
“hei… bukankah kau pria yang kemaren tertabrak?”
Aleysia berbicara dengan impulsive pada pria yang berdiri dihadapannya itu. Sama halnya dengan Aleysia, pria itu menunjukan respon yang sama-sama terkejutnya dengan gadis itu.
“Nona Aleysia” pria bernama Brave itu tersenyum ramah sambil menyapa
“Hei kau ternyata masih ingat namaku?”
Sungguh tidak disangka, Aleysia sudah hampir menyerah untuk menemukan pria dihadapannya ini, tapi…pucuk dicinta ulam pun tiba. Ia sungguh beruntung menemukan Pria ini disini.
“mana mungkin aku melupakan nama gadis secantik anda” Aleysia tersenyum malu dengan rona merah di pipinya. Tidak banyak orang yang mengenalnya, dan sebagian dari mereka tak pernah satupun memberikan pujian seperti ini. Aleysia terkagum, Pria dihadapannya ini sepertinya berbeda.
“bagaimana dengan kakimu? Maaf aku tidak dapat menolongmu kemaren” Aleysia tersenyum masam dengan menunjukan rasa bersalah
“Tidak masalah. Kakiku baik-baik saja. Hanya luka kecil, anda tak perlu khawatir nona” Brave tersenyum lebar sembari menggerakan kakinya untuk berjalan-jalan kecil di depan Aleysia. Pria itu ingin menunjukan jika ia baik-baik saja.
“Syukurlah. Aku sangat lega jika kau baik-baik saja”
“Apa kau bekerja disini?” Aleysia memperhatikan seragam yang Brave gunakan. Seragam itu sama dengan para pelayan yang berlalu-lalang di caffe ini.
“Ini hari ke dua bekerja di sini”
“Benarkah? Jadi kau pelayan baru disini!”
“Kalau be…” Aleysia menggantung ucapannya dan mengikuti arah pandang Brave yang seperti salah tingkah. Pria berbadan besar dengan kepala botak yang berdiri didekat meja kasir itu melototkan matanya. Sepertinya itu pemilik caffe ini. Aleysia paham apa yang sedang dipikirkan oleh Brave, pria itu pasti merasa takut jika ia akan terkena teguran oleh bosnya itu, mengingat percakapan mereka yang cukup lama.
Aleysia berdehem memecah rasa canggung diantara mereka” Aku pesan secangkir coklat hangat saja” Pria itu tersenyum lebar disertai anggukan lalu pergi menyiapkan pesanan.
****
Bryan menselonjorkan kakinya yang panjang lalu duduk memutari kursi kerjanya, ini sudah saatnya jam makan siang, tapi ia ada janji bertemu cliennya siang ini. Setengah jam lagi ia aka nada rapat dengan CEO dari perusahaaan Solla Grub yang akan membahas kerjasama dengannya. Waktu makannya akan sangat sempit jika harus ia lakukan sekarang. Ia tidak akan dapat menikmati makanannya jika harus terburu-buru.
Bryan melirik kotak makan yang berada di sofa ruang kerjanya, kotak makan berbentuk kotak dengan warna krem itu menyita perhatiannya. Ia cukup terkejut dengan perlakuan hangat gadis itu tadi pagi. Biasanya gadis itu berbicara keras dan tidak sopan padanya, tapi pagi ini gadis itu malah membuatkan sarapan yang berakhir dalam kotak makan ini.
Sebenarnya Bryan tidak berniat untuk mengambil kotak makan itu. Tapi wajah masam Aleysia yang merunduk sedih itu membuatnya sedikit Iba. Ia cukup menghargai usaha gadis itu untuk membuatkannya makanan. Lagi pula bukankah ia sudah berjanji untuk bersikap damai.
Kotak itu di tinggalkan begitu saja di dalam mobil tanpa Bryan mau menyentuhnya. Pria itu memang sengaja tidak mau memakannya. Tapi resepsionis di ruangan bawah ternyata mengantarkan kotak itu ke ruang kerjanya. Wanita itu bilang supir yang meminta mengantarkannya dan mengatakan kotak tuannya telah tertinggal di dalam mobil. Sontak saja hal tersebut memicu kericuhan para karyawan. Setahu mereka bos besar mereka itu tidak pernah membawa kotak dan selalu makan dengan sajian koki terbaik.
“ jadi itu kotak yang di bicarakan para karyawan?” Bryan menghentikan lamunannya, menatap penuh tanya pada Sam yang berdiri di ambang pintu. Sekretaris sekaligus temannya itu memang sering menguping pembicaraan para karyawan.
“Aku hanya penasaran apa isi kotak makanmu itu, pasti sangat spesial” Sam terkekeh setengah mengejek membuat Bryan mengerang kesal
“keluarlah aku sedang sangat sibuk”Bryan memberikan pengusiran dengan tegas kepada Sam, dan hanya di balas kekehen kecil pria itu.
“Hei santai saja. Aku hanya membawakanmu berkas untuk rapat hari ini. Kau harus membaca dan mempelajarinya lagi. Ku dengar calon mitra bisnis kita kali ini sangat selektif dalam bekerja sama. Sedikit saja ada kesalahan mereka akan langsung membatalkan kerja sama kita. “
“Kita akan merugi besar jika kerja sama kita batal. Mengingat persiapaan yang telah kita lakukan untuk mempersiapkan kersama ini sudah mengeluarkan dana besar” Sambung Sam lagi penuh penegasan.
Bryan mengambil berkas yang di berikan Sam, membuka lembar demi lembaran berkas itu dengan cepat. Pengalamannya berbisnis bertahun-tahun membuat pria itu dapat dengan lihai mengetahui mitra bisnis yang menguntungkan untuk perusahannya, menghitungkan keuntungan serta kerugian yang tepat setiap kali bekerjasama. Bahkan sudah tak terhitung lagi perusahaaan-perusahaan besar berkala dunia yang dapat diajaknya untuk bermitra. Semua dapat pria itu perhitungkan dengan detail tanpa ada kesalahan sedikitpun. Itulah sebabnya perusahaan yang Bryan kelola dapat berkembang dengan sangat pesat dan maju.
Untuk sekarang ini, ia juga tak perlu merisaukan calon rekan bisnisnya. Ia begitu yakin dengan kemampuannya yang mempuni. Kerja sama hari ini pasti kembali berjalan dengan mulus tanpa ada hambatan.
“ Aku akan mempelajarinya dengan cepat” Sam mengangguk tipis lalu keluar dari ruangan Bryan. Kemampaun bosnya itu dalam berbisnis memang sudah tak diragukan lagi. Tapi tidak ada salahnya juga ia meminta Bryan mempelajari berkas itu. Siapa tahu saja itu akan berguna nantinya, mengingat rekan bisnis mereka kali ini bukankah orang sembarangan. Jadi semua hal harusnya sudah diperhitungkan dengan masak-masak.
Selepas kepergian Sam dari ruangannya, Bryan kembali memperhatikan kotak makan yang tadi sempat di hiraukannya itu ketika kedatangan Sam yang tiba-tiba memasuki rungannya. Rasa penasaran yang tinggi membuat Bryan akhirnya membuka kotak itu.
Matanya membulat seketika, saat mendapati dua potong sandwich dengan isian telur ceplok itu di dalam kotak makan. Seperti dugaannya, kotak makan itu pasti berisi makanan tidak sehat yang tidak menarik nafsunya untuk makan. Bukan itu saja, potongan sandwich yang tidak rapi dengan telor ceplok yang hampir matang dan berceceran itu sungguh tidak menggiurkan. Bahkan ia juga dapat menebak rasanya juga pasti hambar dan tidak enak.
Tapi, ia sangat lapar saat ini, dan bukankah pria itu sudah berjanji untuk tidak membuang makanan itu. Bryan mengambil sepotong sandwich itu dengan ragu, menggigitnya perlahan dari bagian ujung roti.
Lumayan… tidak terlalu buruk. Mungkin hanya tampilan makanan itu saja yang berantakan
Setidaknya makanan itu cukup pantas untuk berada dalam lambungnya.
Bryan kembali mengunyah sandwich itu hingga hampir setengah roti, namun tiba-tiba saja mulutnya terasa terbakar dan perih. Dengan cepat Brayn membuka lembaran roti, dan pria itu kaget bukan kepalang. Beberapa butir cabai ternyata terselip dibawah sayuran.
Bryan mengerang dengan nafas memburu. Lidahnya terasa perih dan juga panas. Dengan gerakan cepat Bryan pergi ke kamar mandi, berusaha memuntahkan isi perutnya. Namun hingga tubuhnya basah dengan keringat, cabai itu ternyata tidak mau dimuntahkan dari mulutnya.
“Akh sial… apa gadis itu berencana membunuhku!” Bryan berlari mengambil air minum yang berada di meja kerjanya. Meneguk cairan bening itu dengan cepat tanpa tersisa.
Belum lagi rasa pedas itu berhenti dari mulutnya, kini giliran perutnya yang sakit dan melilit hingga membuatnya harus berlari lagi kedalam kamar mandi.
***
Hei para readers yang berbahagia, Terimakasih sebesar-besarnya bagi kalian yang setia membaca novel ini. Tolong bantu author dengan memberi like di setiap chapter, memberi komen yang positif, vote, dan juga klik untuk menjadikan novel ini favorite agar author semakin bersemangat meneruskan novel ini hingga episode terakhir nanti. bye-bye...