My Husband is Billionaire

My Husband is Billionaire
Chapter 13



“Bryan...” Teriak gadis itu sekencang-kencangnya...


Bryan membelalakan mata dengan dahi yang bertaut. Pria itu tetap berdiri tegap pada posisinya tanpa berniat menggeser tubuhnya atau berbalik meski teriakan Aleysia cukup memekikan gendang telinganya.


“Tutup matamu!” Aleysia memunguti pakaiannya dengan sebelah tangannya sedangkan tangan yang lain berusaha menutupi tubuhnya.


“Kenapa kau masih disini? ” Aleysia bertambah murka ketika Bryan, pria itu hanya berdiri layaknya seonggok batu yang tak bergerak.


“Keluar dari sini!” Aleysia berteriak lagi


“ Ini rumahku? Kau mengusirku? Salahmu sendiri kenapa tidak mengunci pintu. Apa kau sering seperti ini di rumahmu?” Bryan tersenyum sinis dengan gigi yang bergertak dari dalam mulutnya.


“Tapi ini kamarku. Aku memiliki privasi untuk itu. Meski ini rumahmu, bukan berarti kau bisa masuk dan keluar sesukamu!”


Pria itu tidak terlihat bersalah atau berniat untuk meminta maaf. Membuat Aleysia menggeram tertahan.


“Aku akan keluar menemui teman-temanku. Jangan menungguku pulang” Bryan membalikan tubuhnya, tidak berniat untuk membalas ucapan Aleysia. Ia lebih memilih keluar kamar sambil memasang jaket berwarna hitam yang tadi ia pegangi.


Aleysia menghentakan kakinya marah layaknya anak kecil yang mengomel tak mendapat permen. Gadis itu bersiap melempar apapun yang berada di sekitarnya ke arah Bryan jika saja ia tidak lupa jika ia sekarang sedang tanpa busana.


***


“Apa semuanya baik-baik saja?” tuan dickinsson meletakan segelas kopi panas yang baru saja ia seruput.


“Apa ide bagus jika gadis itu tetap bersama Bryan?” tanya tuan Dickinsson lagi.


“Entahlah!” Isabelle berdiri dengan gusar. Semenjak tadi pikirannya tidak tenang. Ia terus memikirkan Aleysia. Bukan khawatir dengan gadis itu melainkan sebaliknya. Ia takut rencana yang ia buat akan gagal karena gadis itu.


“Duduklah!”Tuan Dickinsson menepuk sofa disebelah duduknya. Memberi isyarat agar wanita itu duduk disampingnya.


Issabel menatap malas suaminya yang terlihat begitu tenang sedari tadi. Wanita itu akhirnya berjalan malas dan menyandarkan tubuhnya disofa.


“Kita sudah melewati tahap awal, menyelamatkan warisan itu hingga tidak disumbangkan pada badan amal. Sekarang tahap ke dua, hanya memisahakn Bryan dan mendapatkan seluruh harta. Apa susahnya. Kau tidak perlu khawatir”


Tuan Dickinsson kembali menyeruput kopinya. Namun kali ini berbeda, ia menyeruputnya sampai habis dan tersenyum penuh kemenangan menatap gelas kosong yang terletak diatas meja.


“Tidak khawatir? Apa maksud ucapanmu? Bagaimana jika Bryan tidak bercerai dengan Aleysia. Kita tidak dapat menguasai seluruh warisan Ayahmu. “


Issabel mulai emosi. Wanita itu menatap suaminya tidak terima. Mengekspresikan kekesalannya mulai memuncak.


“Cepat atau lambat Bryan pasti akan bercerai. Aku tahu sifat anak itu. Aleysia tidak termasuk dalam daftar gadis yang disukainya”


Tuan dickinson berbicara lembut, sambil mengusap puncak kepala istrinya yang terlihat panik.


“Bryan tidak akan semudah itu menceraikan Aleysia dan menyerahkan hartanya begitu saja. Meski bukan gadis yang disukainya. Bryan pasti akan tetap mempertahankan pernikahannya”


“Ini semua karena wasiat gila ayahmu. Aku tidak mau miskin...tidak dan tidak!” Isabel memijat pelipisnya. Seharian ini ia hanya terus berpikir bagaimana cara tercepat untuk memisahkan Aleysia dan Bryan.


“Kita akan buat mereka berpisah. Apa pun caranya. Tenanglah sayang. Semua akan baik-baik saja” Tuan Dickinson menarik Isabel dalam pelukannya. Memberikan ketenangan bagi wanitanya itu. Meski sekarang, ia juga mulai sanksi dengan pemikirannya. Tapi ia juga tidak ingin hidup miskin. Meski sudah mendapat bagian yang lebih dari cukup untuk hidupnya. Harta memang sudah meracuni otaknya. Membuatnya gila akan kehidupan dunia yang tak pernah puas.


***


Kerlap-kerlip lampu disko dan suara dentuman musik yang keras membuat Bryan memejamkan matanya. Sebenarnya ia ingin berlibur dan mengistirahatkan tubuhnya sejenak dari segala hal yang terjadi belakangan ini. Kedatangan ayahnya kerumah, masalah warisan, pernikahan...ah pria itu rasanya hampir mengamuk. Jika bukan karena harta yang melimpah yang akan jatuh pada Ayah dan Ibu tirinya itu ia tidak akan mengambil langkah gila untuk menikah.


“Kau tidak pergi berbulan madu?”


Bryan mengerjapkan matanya setelah merasakan tepukan ringan di punggungnya. Pria itu Menoleh ke kursi disampingnya dan mendapati Max dengan kemeja yang sama saat menghadiri acara pernikahannya beberapa jam yang lalu. Dan seorang gadis seksi turut bergelayut mesra di sampingnya.


“Apa maksudmu berbulan madu? Kau mengejekku?”


Bryan memandang Max dengan kesal. Lalu kembali memejamkan matanya. Ia tidak ingin mengobrol dengan pria itu. Kedatangannya kesini sebenarnya hanya ingin melepas penat dan merelakskan pikiran saja.


“Hei santailah Bung!” Max terkekeh lalu menuang wine di gelasnya.


“Kenapa kau disini? Bukankah ini malam pertamamu?” Max terkekeh lagi dan kali ini lebih nyaring dari sebelumnya. Pria itu bahkan tersedak dan batuk karena tawanya. Hingga gadis di sampingnya itu cemas dan mengusap-usap punggungnya.


“Tidak ada malam pertama. Berhenti bercanda. “ ketus Bryan. Pria itu memejamkan mata lalu mengibaskan tangannya menandakan ia tidak ingin diganggu.


“Cih kau menyebalkan” Max berdesis kesal. Bukannya menjauh pria itu malah tetap duduk disana. Ia bermesraan dengan gadis di sampingnya dan sengaja mengeraskan suaranya agar Bryan terganggu. Bahkan pria itu berciuman dengan decakan suara yang sengaja dibuat-buat.


“Bisa kalian pindah ke kamar hotel saja. Suara kalian sangat mengganggu” Bryan beringsut bangun dari sofa. Menyandarkan punggungnya dan duduk melotot ke arah Max dengan wajah yang mengeras. Max yang di tatap hanya diam dengan tatapan Bryan yang menghunus kepadanya.


Max itu menatap wanita disampingnya dan memberikan kode agar meninggalkan ruangan tempat Bryan dan Max berada sekarang. Ia tidak mau membuat Bryan marah dan membuat kekacauan di klub malam itu.


“Apa yang terjadi denganmu? Kau terlihat berantakan!”


Bryan menatap tubuhnya yang hanya berbalut kaos dan celana jeans. Pakaian yang sangat santai untuk seorang Bryan.


”Bagaimana gadis itu? Ia tidak merepotkanmukan? Apa dia cukup menarik?” Max menatap Bryan serius dengan pertanyaan yang beruntun.


Menarik? Bryan menggeleng. Entah bagaimana memorinya tentang Aleysia yang hanya menggunakan pakaian dalam tercetak diotaknya. Gadis remaja dengan tubuh ramping namun tidak berisi. Benar-benar tidak menarik.


“Jangan gila. Kau tahu dia bukan tifeku”


“Kau baru sehari menikahinya. Terlalu dini mengatakan kalau dia tidak menarik. Coba saja dulu. Mungkin kau akan suka dengannya nanti. Lagi pula kau tidak boleh menceraikannya, itu artinya kau akan hidup selamanya dengan Aleysia. Apa mungkin kau tidak ada perasaan dengannya nanti?”


Bryan menggeleng dengan senyum mengejek” Aku tidak pernah tertarik untuk berhubungan lebih dengan wanita kecuali hanya untuk berhubungan seksual saja. Kau tahu seperti apa orang tuaku kan? Aku tidak ingin menjalani hubungan seperti mereka. Hidup bertahun-tahun tanpa cinta. “


“Lalu apa bedanya denganmu sekarang? Kau juga menikah tanpa cinta. Bahkan memaksa gadis itu dengan ancaman agar pernikahanmu tetap berlangsung demi harta warisan kakekmu tidak jatuh pada tangan yang salah. Apa bedanya?”


Bryan terpojok. Ucapan Max cukup menyudutkannya.


Bryan menghembuskan nafas kasar sebelum menjawab pertanyaan Max “Jangan samakan aku. Aku akan menceraikannya disaat yang tepat. Hanya... hanya aku belum tahu kapan aku akan melakukannya”


“Kau harus memutuskan kapan akan melepasnya. Meski menikah tanpa cinta, tapi kau tinggal bersama dengannya. Kecil kemungkinan kau atau Aleysia tidak akan merasakan perasaan lebih. Lagi pula sepertinya gadis itu masih sangat polos. Jangan sampai kau melepasnya disaat ia memiliki perasaan yang lebih padamu. Itu akan menyakitkan”


Bryan sedikit terkekeh dengan wajah yang mengejek. Sejak kapan sahabatnya yang playboy itu bisa berdialog tentang cinta.