
“Apa yang kau lakukan pada kemejaku? Apa kau sudah gila” Bryan sedikit memundurkan tubuhnya dengan cepat . Dengan nada marah bercampur keterkejutan pria itu menghardik Aleyisa sembari memandangi tubuhnya yang terkena muntahan dengan rasa jijik.
“Maa…maafkan aku” Aleysia merendahkan suaranya dengan nada parau. Gadis itu mengambilkan tissue untuk membersihkan tubuh Bryan yang kotor dengan muntahan, namun belum lagi tangan gadis itu mengenai tubuh Bryan, pria itu dengan cepat menyanggah kasar tangannya.
“ kau tahu berapa harga pakaianku ini?” Bryan bertanya dengan nada kesalnya. Sedangkan Aleysia, gadis itu tertunduk diam tanpa suara, mengumpati dirinya sendiri yang begitu ceroboh dan memalukan.
“Seratus ribu dollar harga pakaianku ini!” Bryan berseru dengah penuh percaya diri, memamerkan harga pakaian mahalanya itu dengan penuh penekanan. Memberikan gambaran jelas seberapa cerobohnya gadis itu hingga berani mengotori pakaian berharganya.
Aleysia melototkan matanya, kali ini gadis itu tak dapat menahan dirinya dengan keterkejutannya. Benarkan harga pakaian Bryan semahal itu? Ia memang mengetahui pakaian itu jelas terlihat mahal hanya dengan sekali pandang, baik dari ukuran, dan bahan semuanya sempurna dan begitu pas di tubuh pria itu. Pakaian itu seperti dijahit khusus dan dirancang sesuai dengan tubuhnya. Tapi apa harus semahal itu hanya untuk sepotong kemeja? Ia bahkan tak pernah melihat seberapa tinggi lembaran uang seratus ribu dollar itu. Bukankah itu seperti membuang-buang uang.
“kenapa kau selalu saja ceroboh huh, apa kau tak…” Bryan menghentikan kalimatnya di udara, menarik kembali perkataannya yang hampir keluar dari mulutnya. Pria sedikit mengeram menahan amarahnya, mengingat kembali tujuan awalnya untuk makan malam ini. Bukankah tujuannya untuk menarik simpati gadis itu kepadanya. Tapi kejadian tak terduga dan kecerobohan gadis itu membuat semuanya akhirnya berjalan tak sesuai dengan rencanya.
“maafkan aku…” Aleysia mengulang ucapan permintaan maafnya, namun tak kunjung mendapat respon dari Bryan, pria itu lebih memilih pergi meninggalkan aleysia dengan menahan rasa jijik yang mendera ketika sisa-sisa muntahan gadis itu masih menempel jelas di kemeja mahalnya.
***
Aleysia membenamkan dirinya dalam selimut tebal, meringkuk seperti bayi dengan mata yang masih terjaga. Ia terbiasa terjaga hampir setiap malam untuk bekerja dan hanya tidur sebentar ketika menjelang pagi tiba, membuat gadis itu mengalami kesulitan untuk tidur lebih cepat.
Jam dinding sudah menunjukan pukul dua belas malam, Aleysia masih diliputi rasa bersalahnya pada Bryan. Meruntuki cara makannya yang tak sopan dan memalukan hingga memuntahkan isi perutnya pada pakain mahal pria itu.
Apa ia harus mengganti pakaian mahal Bryan agar pria itu memaafkannya?
Hei… Ia tak punya uang sebanyak itu untuk menggantinya. Lagi pula uang yang dimilikinya sekarang juga adalah pemberian pria itu. Tidak masuk akal jika ia membelikan kemeja Bryan dengan uang pria itu juga bukan. Tapi apa yang harus dilakukannya agar pria itu memaafkannya?.
Aleysia beranjak dari kasur, lalu duduk pada sofa dan mencoba menonton televisi. Mungkin saja tayangan di televisi akan memberi ide-ide brilian untuknya.
Aleyisa memasang wajah jengkelnya saat semua tayangan televisi yang ia tonton ternyata tak ada yang menarik perhatiannya. Gadis itu berpikir ulang mencari cara agar Bryan mau memaafkannya. Sebuah ide menarik tiba-tiba terlintas dipikirannya. Gadis itu tersenyum lalu buru-buru melangkah menuju kasur. Ia harus segera tidur dan bangun sepagi mungkin besok.
***
Aleysia mengerjapkan matanya beberapa kali ketika jarum jam dinding itu menunjukan pukul enam lewat empat puluh. Dengan segera Aleysia menuruni kasur, berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk menyikat gigi dan mencuci mukanya dengan gerakan sangat cepat. Astaga ia bangun kesiangan lagi, padahal ia sudah berencana bangun sebelum pukul enam pagi.
Aleysia menuruni anak tangga menuju dapur di lantai satu, ia ingin membuat sarapan istemewa pagi ini untuk Bryan. Ia akan menunjukan permintaaan maafnya kepada pria itu lewat menu masakannya pagi ini. Namun apa yang akan ia masak pagi ini, ia belum menyiapkan bahan bahkan tidak tahu apa yang harus dimasak dalam waktu sesingkat mungkin.
“Apa ada yang bisa saya bantu nona?” Belinda yang tiba-tiba saja muncul hampir gadis itu terlonjak Karena kaget.
“Apa kau memiliki roti?” Belinda yang sigap langsung mengambikan roti dan meletakannya dimeja. Sedangkan aleysia mengambil bahan-bahan lain yang berada dalam kulkas seperti tomat, selada, mayonise, saos sambal dan juga sayur. Ia akan membuat sandwich. Itu menu yang praktis dan bisa dibuat dalam waktu cepat.
“Apa anda akan memasak nona? Apa ada menu makanan yang ingin anda makan? Saya bisa memasakannya untuk anda” Belinda memperhatikan aleysia yang tengah mencuci sayuran lalu memotongnya dengan hati-hati dan menawarkan pada gadis itu untuk mengambil alih pekerjaannya.
“Tidak! Aku akan measaknya sendiri. Terimaksih Belinda” Aleysia tersenyum memberikan penolakan halus pada pelayan itu.
“Selesai” Aleysia berseru riang setelah menyelesaikan sandwichnya dan menghidangkan sandwich dengan isian telor ceplok itu di piring makan.
“Pukul berapa Bryan biasanya akan sarapan sebelum berangkat ke kantor?” Belinda mengerutkankan keningnya dalam memperhatian sandwich yang masih dipegang aleysia. Gadis itu memindai ekspresi Aleysia yang riang, meneliti masakan gadis itu yang yang tertata di piring makan. Apa itu sarapan untuk majikannya? Ah tak perlu jawaban dari eksprsi gadis itu saja ia sudah dapat mengetahui, makanan itu untuk tuannya.
Tapi, setahunya majikannya itu tidak pernah sarapan ataupun makan dirumah. Tuannya Bryan selalu makan pagi dikantor, karena pekerjaannya yang mengharusnya berangkat pagi dan pulang malam hari membuat pria itu harus menghabiskan waktu dengan sarapan , makan siang dan juga makan malam dikantor. Tentunya dengan hidangan yang luar biasa, dimasak oleh koki berkualitas dengan bahan organik yang terjamin kulitasnya. Sangat jarang tuannya makan di rumah, hanya jika majikannya itu sedang ingin menghabiskan waktu dirumah untuk bersantai barulah ia akan turun tangan untuk memasak dengan dibantu oleh para pelayan lain. Tapi itu juga dapat dihitung dengan jari karena saking jarangnya. Dan sekarang gadis yang menjadi majikan barunya ini beruasaha menyiapakan sarapan dengan sandwich dengan isian paling praktis.
“ Astaga, benarkah? Apa ia tidak sarapan dulu?”
“Apa kau punya kotak bekal?” tanyanya lagi dengan raut cemas.
Aleysia memasukan sandwich dengan isian telor ceplok itu dengan tergesak-gesak setelah Belinda memberikannya kotak makan.
Tanpa membalas respon dari Belinda yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu, gadis itu berlari sekencang mungkin menuju halaman. Mungkin kalau ia berlari, Bryan masih sempat terkejar.
Dengan hanya menggunakan piyama tidur berwarna jingga, aleysia melangkah keluar pintu. Ia melangkah dengan tidak sabaran ketika dari celah pintu yang hampir tertutup ia masih bisa melihat Bryan yang akan memasuki mobil. Beruntung! Pria itu belum berangkat pikirnya.
“ Tunggu!” Aleysia tergopoh-gopoh dengan nafas tersengal. Jarak dapur dan pintu utama yang menurutnya cukup jauh itu benar-benar memompa jantungnya. Ia bahkan penuh keringat sekarang.
“Ada apa?” Bryan memasang wajah datarnya ketika melihat Aleysia yang tersengal dengan nafas yang tidak teratur.
“Sarapanmu?”
“Aku membuat sarapan untukmu!” sambungnya lagi dengan suara riang
Bryan tercengang, menatap dalam dengan dahi berkerut pada kotak makan yang sekarang gadis itu tenteng di tangan kanannya.
“Aku tidak sarapan di rumah! Ada koki yang akan menghidangkanku sarapan sesaat setelah aku tiba di kantor”.
“Benarkah? Ah sayang sekali. Padahal bekal ini adalah ungkapan rasa bersalahku untukmu ” wajah riang gadis itu berubah masam, ia menunduk menatap bekal makanan yang masih berada ditangannya. Sebenarnya ini adalah ungkapan maafnya untuk pria itu karena kejadian tadi malam. Tapi Bryan sepertinya tidak berniat untuk mengambil bekal itu apalagi untuk memakannya. Pria itu memiliki koki pribadi yang setiap saat dapat ia panggil untuk menghidangkan makanan lezat untuknya.
“ Baiklah aku akan membawanya” Bryan mengambil bekal itu dengan setengah terpaksa, membuat Aleysia menautkan alisnya tak percaya. Apa pria itu benar-benar akan memakan makanannya atau hanya merasa iba saja tanpa mau memakan masakannya.
“terima kasih” Aleysia lagi-lagi dibuat tercengang dengan sikap Bryan. Tapi ia cukup merasa lega setidaknya pria itu menghargai rasa bersalahnya dengan mau menerima bekal sarapan yang dibuatnya.
“kalau tidak enak, jangan dibuang! Berikan saja pada security! Itu makanan, kau tak boleh membuangnya” Aleysia tersenyum setelah selesai mengucapkan kalimatnya dan hanya ditanggapi dengan anggukan oleh pria itu.
***
Aleysia memutuskan untuk pergi berjalan-jalan hari ini, dengan di dampingi supir dan bodyguard berwajah sangar, gadis itu berencana menyisiri area jalan yang kemaren ia lalui. Ia masih begitu penasaran dengan pria yang kemaren tertabrak oleh supirnya. Hari ini ia berjanji akan membantu pria itu untuk berobat kerumah sakit jika ia menemukannya.
Hampir dua jam mereka berkeliling menyisir jalan, tapi pria yang ia ingat bernama Brave itu bahkan tak dapat ditemuinya, padahal hari sudah semakin siang dan ia merasa sangat lapar. Aleysia meminta supir untuk berhenti dikiri jalan. Ada sebuah caffe yang cukup ramai pengunjung. Gadis itu sepertinya tertarik untuk menghabiskan waktu makan siangnya di sana.
Aleysia mengambil tempat di sudut ruangan yang bersebelahan langsung dengan kaca besar caffe itu. Ia dapat melihat langsung pemandangan jalan yang cukup ramai dengan lalu lalang pejalan kaki disana.
“ anda akan memesan apa Nona?” seorang pelayan menghampirinya dengan daftar makanan
Aleysia mengambil daftar makanan itu dan sesaat kmudian tercengang. Pandangannya tertuju pada pelayan yang berdiri di depannya.
“hei… bukankah kau pria yang kemaren tertabrak?”