
“Hei pengantin baru.” Sapa Sam yang baru saja muncul dari pintu. Pria itu menggandeng seorang gadis dengan tubuh bak model. Bryan dan Max mengalihkan pandang kepada Sam.
“Kau tidak menikmati malam pertamamu Bryan?” giliran Sam yang menggoda Bryan sekarang, membuat Bryan berdecak tidak suka.
“Apa ia tidak menarik hingga kau datang kemari? Mau ku kenalkan wanita baru. Ku yakin kau tidak akan menolak untuk tidur dengannya” Sam mengedipkan mata, diikuti oleh Max yang memberi syarat mengiyakan ucapan Sam.
“Aku sedang tidak ingin melakukan sex!”
“Hei yang benar saja!. Apa kau sudah mulai tobat untuk meniduri para wanita. Dimana sifat jantanmu itu Bryan? Setahuku kau rutin melakukan pelepasan dengan para wanita. Tapi yang terakhir ku tahu Laura hampir mengamuk mengadu padaku. Katanya semalaman suntuk kau hanya menatap laptop tanpa menyentuhnya” tutur Sam
Bryan mengingat kembali terakhir kali ia mengencani Laura. Wanita itu hanya ia acuhkan di tempat tidur semalam suntuk. Benarkah ia sudah mulai hilang kejantanannya? Tidak! ia pria normal yang bahkan sedikit saja menatap wanita dengan pakaian seksi bagian bawahnya pasti sudah bereaksi.
“Hei ini hari ulang tahunmu? Mau ku kirim gadis ke rumahmu?” ucap Max diiringi tawa menggema.
“Aku akan menghadiahimu dua orang wanita sekaligus Bryan... bagaimana?” tawar Sam yang di iringi ucapan Waw dari Max.
Bryan mendesis memperhatikan kelakuan teman-temannya yang sepertinya mulai menggila karena pengaruh alkohol. Bryan memilih bangkit meninggalkan dua pria yang kini meneriaki namanya.
***
Aleysia memutar tubuhnya menatap langit -langit kamar. Sejak tadi ia sudah berusaha memejamkan mata, tapi rasa kantuknya tak kunjung tiba. Padahal seharian ini tubuhnya terasa benar-benar lelah karena Pesta pernikahannnya yang berlangsung semenjak pagi dan berakhir hingga malam hari. Ia juga harus tersenyum sumringah kepada setiap tamu dengan menahan sepatu hak tinggi yang rasanya seperti menggigiti kulit kakinya.
Ini malam pertama pernikahannya, harusnya malam ini ia mengenakan gaun malam seksi dan menunggu dengan senyum merekah menanti suaminya. Ya, jika itu pria yang di cintainya. John, andai ia menikah dengan pria itu. Andai pria itu tidak berselingkuh dan meninggalkannya, Ia pasti tidak akan merasakan kesepian dan hanya di temani bantal dan guling di malam pertama pengantinnya.
Aleysia bangun dari tempat tidur, lalu menyalakan lampu kamar yang tadi ia padamkan sebelumnya. ia ingin merendam tubuhnya di buthup dengan air hangat sebentar saja. Mungkin dengan cara itu ia akan cepat untuk tidur. Gadis itu melirik arloji yang sudah menunjukan pukul 3 pagi. Tiba-tiba saja pikirannya teringat Bryan. Apa pria itu sudah pulang? seingatnya pria itu memintanya untuk tidak menunggu. Apa itu artinya ia tidak pulang semalaman?.
Aleysia memutar tubuhnya yang sudah mendekati pintu kamar mandi. Dengan langkah lebar ia membuka knop pintu, menyembulkan kepalanya sedikit dan mengamati sekitar.
Sepi. Itu yang pertama terlintas di pikiran Aleysia. Semua maid sepertinya juga sudah beristirahat di kamar mereka. Bahkan Belinda yang selalu bersiaga melayaninya juga tidak terlihat batang hidungnya. Aleysia bingung, dengan jam kerja para maid yang menurutnya aneh. Kadang rumah besar ini terlihat sepi tidak ada maid yang berlalu lalang seperti sekarang. Kadang para maid sibuk berkeliaran dengan begitu banyak pekerjaan yang sepertinya tidak habis-habis mereka kerjakan. Sepertinya ia harus bertanya langsung pada Belinda atau para maid lainnya untuk mengusir rasa penasarannya.
Aleysia berjalan mengendap dan hati-hati Sedikit berjingkit dan menoleh ke segala arah. layaknya pencuri yang tak ingin ketahuan penghuni rumah.
Ia berhenti melangkah tepat di depan kamar Bryan. Niatnya untuk mengetuk terhenti, takut-takut jika Bryan sudah pulang dan mengganggu tidurnya. Pria itu pasti akan mengamuk dan berbicara ketus lagi.
Aleysia berhenti pada jendela kaca besar sebelum memasuki kamarnya. Gadis itu masih penasaran, apakah Bryan sudah pulang atau belum. Ia ingin melihat apakah mobil pria itu sudah terparkir dihalaman.
Ada banyak mobil yang terparkir.
Aleysia mengerutkan dahi, tidak tahu mobil mana yang pria itu gunakan. Aleysia mengangkat bahunya sambil menggeleng. Kenapa ia harus peduli jika Bryan sudah pulang atau belum. Bukanlah lebih baik jika pria itu tidak pulang, setiap ada Bryan ia pasti selalu bertengkar dengan pria itu.
Aleysia menuruni anak tangga, langkah kakinya membawa ke lantai satu. Sama seperti lantai dua. Ruangan di lantai satu juga begitu sunyi. Udara dingin menusuk kulitnya. Aleysia hanya menggunakan piama tidur dengan motif taddy bear berwarna navy diatas lutut. Pakaian itu ia dapat di lemari kamarnya. Mungkin Bryan memang sengaja menyiapkan itu untuk ia pakai. Untunglah pria itu tidak menyiapkan gaun tidur seperti lingeri. Aleysia bergidik membayangkannya jika ia harus memakai gaun seperti itu.
Aleysia mengamati sekitar, ia mengintip sedikit di balik horden. Beberapa body guard dengan pakaian hitam-hitam dan wajah kaku berjaga di sekitar pagar.
Aleysia meneruskan langkahnya, kali ini tujuannya adalah dapur. Kerongkongannnya terasa kering dan perutnya juga terasa lapar. Ia mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas, membuka tutupnya dan meneguk setengah isinya. Rasa dingin mengalir di sekujur kerongkongannya.
Setelah puas melepas dahaga, Aleysia menarik kursi makan dan duduk diatasnya, gadis itu mengambil apel yang berada di atas meja. Lalu mengupasnya.
Setelah cukup puas dengan melahap sebiji apel Aleysia meninggalkan dapur dan kembali mengintari seluruh rumah.
Aleysia mengarahkan pandangannya pada kolam renang besar yang berada disisi kanan tangga. Muncul keinginannya untuk berenang di kolam besar itu.
Aleysia membuka pintu yang menghubungkannya dengan kolam renang, matanya berbinar mendapati air kolam yang tampak jernih dan tenang. Aleysia mencelupkan sebelah tangannya kedalam air.
Dingin
Itu yang dirasakan kulitnya saat menyentuh air. Aleysia duduk di tepi kolam renang. Menurunkan satu persatu kakinya ke dalam air. Membiarkan suhu air yang dingin menyatu dengan bagian tubuhnya. Setelah beberapa menit merendam kakinya Aleysia mulai memperhatikan sekitar. Sunyi. Kolam renang itu sama seperti tempat lainnya yang seperti tanpa penghuni. Aleysia melepas piama tidurnya. Meletakannya diatas sun lounger yang terletak tak jauh dari tempatnya duduk. Sekarang gadis itu hanya memakai pakaian dalam saja. Suasana sangat sepi. Para maid dan bodyguard bertampang sangar itu tidak mungkin masuk ke dalam kolam renang dan mendapati dirinya dalam keadaan setengah telanjang.
***
Bryan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia ingin cepat sampai ke rumah. Niatnya untuk melepas lelah di klub malam sepertinya gagal. Malah pusingnya yang kini bertambah.
Pikirannya kembali kepada celotehan kedua temannya Max dan Sam. Benarkah ia sudah mulai hilang kejantanannya? Jika dipikir lagi ia memang sudah lama tidak melakukan pelepasan. Beberapa wanita yang terakhir ia kencani hanya menemani ia tidur saja.
Ah tidak ia hanya kelelahan dan sedang dalam mood kurang baik akhir-akhir ini, hingga melupakan urusan ranjang. Ya benar begitu. Bryan meyakinkan pemikirannya.
Apa ia harus menguji kejantanannya masih berfungsi atau tidak? Apa ia harus menggoda wanita dan melihat reaksi tubuhnya?
Aleysia. Ia tiba-tiba saja teringat gadis itu. Istri kecilnya, gadis yang usianya terpaut jauh lebih muda darinya itu. Apa yang sedang dilakukannya. Apa ia perlu menggoda gadis lugu itu hanya untuk memastikan kalau ia memang lelaki normal. Gadis itu pasti sudah tidur nyeyak sekarang atau jangan-jangan kabur?
Ah Bryan menggeleng, ia telah memperingatkan gadis itu untuk tidak berniat kabur. Para body guard yang berjaga di rumahnya juga sudah ditambah. Mustahil jika gadis itu berhasil lolos.
***
Aleysia tersenyum berbinar layaknya anak kecil. Sudah begitu lama ia tidak berenang seperti ini. Sangat menyenangkan. Ternyata hidup sebagai istri orang kaya itu tidak terlalu buruk. Ia bisa menikmati fasilitas seperti ini setiap hari. Istri? Aleysia baru sadar ternyata statusnya baru saja berubah. Apa ia juga akan memakai gelar Dickinsson di belakang namanya? Aleysia tertawa geli membayangkannya.
Aleysia memegangi sisi kolam lalu mulai menggerakan kedua kakinya. Perlahan gadis itu melepas pegangan tangannya yang semenjak tadi berpegangan pada sisi kolam renang. Aleysia mulai menggerakan tangan dan kakinya bersamaan berenang di sekitar pinggiran kolam saja. Setelah cukup lama ia mulai berenang ke tengah kolam. Menggerakan tangan dan kakinya bersamaan. Sesekali ia juga menyelam.
Au... gadis itu terlonjak. Bagian tengah kolam renàng ternyata lebih dalam. Aleysia hilang keseimbangan ditambah dengan kakinya yang terasa kram. Kakinya terasa kaku untuk di gerakan.
Gadis itu timbul dan tenggelam, namun tetap berusaha menggerakan tubuhnya untuk sampai ke sisi kolam. Ia mulai kehabisan nafas, pinggiran kolam yang hanya berjarak beberapa meter itu terlihat begitu jauh.
Bryan memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu rumahnya. Para body guard yang sedang berjaga menundukan badan ketika pria itu melewati mereka.
Bryan menaiki satu persatu anak tangga yang akan membawanya naik ke lantai dua. Langkahnya terhenti ketika pandangannya tertuju pada lampu kolam renang yang menyala. Biasanya lampu itu akan otomatis menyala jika ada orang yang masuk kesana.
Siapa pagi-pagi buta begini masuk ke dalam kolam renang? Apa ada yang memakai kolam renang pribadinya?
Bryan berbalik menuruni anak tangga. Ia memperhatikan pintu yang terbuka. Rasa penasarannya membawa pria itu memasuki kolam renang.
Aleysia masih berusaha menggerakan tubuhnya, meski tangan dan kakinya hampir tak berdaya. Gadis itu semakin tenggelam menjauh ke dasar kolam.
Bryan sedikit berlari, dengan nafas yang memburu ia memperhatikan riak air di tengah kolam. Ada seseorang yang saat ini tenggelam.
Manik matanya menangkap piyama teddy bear di sun lounge. Itu milik Aleysia.
Byur.... pria itu menyeburkan tubuhnya ke dalam kolam. ...
Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca.
Author hanya bisa update kalau ada waktu senggang. 😀