungkin bukan jika pria


itu menginginkan tubuhnya lagi. Aleysia masih merasa sangat trauma dengan apa


yang ia alami akibat tingkah gila Bryan yang membuatnya berakhir di ruang


operasi. Sungguh ia tidak mau mengalami hal serupa lagi.


“ kenapa aku...” Aleysia menghentikan ucapannya ketika terdengar decitan pintu yang


terbuka. Bersamaan dengan itu, perawat yang berada didepannya menunduk hormat setelah selesai


dengan kegiatannya lalu hilang dibalik pintu.


“Kau sudah bisa pulang sore nanti”


Bryan mengambil tempat duduk di kursi tempat Aleysia berbaring. Setelan kemeja abu tua dan jas


hitam yang terpasang rapi ditubuhnya membuat pria itu terlihat segar.


“Apa kau yang memerintahkan perawat memberi suntikan kontrasepsi padaku?”


Aleysia memicingkan matanya menatap Bryan yang duduk santai dengan sebuah Koran yang sedang dibacanya


“emm” Bryan mengangguk singkat dengan pandangannya yang masih terfokus pada Koran yang ia baca.


“untuk apa kontarsepsi itu? Kau tidak berpikir untuk meniduriku lagi bukan?”


Kali ini Bryan mau tak mau harus mengalihkan pandangannya pada Koran yang ia baca, mata


pria itu kini bertatapan langsung dengan Aleysia


“penggunaan alat kontrasepsi akan mencegah terjadinya kehamilan. Ku pikir itu akan sangat


efektif untukmu. Terkecuali jika kau memang menginginkan anak dariku?”


“jangan gila, aku tidak akan sudi mengandung anak darimu!”


“ lalu? Kenapa kau harus protes dengan suntikan kontrasepsi jika kau memang tidak bersedia


untuk mengandung anakku?”


bulan. Bukankah sudah cukup jika aku hanya mendapatkan suntikan untuk satu bulan


saja atau mungkin kontrasepsi darurat saja”


“Aku hanya meminimalisir kemungkinan untuk tiga bulan kedepan. Siapa tahu aku akan bernafsu


lagi padamu. Akan sangat merepotkan jika aku harus membawamu bolak-balik ke


rumah sakit hanya untuk memberikan suntikan pencegah hamil lagi”


“Apa…” Aleysia menganga memastikan pendeangarannya. Seperti dugaannya Pria ternyata


benar-benar memiliki niat terselebung dengan suntikan itu.


“Aku bahkan hampir mati menahan sakit karena perbuatanmu. Dan  kau berpikir untuk kembali melakukannya! Apa kau waras tuan Bryan?”


“ Aku akan melakukannya dengan lembut kali ini. Hingga kau berpikir untuk memintanya


kembali” Bryan mengedipkan sebelah matanya, berusaha menggoda Aleysia yang


semakin murka padanya.


“Beristirahatlah! sebelum keluar dari rumah sakit, akan ada perawat yang nanti akan membantumu


membersihkan diri” setelah menyelesaikan ucapannya Pria itu bangkit berdiri. Menarik


selimut yang Aleysia gunakan hingga menutupi leher gadis itu lalu berjalan


pergi.


***


Setelah beberapa perawat membantu Aleysia membersihkan diri dan berganti pakaian kini


gadis itu tengah duduk dikursi roda yang tengah didorong seorang perawat berpakaian


khas rumah sakit. Seperti janji Bryan, ia akan pulang sore ini. Tapi,  hingga ia hampir masuk ke dalam mobil pria itu


juga tak kelihatan batang hidungnya.


Aleysia meringis menahan dingin ketika hembusan angin menerpa kulitnya, gadis itu kemudian cepat-cepat


merapikan gaunnya yang berwarna merah muda dengan motif bunga-bunga itu ketika


tiupan angin juga hampir mengibarkan sebagian gaunnya.  Gadis itu memandang ke sekeliling sebelum


akhirnya sampai di depan mobil yang akan ia tumpangi.


“Tuan sedang ada urusan nona, saya akan mengantarkan anda untuk pulang kerumah” Supir itu


berdiri sedikit membungkuk lalu membukakan pintu mobil.


Aleysia menggaguk patuh. Dengan bantuan seorang perawat Aleysia kini sudah masuk ke dalam mobil


yang siap membawanya menuju Rumah.


BRAKKK suara decitan ban mobil yang direm mendadak membuat Aleysia hampir terpental ke


depan.


“Apa yang terjadi?” Aleysia bertanya kepada supir dengan cemas.


“Sepertinya saya telah menabrak seseorang nona” supir itu berbicara dengan gugup. Tangannya


yang gemetar langsung berkeringat dingin. Dengan cepat supir itu keluar dari


mobil, setengah berlari untuk melihat korban yang ditabraknya.


“Apa anda tidak apa-apa Tuan? Maafkan saya tuan!” Supir itu terlihat membantu berdiri


seorang pria yang menahan sakit pada kakinya


“Aku tidak apa-apa!, maafkan aku karena menyebrang dengan tidak hati-hati” Pria itu


berjalan dengan gontal sambil meringis menahan sakitnya


“Tunggu! kakimu terluka!” Aleysia yang ternyata sudah berdiri dibelakang supir mencegat tangan


pria itu yang hampir berjalan menjauh


Dengan refleks pria itu menoleh, menatap gadis muda itu dengan keterkejutan


“kakimu berdarah!, kau harus segera diobati” Aleysia menatap luka pria itu yang


mengeluarkan darah dengan cemas


“Tidak apa-apa ini hanya luka kecil nona. Kau tak perlu cemas” seperti dapat membaca


ekspresi Aleysia pria itu tersenyum ramah lalu kembali berniat melangkahkan


kakinya.


“Tunggu” pria itu kembali menoleh ketika lengannya ditarik setengah paksa oleh Aleysia.


“pakailah ini. Maafkan supirku yang tidak sengaja menabrakmu!” Aleysia menyematkan saputangan


dikaki pria itu yang terluka. Darah segar langsung saja merembes membasahi saputangan


putih itu. Harusnya pria itu  segera mendapat


perawatan dirumah sakit untuk mengobati lukanya. Tapi apa dayanya, ia bahkan


tak memiliki sepeser uangpun saat ini untuk menolongnya.


“te…terimaksih Nona. Siapa nama Anda?”


“namaku Aleysia”


***


Hai para


readers yang begitu lama menunggu novel ini Up lagi. Maafkan author yang


tiba-tiba hilang dan lama banget update. Sebenarnya author sempat berpikir


untuk berhenti menulis novel ini, karena susah banget membagi waktu antara


novel dan pekerjaan didunia nyata . Tapi karena banyak yang nagih kelanjutan novel ini akhirnya author


berusaha menulis lagi ( sudah lama gak nulis lupa ceritanya ). Semua karena kalian yang mendukung cerita ini. Terimakasih semoga author bisa segera menyelesaikan novel ini sampai chapter terakhir.